Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Harus Bedrest


__ADS_3

Jika semula Radit merasa agak lega karena babynya masih dalam keadaan sehat, tetapi semua itu tidak bertahan lama, karena Dokter Indri memberikan advicenya.


“Saya sarankan Bu Khaira untuk bedrest setidaknya selama satu minggu. Jika fleknya sembuh, tidak keluar lagi, kita akan anggap bahwa semuanya aman. Sedangkan jika dalam satu minggu masih keluar flek darahnya, saya akan minta untuk rawat inap di Rumah Sakit.” ucap Dokter Indri.


Mendengar bahwa Dokter Indri menyarankan bahwa Khaira harus bedrest, Radit dan Khaira pun terkejut, tidak mengira jika hanya terpeleset dan juga jatuh, mengakibatkan keluar flek dan dirinya harus bedrest.


“Tidak apa-apa Bu, tanamkan berpikiran positif terlebih dahulu. Ini untuk kebaikan Ibu dan juga janinnya. Jika terlalu banyak beraktivitas, justru bisa terjadi lebih banyak terjadi flek, karena itu lebih baik bedrest dulu untuk satu minggu. Nanti saya akan resepkan obat penguat rahim ya untuk janinnya. Jika terjadi tanda-tanda apa pun, Bu Khaira bisa mengirimkan pesan kepada saya, nanti saya akan bantu konsultasi secara online ya Bu.” lanjut Dokter Indri.


Mau tidak mau pun, mereka mengikuti apa yang sudah disarankan oleh Dokter Indri. Sembari berharap bahwa flek yang saat ini dialami Khaira bisa sepenuhnya sembuh.


Setelahnya, di dalam rumah. Radit benar-benar berusaha menjaga Khaira, riwayat keguguran tahun lalu dan juga kondisinya yang sekarang membuat Radit harus lebih ekstra menjaga istrinya. Bahkan Papa muda itu pun turut mengasuh Arsyilla.


“Syilla, jadi anak yang baik dulu ya … Mama biar segera sembuh.” pinta sang Papa kepada Arsyilla.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Pa … Syilla mau Mamanya sehat, adik bayinya juga sehat ya Pa.”

__ADS_1


“Iya Sayang … semoga saja Mama dan adik bayinya sehat-sehat ya. Mama cuma boleh berbaring dulu selama tujuh hari Sayang.” ucapnya dan sekaligus memberikan pengertian kepada Arsyilla bahwa Mamanya harus bedrest, berbaring dahulu selama 7 hari.


Saat seorang istri harus sakit dan diminta untuk bedrest, sebenarnya rumah tangga berjalan dengan kurang maksimal. Begitu juga dengan rumah tangga Khaira, harus Radit yang mengambil alih beberapa pekerjaan rumah tangga, dan juga mengasuh Arsyilla. Ini baru hari yang pertama, tetapi Radit sendiri bisa merasakan bahwa pekerjaan rumah tangga itu sekalipun kecil-kecil, tetapi harus dilakukan terus-menerus. Sejenak, pria itu pun membayangkan bagaimana istrinya yang sedang hamil dan juga masih harus melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga.


Usai menidurkan Arsyilla, Radit pun menghampiri istrinya itu, “Gimana masih sakit?” tanyanya kepada istrinya.


“Kakiku yang jatuh tadi sakit, Mas … sama ini pahaku ini biru, memar keliatannya karena tadi kejatuhan pot tanaman.” ucapnya sembari menunjukkan bagian pahanya yang berwarna biru nyaris keunguan, ada luka memar di sana.


Dengan cepat Radit mendesis, “Ishhs, kamu ini Sayang … kenapa sih enggak hati-hati? Baru kemarin aku minta ke kamu untuk fokus sama kehamilan kamu dulu, sekarang malahan jatuh. Hati-hati Sayang. Kalau kamu kesakitan seperti ini, akunya yang lebih sakit. Sampai kamu keluar flek gitu.” ucap pria itu sembari menyentuh paha istrinya yang terlihat memar itu.


Kali ini Radit seperti orang tua yang memarahi anaknya, dan Khaira pun hanya diam, sebab dia tahu bahwa kali ini dirinya yang salah. Jadi, dia pun tidak membela dirinya. Yang diucapkan suaminya itu benar, dirinya memang kurang hati-hati.


