Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Suami Posesif


__ADS_3

Tepat jam 6 sore, Radit telah sampai di area parkir fakultas di kampus Khaira. Untuk urusan menjemput, Radit memang selalu ontime. Sejak di Manchester dulu, pria itu selalu datang tepat waktu dan lebih memilih untuk menunggu daripada Khaira yang menunggunya.


Radit masih berada di dalam mobilnya, ia mengedarkan matanya ke sekelilingnya mengamati kalau-kalau istrinya sudah keluar dari gedung fakultasnya.


Beberapa mahasiswa masih keluar masuk ke dalam gedung fakultas. Akan tetapi, netranya membelalak sempurna saat mengetahui istrinya sempat berjabat tangan dengan seorang pria.


Radit memukul-mukulkan jarinya di bundaran stir mobil, dia mengingat lagi pria muda dan tampan yang tidak asing baginya itu. Sinapsis otaknya rupanya membuatnya konek lebih tepat, dan Radit pun ingat bahwa pria itu adalah pria yang menaiki sepeda motor, yang pernah memutar balik sepeda motornya waktu ia dan Khaira usai makan Ketoprak di depan kampus dulu.


Radit pun memilih segera turun dari mobilnya dan menghampiri istrinya yang sedang terlibat obrolan dengan seorang pria di sana.


" Sudah selesai ngajarnya Sayang ... mau pulang sekarang?" sapa Radit dan memilih berdiri di sisi Khaira.


"Eh, Mas ... sudah datang?" tanya Khaira kepada suaminya.


Tama yang melihat kembali wanita yang dulu dicintainya itu, wanita yang menolak perasan cintanya dan kini kembali berdiri berhadapan dengannya dengan suaminya membuat Tama harus benar-benar mengikhlaskan bahwa Khaira sudah bahagia bersama suaminya. Sudah benar-benar tidak ada kesempatan baginya. Hati Tama berdesir pilu setiap kali melihat Khaira bersama suaminya itu.


"Tama, aku duluan ya. Sudah dijemput soalnya. Kamu sukses dan lancar kuliah S2nya ya." ucap Khaira berpamitan dengan Tama.


Tama pun menganggukkan kepala. "Hati-hati Khai...."


Khaira pun memilih pergi terlebih dahulu dan meninggalkan Tama masih tidak beranjak dari tempatnya.


"Tas laptopnya biar aku bawakan Sayang ..." ucap Radit yang kemudian menyambar membawa tas laptop dalam genggaman Khaira sebelumnya.


"Makasih Mas ...." sahutnya begitu tas laptop itu sudah berpindah tangan.


Begitu sampai di depan mobil, Radit membukakan pintu terlebih dahulu untuk Khaira. Kemudian ia mengitari mobil, kemudian duduk di kursi kemudi. Dengan pelan-pelan Radit mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Gimana ngajarnya hari ini Sayang? Lancar?" tanyanya sembari sedikit melirik ke arah Khaira.


"Baik Mas, tetapi aku capek. Kakiku capek banget ini." keluhnya sembari memijit-mijit kakinya sejenak.


Radit melihat Khaira yang tangannya mulai memijit kaki yang terasa pegal itu. "Nanti sampai rumah aku pijitin deh."


"Nyampe rumah mau langsung tidur boleh Mas? Aku kok capek banget gini ya. Biasanya aku gak kecapean, tapi hari ini kok rasanya badanku sakit semua ...." masih Khaira mengeluh kepada suaminya.


"Mandi dulu, biar capeknya hilang. Nanti aku pijitin kakinya." jawab Radit dengan serius.


Radit kembali melirik Khaira. "Cowok tadi siapa Sayang?" tanyanya lembut tetapi penuh nada menyelidiki.


"Tama, Mas. Temenku dulu. Kan dulu udah pernah kenalan kan." jawab Khaira.


"Tama temen kamu dulu itu?" lagi tanya Radit.


Radit sedikit mengerutkan keningnya. "Seneng ya ketemu cinta lama." jawabnya agak ketus.


Mata Khaira merotasi malas begitu mendengar ucapan suaminya. "Cinta lamanya siapa coba? Kami cuma temenan. Kamu cemburu lagi Mas?" Khaira mencium aroma-aroma cemburu yang ditebar oleh suaminya itu.


Khaira sedikit menghadap Radit. "Kamu cemburu, Mas?" lagi ia bertanya menyelidik wajah suaminya.


