
Entah kenapa hari Sabtu itu, Khaira enggan untuk sekadar bercanda dengan suaminya. Karena suaminya yang paling modus itu akan selalu menggodainya, walaupun hanya sekadar godaan, tetapi Khaira ingin sekali-kali suaminya itu bersikap serius.
Perlahan Khaira memilih masuk ke dalam kamar, membiarkan Arsyila yang masih asyik bernyanyi dan suaminya yang sempat menggodainya.
Melihat pergerakan Khaira yang menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar, Radit pun sudah tahu pasti istrinya itu tengah mengambek. Benar-benar mengambek. Akan tetapi, saat ini Radit tidak bisa langsung mengejarnya karena ada Arsyila yang masih ingin ditemani bermain.
"Pa, Mama kenapa naik ke kamar Pa?" tanya Arsyila dengan mata yang memperhatikan Mamanya yang sedang menaiki anak tangga menuju kamar atas.
Radit mengusap lembut puncak kepala Arsyila. "Mama istirahat dulu Sayang ... kecapean Mamanya. Syila masih boleh menyanyi kok, Papa temenin. Nanti kalau udah bobo siang dulu ya, nanti agak sore main lagi sama Papa." ucap Radit memberi pengertian kepada Arsyila.
Sehingga Sabtu siang itu, Radit mengasuh Arsyila menemani putri kecilnya itu menanyi lagu anak-anak favoritnya. Setelah merasa capek, Arsyila mengajak Papanya untuk bobok siang.
"Sudah Pa ... nyanyinya. Syila capek, mau bobok." ucap Arsyila sembari duduk di samping Radit.
Radit tersenyum dan menatap wajah putrinya itu. "Syila, mau bobok? Yuk, bobok di kamar saja ya. Papa temenin." ucapnya sembari menggandeng tangan Arsyila dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Setelahnya Radit menemani Arsyila hingga putrinya itu benar-benar terlelap. Merasa bahwa Arsyila benar-benar sudah tidur, Radit pun membuka pintu conneting room dari kamar Arsyila yang langsung terhubung ke kamarnya. Pria itu mengedarkan pandangannya guna mencari keberadaan istrinya. Terlalu Istrinya sedang duduk di sofa dan membaca sebuah buku.
Pelan-pelan dia berjalan ke arah istrinya, lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu istrinya.
Akan tetapi, lantaran istrinya sedang dalam mode ngambek, jadi Khaira hanya diam. Dia sama sekali tidak bergeming dan membiarkan suaminya.
"Kamu baru baca apa Sayang?" tanya Radit yang memulai obrolan keduanya.
__ADS_1
"Tuh, kan keliatan dari depan judulnya." sahut Khaira dengan mode jutek.
Radit beringsut dan menghela nafasnya. Satu tangannya terulur membelai wajah istrinya. "Jutek banget sih. Jangan jutek-jutek dong, nanti cantiknya hilang loh." ucapnya yang tentu saja berusaha merayu istrinya itu.
"Biarin ... lagian siapa yang udah bikin jutek." sahut Khaira dengan cepat.
Radit pun menggenggam tangan istrinya. "Maaf ... jangan marah kayak gini dong. Kamu boleh marah Sayang, tapi jangan diemin aku kayak gini. Aku paling gak bisa kalau kamu diemin." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.
"Kalau aku enggak maafin?" tanya Khaira.
Radit diem dan masih menggenggam tangan istrinya itu. Kendati demikian, pria itu sangat yakin jika Khaira pasti akan memaafkannya. "Ya, memaafkan atau tidak itu hak kamu sih Sayang ... tapi kan aku sudah minta maaf. Jahat banget kalau sampai enggak maafin suami sendiri."
Khaira menatap wajah suaminya dari samping dan masih memasang wajah cemberut. "Lagian ya Mas ... bercanda itu boleh. Akan tetapi, jangan semua juga dibawa bercanda. Aku kan sebel, dikit-dikit dimodusin terus." ucap Khaira yang secara gamblang mengutarakan isi hatinya.
