Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kuliah Padat


__ADS_3

Delapan Bulan Kemudian


Perkuliahan Khaira sudah semakin menjelang tahap akhirnya. Tidak hanya diperhadapkan dengan jadwal kuliah musim panas yang padat, Khaira juga tengah mempersiapkan Thesis yang sudah diajukannya kepada Kepala Biro Thesis.


Menjalani kuliah padat dan juga pengajuan Thesisnya, membuat Khaira lebih banyak menghabiskan banyak waktu di Perpustakaan kampusnya. Khaira melihat-lihat dan mempelajari format Thesis dari University of Manchester. Sesekali ia juga melihat buku-buku yang akan digunakannya sebagai referensi dan memperdalam kajian teorinya.


Bukan hanya kuliahnya yang padat, langkah Khaira untuk mengambil Thesis lebih cepat dari teman-teman seangkatannya pun membuat Khaira harus memaksa dirinya berlari lebih jauh dan lebih cepat.


"Khai, mengapa kamu ingin lulus lebih cepat?" tanya Adam yang duduk di sebelah Khaira ketika jam mata kuliah mereka telah usai.


"Aku sudah kangen dengan keluargaku di Indonesia, Adam. Sudah satu tahun lebih aku tidak pulang ke Indonesia." jawab Khaira sembari melihat Adam.


Adam hanya menggelengkan kepalanya, "Jadi tujuanmu mempercepat untuk mengambil Thesis karena ingin kembali ke Indonesia dan bertemu orang tuamu?" Adam bertanya sembari memincingkan matanya.


"Ya, benar banget Adam. Aku merindukan Ayah dan Bundaku dan kedua mertuaku. Senyamannya tinggal di negeri asing, tetap merindukan kampung halamanku." jawabnya dengan serius.


Adam justru tertawa, "Bilang aja kamu merasa homesick. Apa sudah ada suamimu di sini masih belum cukup?"


"Bedalah. Sebagai seorang anak, aku kan juga merindukan orang tuaku." Hening sejenak. "Aku pun yakin orang tuaku juga sangat merindukanku. Ya walau pun kami sering melakukan panggilan video. Tetapi kangen rumah rasanya."


Baru sejenak Khaira berhenti berbicara giliran Mark dan Tina yang menyusul Adam dan bergabung bersama Khaira.


"Jadi kau akan lulus mendahului kami, Khai?" Tina bertanya sembari mengambil duduk di depan Khaira.


Khaira hanya tersenyum, "Belum tentu. Aku masih harus berjuang untuk menyelesaikan Thesisku."


Adam memotong pembicaraan Khaira dan Tina. "Dia mengambil Thesis lebih dulu karena sudah kangen dengan orang tuanya. Kangen dengan kampung halamannya. Lucu bukan?"

__ADS_1


Mark turut berbicara. "Sebelumnya kau tidak pernah tinggal jauh dari orang tuamu? Setelah menikah kau masih tinggal bersama orang tuamu?"


"Aku langsung ikut suamiku setelah menikah dengannya, ya tapi kan masih berada dalam satu kota. Sehingga saat weekend terkadang aku bisa mengunjungi mereka. Kalau sekarang, kami berada di dunia berbeda, sudah selayaknya aku merindukan orang tuaku." Khaira menjawab dengan jujur.


Sejauh apa pun kita berada di negeri asing, rasa rindu dan keinginan untuk kembali ke Tanah Air tidak akan pernah dari lepas dari kalbu. Dan, itulah yang saat ini Khaira rasakan. Rindu dengan kedua orang tua dan juga mertua, rindu dengan masakan tradisional Indonesia, bahkan rindu dengan kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya.


Tina pun merangkul pundak sahabatnya itu, "Sabar sedikit lagi, jika kau selesai mengerjakan Thesis tinggal menunggu wisuda dan selanjutnya kau bisa pulang. Aku pun terkadang merasakan demikian, rindu dengan harum semerbak bau tanah saat hujan tiba di negeriku, rindu dengan Parata Kol yang menggugah selera makan, rindu dengan debu halus yang setiap hari menyelimuti kota Mumbai. Aku sama sepertimu."


Khaira menyandarkan sejenak kepalanya di bahu Tina. "Thanks Tina, kau mengerti perasaanku. Seperti itulah perasaanku saat ini."


