
Beberapa hari setelahnya, setelah pulang kerja Radit pulang dengan membawa buah tangan untuk istri dan anaknya. Roti sandwich dan susu uht untuk Arsyilla, dan juga dia membeli pisang karamel dan jus alpukat untuk Khaira. Sebab Arsyilla memang menyukai roti sandwich dan selama hamil kali ini Khaira menyukai Pisang Karamel, karena itulah sepulang kerja pria itu berniat untuk membawakan apa yang menjadi kesukaan istri dan anak-anaknya di rumah.
“Papa pulang …” ucap pria itu sembari memasuki rumahnya.
Di depan pintu sudah ada Khaira dan Arsyilla yang menyambut kedatangannya. Dengan senyuman di wajahnya, Radit lantas menyerahkan buah tangan yang dia bawa untuk istri dan anaknya.
“Tumben Pa … kok Papa pulang bawa oleh-oleh?” tanya Khaira ketika menerima pisang karamel dan jus alpukat dari suaminya itu.
“Biasa Ma … Papa sudah gajian.” jawab pria itu enteng. Kendati demikian pria itu menunjukkan wajah yang sumringah. Semangatnya lebih keliatan dan juga selalu membawakan buah tangan untuk istri dan anaknya itu.
Entah mengapa rasanya, mendengar kata gajian membuat orang menjadi lebih bersemangat. Termasuk Radit, sekalipun secara finansial dia cukup mampu, tetapi menerima gaji dari hasil kerja keras sehari-hari rasanya sangat menyenangkan. Bahkan selama ini, ketika tanggal gajian pria itu selalu menyerukan, “Papa sudah gajian Ma …” kepada istrinya dengan penuh semangat.
Mendengar ucapan suaminya, Khaira pun tertawa. “Papa semangat deh kalau gajian … makasih ya Pa, sudah dibawakan oleh-oleh. Padahal sih aku, cukup Papa pulang dengan selamat aja sudah senang. Namun, kalau dibawakan oleh-oleh kayak gini ya lebih seneng sih. Makasih Papa.”akunya dengan tersenyum menatap suaminya.
"Makasih Papa sudah membawakan Syilla roti sandwich dan susu." giliran Arsyilla yang mengucapkan terima kasih kepada Papanya itu.
Setelahnya Radit naik terlebih dahulu ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Kurang lebih 15 menit, pria itu membersihkan badannya dan baru bergabung dengan istri dan anaknya di ruang keluarga saat badannya telah bersih dan segar.
“Ma, sudah Papa transfer.” ucap pria itu sembari menunjukkan layar handphonenya kepada Khaira.
“Ya ampun Pa … padahal ya aku enggak pernah nanyain. Mau ditransfer, atau enggak kan ya enggak masalah. Penting kan kalau aku minta dikasih aja. Toh ya, minta Papa ya pasti dikasih kan sama Papa.” jawab Khaira sembari menatap layar handphone suaminya itu.
Sementara Radit justru tertawa, “Ritual pertama setelah gajian itu transfer buat Mama dulu dong. Kalau udah transfer Mama itu rasanya lega. Mama mau makan apa? Jajan atau ngemil apa gitu? Biar Papa belikan.” ucap pria itu dengan penuh semangat.
__ADS_1
Ucapan yang begitu relate dengan pasangan masa kini bahwa usai gajian yang dipikirkan para suami adalah menansfer jatah bulanan terlebih dahulu untuk para istri. Jika telat transfer bisa-bisa istri menjadi mengambek. Untunglah Khaira tidak mempermasalahkan transferan dari suaminya, asalkan saat dia meminta dan suaminya memberikannya itu sudah cukup. Lagipula yang paling penting bagi Khaira adalah dapur tetap mengepul, kebutuhan pangan dan lainnya tercukupi.
“Makasih ya Pa … transferannya gak pernah telat dari tanggal gajian.”jawab Khaira sembari tertawa. “Udah enggak usah jajan lagi Pa … kan ini udah dibelikan Papa jajanan nih, pisang karamel dan jus alpukat. Makasih banyak ya Papa Radit.” jawab Khaira sembari memakan pisang karamel.
