
Dalam waktu kurang lebih seminggu, Radit telah berhasil menjual mobilnya. Honda BRV Prestige yang ia miliki setelah sekian tahun bekerja sebagai Auditor Pengendali Internal di Bank Swasta pun harus ia relakan untuk membeli sebuah rumah sederhana yang ia beli atas nama Felly.
Rumah yang dibeli Radit hanya rumah sederhana dengan 2 kamar tidur, 1 dapur, dan 1 kamar mandi. Bagi Radit yang notabene anak orang kaya, rumah yang ia beli sekarang ini sangatlah sederhana. Tetapi, ia tak punya pilihan lain, ia berusaha sebisanya untuk bisa membahagiakan Felly. Dengan sisa tabungannya, Radit membeli sepeda motor matic yang akan ia gunakan untuk bekerja sehari-hari.
Tiba saatnya ia akan pindahan, Radit pun berpamitan kepada Khaira. Dengan perlahan, ia berdiri di depan kamar Khaira dan mengetuk pintunya.
Tookkk.... Tookkk.... Tookkk....
Bunyi ketukan pintu.
"Hei, keluarlah dulu. Aku ingin bicara." Radit memanggil Khaira sembari tangannya mengetuk pintunya. Radit memang sudah tidak memanggil Khaira dengan sebutan 'Anak Kecil' mau pun 'Cengeng', tetapi tetap saja ia enggan memanggil nama Khaira.
Khaira pun membuka pintunya perlahan dan melihat Radit yang sudah berdiri di depan pintu itu.
"Aku akan pindah dari sini. Aku akan menjalani hidup bersama dengan Felly. Jadi, ku harap kamu tidak mempermasalah hal ini. Dan, jangan sekali-kali mengadu kepada kedua orang tua kita. Juga, dengarkan kamu jangan sekali pun mencariku. Karena Felly sangat tidak ingin bertemu lagi denganmu. Sesuai kesepakatanku dengan Felly, saat ia bekerja di shift malam, aku akan pulang ke sini. Jadi aku tetap akan pulang ke sini walau pun tidak setiap hari."
__ADS_1
Khaira yang berdiri di depan Radit enggan menatap wajah Radit. Ia hanya berusaha mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu, dan tak ingin menanggapi apa pun. Bagi Khaira, setiap kali suaminya itu mengajaknya berbicara pasti ujung-ujungnya hanya menyakiti hatinya.
Radit melihat Khaira yang seolah-olah tidak bereaksi apa pun dan enggan mendengarnya, tetapi Radit tetap ingin mengatakan hal ini kepada Khaira. "Kalau ada sesuatu kamu bisa menghubungiku. Toh, kamu juga punya nomor teleponku kan. Kalau Bunda memintamu untuk menemuinya, tolong kabari aku. Bagaimana pun kita harus kelihatan harmonis seperti pasangan pada umumnya. Dan, kita bisa lakukan itu saat menemui kedua orang tua kita. Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu."
Radit pun pergi meninggalkan Khaira yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Seusai kepergian Radit, Khaira kembali masuk ke kamarnya. Ia sudah tahu bahwa Radit akan meninggalkannya dan memilih untuk pergi bersama Felly. Bagaimana pun Khaira tahu bahwa Radit memiliki perasaan yang sangat dalam bagi Felly. Namun di sisi lain, Khaira bersyukur karena ia tidak perlu melihat Felly dan melihat keduanya yang seringkali bermesraan di depan matanya. Daripada terus tersakiti karena melihat kemesraan keduanya di depan mata, jauh lebih baik untuk menghindari dan tidak melihatnya sama sekali.
Sama sekali Khaira tak ingin meneteskan air mata. Keputusan ini tentu yang terbaik bagi mereka bertiga. Kesepian dan kesendirian akan resmi menjadi teman Khaira di rumah yang besar ini.
Khaira berdiri di depan jendela kamarnya dan ia melihat ketika sebuah taksi datang, dan Radit masuk ke dalam taksi itu dengan membawa dua buah koper berukuran besar.
