
Keluarga Ammar dan Keluarga Wibisono berniat melakukan family trip ke Jogjakarta. Ada salah satu kerabat dari Ayah Wibi yang menikahkan anaknya, sehingga kedua keluarga ini berniat untuk sama-sama pulang ke Jogjakarta.
Tidak lupa juga, mereka mengajak serta Radit dan Khaira. Menurut keluarga Ammar dan Wibisono, sejak Radit dan Khaira kembali dari Manchester, anak-anak mereka tidak pernah berwisata. Ayah Ammar dan Ayah Wibi memberikan hadiah liburan bagi calon orang tua baru untuk liburan sejenak sebelum tiba waktunya Khaira memasuki Trimester Ketiga.
Tawaran liburan tentu tidak di sia-siakan oleh Radit dan Khaira. Dengan senang hati, mereka mau mengikuti family trip ke Jogjakarta.
Mereka memilih transportasi udara supaya lebih cepat tiba di Jogjakarta, hanya membutuhkan waktu 1 jam 15 menit saja untuk terbang dari Jakarta menuju Jogjakarta.
Dalam perjalanan Baby Moon itu, Radit dan Khaira uniknya tidak sendirian melainkan bersama orang tua mereka. Seluruh akomodasi bahkan sudah diurus oleh Ayah Ammar, sehingga Radit dan Khaira benar-benar hanya tinggal menikmati.
Abhayagiri - SWH Resort menjadi pilihan keluarga itu untuk menginap. Resort ini berada di Dusun Sumberwatu, Jogjakarta. Resort ini memiliki pemandangan alam yang menakjubkan, dari sini Candi Prambanan dan Gunung Merapi terlihat dengan jelas. Selain itu tempat ini juga sangat romantis, asri karena menyatu dengan alam, dan cocok digunakan untuk menikmati bulan madu mau pun baby moon.
Khaira terlihat begitu bahagia ketika sampai di Resort ini. Beberapa kali, bahkan ia telah mengabadikan pemandangan di sekitarnya dengan menggunakan ponsel pribadinya.
"Gimana Khai, seneng enggak ke sini?" tanya Bunda Dyah yang turut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah putrinya itu.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda, seneng banget. Makasih ya Bunda sudah ngajakin kami ke tempat yang super indah kayak gini." ucapnya sembari tersenyum.
"Besok kami semua akan mengunjungi kerabat yang punya gawe dulu, kalian bisa ikut kalau mau, atau mau jalan-jalan berdua tidak masalah. Anggap saja ini bulan madu kedua, sebelum nanti si Kecil lahir. Kalau sudah punya baby kalian berdua akan lebih capek bahkan sulit punya waktu berdua, jadi sekarang dinikmati dulu." lagi Bunda Dyah memberikan petuahnya untuk Khaira dan Radit.
Radit hanya senyum-senyum sembari sesekali melirik istrinya yang duduk di hadapannya.
"Ehem, tapi ingat ya Dit, jangan terlalu nakal. Perut Istri kamu sudah makin besar." ucap Bunda Ranti. "Khai, kalau Radit nakal, suruh puasa aja sampai sembilan bulan."
Perkataan Bunda Ranti mengundang gelak tawa dari seluruh keluarga. Sementara Radit hanya memandang istrinya dengan sorot mata yang tak terdefinisikan.
Khaira pun hanya tersenyum dan wajahnya memerah, mendengar petuah-petuah dari Bunda Dyah dan Bunda Ranti.
"Ya sudah, sana kalian istirahat." lagi Bunda Ranti menyuruh anak-anaknya untuk beristirahat.
Tanpa basa-basi Radit berdiri dan mengulurkan tangannya kepada istrinya. Dengan wajah yang merona malu, Khaira menyambut uluran tangan suaminya. "Ayo, istirahat Sayang...." ucap Radit.
"Kami istirahat dulu ya Ayah dan Bunda semuanya." pamit Khaira sebelum mengikuti suaminya memasuki kamar mereka.
__ADS_1
"Jangan nakal-nakal, Dit. Ada cucu kami di perut Khaira." kali ini giliran Ayah Wibi yang bersuara kepada putranya itu.
Jangan ditanya bagaimana merahnya wajah Khaira saat ini. Wanita hamil itu hanya menggelengkan kepalanya sembari menutup wajahnya dengan tangannya.
Begitu sampai di dalam kamar, Khaira justru langsung memeluk suaminya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung suaminya, perutnya yang kian membuncit memang membuatnya tidak sepenuhnya menempel dengan suaminya, namun berlama-lama dengan suami menjadi hobi baru bagi Bumil satu ini.
"Kenapa? Hmm." Radit turut memegangi tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya itu.
Khaira hanya menggelengkan kepalanya, dan memejamkan matanya sembari menghirupi aroma parfum Woody yang menguar dari badan suaminya itu.
Radit membalik badannya, kini ia bisa melihat jelas wajah istrinya. "Kamu hamil ini kok tambah cantik berkali-kali lipat sih Sayang, aura keibuan kamu udah keliatan. Cantik banget sih." ucap Radit yang kini memeluk tubuh istrinya itu.
"Padahal aku mulai ndut ini Mas. Udah naik 9kg berat badanku, pipiku ini chubby banget." keluh Khaira sembari memegang pipinya yang memang terlihat semakin chubby.
