Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Menemani Suami Bekerja


__ADS_3

Saat Radit dan Khaira tengah menonton siaran televisi bersama, handphone Radit tiba-tiba saja berbunyi.


"Handphone kamu berbunyi tuh Mas, angkat dulu deh Mas ... sapa tau penting." ucap Khaira sembari mendongak menatap wajah suaminya.


"Iya, aku lihat bentar ya..." ucapnya sembari mengambil handphone di dekat nakas. "Ayah Wibi nih, Yang ... aku angkat bentar ya."


Ayah Wibi


Calling


[Halo, Dit ... baru ngapain?] tanya Ayah Wibi dari sambungan teleponnya.


[Halo Yah, ini baru nyantai aja sama Khaira. Ada apa Yah?] sahut Radit melalui sambungan selulernya.


[Bisa minta tolong untuk audit laporan keuangan bulan ini. Kemarin sudah dicek masih kurang benar, coba kamu audit ulang. Bisa enggak?]


Rupanya Ayah Wibi menelpon karena hal yang urgent berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan.


[Baik Ayah, tolong dikirim email saja ya Yah. Akan Radit cek sekarang.] jawabnya.


[Oke, Dit. Tolong ya. Makasih Dit, salam buat Khaira.]


Panggilan telepon itu pun berakhir, Radit masih berdiri, ia mulai mengambil laptop dari tas ranselnya lalu duduk di samping Khaira yang masih menonton acara televisi.


"Kenapa Mas?" tanya Khaira begitu suaminya sudah kembali duduk dan mulai menyalakan laptopnya.


"Biasa, Ayah minta tolong untuk audit laporan keuangan di perusahaannya. Kan sudah awal bulan, untuk laporan kan." jawabnya.

__ADS_1


Khaira menganggukkan kepalanya, sesekali ia melihat suaminya yang tengah bekerja dengan bermodalkan laptop di tangannya.


"Kamu Work From Home ya Mas. Lintas benua WFH-nya." ucap Khaira sembari tertawa.


"Iya, aku ini work from home sih. Tetapi kan enggak rutin Sayang, cuma pas diminta Ayah aja. Atau ada kekeliruan dalam laporan keuangannya, biasanya aku audit ulang terus dapat deh temuannya." jawab Radit sembari membuka aplikasi email dan juga tabel di laptopnya.


"Kerja di meja belajarku sana loh Mas, nanti di sini ke ganggu suara televisi gimana? Atau mau aku matikan aja televisinya biar enggak ganggu." Khaira mengatakan kepada suaminya lebih baik untuk bekerja di meja belajar supaya lebih fokus.


"Enggak usah, di sini aja. Kamu juga di sini aja ... temenin ya." pintanya kepada Khaira untuk tetap duduk di sebelahnya dan menemaninya bekerja.


Khaira mulai mematikan televisi yang masih menyala, ia lebih memilih berselancar dengan handphonenya. Melihat drama Korea melalui aplikasi nonton di handphonenya. Supaya tidak memecah konsentrasi suaminya, Khaira lebih memilih menggunakan earphone.


"Kamu nonton apa? Kok senyum-senyum sendiri...." tanya Radit sembari bekerja, ia agak menghentikan sebentar aktivitasnya lantaran istrinya yang nampak happy dengan gadget di tangannya.


Khaira melepas satu earphone di telinganya. "Nonton drama Korea aja Mas, aku gangguin?" tanyanya.


Menggelengkan kepala. "Enggak ganggu kok, nonton aja. Sandaran sini, biar enggak pegel." ucapnya seraya membawa kepala Khaira bersandar di bahunya. "Dah, kalau mau lanjut nonton Drakor nya boleh kok. Aku kerja dulu ya, urgent soalnya kata Ayah."


Terkadang Khaira mendongakkan kepalanya guna untuk melihat wajah suaminya yang sedang serius. Jika dulu ia sempat berselancar di internet bahwa pekerjaan auditor membutuhkan keseriusan, kini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya sedang sangat serius. Matanya fokus ke layar laptop membuka deretan tabel, tangannya bergerak di atas papan keyboard laptopnya.


"Ehem...." Pria itu berdehem, yang membuat Khaira mengerjap seketika.


