Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Om & Aunty


__ADS_3

Ketika usia Arsyila menjelang tiga bulan, salah satu sahabat Radit dan Khaira berniat untuk mengunjungi mereka. Sejak Arsyila lahir, memang beberapa orang datang ke rumah untuk mengunjungi bayi cantik itu.


Kali ini Metta datang untuk mengunjungi Khaira dan juga baby nya.


"Halo Khai ... Ya ampun, cantik banget ponakan Aunty. Namanya siapa nih?" sapa Metta begitu dia datang ke rumah sahabatnya itu.


"Namaku Arsyila, Aunty. Ayo masuk Ta, jangan cuma berdiri di depan pintu. " Sahut Khaira sembari membukakan pintu dan menggendong Arsyila.


Metta masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, bersama dengan Khaira dan juga baby Arsyila.


"Nih, Aunty bawain buat ponakan Aunty yang paling cantik." ucap Metta sembari menyerahkan kotak hadiah di dalam paper bag untuk Arsyila.


Khaira menerima hadiah dari sahabatnya itu. "Repot-repot sih, padahal gak usah bawa apa-apa gak papa. Ditengokin aja udah seneng banget." ucap Khaira sembari menerima paper bag dari sahabatnya itu.


Metta lantas mengedikkan bahunya. "Gue ngasih bukan buat lo, tapi buat ponakan Aunty yang cantik ini. Cantik banget sih. Manggil kalian apa Khai?" Tanya Metta kepada Khaira.


"Manggilnya Mama dan Papa, Aunty." Jawab Khaira yang masih saja menggendong Arsyila.


"Gimana rasanya menjadi Mama di usia muda Khai?" tanya Metta dengan raut wajah yang serius.


"Senenglah pasti. Bersyukur juga. Gue masih muda udah punya baby. Tapi emang melahirkannya gue nyaris banget nyerah, untung Mas Radit selalu mendampingi gue. Kalau melahirkan, wajib banget di temenin suami, Ta." Khaira kembali mengenang masa melahirkan yang menurutnya adalah pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya.


Metta mendengarkan cerita Khaira saat melahirkan itu. "Suami lo siaga banget ya. Pasti lo seneng menyambut buah hati ditemenin suami."


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Seneng banget. Di saat gue bener-bener mau nyerah, udah lemes banget. Mas Radit yang selalu menguatkan dan mendukung gue." Kali ini Khaira bercerita benar-benar dari hati hingga air matanya menetes begitu saja.


Memang demikianlah para wanita, mengingat momen melahirkan beberapa di antaranya akan menangis, Khaira termasuk salah satunya. Akan tetapi, mengingat suami yang siaga menemaninya, Khaira sangat bersyukur.


"Kok malahan nangis sih...." Ucap Metta sembari merangkul bahu sahabatnya itu.


Khaira pun kini menyeka air matanya. "Momen melahirkan itu wow banget Ta ... gak akan terlupakan." ucapnya.


Baru saja selesai Khaira berbicara, pintu rumah kembali ada yang mengetuk. "Gue bukain pintu sebentar ya Ta." Pamitnya sembari menggendong Arsyila berjalan ke depan untuk membukakan pintu.

__ADS_1


Begitu membuka pintu, dia dikejutkan dengan suaminya yang pulang tapi tidak sendirian, ada Dimas rupanya yang bisa datang bersama-sama dengan Radit.


"Halo Sayang...." Sapa Radit begitu mendapati dua wanita tercantiknya membukakan pintu rumah.


Khaira langsung tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Hai Khai...." Sapa Dimas yang juga berdiri di depan pintu rumah.


"Hai Kak ... silakan masuk." Ucapnya sembari kembali melangkah masuk ke dalam rumah. "Ada Metta, Mas ... datang nengokin Arsyila."


Begitu melihat Metta yang sudah terlebih dahulu duduk di ruang tamu, Radit menyapa dengan menganggukkan kepalanya.


"Duduk dulu Kak." Khaira juga mempersilakan Dimas untuk duduk lebih dulu.


Sementara Radit langsung naik ke kamar untuk mandi, karena sudah menjadi kebiasaannya begitu pulang kerja pria itu akan langsung mandi dan bersih-bersih. Jika belum mandi, Khaira tak akan membiarkannya menyentuh Arsyila.


Sementara Khaira berjalan sejenak ke dapur, membuat minum untuk Metta dan Dimas.


"Gak usah repot-repot, Khai...." Ucap Metta.


"Iya, gak usah repot, Khai...." Ucap Dimas.


Khaira kembali duduk dan tersenyum. "Enggak repot, cuma bikin minuman aja kok. Kak Dimas tumben ke sini?" Tanya Khaira kepada Dimas.