Entah mengapa hamil kali ini, dia justru suka pisang karamel. Padahal sebelumnya dia tidak begitu menyukainya. Bersyukur juga karena suaminya itu perhatian dengan membelikannya yang dia suka.
“Sama-sama Sayang … aku tuh, kalau gajian terus sudah transfer duluan buat kamu itu rasanya lega. Soalnya kamu kan Menteri Keuangannya di rumah ini. Ya kan.” sahutnya sembari turut mengambil satu pisang karamel.
Khaira hanya tertawa mendengar ucapan suaminya itu, “Kamu kan juga bisa pegang uang, Pa … kamu kan auditor, masak sih enggak bisa megang uang?” tanya Khaira sembari menatap wajah suaminya itu.
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya, “Lebih bagus kamu kalau mengatur keuangan rumah tangga kok Sayang. Buktinya kita hidup bisa seperti ini karena kamu yang mengatur uangnya. Cicilan aman, untuk makan sehari-hari ada, untuk periksa bayi juga ada, untuk tabungan pendidikan Arsyilla juga ada. Kamu itu Ibu Bendahara.” jawabnya dengan mengangkat satu jempolnya untuk istrinya itu.
“Ah, bisa aja deh Pa … padahal ya enggak juga. Kalau uangnya aku pegang dan abis gimana Mas?” tanya Khaira yang hanya mencobai suaminya saja.
Bagi rumah tangga, membahas masalah keuangan itu sangat penting. Sebab salah satu pemicu rumah tangga bermasalah, salah satunya adalah faktor keuangan, padahal keuangan pun bisa dibicarakan dengan baik-baik. Sama halnya dengan Radit dan Khaira, yang membicarakan masalah keuangan pun bersama-sama.Saling terbuka terhadap keuangan rumah tangga.
“Pa, terus saham kamu gimana Pa? Naik atau turun?” tanyanya yang menanyakan juga perihal saham yang dimiliki suaminya itu.
Radit pun tersenyum, “Minggu lalu abis beli 1 lot Ma, tapi besok mau aku jual. Lumayan lah laba empat ratus ribu. Dikumpulkan dikit-dikit lama-lama menjadi bukit kan?”
Khaira pun mengangguk, “Iya benar … cuma enggak enaknya kalau pas turun ya Pa harganya. Bisa rugi sewaktu-waktu juga kan. Andai main saham laba terus ya Pa.” ucapnya sembari menatap suaminya itu.
“Saham kan gitu Sayang, bisa naik dan turun. Kamu mau belajar gimana, main-main saham itu. Gak apa-apa kok.” ucap Radit sembari menunjukkan aplikasi sekuritas di handphonenya.
__ADS_1
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, “Enggak Pa … kamu aja yang main begituan. Aku enggak tahu masalah saham kayak gitu, takut rugi justru nanti uangnya habis.”
“Kamu ini kan mencoba sesuatu yang baru enggak apa-apa. Sapa tau kamu laba terus kan.”
“Kamu saja yang main saham kok Pa … aku penting dikasih aja kalau labanya banyak.” jawabnya sembari tertawa.
Sama halnya dengan Khaira, Radit pun tertawa, “Kamu ini ya … selama jadi istriku aja, jarang banget kamu minta. Padahal ya minta aku gak apa-apa.”
Khaira pun mengangguk, “Iya Pa … nanti kapan-kapan aku minta deh. Kan uangnya Papa uangnya Mama juga. Jadi enggak apa-apa kan kalau kapan-kapan minta.”
“Iya Sayang, kalau uangnya Mama uang siapa itu?” tanyanya balik kepada istrinya.
“Kalau uangnya Mama ya uang Mama sendiri.Eh, enggak ding … bercanda Pa. Uang Mama juga uangnya Papa juga.” candanya sembari tertawa menutup satu bibirnya dengan satu tangannya.
...🍃🍃🍃...
Dear All My Bestiee,
Mampir juga ke karya teman-teman aku ya... Silakan kepoin dan tinggalkan jejak di cerita berikut ini ya.
__ADS_1