Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Rasa Haru dan Bahagia


__ADS_3

Menjelang sore rupanya keluarga Ammar dan keluarga Wibisono sudah tidak sabar ingin bisa mengunjungi cucu kedua mereka yang baru saja dilahirkan. Sama halnya dengan Arsyilla yang sudah menanyakan keberadaan mama dan papanya. Seolah gadis kecil itu juga sudah sangat merindukan mama dan papanya. 


Sehingga, tanpa memberitahu Radit dan Khaira, mereka semua datang ke Rumah Sakit untuk menengok Khaira dan juga si bayi. Menyambut kelahiran seorang bayi memang hati melimpah dengan kebahagiaan, itu juga yang dirasakan oleh keluarga Ammar dan keluarga Wibisono. 


"Halo …" ucap Arsyilla yang begitu menggemaskan ketika membuka kamar tempat Khaira dirawat saat ini. Gadis itu segera berlari menghampiri papanya yang sedang duduk di sebuah sofa yang berada tepat di depan brankar Khaira. 


"Papa … Syilla kangen Papa." ucap gadis kecil itu sembari memeluk erat sang Papa. 


Radit pun turut memeluk Arsyilla sama eratnya, "Syilla ke mari sama siapa? Papa juga kangen sama Syilla. Putri Papa ini sudah makan belum?" tanyanya kepada Arsyilla. 


"Sudah Pa … Syilla tadi makan disuapin Nenek pakai Sup Ayam dan Tempe goreng. Nasinya Syilla habiskan loh Pa … karena kata Mama, Syilla harus makan yang cukup, dan tadi semuanya Syilla habiskan." cerita Arsyilla kepada Papanya. 


Radit pun tersenyum mendengar cerita dari putrinya itu. Papa muda itu mengusap lembut puncak kepala Arsyilla. Rupanya baru ditinggal semalam oleh orang tuanya di Rumah Sakit, Arsyilla sudah begitu merindukan kedua orang tuanya. 


"Syilla, Mama kangen Sayang." sapa Khaira sembari merentangkan kedua tangannya dengan maksud ingin juga memeluk Arsyilla. 


Maka Arsyilla segera mengurai pelukannya dan kemudian menghampiri mamanya yang duduk di atas brankar Rumah Sakit. "Mama, Syilla juga kangen Mama." ucapnya sembari memeluk sang Mama. 


Khaira pun memeluk Arsyilla sama eratnya dan juga mendaratkan ciuman di kening dan pipi putrinya itu. "Sama Sayang … Mama juga kangen banget sama Kakak Syilla. Putrinya Mama." 


Setelahnya keluarga Ammar dan keluarga Wibisono pun turut datang dan memenuhi kamar Khaira. Kedua pasangan paruh baya itu terlihat begitu bahagia bisa datang dan mengunjungi Khaira saat ini. 


"Bagaimana Khai, sakit?" tanya Bunda Dyah begitu melihat Khaira. 

__ADS_1


Sudah pasti sakit bersalin itu sakit yang teramat sakit, tetapi Bunda Dyah bertanya karena dia perhatian kepada putrinya itu. 


Khaira pun lantas mengangguk, "Sakit Bunda …" jawabnya dengan berkaca-kaca. Seorang anak yang semula kuat, begitu sang Bunda datang seolah luruh sudah ketahanannya dan menumpahkan rasa sakit yang dialaminya. 


"Kamu hebat, Khaira … dua kali melahirkan dan kamu selalu semangat berjuang. Anak Bunda sudah menjadi seorang Mama yang hebat." ucap Bunda Dyah lagi yang sudah pasti membesarkan hati Khaira. 


"Benar Khai, kamu hebat. Kamu wanita yang kuat." Kali ini giliran Bunda Ranti yang memuji menantunya itu. 


Kemudian perhatian mereka teralihkan pada bayi laki-laki yang tengah tidur di dalam box bayi di sebelah brankar Khaira itu. 


"Itu Adik bayinya Sayang …" Khaira berkata ingin memberitahu kepada Arsyilla bahwa bayi mungil yang tengah tertidur di dalam box itu adalah adik bayinya. 


