Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Emosi Mendidih


__ADS_3

Hari pertama Radit bekerja setelah setahun lebih dirinya tidak bekerja, dan hanya memainkan saham-saham dari handphonenya. Kini Radit kembali ke rutinitasnya sebelum menyusul Khaira ke Manchester, yaitu bekerja.


Di WNS Finance, Radit tentunya pertama kali dikenalkan oleh Ayah Wibi sebagai anaknya. Akan tetapi, sebagai seorang pimpinan Ayah Wibi telah mengatakan kepada seluruh stafnya untuk memperlakukan Radit dengan biasanya saja, tidak ada yang diistimewakan sekali pun ia adalah anak seorang pemimpin. Begitu pula Radit, ia memang tidak ingin diistimewakan. Radit ingin merintis kariernya dari bawah lagi, tidak ingin memanfaatkan hak istimewa yang ia miliki sebagai seorang anak pimpinan.


Radit di tempatkan di divisi Administrasi Finansial yang memiliki tugas melakukan koordinasi dan kontroling arus keuangan pada setiap cabang dan kontroling terhadap Teller kasir.


Di divisi keuangan ini, Radit memiliki tiga rekan yang tentunya akan bekerja sama untuk menyelesaikan setiap tugas-tugas di bagian administrasi finance. Ketiga rekan Radit adalah Andi, Nina, dan juga Miko.


Ayah Wibi yang mengantar Radit untuk memasuki ruangan tempat kerjanya yang hanya berupa kubikal yang memisahkan tempat duduk antara dirinya dan teman-temannya.


"Ini bagian administrasi finansial. Kamu bisa memilih salah satu kubikal yang masih kosong." Ayah menunjuk pada beberapa kubikal yang kosong di bagian ruangan itu.


Radit mengangguk, matanya melihat beberapa kubikal yang nampak kosong di sana. Kemudian pria itu berjalan, memasuki ruangan itu dan memperkenalkan dirinya kepada ketiga rekannya di sana.


"Pagi semuanya, perkenalkan saya Radit. Mulai hari ini, saya akan bergabung di divisi administrasi finansial. Harap kerja samanya untuk ke depannya."


Tiga temannya pun menyambut Radit dengan cukup baik, lalu Miko menunjukkan beberapa kubikal kosong kepada Radit.


"Santai aja Bro, tidak usah terlalu formal. Kita temenan semua kok di sini. Gue Miko." Miko yang mendekati Radit dan mengatakan untuk tidak perlu berbicara formal.


Kedua pria itu melakukan salaman tos dengan adu dua kepalan tangan.


"Gue Radit." ucap Radit.


Lalu salaman tos bergiliran kepada Andi dan Nina.


"Pilih aja kubikal yang kosong ini. Kita bekerjanya di kubikal kayak gini. Lo, anaknya Pak Wibi ya? Sebelumnya kerja di mana?" tanya Andi kepada Radit.


"Iya, gue anaknya Pak Wibi, tetapi jangan anggap gue istimewa. Biasa aja. Hampir dua tahun yang lalu gue bekerja sebagai Auditor di salah satu bank swasta, setelah itu gue cuti besar." jawab Radit.

__ADS_1


Ketiga temannya pun mengangguki ucapan Radit.


"Sudah punya Istri belum Kak?" tanya Nina kepada Radit yang mengundang gelak tawa dari kedua temannya yang lain.


"Sudah, gue sudah punya Istri." jawab Radit.


Andi menatap tajam Nina. "Ngapain lo tanya-tanya begituan. Hampir pegawai lama di sini udah tahu kalau Pak Wibi sudah punya menantu. Jangan macem-macem, jangan halu." ucap Andi.


Nina hanya mengedikkan bahunya. "Kan gue karyawan baru, Ndi. Jadi ya mana gue tahu." ucapnya yang tidak mau disalahkan begitu saja oleh Andi.


"Ya udah, duduk aja Bro. Nanti pekerjaan mulai gue atur. Kita bagi berempat ya." ucap Miko.


Akhirnya Radit memilih salah satu dari kubikal di sana, membersihkannya dahulu dengan kemoceng. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah foto pigura kecil yang ia tempatkan di meja kerjanya. Fotonya bersama Khaira saat di Paris dulu.