"Kenapa kok malahan melamun, itu dramanya masih jalan, tapi pandangan mata kamu justru ke arah laptop. Mau bantuin?" ucapnya sembari sejenak menghentikan gerakan jari-jarinya di atas papan keyboard.


Menggelengkan kepalanya. "Enggak, dulu itu aku pernah berselancar di internet kalau jadi Auditor itu butuh fokus dan ketelitian, sekarang aku lihat sendiri." ucap Khaira.


Radit pun tersenyum. "Iya, bener. Karena semua ini dan dicek, kadang butuh data yang lain. Jadi, aku buka tabel ini berderet-deret." jawabnya.

__ADS_1


"Hmm, aku dulu punya teman SMA yang berhasil masuk ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sekarang sudah jadi Auditor di kepemerintahan, Pegawai Negeri yang ditempatkan di seluruh Indonesia." cerita Khaira.


Radit agak melihat wajah istrinya itu. "Temen cewek atau cowok?" tanyanya singkat.


"Ada yang cowok dan cewek, Ayah Ammar sebenarnya dulu suruh aku masuk ke sana, tapi aku gak mau. Passionku bukan di Akuntansi soalnya." jawab Khaira.


"Aku dulu sudah ikutin juga tes itu, tetapi aku gagal. Jadi ya sudah, kuliah di universitas biasa saja." ucap pria itu dengan matanya yang menerawang dan mengingat kembali perjuangannya dulu mencoba memasuki Sekolah Tinggi itu.


Khaira pun mengelus lengan suaminya. "Gak papa Mas, namanya hidup ada keberhasilan dan kegagalannya. Nyatanya kamu tetap menjadi Auditor dan bekerja di bidang Akuntansi kan. Dalam segala sesuatu, Tuhan sudah merencanakan semuanya Mas. Saat berhasil kita belajar menghargai kerasnya perjuangan, saat gagal kita belajar untuk terus berlari, berusaha untuk mencapai cita-cita kita. Iya kan?"


"Bijak banget kamu sih Sayang. Iya benar, walau pun dulu gagal tetapi aku tetap bekerja sebagai Auditor kok. Ya jadi, enggak nyesel-nyesel banget. Aku bersyukur untuk semuanya. Termasuk aku pernah gagal banget di awal pernikahan kita, bersyukur kesempatan datang lagi untukku dan aku sekarang aku jaga benar-benar rumah tangga ini. Kalau aku mulai lupa, terus ingatkan aku ya Sayang. Kita jaga bersama-sama." ucapnya.


Khaira menganggukkan kepala. "Iya, ingatkan aku juga Mas. Kita jaga bersama. Ya sudah, kerja lagi Mas... Maaf, malahan ngajakin kamu ngobrol."


Radit tersenyum. "Iya, aku kerja dulu ya... Maaf ya Sayang, aku harus selesain ini segera soalnya."


Khaira kembali bersandar di bahu suaminya. "Gak papa Mas, kerja aja. Aku sandaran lagi boleh kan Mas?"


"Hmm, iya boleh."


Radit kembali bekerja dengan berbagai file dan tabel, menyelesaikan audit laporan keuangan. Sementara Khaira kembali mengenakan earphone di telinganya dan melihat drama Korea melalui gadgetnya.


Suara malam ini benar-benar hening, hanya terdetikan dentingan dari papan keyboard yang dijalankan Radit.


Sekian lama, tidak terdengar suara dari Khaira. Justru terdengar hembusan nafas halus dari Khaira, dan handphone di tangan Khaira hingga terlepas. Radit sesekali melihat apakah istrinya masih melihat Drakor di handphone. Kenapa tenang sekali.


Ketika Radit menyelipkan untaian rambut Khaira yang menutupi sebagian wajahnya rupanya wanita itu telah tertidur di bahu suaminya.

__ADS_1


"Nungguin aku kerja lama ya Sayang? Sampai kamu ketiduran." Radit bergumam dengan lirih.


Tanpa berniat membangunkan istrinya, pria itu justru membopong istrinya ke atas tempat tidur. "Tidur dulu Sayang. Istirahat. Aku lanjut bekerja dulu ya. Nanti aku susul...." ucapnya sembari menatapi wajah damai istrinya yang tengah tertidur.


__ADS_2