Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Dampak Kehilangan


__ADS_3

Ada rasa sedikit kelegaan dalam hati Radit, sekali pun Khaira belum memaafkannya, tetapi malam ini ia bisa bermalam di apartemen Khaira.


Sifat keras kepala yang ia miliki nyatanya bisa membuatnya lebih dekat dengan Khaira. Tidur terpisah pun bukan masalah untuk Radit. Bisa berada satu atap dengan Khaira merupakan kebahagiaan untuknya. Lagipula, Radit sudah berketetapan akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan kembali Khaira.


Puas menyelami pikirannya sendiri, Radit akhirnya memilih tidur. Berdiri sekian jam di tengah dinginnya musim dingin Kota Manchester cukup membuat pinggang hingga kakinya terasa sangat pegal. Untung saja, Khaira segera membawanya masuk sekali pun istri itu untuk pertama kalinya mengomel pada dirinya.


Sementara Khaira sendiri, semarah apa pun dia dengan suaminya, sekeras apa pun dia berusaha menahan hatinya untuk menghiraukan Radit, nyatanya sekarang suaminya itu sudah berada di dekatnya.


Menjelang tengah malam, Khaira terbangun. Ia melihat sekilas Radit yang tertidur di sofa. Khaira turun dari tempat tidurnya, perlahan-lahan dia menapakkan kakinya di lantai, lalu ia mengambil selimut dari dalam lemari. Langkahnya sangat pelan, lalu ia mendekati Radit dan menyelimuti pria itu. Udara sangat dingin sekali pun di dalam ruangan sudah dilengkapi dengan penghangat ruangan, tentu saja selimut sangat dibutuhkan di saat musim dingin seperti sekarang ini.


"Tidurlah Mas, sudah malam. Ku harap kamu sehat setelah sekian jam lamanya berdiri di luar," gumamnya dalam hati sembari menatap wajah suaminya yang tengah tertidur.


Khaira kembali ke tempat tidurnya. Lalu, ia menyelimuti dirinya dan bergelung di bawah selimutnya yang hangat. Mengistirahatkan pikirannya yang berat.


Baru sekian jam, Khaira tertidur ia mendengar seperti memanggil namanya.


"Khaira ... Khaira ... Jangan pergi Khai...."


Suara itu Khaira dengar jelas dengan telinganya. Hingga akhirnya ia bangun, ia baru ingat bahwa ada Radit yang juga tidur di apartemennya. Dengan segera ia turun dari tempat tidurnya.


Khaira mendekati Radit yang rupanya masih tertidur, akan tetapi sekali pun tidur kenapa wajah Radit nampak gelisah dan kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri.


"Maafkan aku Khaira ...," ucapnya lirih, tetapi matanya masih terpejam.


Khaira berpikir apakah Radit sedang mimpi buruk, maka ia segera membangunkan Radit.


"Mas ... Bangun Mas...." ucapnya pelan sembari menepuk lengan Radit.


Akan tetapi yang dibangunkan rupanya masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Sekali lagi, Khaira akan membangunkan Radit. "Mas ... Bangun Mas ... Bangun...." ia kembali membangunkan dengan suara agak keras, sehingga membuat pria itu langsung membuka matanya perlahan-lahan.


"Khai, kamu...." ucapnya sembari mengambil posisi duduk.


"Kamu mimpi buruk Mas?" tanya Khaira pagi itu.


"Hmm, kenapa memangnya?"


"Aku dengar kamu bilang supaya aku jangan pergi dan manggil namaku, padahal matanya masih terpejam." cerita Khaira kepada Radit pagi itu.


Radit pun menyugar rambutnya dan menghela nafasnya kasar, "Sejak kau pergi, aku selalu seperti ini Khai ... Bahkan aku sempat masuk rumah sakit karena asam lambung dan gejala stress yang mengarah ke depresi. Aku tidak berbohong, kamu boleh bertanya kepada Ayah dan Bunda kita berdua."