"Gak papa Sayang, di mataku kamu tetap cantik kok. Cantik banget malahan." ucapnya sembari mendaratkan ciuman di wajah istrinya itu. Radit menelisipkan untaian rambut Khaira ke belakang telinganya. "Kamu capek enggak Sayang?" tanyanya sembari mengedipkan matanya kepada istrinya.
"Aku mau mandi Mas, gerah...." ucapnya sembari menarik dirinya dan mengurai pelukan suaminya itu.
"Modus...." Khaira lantas meninggalkan suaminya dan memasuki kamar mandi.
Wanita hamil itu tengah berdiri di depan wastafel dan selesai mencuci mukanya. Baru saja ia akan melolosnya dressnya, sebuah lengan kokoh telah melingkar di perutnya.
Khaira mengerjap, "Mas, kamu ngapain di sini?" tanyanya.
"Mandi." sahut Radit sembari memutar badan istrinya untuk menghadap kepadanya.
Dengan tenang, Radit meloloskan dress bermotif floral yang dikenakan istrinya itu, hingga menampilkan tubuh istrinya yang kini semakin berisi. Kulit putih bersih dengan perut yang membuncit justru membuat Radit semakin mengagumi kecantikan istrinya itu.
Usai meloloskan satu per satu pakaian istrinya, Radit pun melepaskan pakaiannya sendiri. Ia menarik Khaira menuju shower box, menyalakan shower hingga kemudian gemericik air hangat turun membasahi keduanya.
Khaira memekik saat suaminya memutar tubuhnya untuk membelakanginya, membuatnya menghadap pada dinding pembatas shower. Pria itu menyelampirkan rambut panjang istrinya, lalu mengecupi bahu telanjang milik istrinya sembari tangan membelai perut buncit milik istrinya.
Khaira bisa melihat penampilan keduanya dari pantulan dinding shower box itu. Dalam keadaan basah di bawah guyuran air shower, nyatanya Radit begitu menikmati memberikan sentuhan dan ciuman di bahu istrinya.
__ADS_1
Bahkan kini tangan pria itu membelai dan meremas bongkahan bukit kembar yang kini kian berisi. Sentuhan yang membuat tubuh Khaira meremang seketika.
Khaira hanya memejamkan matanya, sebelah tangannya terangkat dan memegangi telapak tangan suaminya dan berusaha menyingkirkannya telapak tangan yang memainkan, meremas, memilin bagian atasnya.
"Mas...." ucapnya sembari berusaha menyingkirkannya telapak tangan itu.
"Hmm. Ya..." hanya itu sahutan Radit, tetapi telapak tangan itu masih bermain nyaman di sana.
Permainan yang membuat keduanya sama-sama kehilangan akal. Pikirannya seperti terselimuti kabut kenikmatan yang mereka berdua rasakan. Pria itu memutar badan Khaira, membuat wanita itu berhadapan dengannya. Pria itu kemudian meraup bibir istrinya itu memberikan ciuman yang dalam dan intens.
Pria itu kemudian sedikit mengangkat paha istrinya, mengalungkan ke pinggulnya. Dengan sedikit menahan nafas, ia membawa 'miliknya' memasuki cawan surgawi yang begitu hangat dan memabukkan. Bergerak perlahan dan mengedepankan kenyamanan dan tidak menekan perut istrinya, Radit bergerak selembut mungkin.
Gerakan seduktif yang begitu lembut justru membuat Khaira mengalungkan tangannya di leher suaminya dengan erat. Perlahan hingga sedikit menghentak, pada akhirnya Radit mencerukkan wajahnya di leher istrinya ketika mereka berdua telah sampai pada puncaknya.
"Love U Sayang...." ucap pria itu dengan nafas yang terengah-engah dan masih memejamkan matanya.
Sementara Khaira turut memejamkan matanya dan menumpukan diri pada suaminya. "Love U Too, Mas...." ucap Khaira dan kini memeluk erat suaminya.
***
15 menit kemudian, mandi panas mereka pun selesai. Radit kemudian membuat susu hamil hangat untuk istri dan Baby A tentunya, karena nutrisinya akan dinikmati juga oleh buah hati mereka.
"Diminum dulu susunya Sayang? Hmm, tadi menekan perut kamu enggak Sayang? Kenceng enggak perutnya?" ucap Radit sembari menyerahkan segelas susu khusus ibu hamil rasa stroberi kesukaan Khaira.
Khaira menerima susu hangat itu dan meminumnya. "Enggak kok, perut aku baik-baik saja. Adek juga baik seperti biasanya."
Radit kemudian mengelus perut istrinya. "Papa tidak menyakitimu kan Baby A?"
Khaira menggelengkan kepalanya. "Baby A baik-baik di sini kok Papa." sahutnya dengan suara yang terdengar manja.
"Syukurlah, aku takut kalau menyakitimu dan Baby A." ucap Radit lega.
"Mas, nanti malam ke Malioboro yuk? Angkringan. Kamu punya janji padaku dulu mau ajak aku angkringan beli Nasi Kucing. Karena sekarang udah di Jogjakarta, nanti malam Angkringan yuk Mas?" ucap Khaira sembari bergelayut manja di lengan suaminya.
__ADS_1