“Cepat sembuh, lain kali hati-hati. Aku sudah izin sama Ayah untuk bekerja dari rumah selama satu minggu ini. Juga, mulai besok Bi Tinah akan bekerja untuk kita, mengurus dapur, kamu urus Arsyilla saja dan jangan ceroboh lagi. Sekarang kamu fokus saja dulu sama adik bayinya, sudah setengah jalan Sayang …” ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.


Bukan masalah ingin mengomel, tetapi memang tujuannya Radit adalah supaya istrinya itu lebih fokus dan juga lebih hati-hati.

__ADS_1


“Iya iya Mas … aku malahan diceramahin sih. Memang aku salah kok, tapi jangan diomelin kayak gini dong. Kayak emak-emak banget sih.” ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.


Melihat reaksi istrinya, Radit justru tertawa, “Aku ini Bapak-Bapak Sayang … bukan emak-emak. Lagian kamunya ngeyel banget sih. Aku sudah mengingatkan beberapa kali loh, tetapi kamu enggak ngedengerin. Sekarang enggak boleh protes lagi, udah punya ART juga enggak apa-apa. Lagian Bi Tinah kan ikut Bunda sudah lama juga, sudah kenal sama kita dan Arsyilla. Aku masih kuat untuk menggaji ART, Sayang.”


“Bukan masalah kuat enggaknya menggaji ART, Mas … tetapi, kan sebagai istri ya aku pengen ngurus rumah, ngurus suami, ngurus anak. Gitu sih. Namun, kalau Bi Tinah yang bantuin kita di sini enggak masalah kok. Kalau ARTnya masih muda, aku enggak mau. Nanti ndak godain kamu.” ucapnya dengan bergidik ngeri.


Radit tertawa dan melihat wajah istrinya itu, “Kamu kebanyakan lihat acara gosip ya Sayang … aku kan Radit, bukan Ricardo. Lagian kan kamunya paket komplit kayak gini, gak mungkin lah aku macam-macam. Hatiku cuma buat kamu.” ucapnya sembari menaruh satu tangan di dadanya.


“Intinya kalau kamu macam-macam, mending kamu vasektomi sana. Aku gak akan mau lagi.” ancamnya sembari menatap tajam pada suaminya itu.


Bergidik ngeri harus membayangkan vasektomi, Radit pun menggelengkan kepalanya, “Enggaklah Sayang … ya sudah, sekarang kamu istirahat. Jangan macam-macam, fokus sama kehamilannya dulu. Aku tuh ceramah kayak gini buat kebaikan kamu dan adik bayinya juga. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan kalian berdua. Berkali-kali aku bilang kan, kalau kamu kesakitan, aku yang lebih sakit. Alih-alih kamu yang sakit, mending aku yang menggantikan kamu untuk merasakan semua sakit itu.” ucapnya dengan sungguh-sungguh.


“Iya-iya Mas … maaf ya, tadi aku kurang hati-hati. Aku janji, setelah ini aku akan lebih berhati-hati dan juga akan lebih fokus ke kandungan aku. Lagian aku tahu, kamunya ceramah kayak gini kan karena kamu cinta sama aku kan, gak mau aku kenapa-napa kan.” ucapnya sembari tersenyum kepada suaminya.


“Iyalah … aku cinta kamu. Cinta banget sama kamu, makanya jangan ngeyel, kalau dikasih tahu itu nurut. Sekarang kalau kamu ngeyelan, aku hukum sama kayak kalau diem dan enggak mau ngomong sama aku. Biar kamu lebih patuh sama suami.” ucapnya yang menebar ancaman kepada istrinya itu.

__ADS_1


“Ya ampun Mas, kejam banget sih sama Istri … Gak mau ah, masak aku sakit kayak gini dihukum. Gak mau.” sahutnya sembari menarik selimut, dan membelakangi suaminya itu.


Sementara Radit terkekeh geli, pria itu segera bergabung dalam satu selimut dengan istrinya, menelusupkan tangannya yang biasa digunakan istrinya sebagai sandaran, “Sudah tidur … istirahat. Aku peluk sepanjang malam ini Sayang. Sehat-sehat buat Bumilku cantik dan debaynya di sini.” ucapnya sembari memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.


__ADS_2