"Mau nengokin ponakan. Kan sejak dia lahir, aku belum nengokin. Siapa nih namanya ponakan Om yang cantik ini?" Tanya Dimas dengan mata yang menatap Arsyila yang masih digendong oleh Khaira.


"Namanya Arsyila, Om...." Jawab Khaira sembari tersenyum.


Setelah itu, Dimas membuka tas ransel kerjanya lalu memberikan sesuatu kepada Arsyila. "Ini buat Arsyila ya dari Om Dimas." ucapnya sembari menyerahkan kotak hadiah berukuran kecil kepada Arsyila.


"Lah kok malahan repot-repot sih Kak. Aku jadi enggak enak." Ucap Khaira sembari menerima pemberian dari Dimas.


Tidak lama berlalu Radit pun turun dari kamar, sudah bersih, segar, dan tentunya wangi. Dia langsung meminta Arsyila dan menggendongnya. "Sini, ikut Papa ... Arsyila hari ini rewel enggak?" Tanyanya sembari mencium pipi chubby milik Arsyila.

__ADS_1


"Enggak Papa ... Arsyila pinter kok hari ini." Jawab Khaira.


"Gak nyangka, lo udah gendong anak ya Dit? Pantes juga gendong anak. Mana anak lo cantik lagi, boleh enggak nanti gue minta Arsyila nya buat jadiin menantu." Celetuk Dimas yang membuat semua mata nampak membola.


Radit justru tertawa. "Mending sana nikah dulu, jangan mikir jadiin anak gue sebagai menantu. Arsyila mau sekolah dulu yang pinter biar seperti Mamanya." jawab Radit yang membuat Dimas tertawa.


"Kalau mau jadiin Arsyila sebagai menantu, gue juga mau lah, Khai. Nanti kalau anak gue cowok. Besanan ya kita." ucap Metta dengan spontan.


"Gimana nih Pa, mereka berdua sama-sama belum nikah tapi udah antri jadiin Arsyila menantu." Ucap Khaira sembari terkekeh geli.


"Kenapa kalian berdua enggak nikah aja, jadi Arsyila enggak direbutkan dua kubu." Ucap Radit yang membuat Metta dan Dimas sama-sama tertawa dalam kecanggungan.


Radit juga tertawa. "Kalian sama-sama jomlo kan, sapa tau cocok. Kan kalian berdua Om dan Aunty nya Arsyila. Aku setuju sama Mas Radit."


"Yahhh, gue ke sini mau nengokin ponakan cantik malahan dijodohin sih." Gerutu Dimas sembari meminum minumannya.


"Bener ya Kak, mau nengokin ponakan malahan dijodoh-jodohin." Kali ini giliran Metta yang mengeluhkan hal yang sama.


Sementara Khaira dan Radit justru kompak tertawa. "Jodoh itu bisa ketemu di mana saja. Sama kayak gue dan Khaira dulu. Kami bertemu saat kecil, dan sekarang kami bisa jadi suami istri, bahkan sekarang jadi Mama dan Papa buat Arsyila. Menikah itu indah, terlebih kalau kalian menemukan pasangan yang sepadan dan seimbang. Sama-sama mengisi tangki air cinta ya Sayang." ucap Radit sembari menatap istrinya.


Sementara Dimas hanya menggelengkan kepala. "Lo jadi seperti ini karena istri lo. Jadi dewasa sekarang." Puji Dimas kepada sahabatnya itu.


"Siapa pasangan kita cerminan diri kita. Dan, gue enggak menampik kalau Khaira lah yang bikin gue jadi seperti ini." ucap Radit dengan sungguh-sungguh. "Kalian enggak pengen gendong Arsyila?" tanya Radit kepada Dimas dan Metta.


"Boleh enggak kalau mau gendong sebentar?" tanya Metta yang tangannya sudah terangkat untuk memggendong Arsyila.


Khaira pun tersenyum. "Boleh. Pake hand sanitizer ini dulu, kalau mau pegang Arsyila biar enggak ada kuman yang menempel."


Metta tertawa melihat Khaira yang sudah menyemprotkan hand sanitizer di tangannya. "Mama Khaira emang ya ... sini ikut Aunty Sayang."


Radit pun menyerahkan Arsyila untuk digendong Metta. Nampak Dimas mendekat di tempat duduk Metta dan mengajak bicara baby Arsyila.


"Udah cocok kalian punya baby. Mending nikah aja, biar kami punya ponakan dari kalian...." Ucap Radit yang membuat Metta dan Dimas sama-sama malu dan wajahnya memerah seketika.

__ADS_1


__ADS_2