
"Mas...." Khaira memanggil nama suaminya saat itu tengah fokus mengendalikan stir mobil.
"Hmm. Apa? Ada permintaan bilang aja?" sahutnya sembari sekilas melirik kepada Khaira.
"Nanti kalau pindah rumah, boleh enggak kamar kita dicat warna pink. Pink pastel yang lembut gitu. Gimana?" tanyanya sembari mengedip-edipkan matanya.
Kepala Radit bergerak-gerak, ia sesekali melihat pada Khaira yang wajahnya terkesan tenang, tetapi juga serius. "Yakin mau warna pink? Enggak pengen warna yang lain aja?" Radit sekilas melihat Khaira. "Kalau kamu mau sih gak papa, tetapi dari sekian banyak warna kenapa memilih pink? Kesannya girly banget Sayang."
Khaira merotasi matanya malas, dia tahu bahwa dia hanya ingin menggoda suaminya itu. Sudah pasti pria tidak akan setuju dengan kamar berwarna pink yang begitu lekat dengan kesan girly.
"Padahal lucu kalau pink, terus sprei nya bunga-bunga gitu. Lucu deh. Kombinasi sempurna kan warna pink dan sprei floral gitu. Manis jadinya."
Apa bunga-bunga?
Tidak salah dengar?
Radit kembali melirik Khaira. "Kalau kamu suka gak papa Sayang. Aku beliin nanti sprei dan bed cover bunga-bunga kesukaan kamu."
"Ah, tapi wajahnya Mas gak rela banget sih. Gak jadi deh kalau gitu." ucapnya sembari menaruh kedua tangannya bersidekap di depan dada.
"Jangan ngambek dong Sayang. Aku rela kok, ya udah nanti kamarnya dicat warna pink dan aku beliin sprei bunga-bunga kesukaan kamu ya," ucapnya mencoba membujuk hati Khaira. "Mau sprei bunga-bunga berapa? Nanti kita belanja bersama, aku beliin. Mau beli satu lusin juga aku beliin deh."
Padahal di dalam hatinya Khaira tertawa riang, ia hanya ingin menggodai suaminya saja.
"Sayang, mau apa lagi buat rumah kita nanti? Kan aku udah bilang kamu bisa request, dan aku gak masalah kok. Udah dong ngambeknya."
__ADS_1
Radit tiba-tiba menghentikan mobilnya di bahu jalan, tangannya menangkup kedua pipi Khaira. "Jangan ngambek lagi. Hmm."
"Kamu kena prank, Mas." jawab Khaira sembari tertawa.
"Aku cuma godain kamu aja. Prank!!" wajah Khaira memerah lantaran menahan tawa dan berhasil mengerjai suaminya.
"Yah, aku kira beneran. Aku udah ngalah, udah rela loh. Malahan di-prank. Aku ngambek ah." sahut Radit memasang mode jutek, lalu ia melajukan mobilnya.
Khaira masih tertawa. Semudah itu mengerjai suaminya. "Yahh, jangan ngambek dong. Kan aku cuma main-main aja, cuma godain. Gak seru deh masak gitu aja ngambek." Khaira menoleh melihat wajah suaminya. "Mas..." dipanggilnya nama suaminya. "Mas Radit..." dipanggilnya lagi. "Ahh, gak seru deh. Aku cuma bercanda malahan ngambek beneran."
Khaira membuang mukanya, dan matanya menatap pada pemandangan yang berada dari balik kaca jendelanya.
Radit pun juga, pria itu tiba-tiba memasang mode silent. Walau pun ekor matanya masih sesekali mencuri pandang, tetapi mereka sama sekali tidak bicara hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah membawa mereka kembali di rumah.
Keluar dari mobil, Khaira lebih memilih turun terlebih dahulu dan ia segera memasuki rumah, dan segera naik ke lantai dua. Untung saja rumah mertuanya sedang sepi, sehingga mertuanya tidak menanyai apabila ia masuk duluan ke dalam rumah.
Selang sekian menit, Radit menyusul ke kamar. Pria itu tak menyangka istrinya sungguh ngambek. Selama pernikahan mereka, baru kali ini Radit melihat tingkah lucu Khaira. Perlahan, Radit turut menaiki tempat tidur. Ia sedikit mengguncang bahu istrinya itu.