"Aku tahu, karena aku juga jauh dari keluarga. Ada hari di mana kau begitu merindukan mereka. Ada hari di mana kau bisa bertahan dan seolah hari berjalan baik-baik saja. Akan tetapi, setidaknya di sini kamu memiliki suami yang baik dan tentu bisa menghiburmu bukan?" Tina berbicara dan sedikit memberitahu bahwa di negeri asing dan begitu jauh dari rumah ini Khaira tidak sendiri.


Khaira pun mulai tersenyum, ya yang dikatakan Tina benar, di sini dia tidak sendiri ada Radit yang menemaninya setiap hari, menghadirkan lelucon, gombalan, bahkan pria itu juga terlibat untuk mengurus apartemen yang mereka tinggali.


"Oke, baiklah. Aku tidak akan sedih lagi, tetapi aku akan tetap menyelesaikan Thesisku secepat mungkin. Kalian tidak ingin lulus bersamaku?" Khaira bertanya kepada ketiga sahabatnya itu dengan pandangan mata yang mengamati satu per satu wajah sahabatnya.


"Kau lulus duluan saja, aku ingin bersantai di sini." ucap Mark.


"Aku usahakan Khai, aku akan coba mengajukan Thesis juga. Karena Papaku di Singapura juga sudah menungguku." ucap Adam.


"Aku juga akan berusaha, Khai. Tetapi, tentunya aku hanya berusaha semampuku ya." ucap Tina.


Khaira memandangi satu per satu wajah sahabatnya itu. "Jadi hanya Mark yang akan bersantai-santai di sini? Okey, baiklah. Adam dan Tina, semoga kita bisa berjuang bersama-sama ya. Saling mendukung." ucap Khaira dengan semangat sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Khai, kamu di kampus sampai sepetang ini? Tidak pulang? Bagaimana kalau suamimu menunggu?" Tina kembali bertanya kepada Khaira, sebab biasanya Khaira adalah yang paling rajin pulang begitu jam mata kuliah usai, tetapi sekarang hingga petang Khaira masih berada di Perpustakaan.


"Oh, iya. Aku sampai lupa waktu. Baiklah aku akan menghubunginya."

__ADS_1


Khaira mengambil handphone dari dalam tasnya. Lalu, sebuah pesan ternyata sudah masuk dari Radit. Pria itu sudah menjemputnya lima menit yang lalu.


"Guys, aku pulang duluan ya? Sudah dijemput." Ucap Khaira berpamitan kepada teman-temannya.


Rupanya ketiga temannya juga mengikuti Khaira untuk pulang, seharian sudah mereka mengikuti kuliah hingga terdampar di Perpustakaan, sekarang mereka tentu memilih pulang dan beristirahat.


Di depan kampus, Radit sudah berdiri dan mengamat-amati mahasiswa yang berlalu lalang di sana, hingga akhirnya matanya melihat bahwa Khaira tengah berjalan bersama ketiga sahabatnya.


Khaira tersenyum melihat suaminya dari kejauhan. Begitu pula dengan Radit, ia tersenyum dan hatinya lega setelah melihat Khaira.


"Sudah lama menunggu Mas?" Khaira bertanya ketika kini ia sudah berada di depan suaminya.


"Lima hingga sepuluh menit ada. Mau pulang sekarang?" tanyanya.


"Iya...." jawab Khaira dengan cepat. Seharian berada di kampus dan berjam-jam di Perpustakaan membuatnya sangat pegal.


Akhirnya Khaira memilih berpamitan dengan teman-temannya dan berjalan pulang bersama Radit.


Pria itu segera menautkan tangannya, menggenggam erat tangan Khaira. "Gimana kuliahnya hari ini? Capek?" tanyanya sembari langkah kakinya terus berjalan menyusuri jalan menuju apartemennya.


"Capek Mas ... Banget. Pengen mandi terus tidur, mataku lelah banget ini." Khaira menyipitkan matanya memandang Radit.


"Ya udah, nanti aku pijitin deh, biar capeknya hilang. Aku sudah menyeduh teh sebelum ke sini, biar begitu sampai di apartemen, kamu bisa minum teh." ucapnya sembari merangkul bahu istrinya itu.


"Hmm, makasih banget ya Maskuw ...."


"Sama-sama Istrikuw ...."

__ADS_1


__ADS_2