Setelah memastikan meja kerjanya bersih, rapi, dan ada pigura foto yang bisa ia pandangi setiap waktu akhirnya Radit duduk. Ia mengeluarkan handphone dari saku celananya, setelahnya Radit memotret meja kerjanya di mana terdapat Personal Computer (PC) dan sebuah pigura foto di sisi PC itu. Lalu, Radit mengirimkan foto meja kerjanya kepada Khaira.


[To: Wifey]


[Ini meja kerjaku Sayang, ada foto kita di sini. Biar aku lebih semangat kerja.]


[Baru nyampe kantor, aku udah kangen kamu.]


[Tunggu aku pulang ya Sayang.]


[Love U😘]


Usai mengirimkan pesan kepada Istrinya, rupanya Miko datang dengan membawa beberapa dokumen yang membuat Radit menaruh handphonenya di meja.


"Iya Ko, ada apa?" Radit bertanya ketika temannya itu datang.

__ADS_1


"Ini, tolong buat rekapitulasi untuk data keuangan bulan ini ya. Nanti aku kasih contoh filenya di komputer lo aja," ucap Miko sembari menyerahkan dokumen cetak kepada Radit. Pandangan mata Miko melihat sekeliling meja kerja Radit, lalu matanya menangkap sebuah foto pigura di sana. "Taruh foto Istri ya Bro?" tanyanya sembari tertawa.


Radit mengangguki pertanyaan Miko. "Iya, biar lebih semangat bekerja." ucap Radit.


Miko hanya tertawa melihat kelakuan rekan barunya ini, tetapi matanya masih melihat pada figura foto itu. "Itu Istri lo kan ya? Kok gue kayak kenal sih?"


Tawa di wajah Radit hilang seketika ketika mendengar Miko mengatakan seperti mengenal Khaira. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Radit lalu memegang pigura foto itu. "Yakin kenal?" Radit memincingkan matanya menatap Miko.


Miko nampak melihat lagi potret di foto itu. Berusaha mengingat-ingat lagi, memutar lagi memori dalam otaknya.


"Dia Khaira kan, anak Teknologi Pendidikan."


Tebakan Miko benar sekali yang membuat Radit semakin was-was. "Iya, dia Khaira. Istri gue."


Radit seolah menekankan dalam ucapannya bahwa Khaira adalah istrinya.


Miko tertawa, "Benar pepatah bilang ya 'Dunia hanya selebar daun kelor'. Gue dulu kakak tingkat dia di Kampus. Tapi gue di Manajemen Bisnis dulu. Dulu gue ngejar dia mati-matian sama sekali enggak ditanggapin. Eh, ternyata dia Istri lo."


Semangat Radit bekerja luruh seketika mendengar ucapan Miko yang seolah frontal. Tapi hatinya menghangat dan cukup lega mendengar bahwa Khaira sama sekali tidak menanggapi Miko. "Di mana Khaira sekarang? Salam ya nanti, sampaikan dari Kak Miko, dulu anak Manajemen Bisnis. Dia pasti tahu kok," ucapnya penuh percaya diri


Radit memutar bola matanya malas, darahnya mendidih saat Miko menitipkan salam untuk istrinya. "Hmm. Apa lo belum move on? Kan secara kejadiannya udah lama banget. Gue bahkan udah menikah dengannya jalan tiga tahun, tahun depan."


Miko hanya tertawa. "Kalau move on udah dong, tetapi cinta pada pandangan pertama susah diilangin."


Sial. Radit ingin menutup mulut pria di depannya ini ketika ia mengatakan cinta pada pandangan pertama. Cemburu, tentu saja. Darahnya mendidih, pasti benar. Tapi Radit berusaha tenang.


"Hati-hati kalau bicara Bro, lo bicara di hadapan suaminya loh ini," ucap Radit yang ingin memberikan ancaman tentunya sambil tertawa sinis.


"Eh, iya. Sorry-sorry. Keceplosan deh gue. Ya udah lanjut aja deh. Kalau ada pertanyaan langsung ke meja gue di depan itu ya?" Setelahnya Miko pergi meninggalkan Radit.

__ADS_1


Radit sedikit mengusap wajahnya dan menghela nafasnya sejenak. Tidak disangka kini ia harus bekerja dengan pria yang dahulunya menaksir Istrinya sendirinya. Baru hari pertama kembali bekerja, tantangan dan cobaan yang ditemui sudah cukup membuatnya uring-uringan dalam hati.


__ADS_2