Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Ngidamnya Bumil


__ADS_3

Hari berganti hari, tidak terasa akhir pekan sudah kembali tiba. Akhir pekan selalu menjadi hari yang dinantikan oleh Khaira, karena di hari Sabtu dan Minggu lah dia bisa full 24 jam bersama dengan suaminya, Radit.


Efek kehamilan atau apa, rasanya semenjak hamil Khaira memiliki hobi baru yaitu menempel terus dengan suaminya. Terlebih sejak pindah ke rumah mereka sendiri, berdua sepanjang hari dengan suami rasanya adalah kegiatan menyenangkan bagi Khaira.


Pagi hari usai sarapan, mereka tengah duduk di ruang keluarga sembari melihat tayangan televisi. Tiba-tiba saja, Khaira seolah ngidam dan ingin melakukan kegiatan menarik dengan suaminya.


"Mas, ada sesuatu yang aku pengen..." ucapnya sembari mengambil tempat duduk di sisi suaminya.


Radit yang tengah menonton saluran televisi, langsung menolehkan lehernya menatap pada istrinya itu. "Hmm, pengen apa Sayang?"


Dengan hati-hati, Khaira mencoba mengungkapkan keinginannya walau pun dia sendiri tidak yakin sang suami akan menuruti keinginannya kali ini.


"Aku pengen ke Kota Tua, Mas. Beli teh cincau dan kerak telor. Boleh enggak?"


Radit tersenyum tangannya terulur menyentuh sisi wajah istrinya itu. "Kamu kangen kenangan kita waktu ke Kota Tua dulu? Mau bikin kenangan lagi?" tanyanya.


Hanya tersenyum, Khaira menganggukkan kepalanya. "Euhm, tapi motoran pengennya Mas. Naik mobil udah bosen."


Jika keinginan Bumil hanya sebatas membuat Omelette atau menempel padanya seharian setiap weekend, Radit memakluminya. Namun, naik sepeda motor dengan kondisi Khaira yang sedang hamil agaknya bukan pilihan tepat.


"Naik motor bahaya buat Ibu Hamil, belum nanti kalau tiba-tiba hujan gimana?" tanya Radit kepada Khaira.


Bukan menjawab, Khaira malahan langsung pergi naik ke kamar dan menangis. Hormon kehamilan memang bisa membuat seorang Ibu Hamil tiba-tiba cengeng saat permintaannya tidak dipenuhi. Dan, itulah yang terjadi pada Khaira saat ini. Menangis di kamar, hanya karena suaminya seolah menolak keinginannya.

__ADS_1


Menghadapi wanita hamil memang diharuskan ekstra sabar. Itulah yang Radit alami sekarang, harus panjang sabar menghadapi emosi Khaira yang sering berubah, belum lagi istrinya yang lebih mudah menangis selama hamil. Radit pun menyusul ke lantai atas, perlahan ia membuka pintu kamar. Didekatilah istrinya itu.


"Sayang, bukannya aku tidak mau. Aku mau kok, tetapi naik mobil aja gimana? Aku takut bahaya naik motor. Belum lagi kalau hujan. Gimana?" tanya Radit dengan lembut dan tentunya sabar.


Menggelengkan kepala. "Enggak, enggak mau. Aku maunya naik motor. Kalau gak mau ya sudah, gak usah ya gak papa."


Radit menghela nafasnya. Jujur ia belum pernah memboncengkan Khaira selama hamil dengan menaiki sepeda motor, di sisi lain istrinya tengah hamil dan permintaannya kali ini cukup berisiko bagi Radit.


Untuk menghindari ngambeknya Bumil yang bisa sampai seharian, akhirnya Radit menyetujui keinginan Khaira untuk naik sepeda motor ke Kota Tua.


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu. Aku panasin sepeda motornya dulu soalnya sudah lama enggak dipakai." ucap Radit sekaligus ia keluar guna membersihkan dan memanasi sepeda motornya terlebih dahulu.


