
Menjelang sore hari, ketika Khaira mulai rasa pusingnya sudah hilang. Ia bahkan bisa membereskan kamar tidurnya, Khaira berniat untuk turun ke dapur. Membuat camilan sore sembari menyeduh teh agaknya enak menikmati malam minggu yang mendung kala itu.
"Mas, aku mau ke dapur dulu boleh?" pamitnya sebelum turun dari tempat tidurnya.
Radit mendongakkan kepala, menatap wajah Khaira. "Mau ngapain? Katanya pusing, mending istirahat dulu aja, Sayang..."
Sebenarnya Radit bukan ingin melarang Istrinya, hanya saja jika memang masih pusing, lebih baik digunakan untuk beristirahat.
"Tapi seharian enggak turun dari tempat tidur capek malahan, Mas. Mau ke dapur aja kok. Mau bikin kue. Keliatannya enak deh, sore-sore nyemil kue sama nyeduh teh. Duduk di taman belakang rumah itu. Boleh ya?" ucap Khaira sembari mengedip-edipkan matanya kepada suaminya.
Radit terkekeh melihat mata Khaira yang bergerak-gerak layaknya boneka lantaran bulu matanya yang lentik. "Mata kamu lucu banget sih, kayak boneka..." ucapnya sembari menangkup wajah Khaira. "Kalau kamu lucu dan ngegemesin kayak gini, jadi enggak rela deh kamu kemana-mana. Dipelukin di kamar aja deh kalau selucu ini." ucapnya.
Khaira merotasi bola matanya dengan malas, ia sudah tahu kemana arah perbincangan suaminya itu, maka sesegera mungkin ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang lainnya.
"Mas, gimana? Boleh ya aku bikin kue ke dapur? Aku beneran udah enggak pusing kok, udah sembuh beneran aku. Nanti kalau aku pusing, aku pasti bilang sama kamu."
Akhirnya Radit turut bangkit dari posisinya semula. "Boleh, tapi aku temenin. Yuk, kita buat kuenya barengan." ucap Radit dengan antusias.
Hari sudah menjelang jam tiga sore, Khaira menuju dapur dan mencari-cari bahan untuk membuat kue Brownies. Terlebih dahulu Khaira mengumpulkan semua bahan yang diperlukan seperti dark chocolate, mentega, minyak goreng, telur, gula halus, tepung terigu, dan cokelat bubuk.
Puas lantaran semua bahan yang ia butuhkan ada, kini Khaira berusaha mencari Mixer untuk membuat adonan kue Brownies sebelum memanggangnya ke dalam oven nanti.
"Mas, tolong ambilin Mixer di atas ini dong. Aku enggak nyampe, kurang tinggi aku." Wanita itu sudah berusaha berjinjit, ingin mengambil Mixer yang berada di kotak penyimpanan atas, tetapi apa daya ia masih kurang tinggi. Akhirnya ia memilih minta tolong pada suaminya untuk mengambilkan Mixer itu.
Radit hanya tersenyum sebenarnya mengamati Khaira yang sejak tadi berjinjit berusaha mengambil sendiri. Akhirnya ia berjalan, dan mengambilkan Mixer itu untuk istrinya.
"Nih Sayang, gitu sejak tadi minta tolong dong. Aku tahu ini tinggi dan kamu gak akan nyampe." ucapnya sembari mengacak lembut puncak kepala Khaira.
__ADS_1
"Kan aku usaha dulu, Mas... Makasih ya udah diambilin. Lagian gak peka sih, masak nolonginnya harus nunggu aku minta tolong dulu." jawabnya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Jangan digituin bibirnya, nanti kalau di sun ngambek. Butuh bantuan apa lagi biar aku ambilin." Radit masih menawarkan bantuan untuk istrinya.
"Udah, ini udah semua kok. Mas Radit duduk dulu aja, aku masih buat adonannya dulu."
Pertama-tama Khaira memanaskan panci teflon untuk melelehkan dark chocolate, mentega, dan minyak. Sambil menunggu coklat dan sebagainya meleleh, Khaira mengocok dengan Mixer gula halus dan telor. Saat cokelat telah meleleh, ia segera mengayak tepung terigu. Tangannya begitu cekatan saat membuat adonan kue Brownies.