Seusai kepergian Radit, Khaira memberanikan diri untuk menelusuri setiap ruangan di rumah itu. Mulai dari kamar di lantai dua yang ada tiga kamar di sana. Semua dimasuki Khaira, sebab selama ia tinggal di rumah ini hanya kamar tidur dan dapur saja yang menjadi areanya. Khaira cukup tercengang karena tidak ada kamar kosong dari tiga kamar itu. Semuanya terisi.
"Apa benar mereka berdua tidak tidur bersama? Mengapa di kamar sebelah ada beberapa barang Felly, dan di kamar ini masih ada beberapa pakaian Radit? Apa arti semuanya ini?" Khaira berkata-kata sendiri sembari mengamati kamar yang ia masuki saat ini. "Apakah kau juga membuat perjanjian dengan Felly sebelumnya Mas?" Khaira merasa heran, romantisme keduanya saat berada di hadapannya adalah fakta, tetapi melihat kamar-kamar ini seolah-olah keduanya tidur terpisah.
Khaira menaruh curiga dengan Radit dan Felly, tetapi ia pun yakin suatu saat kecurigaannya akan terjawab. Ia hanya cukup bersabar dan menunggu pengungkapan semua situasi yang rumit ini.
__ADS_1
Di sisi lain, Radit justru merasa bersalah meninggalkan Khaira seorang diri di rumah itu. Akan tetapi, ia sudah berjanji kepada Felly untuk membahagiakan wanita itu dan menuruti keinginannya, walau pun Radit menjual mobilnya demi membeli sebuah rumah sederhana dikisaran harga 200 juta. Bahkan Radit membelinya lunas, tanpa menggunakan kredit perumahan rakyat pada umumnya. Membahagiakan Felly adalah prioritasnya Radit saat ini.
Mendapat rumah dengan harga 200 juta di daerah ibukota memang tidak mungkin, karena itu Radit membeli sebuah rumah sederhana di daerah Depok. Pria itu bahkan rela untuk mengendarai sepeda motor saat bekerja nanti.
Di sisi lain, Felly telah berada di rumah barunya. Walau pun sederhana dan tidak semegah rumah hadiah pernikahan Radit dan Khaira, tetapi Felly cukup puas karena pada akhirnya ia kini telah memiliki rumah dengan namanya sendiri. Selama ini Felly terbiasa hidup di kost, sehingga saat sekarang ia berhasil memperdaya Radit, maka ia pun telah memiliki rumah dengan namanya. Walau pun Radit harus merelakan mobilnya, tetapi Felly puas karena rumah ini dibeli atas namanya. Bahkan Radit memberikan sertifikat tanah dan bangunan kepada Felly. Semua itu adalah bukti nyata bagaimana Radit ingin membahagiakan Felly.
Sekitaran satu jam kemudian, Radit telah sampai di rumah barunya dan Felly menyambut kedatangan Radit dengan pelukan hangat.
"Selamat datang, Ay... Akhirnya keinginan kita untuk hidup bersama telah terkabul. Makasih Ay, sudah mengabulkan permintaanku. Makasih karena kamu mau meninggalkan Bocah itu dan hidup bersamaku. Ya, walau pun tetap kamu akan sesekali menginap di sana, tapi aku tidak keberatan." Ucapan Felly sembari masih memeluk erat Radit.
"Iya, aku kan sudah janji untuk membahagiakanmu semampuku." Ucap Radit sembari membalas pelukan Felly.
"Yuk Ay... Kamarnya sudah aku siapin. Kamu istirahat dulu aja. Nanti malam kita keluar beli makan malam ya. Gak masalah kan kalau aku ini tidak bisa masak?" Ucap Felly sembari merajuk pada Radit.
"Iya, gak masalah. Toh beli makanan di luar juga gak apa-apa. Yang penting kamu bahagia."
__ADS_1
Radit pun memasuki kamarnya yang berada di belakang. Ia mendorong kedua kopernya. Radit ingin mengistirahatkan diri dan pikirannya terlebih dahulu setelah melalui hari yang berat dan melelahkan ini.