Merasa ada yang lucu dengan ucapan suaminya, Khaira itu menahan tawa. "Orang modus terjujur di dunia, emang bener sih ... tapi jangan gitu Mas. Kalau pas cuma berdua kan bercanda-canda gitu gak apa-apa."
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah ... aku akan berusaha. Maaf yah."
Melihat ketulusan suaminya yang meminta maaf, Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku maafin. Maaf juga karena aku sudah ngambek tadi."
Radit tersenyum, lalu menggenggam tangan Khaira dengan lebih erat. "Selalu ada maaf untukmu, Sayangku. Maafku untukmu tak bertepi, sama seperti cintaku padamu yang juga tak bertepi." ucap pria itu yang mengeluarkan jurus gombalnya.
Tak bisa lagi menahan tawa, Khaira pun tergelak dan mencubit pinggang suaminya itu. "Kamu nyebelin kayak gini, kok ya aku mau sih Mas ... gak ada yang tahu loh kalau kamu nyebelin kayak gini." ucap Khaira sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Radit pun turut tergelak. "Karena yang tahu aku luar dalam cuma kamu, Sayang ... dan, aku menunjukkan diriku seutuhnya dan sesungguhnya juga cuma kepadamu. Katamu kamu mau menerimaku apa adanya. Jadi, ya inilah diriku. Termasuk nyebelin menurutmu ya gak apa-apa."
Khaira pun terdiam dan menatap wajah suaminya. "Untung sayang ... untung cinta ... kalau enggak gimana coba?"
Radit pun merangkul istrinya itu dan mengambil buku yang masih dipegang istrinya, kemudian menaruh buku itu sejenak di ujung sofa. "Untung juga kamu, Istriku. Cuma kamu ... karena sudah pasti, aku yakin dan percaya. Kamu yang mau menghabiskan hidupmu denganku. Iya kan?"
Khaira mengangguk dan menaruh kepalanya untuk bersandar di bahu suaminya. "Iya ... aku akan menghabiskan hidupku denganmu. Satu dari sekian banyaknya keinginanku adalah menua bersamamu. Aku cinta kamu, Mas."
Radit pun tersenyum dan mengusapkan dagunya di puncak kepala istrinya. "Aku juga cinta kamu. Maaf sekali lagi ya, karena tadi aku nyebelin dan bikin kamu ngambek. Maaf ya."
"Hmm ... iya maafin, tapi lain kali jangan kayak gitu lagi ya Mas. Serius gitu juga gak papa. Masak ya semua dibuat bercanda, kan enggak lucu." ucap Khaira sembari menengadahkan wajahnya mencoba melihat raut wajah suaminya itu.
"Iya - iya ... makasih Sayang. Aku juga cinta kamu. Mumpung Syila bobok siang, kita mau ngapain? Syila biasanya bobok sampai jam tiga sore kan? Mau ngobrol atau apa? Yuk, mumpung aku libur." tawarnya kepada istrinya.
Khaira pun tertawa. "Pasti cari perkara lagi abis ini." cibirnya kepada sang suami.
Radit tergelak dan kemudian mengusap rambut istrinya itu. "Enggak ... cari perkara pun aku pasti menyesuaikan dengan kemauan kamu, Sayang. Aku tidak mendominasi juga dan mengutamakan kamu juga Sayang. Jadi, kita mau ngapain?" tanyanya.
Khaira nampak diam dan berpikir apa yang hendak dia lakukan bersama suaminya selama Arsyila tertidur. "Udah gini aja Mas ... udah seneng aku, bisa deket sama kamu kayak gini. Melebihi apapun."
Radit pun menganggukkan kepalanya, lalu menundukkan wajahnya guna mencapai bibir ranum milik istrinya. Mengecupnya perlahan, dan merasai manisnya milik yang selalu memabukkan dirinya itu. Memberikan ciuman hangat dan begitu lembut, menyalurkan setiap rasa dan cintanya kepada satu-satunya wanita yang paling dia cintai itu.
Namun, ciuman itu tak berlangsung lama karena beberapa saat kemudian, Radit melepaskan tautan bibirnya.
__ADS_1
"Udah gitu aja ... I Love U Mama." ucapnya sembari mengacak rambut istrinya.