Radit menggelengkan kepalanya. "Enggak, ngapain juga aku cemburu. Akan tetapi entah mengapa kalau sama Tama, rasanya aku enggak lega deh. Cara dia memandang kamu itu beda."


Khaira sedikit tersenyum. "Jangan posesif gitu dong Mas, aku kan bersikap sewajarnya aja. Ishh, baru aku kerja sehari kamunya udah jadi suami posesif deh. Gimana nanti aku sudah beneran ngajar coba?"


Radit menghela nafasnya, dia juga merasa aneh sejak dulu ketika melihat Khaira bersama Tama rasanya hatinya tidak lega. Perasaan di dalam hati memang tidak bisa dipungkiri. Setidaknya Radit hanya ingin Khaira mengetahui situasi hatinya saja.

__ADS_1


"Aku sebenarnya enggak posesif, cuma kalau sama Tama kok rasanya hatiku enggak baik-baik saja deh. Hmm, sama satu lagi, Miko. Aku gak suka sama mereka berdua. Emang, nanti kalau udah ngajar normal apa masuk setiap hari?" tanya sembari pandangan sesekali melihat Khaira.


Khaira tersenyum, satu tangannya mengelus lengan suaminya itu. "Posesifnya suami aku..." Jeda sejenak. "Aku ngajar kalau pas jam Mata kuliah aja Mas, kan cuma dosen luar. Seminggu paling dua kali ngajar aja, Mas ... jangan posesif ya Mas, aku enggak ngapa-ngapain juga. Tadi sama Tama cuma ngobrol aja. Enggak ada apa-apa kok. Kamu kan tahu siapa cowok yang aku suka...."


Radit mengacak gemas puncak kepala Khaira. "Kamu bisa saja. Bikin aku gemas banget sama kamu."


Mobil yang Radit kendarai terus berjalan hingga mobil itu melewati berbagai penjual buah durian di pinggir jalan. Radit memelankan mobilnya. "Beli durian dulu ya Sayang, aku pengen", ucapnya.


Khaira mengangguk. Lantas mengikuti suaminya turun melihat-lihat berbagai durian yang dijual di tepi jalan itu.


Saat Radit tengah memilih-milih durian, sontak saja Khaira merasa mual seketika. Ia merasa tidak tahan dengan bau durian yang sangat menyengat. Berkali-kali ia menahan rasa mualnya dengan menutup hidungnya. Tetapi rasanya mual itu datang menyeruak yang membuatnya tidak tahan dan semakin menutup hidungnya dengan jari-jari tangannya. Keningnya pun berkeringat dingin, wajahnya memucat.


Segera Khaira berjalan dan menepuk punggung suaminya yang sedang memilih-milih durian itu.


Radit menoleh ketika nyadari ada tangan yang menepuknya. "Kenapa Sayang?" sahut Radit begitu menyadari bahwa istrinya yang menepuk pundaknya.


Melihat istrinya yang menutup hidung dan keningnya berkeringat dingin, Radit langsung mendekati Khaira dan membawanya kembali masuk ke dalam mobil. Acara pilih-memilih durian ia tinggalkan seketika dan kini fokus pada Khaira.


"Kamu kenapa? Bukannya tadi sehat, sekarang kok pucat kayak gini? Kamu sakit? Mau ke Rumah Sakit sekarang?" Radit cukup panik dan mencecar pertanyaan kepada Khaira.


"Aku mual Mas, aku tiba-tiba gak tahan sama bau durian itu. Eneg banget, mau muntah rasanya. Maaf Mas ... tiba-tiba aku mual banget, pengen muntah." jawab Khaira.


Radit mengusap wajahnya, ia pun kebingungan semula istrinya baik-baik saja, tiba-tiba mengeluh mual dan wajahnya pucat.


"Mau periksa ke Dokter?" tanyanya menawarkan kepada Khaira untuk periksa ke Dokter.


Khaira menggeleng. "Enggak... Aku tidur aja kayaknya, Mas."

__ADS_1


Radit pun akhirnya gagal membeli durian, ia lebih memilih pulang lantaran Khaira yang tiba-tiba mengeluh mual dan mengeluarkan keringat dingin. Radit berpikir kenapa istrinya yang sehat-sehat aja mendadak merasa mual saat mencium aroma buah durian?


__ADS_2