
Pagi ini Radit berangkat kerja dengan perasaan bahagia. Ayah Wibi pun mengetahui bagaimana anaknya tersenyum sepanjang pagi. Akan menjadi seorang ayah benar-benar membuat Radit begitu bahagia tak terperi.
"Kamu senang, Dit?" tanya Ayah ketika mereka turun dari mobil dan hendak memasuki kantor.
Radit menganggukkan kepalanya. "Iya Yah, Radit bahagia banget. Enggak nyangka kami akan menerima karunia ini dari Allah. Lagipula, sebelumnya Dokter bilang kalau bisa mulai hamil sekitaran tiga bulan. Belum ada tiga bulan, Khaira sudah hamil. Alhamdulillah banget." ucapnya dengan mata yang berbinar begitu penuh kebahagiaan.
Ayah Wibi menepuk punggung anaknya itu. "Disyukuri dan dijaga. Sekarang yang kamu jaga tidak hanya Khaira, tetapi juga bayi dalam kandungannya yang harus kamu jaga pula. Persiapan pria menjadi Ayah itu dimulai saat Istri hamil seperti ini. Hamil itu sakit, lelah, capek, belum nanti kalau melahirkan akan sakit lagi. Setelah lahiran pun juga akan kesakitan. Jadi, Ayah mengingatkan dan minta padamu siap-siap menjadi Ayah dan menyayangi Istrimu. Perjuangan seorang wanita itu tak terhingga. Mungkin ada orang bilang, cuma hamil aja manja, tetapi memang tidak mudah untuk hamil, melahirkan, menyusui, sampai berbagai tahapan pengasuhan anak nanti."
Radit mendengarkan nasihat dari Ayahnya dengan sungguh-sungguh. Hatinya terasa nyeri karena ia mengingat bagaimana ia dulu pernah menyakiti Khaira. Radit menghela nafasnya. "Radit akan belajar, Ayah. Semoga Radit bisa menjadi suami dan sosok orang tua yang hebat buat anak Radit nanti. Radit jadi menyesal bagaimana dulu Radit pernah menyakiti Khaira. Akan tetapi, Radit benar-benar bertobat, Yah. Radit sangat mencintai Khaira. Radit juga akan menemani Khaira selama proses dari hamil, melahirkan, sampai kapan pun. Radit akan selalu menyayangi Khaira."
Lega. Itulah perasaan yang dirasakan Ayah Wibi sekarang. Kembali pria paruh baya itu menepuk punggung anaknya. "Ya sudah, sana kerja. Kerja keras...."
Radit membungkukkan badannya, lalu ia berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu kembali berkutat dengan berbagai dokumen dan juga berbagai tabel dalam komputernya.
Sekian jam, pria itu berjibaku dengan berbagai pekerjaan, hingga akhirnya ia menghentikan sejenak pekerjaannya saat ia mendapati sebuah pesan dari Khaira di handphone nya.
[To: Mas Radit]
[Mas, aku sudah hubungi Dokternya katanya besok sore jam 5 bisa cek up ke Rumah Sakit.]
[Jadi, besok kita cek bisa Mas?]
Radit tersenyum membaca pesan dari istrinya itu, dengan segera jari-jarinya mengetik di papan keyboard handphonenya dan mengiyakan untuk menemani periksa kandungan yang pertama kalinya bagi istrinya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya tepat jam 5 sore, Radit dan Khaira telah berada di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak, guna memeriksa kehamilan Khaira.
Kali ketiga, mereka bertemu dengan Dokter Indri dengan perasaan yang bahagia.
"Halo sore Ibu ... wah, ketemu lagi. Apa sudah ada kabar baik, Bu?" tanya Dokter Indri dengan ramah.
Khaira sedikit mengangguk dan tersenyum. "Tempo hari saya sudah melakukan test, hasilnya dua garis sih, Dok."
"Baiklah, kita akan cek tekanan darah Ibu, berat badan, dan usai itu kita akan cek dengan menggunakan Ultrasonografi atau yang biasa disebut dengan USG ya Bu." ucap sang Dokter.
Bertahap, Dokter mulai menimbang berat badan Khaira. "46 kg ya Bu...."
Pemeriksaan berlanjut dengan mengukur tekanan darah. "90/70 untuk tekanan darahnya. Cukup rendah jika untuk Ibu Hamil, tapi lebih baik kita cek menyeluruh ya Bu."