Sementara di dalam kamar, Khaira sudah bersiap dengan celana panjang ala Ibu Hamil dan kaos putih. Tidak lupa ia menguncir rambutnya supaya lebih rapi lantaran terkena angin selama menaiki sepeda motor. Selang sepuluh menit, Radit kembali ke kamar, ia mendapati istrinya sudah bersiap. Kemudian Radit pun mengganti pakaiannya, lalu matanya memindai pada penampilan istrinya yang dirasanya masih kurang.


Ia menyuruh Khaira untuk duduk terlebih dahulu, kemudian ia berjongkok dan memakaikan kaos kaki di kaki Khaira, setelahnya ia memakaikan sarung tangan di kedua telapak tangan Khaira.


Diperlakukan sedemikian rupa membuat Khaira terharu, ia menahan air matanya supaya tidak sampai jatuh.


Kemudian Radit berdiri lalu, mengamati penampilan istrinya itu. "Pakai jaketnya Sayang, kita naik motor jadi harus pakai jaket."


Khaira mengerjapkan mata. "Jaketku enggak muat semua di bagian perut Mas." ucapnya dengan mengarahkan sorot mata pada perutnya yang mulai kelihatan sedikit membuncit.


Radit pun tertawa, ia lupa bahwa perut istrinya sudah mulai membuncit. Oleh karena itu, Radit menuju lemarinya, lalu mengambil satu jaketnya, lalu memakaikannya kepada Khaira.

__ADS_1


"Kamu sweet banget sih Mas..." ucap Khaira sembari menurut saat Radit mulai memakaikan jaketnya.


"Iya, karena kamu dan adek bayi yang harus selalu aku jaga. Aku kan gak mau kamu panas-panasan sebenarnya, belum nanti kalau hujan, tetapi karena kamu yang minta ya sudah kita akan ke sana." ucap Radit sembari memastikan bahwa Khaira telah aman dengan berbagai perlengkapan yang ia sediakan.


Merasa bahwa persiapan mereka sudah selesai, Radit kemudian turun ke bawah. Ia memasukkan sebotol air mineral ke dalam tas ranselnya, cookies khusus ibu hamil, tissue, dan juga hand sanitizer. Sehingga jika di jalan, istrinya haus atau lapar, ada yang bisa dimakan.


Lengkap sudah semuanya tas ranselnya kemudian, Radit membawa serta Khaira ke depan rumah. Di sana ia terlebih dahulu memakaikan helm di kepala istrinya. Memasangkan pengait helmnya juga.


"Mas, tasnya biar aku yang bawa..." Khaira menawarkan untuk membawakan tas ransel itu.


"Enggak, biar Mas aja yang bawa." ucap Radit sembari membawa tas ransel itu di bagian depan menutupi dadanya.


"Yukk..." Pria itu memberi aba-aba kepada istrinya untuk menaiki sepeda motor. "Pelan-pelan naiknya...." Masih Radit mengingatkan kepada Khaira untuk pelan-pelan saat menaiki sepeda motor.


Merasa bahwa istrinya telah duduk dengan nyaman, Radit segera melajukan sepeda motornya. Ia melajukan motornya dengan cukup pelan, lantaran ia tengah memboncengkan ibu hamil. Bahkan jika ada polisi tidur, Radit berusaha menghindarinya supaya tidak menimbulkan goncangan pada perut istrinya.


Mata pria itu sesekali melihat wajah istrinya dari kaca spion sepeda motornya. Dalam hatinya terasa lega lantaran beberapa kali Khaira tersenyum, dan tanpa diminta oleh Radit, sang istri sudah melingkarkan tangannya di pinggang Radit. Berpegangan erat sembari sesekali menumpukan wajahnya ke punggung suaminya.


"Kamu beneran pengen naik sepeda motor ke Kota Tua atau pengen nempel sama aku sih Sayang?" tanya Radit sembari melajukan sepeda motornya.


"Bukan aku yang pengen Mas ... tapi anak Papa ini yang pengen nempel terus. Jadi ya gimana dong." ucapnya sembari makin mempererat pegangannya di pinggang suaminya.


Radit mengulas senyum, satu tangannya turut menahan tangan istrinya yang melingkar dengan indah di pinggangnya. "Hmm, nempelnya cuma boleh sama Papa ya ... jangan nempel sama yang lain. Kalau buat Adek, Papa gak bisa nolak deh...."

__ADS_1


__ADS_2