Khaira tidak menyangka, benarkah suaminya mengalami semua itu? Khaira berpikir dengan dia pergi jauh hingga ke Inggris, berpikir melepaskan cinta pertamanya, mengikhlaskan Radit bahagia dengan Felly, ternyata kali ini Radit justru mengatakan dia sempat mengalami gejala stress yang mengarah ke depresi.


"Maksud kamu apa Mas?" tanyanya menelisik dan mencoba mencari kebenaran dari suaminya itu.


Sementara Khaira hanya memasang telinganya untuk mendengar cerita Radit.


"Aku pikir kamu akan bahagia, dengan aku pergi." ucap Khaira singkat.


"Tidak. Aku sama sekali tidak bahagia. Aku kehilanganmu, Khai." jelas Radit dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa kamu tidak bahagia? Bukankah sudah ada dia yang menemani hari-harimu." Khaira hanya ingin memastikan sebenarnya, bukankah sudah ada Felly. Mengapa Radit bisa tidak bahagia.


"Aku akhirnya melihat dengan mata kepalaku sendiri ternyata Felly tidak benar-benar mencintaiku. Melihat ketidaksetiaannya aku tak merasa sakit. Aku kesakitan saat kamu meninggalkanku. Hanya selembar surat yang aku temukan di atas meja belajarmu."


"Jadi kamu sudah tahu bagaimana kebenaran dari Felly, Mas?" tanya Khaira kepada Radit.


"Iya, aku melihatnya sendiri. Apa kamu sudah tau sebelumnya?" giliran Radit yang bertanya kepada Khaira.

__ADS_1


Khaira lalu berdiri, mengambil ponselnya dari atas nakas. Ia membuka di galerinya, satu memperlihatkan sebuah foto kepada Radit.


"Ini." sembari tangannya menyerahkan ponselnya kepada Radit.


Radit pun menerimanya dan melihat foto-foto yang ditunjukkan Khaira. "Jadi kamu juga tahu, sejak kapan? Kenapa tidak pernah memberitahuku?"


"Memangnya jika saat itu aku memberitahumu, kamu akan langsung percaya Mas? Tidak. Kamu tak akan percaya sebelum kamu melihat dan mendengarnya sendiri. Karena cintamu padanya mengalahkan logikamu sendiri, Mas. Jadi aku memilih diam, biar waktu yang membuka semuanya."


"Apa aku sebodoh itu ya?" tanya Radit.


"Pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab Mas, karena kamu sendiri sudah tahu jawabannya." jawab Khaira. "Ya sudah, karena sudah pagi, aku mau ke kampus pagi ini."


Khaira pun berlalu meninggalkan Radit, ia masuk ke dalam kamar mandi. Hanya perlu 15 menit, Khaira telah bersiap untuk masuk ke kampus.


Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia mencium aroma teh yang menguar hingga ke hidungnya. Sekilas ia melirik, Radit tengah berkutat di dapur.


"Sarapan dulu Khai...."


"Hmm, iya. Makasih."


Di kitchen island telah tersedia teh hangat, roti bakar, dan scramble egg. Rupanya Radit yang mempersiapkan menu sarapan itu. Begitu Khaira masuk ke dalam kamar mandi, pria itu dengan sigap menyeduh teh, membuat roti panggang dan juga scramble egg.


"Kenapa repot-repot Mas?" tanya Khaira begitu ia duduk di kitchen island.


"Enggak repot. Mulai sekarang biarkan aku melayanimu, Khai ... aku selama ini tidak pernah melakukan apa pun untukmu."


Khaira meminum secangkir teh yang sudah dibuatkan Radit, lalu mengambil saus untuk memakan roti bakar dan scramble egg-nya. "Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan mengurus keperluanku sendiri Mas."


Radit menoleh pada Khaira, "Mulai hari ini aku akan hidup bersamamu, Khai. Aku akan buktikan kalau aku sudah berubah. Aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu. Berapa sandi kamarmu ini Khai? Nanti aku akan mengambil barang-barangku yang masih di hotel. Usai itu, izinkan aku tinggal bersamamu. Ya...."

__ADS_1


__ADS_2