"Hei, Adik bayi …" sapa Arsyilla sembari melambaikan tangannya. Kemudian Arsyilla kembali menoleh kepada Mamanya, "Ma, perut Mama sudah tidak buncit lagi ya? Itu Adik Bayi yang ada di perut Mama?" tanya Arsyilla yang memang begitu kritis di usianya. 


"Iya Ma … Syilla boleh pegang Adik, Ma?" tanya Syilla lagi kepada Mamanya. 


"Boleh Sayang … tetapi pelan-pelan ya, itu Adiknya baru bobok. Syilla senang punya Adik?" Tanya Khaira lagi kepada Arsyilla. 


Arsyilla pun tampak mengangguk, dan dia segera berjalan untuk menyentuh tangan adiknya itu. Mata beningnya terlihat berbinar bisa menatap sang adik yang selama 9 bulan berada di dalam perut Mamanya. 


"Dijahit berapa, Khai?" kali ini Bunda Ranti yang bertanya kepada Khaira. Memang biasanya seorang ibu juga akan bertanya pasca melahirkan mendapatkan berapa jahitan. 


Khaira pun menggeleng, "Kurang tau, Bunda … Dokternya enggak bilang sih, Bun. Cuma mungkin bukan sekadar dijahit, tapi diobras sama kayak melahirkan Syilla dulu, Bunda." jawabnya. 

__ADS_1


Sontak saja jawaban Khaira membuat seluruh keluarga tertawa. Kendati demikian ada rasa ngilu yang dirasakan oleh Bunda Dyah dan Bunda Hesti.


“Kamu ini bisa-bisanya bercanda sih, Khai.” ucap Bunda Hesti kepada anaknya itu.


Khaira pun tersenyum, “Karena sampai enggan tahu sudah berapa banyaknya jahitan. Tadi, adik bayinya lahir itu tidak menangis Bunda, jadinya Khaira udah histeris duluan takut kenapa-napa sama babynya. Sebab kalau babynya kenapa-napa, Khaira sudah pasti tidak akan bisa seperti ini Bun.” kali ini Khaira pun bercerita perihal kelahirannya yang memilukan. Bahkan Khaira kembali bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kok bisa, Khai?” tanya Bunda Ranti dengan heran.


“Iya Bun, babynya ternyata sudah meminum air ketubannya sendiri. Jadi saluran pernapasannya tersumbat. Waktu lahir sama sekali tidak menangis, hati Khaira rasanya sudah mau abis.” ucap Khaira dengan merasa sesak di dadanya. 


Mendengar cerita dari Khaira, Bunda Dyah dan Bunda Ranti pun tak kuasa menitikkan air mata. Tidak menyangka bahwa persalinan kali ini begitu memilukan untuk Khaira. Keduanya pun tahu bahwa Khaira pasti mengalami guncangan secara fisik. Oleh karena itu, Bunda Dyah dan Bunda Ranti juga bergantian memberikan pelukan hangatnya untuk Khaira.


“Kamu hebat, Khaira … kamu Mama yang luar biasa.” ucap Bunda Ranti kali ini dengan menepuki bahu menantunya itu.


Khaira lantas tersenyum dan kini pandangannya justru jatuh pada sosok suaminya yang masih duduk di sofa, “Untung juga ada Mas Radit, Bun … jika tidak ada Mas Radit, Khaira benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi.” ungkapnya.


“Makasih ya Dit, karena selalu ada dan mensupport Khaira.” ucap Bunda Dyah kepada menantunya itu. 


“Iya, sama-sama Bunda … Radit akan selalu ada di samping Khaira dan juga menjadi support system bagi Khaira selalu.” jawab Radit dengan tersenyum.


Seolah mengalihkan pembicaraan beberapa orang di kamar itu, akhirnya Ayah Ammar pun membuka suaranya. "Selamat ya Radit & Khaira, Ayah-Ayahmu ini mendoakannya kalian berdua sehat, yang sabar dalam mendidik, mengasuh, dan membesarkan Syilla dan adiknya." ucap Ayah Ammar kepada Radit dan juga Khaira. 


Menjelang sore itu, kamar rawat inap yang ditempati oleh Khaira menjadi tempat yang penuh dengan kebahagiaan. Tiga keluarga berkumpul dan merasakan rasa haru dan bahagia menyambut kelahiran bayi Arshaka.

__ADS_1


__ADS_2