"Sayang..." dipanggilnya istrinya itu. "Kamu marah? Ngambek? Sini bicara dulu sama aku." ucapnya sembari mengelus lembut rambut Khaira.
"Kalau mau tidur ganti baju dulu, masih make celana jeans enggak enak buat tidur. Ganti dulu yuk. Kalau udah ganti, mau bobok boleh."
Khaira enggan mendengar ucapan suaminya. Mood nya sudah berubah, perasaan bahagia lantaran nge-prank suami berubah menjadi bad mood, bahkan gadis itu sekarang meneteskan air mata.
Merasa tidak ada sahutan dari istrinya, akhirnya Radit agak memaksa mengubah posisi tidur Khaira. Dari tengkurap berubah menjadi miring. "Kamu kenapa? Ngambeknya beneran. Udah dong. Masak mau ngambek-ngambekkan terus. Sini dong."
__ADS_1
Radit menyelipkan rambut Khaira yang menutupi sebagian wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga. Tangan kemudian membelai lembut wajah Khaira, tetapi tiba-tiba ia merasakan basah saat menyentuh sudut mata Khaira.
"Kamu nangis, Sayang?"
"Tidak ada jawaban, berarti fixed Khaira benar-benar ngambek saat ini." gumam Radit dalam hati.
"Udah dong. Maaf kalau udah buat kamu sebel. Aku cuma bercanda juga kok tadi. Maafin aku ya..."
Merasa Khaira masih diem, akhirnya Radit kembali memaksa membangunkan istrinya. Kini ia justru membuat Khaira terduduk di pangkuannya. Kedua ibu jarinya mengusapi air mata masih menggenang di sudut mata air.
"Lihat aku. Aku cuma bercanda, maafin ya. Jangan sebel lagi. Jangan ngambek lagi, aku enggak bisa kamu diemin seperti ini. Kalau kamu marah boleh, tetapi jangan diemin aku kayak gini. Aku trauma kalau kamu diemin, diemnya kamu di awal pernikahan kita dulu yang membuat kamu pergi jauh meninggalkanku. Marah boleh, tapi jangan diem. Aku beneran trauma kalau kamu diemin. Maaf ya." ucapnya sembari kedua tangannya menangkup wajah Khaira.
Akhirnya Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya..." jawabnya sambil terisak. "Aku kan cuma main-main, malahan dianggap serius. Gak bisa diajak bercanda banget sih. Kan aku cuma punya kamu, Mas. Kalau bukan kamu yang aku ajakin bercanda sapa lagi coba?" jawabnya sembari mengusapi air matanya.
"Udah jangan nangis, nanti cantiknya hilang." ucap Radit, gaya bicaranya seakan menenangkan seorang anak kecil yang sedang menangis.
Akhirnya Radit mengecupi dengan sayang dan tentunya gemas dengan wajah Khaira.
"Ishhh, jangan cium-cium. Nyebelin banget sih. Tadi bikin sebel, sekarang main nyosor aja. Ogah." Khaira berkata dengan nada jutek kepada suaminya yang sudah membuatnya sebel, sekarang justru main cium-cium.
"Untung udah di rumah, Yang. Tuh tiba-tiba hujan." Radit menunjuk ke arah jendela yang ternyata hujan sedang turun begitu deras, bahkan petir juga terdengar menggelegar di luaran sana. "Hujan-hujan enaknya apa Yang?" tanya Radit sembari mencubit hidung mancung Khaira.
"Makan mie rebus, Mas. Mie instan pakai telor dan cabe. Pasti enak deh. Pas banget cuacanya hujan dan dingin kayak gini masak mie rebus." jawab Khaira.
Radit terkekeh geli, "Kamu lucu banget sih, bikin aku gemas. Ada yang lebih enak tahu, selain makan mie rebus pas ujan-ujan kayak gini." ucapnya sembari mengerlingkan matanya.
__ADS_1
Apa hayo dimaksud Radit?
Like 300 dan komentar, lanjut ke Bab selanjutnya ya... 😉