
Melanjutkan perjalanan mereka bertiga, Khaira, Radit, dan Arsyilla kini duduk-duduk bersama di cawannya Monas. Di sana, Khaira memilih duduk di anak tangga, sementara Radit dan Arsyilla nampak melihat patung-patung yang berada di pelataran Monas. Sejumlah patung mulai dari Gajah Mada, hingga Jenderal Soedirman terdapat di pelataran Monas.
“Kamu duduk di sini saja Sayang … jangan terlalu kecapean. Biar aku dan Syilla saja yang muter-muter,” ucapnya sebelum berputar mengeliling Monas bersama Arsyilla.
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “iya, aku tunggu di sini ya Mas. Jangan lama-lama ya, hati-hati.” Kemudian Khaira menatap Arsyilla dan memeluk putrinya itu sejenak, “Syilla hati-hati ya. Jangan berlari-larian ya, selalu pegang tangan Papa ya.” pesan Khaira kepada putrinya itu.
“Oke Ma … tunggu di sini ya Ma, Syilla jalan-jalan dulu ya. Bye Mama.” ucap Arsyilla sembari melambaikan tangannya kepada Mamanya yang saat itu menunggu duduk di cawan Monas.
Khaira tampak tersenyum melihat keakraban suaminya dengan Arsyilla. Terlihat bagaimana Papa dan anak itu begitu saling menyayangi. Di dalam hatinya, Khaira benar-benar bahagia, dia pun berharap saat babynya nanti lahir, juga akan seakrab itu dengan Papa dan Kakaknya. Tanpa sengaja Khaira tersenyum dan pandangan matanya menunduk, melihat pada perutnya yang saat ini masih rata, tetapi sudah ada kehidupan di dalamnya.
“Adik bayi nanti kalau lahir saling sayang juga sama Mama, Papa, dan Kakak Syilla ya … tidak sabar menunggu kamu lahir ke dunia, Sayang.” gumamnya sembari menaruh satu tangannya ke atas perutnya.
Menunggu waktu sembari suaminya dan Arsyilla kembali, Khaira lebih memilih duduk, menyelonjorkan kedua kakinya, merasakan angin yang bertiup dengan sepoi-sepoi hingga akhirnya, usai itu Arsyilla kembali dengan sedikit berlari dan menghampirinya, “Ma … Mama, ayo kita lihat Ondel-Ondel Ma … di depan sana ada Ondel-Ondel,” ajak Arsyilla dengan begitu tertarik untuk melihat kesenian khas Jakarta itu.
Ondel-ondel adalah kesenian rakyat khas Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Tampaknya Ondel-Ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Sekalipun Ibukota selalu bergerak ke arah modernisasi, nyatanya kesenian ini tetap ada hingga sekarang ini.
Khaira yang semula duduk pun, perlahan bangkit dan mengikuti Arsyilla, mereka berkumpul dengan beberapa pengunjung Monas yang melihat Ondel-Ondel itu. Sementara Radit pun berdiri tidak jauh dari situ, langsung berjalan menghampiri istrinya, pria itu bahkan tidak ragu untuk menggenggam erat tangan istrinya. “Masih capek?” Tanyanya kepada istrinya itu.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, “enggak, aku enggak capek kok. Aku malahan seneng banget liat kamu dan Syilla yang klop banget,” ucapnya sembari tertawa dengan menatap wajah suami dan putrinya bergantian.
__ADS_1
“Mama, Ondel-Ondel itu boneka ya Ma?” Tanya Arsyilla dengan tiba-tiba.
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “benar Sayang, Ondel-Ondel itu boneka berukuran besar, terlihat seperti boneka raksasa kan? Ondel-Ondel ini tingginya 2,5 meter dan dibuat dari anyaman bambu.” Khaira menjawab pertanyaan Arsyilla dengan begitu detail.
Arsyilla pun mengangguk, “benar Ma … tinggi Ondel-Ondelnya ya Ma, daripada Papa. Itu cewek dan cowok ya Ma?” Tanyanya lagi sembari menunjuk Ondel-Ondel yang tengah beratraksi berjalan kesana kemari.
“Iya Syilla … itu coba lihat ya, yang wajahnya dicat putih itu Ondel-Ondel yang cewek, lalu yang wajahnya dicat merah itu Ondel-Ondel yang cowok. Itu kesenian khas suku Betawi, Syilla.” lagi Khari menjelaskan tentang Ondel-Ondel itu kepada Arsyilla. Sementara Arsyilla nampak heran melihat layaknya boneka raksasa yang begitu besar dan tinggi itu.
“Syilla suka enggak nonton Ondel-Ondel?” Tanya Radit kepada putrinya itu.
“Suka Pa ….” jawabnya dengan cepat.
Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian, saat Ondel-Ondel itu berjalan lebih dekat ke arah Arsyilla, tiba-tiba gadis kecil itu menangis dan memegangi tangan Mamanya dengan begitu kencang. Melihat Arsyilla yang menangis, Radit dengan segera menggendong anaknya itu, “loh, kenapa anak Papa ini menangis?”
Khaira justru tersenyum melihat Arsyilla yang tengah menangis, dia berbisik kepada suaminya, “anak kecil pasti gitu ya Pa … beberapa saat keliatan tertarik dan bertanya terus, begitu objek itu mendekat, jadi nangis. Ketakutan deh. Namun, biasanya anak-anak kecil nangis juga sih lihat Ondel-Ondel sama kaya aku dulu,” ucapnya sembari mengalungkan tangannya di lengan suaminya.
Radit pun turut tertawa, dia menatap wajah istrinya itu, “jadi Syilla penakut itu mirip kamu ya Sayang? Dulu banget waktu kecil, kamu nangis pas lihat patung Dewi Durga di Candi Prambanan dan sekarang, Syilla nangis melihat Ondel-Ondel. Kalian berdua itu sama banget sih, membuatku bernostalgia dengan Aira-ku waktu kecil.”
“Lah … tapi kan, patung Dewi Durga di Candi Prambanan itu buat anak kecil juga serem loh Pa. Lagian, kenapa sih kalau aku nangis, nenanginnya harus pake acara peluk-peluk dan cium aku sih? Papa modusnya dari kecil ya?” Tanya Khaira sembari menyipitkan matanya guna menatap wajah suaminya.
__ADS_1
“Buktinya, aku peluk dan cium kan kamunya juga langsung diam. Jadi kan berarti ampuh. Abis, waktu kecil dulu kamu cantik banget Sayang. Bikin gemes. Eh, enggak hanya waktu kecil sih, sekarang pun kamu cantik banget dan selalu ngegemesin.” ucap pria itu sembari menyatukan sisi kepalanya sejenak hingga mengenai kepala istrinya.
“Papa, abis ini ke tempat yang lain ya Pa … Syilla takut Ondel-Ondelnya Pa, dia besar sekali.” Arsyilla kini giliran berbicara dan masih menyembunyikan wajahnya dalam gendongan Papanya.
Radit pun tersenyum, “itu Ondel-Ondelnya sudah berjalan jauh kok Sayang … coba Syilla lihat ke depan, sudah tidak ada kan Ondel-Ondelnya. Lagipula, Arsyilla kan anak berani, ada Papa dan Mama yang selalu menjagai kamu. Kami selalu menjagai kamu, Syilla.” ucap Radit yang menenangkan Arsyilla dan mengingatkannya supaya tidak takut karena dia dan juga Khaira akan selalu menjaganya.
“Iya Papa … sekarang jalan-jalan yuk Pa, puter-puter Monas.” ajak Arsyilla yang kini meminta turun dari gendongan Papanya.
“Boleh … tetapi, Syilla tidak boleh lari-lari ya. Kasihan Mama nanti kecapean.” Papa Radit masih mengingatkan Arsyilla sudah tidak berlari-larian.
“Oke Pa.” jawab Arsyilla dengan cepat.
Mereka pun kembali melanjutkan berjalan kaki di sekitar Monas, melihat beberapa patung dan melihat beberapa kerumunan orang yang sedang mengoperasikan drone, bermain sepetu roda, dan lainnya. Ini adalah kali pertama bagi Arsyilla mengunjungi Monas, sehingga mengunjungi Monas ini sangat berkesan bagi Arsyilla.
“Pa, itu ada kereta api Pa?” tunjuk Khaira saat ada kereta api yang melintas dan terlihat dari Monas.
“Iya Sayang … itu kereta api. Kalau naik kereta api ini, Monasnya keliatan besar banget dan juga kota Jakarta juga keliatan dari atas.” kali ini giliran Radit yang menjelaskan kepada Arsyilla.
Hingga akhirnya, Arsyilla tertarik pada stand mewarnai yang diperuntukkan bagi anak-anak seusianya. Arsyilla pun meminta izin kepada Papa dan Mamanya untuk bisa mewarnai di stand tersebut. Tentu saja, Radit dan Khaira memperbolehkannya. Keduanya duduk tidak jauh dari Arsyilla, “dia keliatan bahagia banget ya Sayang?” Tanya Radit sembari memperhatikan Arsyilla yang tengah mewarnai.
__ADS_1
Khaira pun mengangguk setuju, “bener banget … udah lama enggak diajak main outdoor sih Mas. Jadi hari ini dia malahan yang seneng banget.”
Radit pun lantas tertawa, “Kamu yang ngidam pengen ke sini. Malahan Arsyilla yang keliatan seneng banget. Namun gak apa-apa, aku juga seneng kok. Dia juga keliatan seneng banget.”