
Khaira duduk di kursi kecil yang berada di balkon kamarnya. Sementara Radit masih nampak tertarik dengan berbagai barang yang ada di kamar Khaira. Baru kali ini, Radit merasa tertarik dengan apa yang ia lihat di kamar Khaira. Mulai dari koleksi jersey Manchester United hingga buku-buku yang jumlahnya ratusan. Sesekali pria itu tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu enggak suka boneka ya?" tanya Radit sembari berjalan mendekati Khaira.
"Suka sih. Kan wajar kan kalau anak perempuan suka boneka. Tetapi aku cuma enggak mengoleksi boneka."
"O... Makanya di sini malahan gak ada boneka. Bahkan bonekanya cuma ada satu di tempat tidur itu aja."
"Hmm, iya. Memang cuma punya satu. Ya udah, istirahat aja Mas. Nanti kalau udah mau mulai aku bangunin." Kali ini Khaira yang menyuruh suaminya untuk istirahat.
Radit pun tak menjawab, iya langsung berbaring di tempat tidur Khaira. Sementara Khaira menghabiskan waktu untuk membaca buku di balkonnya.
Hingga akhirnya waktu berjalan, dan sebelum acara dimulai Radit sudah bangun, pria itu membersihkan dirinya di kamar mandi sementara Khaira telah bersiap dengan dress batik yang ia kenakan.
Tidak lama keduanya keluar dari kamar dan turun ke bawah. Beberapa kerabat sudah datang dan mereka berdua pun menyapanya. Keduanya tersenyum menyalami satu per satu kerabat yang datang. Bahkan kakak dari Bunda Dyah yang biasa dipanggil Khaira dengan sebutan Bude Mila juga datang bersama keluarganya.
"Sini Khaira, duduk sebentar sama Bude. Keponakan Bude, sudah jadi istri orang. Ini suaminya ya Khai?" tanya Bude Mila kepada Khaira.
"Iya Bude." Khaira pun menolehkan kepalanya kepada Radit. "Kenalin Mas, ini Bude Mila. Bude ini kakaknya Bunda."
Radit pun bersalaman dan mengenalkan dirinya. "Saya Radit, suaminya Khaira..." ucapnya sambil tersenyum kepada Bude Mila.
"Aura pengantin baru emang beda ya. Senyum-senyum, malu-malu. Lucu..." ucap Bude Mila yang juga direspons dengan tawa oleh kerabat yang lainnya.
"Jangan digoda Mba, nanti Khaira dan Raditnya malu." ucap Bunda Dyah sembari tertawa melihat sikap anak dan menantunya yang nampak malu-malu.
Acara perkenalan pun terpaksa di akhiri, karena Ayah Ammar segera memulai arisan keluarga sore ini. Tidak lupa Ayah juga memperkenalkan Radit sebagai menantunya, sebab ada beberapa kerabat yang tidak datang saat pernikahan Khaira dan Radit.
"Selamat sore, terima kasih seluruh anggota keluarga besar sudah berkenan hadir di sini. Dan, kali ini kita punya anggota keluarga baru. Kata pepatah kan, tak kenal maka tak sayang, jadi saya mau memperkenalkan menantu saya satu-satunya kepada seluruh keluarga yang hadir saat ini. Nah, ini adalah suaminya Khaira, namanya Raditya."
Ayah Ammar terlihat bahagia saat memperkenalkan Radit sebagai menantunya. Sontak keluarga berceletuk dengan terang-terang.
"Wah, menantunya cakep..."
__ADS_1
"Khaira nya cantik, suaminya cakep."
"Pasangan yang serasi."
Sementara Khaira dan Radit hanya senyum-senyum, keduanya nampak salah tingkah.
"Ada enggak ini yang mau ditanyakan kepada Nak Radit nih? Jadi karena sudah kenal, kalau ketemu disapa ya. Karena kita sudah menjadi satu keluarga." Ucap Ayah Ammar yang membuat anggota keluarga sekitar 30 orang itu tertawa.
"Kerjanya di mana Mas Radit?" tanya salah seorang pria berusia paruh baya yang duduk di samping Ayah Ammar.
"Saya bekerja sebagai Auditor di Bank Swasta." hawabnya sambil tersenyum.
"Kapan punya baby nya Mas?" Tanya Bude Mila yang mengundang gelak tawa dari semua yang hadir di arisan itu.
"InsyaAllah. Doakan saja Bude." Kali ini Radit menjawab sembari mencuri pandang kepada Khaira yang duduk di sampingnya.
"Iya doakan ya semuanya, semoga saya segera memiliki cucu dari Radit dan Khaira. Iya kan Khai?" Tiba-tiba Ayah Ammar bertanya kepada Khaira yang sedang menunduk malu.