Enggak duduk, Radit justru menumpukan dagunya di bahu Khaira, bergelayut manja di sana.
"Kamu cekatan banget sih, Sayang. Nih adonannya udah mau jadi aja. Tinggal apa setelah ini?" tanya sembari terus menumpukan dagunya di bahu Khaira.
Terasa geli, sesekali Khaira mengedikkan bahunya. "Mas, katanya mau bantuin. Ini bukan bantuin malahan gangguin loh. Duduk dulu aja Mas. Aku tinggal mixer semua bahan ini terus tinggal dipanggang kok."
Memilih mengalah, Radit menggeser posisinya menjadi di sebelah Khaira. "Mana biar aku aja yang pegang Mixernya, kamu masukkan bahan-bahannya aja ya."
"Bisa, yuk Sayang masukkan bahan-bahannya. Biar lebih cepet." ucapnya menyuruh Khaira memasukkan satu per satu bahan dan ia menjalankan mixernya, memastikan semua bahan tercampur menjadi satu.
Menurut. Akhirnya Khaira memasukkan terigu dan cokelat bubuk, lalu menuang mentega dan dark chocolate yang sudah dilelehkan. Ketika adonan sudah jadi, kemudian Khaira yang menuang adonan itu ke dalam loyang, memberi aneka topping di atasnya, lalu memanggangnya di oven dengan suhu 170°C selama 10 menit. Setelah 10 menit, turunkan suhu menjadi 150°C dan terus panggang selama 25 menit.
Beberapa menit menunggu kue mereka jadi, Khaira memanaskan air untuk menyeduh teh. Waktu sore itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membuat camilan di sore hari.
"Akhirnya selesai." ucap Khaira dengan senyuman lebar di wajahnya.
Ia memotong kue Brownies panggangnya dan menyeduh teh aroma melati di dua buah cangkir. Tercium bau harum kue brownies dan seduhan teh yang membuat mertuanya keluarnya dari kamar.
"Bikin apa Khaira? Katanya pusing. Harum banget aromanya sampai kecium dari kamar Bunda." tanya Bunda Ranti berjalan menuju dapur ke arah Khaira.
__ADS_1
"Kue brownies, Bunda. Ini silakan Bunda buat Ayah dan Bunda. Tehnya mau Khaira seduhkan sekalian?" Khaira menawarkan untuk membuat teh sekalian untuk mertuanya.
"Gak usah Khai, Bunda bisa bikin sendiri. Sana, kamu mau nyantai sore sama Radit kan. Sudah sana, Radit nungguin tuh...." lagi ucap Bundanya.
Khaira pun tersenyum, ia kemudian membawa nampan kecil berisi kue brownies dan teh hangat, ia berjalan mendekati suaminya.
Melihat istrinya yang mendekat dengan nampan di tangannya, Radit segera meraih nampan itu. "Biar aku aja yang bawa. Duduk di taman belakang rumah kan?"
"Iya...." jawabnya.
Lantas keduanya duduk bersama di kursi kayu dengan taman kecil berbagai tanaman hias yang berada di belakang rumah. Dengan ditemanin kue brownies dan teh hangat, keduanya menikmati sore bersama.
Khaira mengambil satu potong kue brownies lalu menyuapkannya ke mulut suaminya. "Cobain Mas... Gimana, rasanya kurang apa Mas? Udah enak belum?"
Khaira harap-harap cemas menunggu penilaian dari Radit.
"Kamu mau tahu Sayang, brownies ini rasa apa?" tanya Radit masih dengan mengunyah brownies di mulutnya.
"Hmm, apa?" tanya Khaira.
"Brownies rasa cinta...." ucapnya sembari mengerlingkan matanya.
Ucapan Radit sukses membuat Khaira salah tingkah, wajahnya memerah seketika. Lantaran malu mendengar celotehan dari suaminya.
"Bisa aja sih Mas, brownies kan rasa cokelat. Mana ada coba brownies rasa cinta?" jawab Khaira sembari mencubit pinggang suaminya.
"Aww, sakit dong Sayang. Jangan pakai cubit-cubitan dong. Kan kamu bikin ini setulus hati dengan cinta, jadi brownies ini rasa cinta...."
__ADS_1