Usai menulis berat badan dan tekanan darah Khaira di buku cek up, Dokter kemudian menginstruksikan kepada Khaira untuk berbaring, pemeriksaan dilanjutkan pada janin dengan menggunakan USG.
Khaira mengangguk. Lalu Dokter tersebut Ultrasonografi Gell, sebuah gell yang diberikan di atas perut yang terasa dingin di permukaan kulit. Gell ini diberikan untuk mencegah terjadinya gesekan antar kulit dan transducer. Di samping itu, gel ini juga berfungsi untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh.
"Halo adek... Ditengokin Ayah dan Bunda nih." sapa sang Dokter sembari menggerak-gerakkan USG di atas perut Khaira.
Sapaan dari sang Dokter sukses membuat Radit dan Khaira tersenyum seketika. Radit kemudian menggenggam tangan Khaira, dengan mata yang menatap lurus pada layar monitor yang menunjukkan hasil USG.
"Ini usia kehamilan sudah 7 minggu 3 hari ya Bu. janin sudah berkembang hingga seukuran biji buah apel. Sistem saraf janin dan organ-organ utamanya pun mulai terbentuk, seperti: jantung, neural tube yang kemudian akan berkembang menjadi saraf tulang belakang dan otak." penjelasan Dokter yang membuat Khaira dan Radit begitu terpesona dengan maha karya Tuhan yang saat ini ada dalam rahimnya.
"Karena janin sudah 7 hingga 8 minggu, coba kita dengarkan detak jantungnya ya Bu." lagi, Dokter Indri sedikit menekan alat USG di perut Khaira.
__ADS_1
Deg...
Deg...
Mendengar suara detak jantungnya yang terdengar dari alat USG itu, Khaira justru meneteskan air mata. "MasyaAllah...."
Radit pun nampak berkaca-kaca mendengar detak jantung calon baby nya untuk pertama kali.
"Janin akan berkembang sesuai dengan usainya ya Bu. Untuk sekarang kondisi janin sehat, air ketuban juga cukup. Pemeriksaan dengan USG sudah cukup, kita bersihkan ya Bu. Setelah itu, silakan turun dan duduk di sana." Dokter Indri kemudian membersihkan perut Khaira, lalu mempersilakannya duduk di depan mejanya.
"Apa ada yang ditanyakan atau gejala yang muncul?" tanya Dokter Indri kepada Khaira.
"Sejauh ini saya sehat sih, Dok. Cuma beberapa hari lalu, saya mual saat mencium aroma durian." ucap Khaira yang turut diangguki Radit.
Dokter Indri pun tersenyum. "Tidak apa-apa Bu, itu terjadi karena perubahan hormon dalam diri Ibu. Saya akan resepkan Vitamin untuk janinnya yang terdiri dari Omega 3 dan Asam Folat, lalu Kalsium untuk Ibunya, saya akan resepkan obat pereda mual. Khusus pereda mual bisa diminum saat sedang mual saja, jika tidak maka tidak perlu diminum. Perhatikan asupan gizi untuk makanan yang dikonsumsi ya Bu."
Begitu puas dengan penjelasan Dr. Indri hingga akhirnya Radit dan Khaira kembali pulang ke rumah setelah melakukan pemeriksaan untuk pertama kalinya.
Di dalam kamarnya, kini keduanya tengah sama-sama duduk dengan bersandar di head board tempat tidurnya.
Radit nampak antusias mengamati foto hasil USG yang ia dapatkan usai pemeriksaan tadi. Mata pria itu kembali berkaca-kaca melihat setitik hitam di foto USG itu. "Sudah sebesar biji apel ya Sayang. Masih kecil ya." ucapnya sembari tersenyum.
"Kamu bahagia Mas?" tanya Khaira sembari tangannya mengelus lembut sisi wajah suaminya itu.
Radit pun mengangguk. "Iya ... Seneng banget."
__ADS_1
Kemudian pria itu mengubah posisinya, mendaratkan kepalanya di perut istrinya yang masih rata. "Hai, anak Papa? Anak Papa baru ngapain di dalam sini? Sehat-sehat ya... Nyaman di dalam perut sini dulu ya, nanti setelah 9 bulan kita bertemu ya Anak Papa...."
Interaksi antara Radit dan debay yang baru berusia tujuh minggu itu membuat hati Khaira begitu hangat dan tentunya bahagia. Suaminya benar-benar bahagia akan menjadi seorang Papa bagi anaknya nanti.