"Kan Ayah dan Bundamu pengen juga jadi Kakek dan Nenek." Sahut Ayah Ammar sambil tertawa.
"Sudah, biarkan saja Ayah. Khaira dan Radit kan masih pengantin baru. Biar menikmati dulu." kali ini Bunda Dyah yang menengahi.
"Tetapi, kalian keliatan serasi. Bude doakan rumah tangganya langgeng dan cepat mendapatkan momongan ya." Ucap Bude Mila secara perlahan kepada Radit dan Khaira.
"Terima kasih Bude untuk doanya." jawab Khaira sembari tersenyum kepada Budenya itu. Sementara Radit pun ikut tersenyum mendengar ucapan Bude Mila.
Setelah acara inti dan percakapan yang panjang antar anggota keluarga, saatnya acara makan bersama. Bunda Dyah memesan katering yang berisi ayam asam manis, tumis buncis dan wortel, dan telor balado. Tidak lupa tersedia minuman dan berbagai camilan kue.
"Mau makan Mas?" tanya Khaira menawari suaminya itu.
"Aku mau minum saja." sahut Radit. "Eh, tetapi kamu duduk saja, biar aku ambilin." ucapnya sembari berdiri.
"Eh, jangan Mas. Biar aku saja yang ambil." Khaira pun ikut berdiri.
__ADS_1
Radit memegang tangan Khaira. "Kamu duduk aja, aku ambilin." ucapnya sembari menatap Khaira.
"Seharian kok aneh sih, gak senyebelin biasanya. Kata-katanya pun juga enggak pahit seperti biasanya." Gumam Khaira sembari ia kembali duduk. Khaira merasa aneh dengan perubahan sikap Radit. Ia hanya memandangi Radit yang sedang mengambil minuman dan kue untuk. Mengapa perasaannya justru merasa aneh.
Padahal biasanya pria itu tak suka basa-basi, perlakuannya ke Khaira juga seperti orang asing. Tetapi sejak pagi tadi, Radit justru tidak mengajaknya berdebat, dan kata-katanya juga tidak ketus. Khaira justru merasa aneh dengan suaminya sendiri.
"Ini minumannya. Diminum dulu." ucap Radit sembari tangannya memberikan segelas minuman kepada Khaira dan ia pun kembali duduk di samping Khaira.
"Makasih." balas Khaira sembari menerima minuman itu dengan tangannya.
"Mungkin ini hanya upayanya aja semoga keluarga percaya kalau kami pasangan yang normal. Sebaiknya aku gak terlalu berpikiran aneh-aneh." Khaira membatin dalam hatinya.
Saat acara makan bersama pun, beberapa kerabat ada yang bertanya kepada Radit dan Khaira, dan keduanya menjawab sambil tersenyum. Keduanya benar-benar menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga mereka yang sebenarnya. Ayah Ammar dan Bunda Dyah tersenyum dari jauh melihat anak mereka satu-satunya terlihat bahagia bersama Radit.
Pada dasarnya semua orang tua akan merasa bahagia ketika anak mereka bahagia. Perasaan itulah yang sedang dirasakan Ayah Ammar dan Bunda Dyah.
Hingga arisan keluarga sudah selesai, Khaira pun berpamitan kepada Ayah dan Bundanya.
"Ayah, Bunda... kami pamit pulang ya. Karena besok Khaira harus masuk kuliah dan Mas Radit masuk bekerja. Nanti kapan-kapan kami main lagi." Ucap Khaira berpamitan dengan orang tuanya.
"Iya, sehat-sehat dan bahagia terus ya Nak. Ayah dan Bunda mendoakan semoga rumah tangga kalian langgeng." Ayah memeluk anak dan menantunya. "Rukun dan saling menyayangi ya..." Kembali Ayah menambahkan nasihatnya.
"Iya Ayah..." jawab Radit dan Khaira bersamaan.
Usai berpamitan, keduanya pun masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang mereka bicarakan. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, hingga mereka telah sampai di rumah.
"Terima kasih, sudah bantuin hari ini." ucap Khaira sembari melihat wajah Radit.
"Hmm, iya. Ya udah, aku langsung ya. Ini sudah malam."
"Iya."
Akhirnya keduanya pun kembali berpisah. Radit pulang ke rumahnya bersama Felly. Sementara Khaira kembali sendirian di rumah yang besar ini. Sandiwara telah usai, para pelakonnya kembali pada kehidupan nyata keduanya yang sekali pun suami istri tetapi justru seperti orang asing.
__ADS_1