Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Cerita Masa Kecil


__ADS_3

Setibanya di rumah Bunda Ranti dan Ayah Wibi, Khaira duduk di ruang tamu. Mengistirahatkan badannya sesaat, tidak lama kemudian Bunda Ranti datang dengan membawa minuman hangat dan satu toples kue nastar untuk Khaira.


"Diminum dulu, Khai... Sebentar ya, Bunda mau telepon suami kamu dulu."


Bunda Ranti pun langsung menghubungi nomor telepon Radit.


[Halo Radit, ini Bunda...]


[Ya Bunda, ada apa?] sahut Radit di seberang sana.


[Dit, ini Khaira biar nginep di rumah Bunda ya, tadi Bunda ketemu sama Khaira waktu di Mall. Khaira yang anterin Bunda pulang, Bunda minta Khaira nginep lagi ya, kangen sama menantu Bunda.]


[Loh, kok nginep Bunda? Radit susul ya, nanti Radit ke rumah Bunda.]


Usai menelpon Radit, Bunda Ranti kembali duduk bersama Khaira di ruang tamu.


"Khaira, mau enggak Bunda ceritain masa kecil suami kamu?" Bunda Ranti berkata sembari membawa sebuah album foto berwarna merah. Album foto yang kelihatan sangat lama.


"Iya Bunda, Khaira mau dengar cerita dari Bunda." ucap Khaira dengan matanya berbinar bahagia.


Mulailah Bunda Ranti membuka sebuah album foto yang sudah sangat lama itu.


"Nah, ini album yang Ayah dan Bunda punya untuk mengabadikan tumbuh kembang Radit. Radit hadir di hidup kami, setelah kami menikah 2 tahun lamanya. Memiliki Radit membuat hidup kami berubah. Ayah dan Bunda yang biasa di rumah sendiri, lalu ada tangisan bayi kecil yang menambah kebahagiaan di rumah. Dan, ini foto Ayah Ammar dan Bunda Dyah yang datang mengunjungi kami waktu Radit masih kecil." Tangan Bunda Ranti menunjuk sebuah foto di mana Ayah Ammar dan Bunda Dyah mengunjungi mereka.

__ADS_1


Khaira yang melihat foto itu pun itu tersenyum. Berarti memang benar bahwa orang tua dan mertuanya telah bersahabat sangat lama.


"Lalu, ini foto Radit dari dia belajar tengkurap, duduk, hingga dia berjalan. Semuanya kami abadikan di sini. Lalu, ini foto Radit sudah besar, dia berusaha 5 tahun di sini. Dan, ini pertama kalinya Radit masuk TK." kali ini Bunda Ranti menunjuk sebuah foto yang menunjukkan seorang anak laki-laki mengenakan seragam TK nya.


"Terus foto ini, Khai... Ini foto pertama kalinya kamu dan Radit bertemu. Saat itu Radit berusia 8 tahun, dan kamu masih kecil sekitaran 4 tahun kalau Bunda tidak salah. Pertama kalinya kalian bertemu, kamu sampai menangis waktu Ayah Ammar mengajakmu pulang. Kamu bilang mau bermain sama Mas. Radit juga begitu, ini lihatlah betapa dia sayang sama kamu. Ini foto waktu kalian tidur siang, tangan kalian pun saling menggenggam tidak mau lepas. Kalau tidak salah, waktu itu Radit berkata seperti ini kepada Bunda dan Ayah, "Radit mau menjaga adek Khaira, Bun. Nanti kalau sudah besar Radit mau menikah sama adek Khaira." Mendengar ucapan anak kecil itu, maka kami menjodohkan kalian sejak kecil. Bahkan kamu sayang banget sama Radit. Waktu kecil kamu memanggilnya Mas Adit, Sayang."


Khaira nampak terkejut mendengar cerita Bunda Ranti dengan foto keduanya yang masih kecil.


"Jadi... Ini Mas Adit? Mas Adit-nya Khaira waktu kecil?" Khaira seolah tak percaya, hingga dia menitikkan air mata.


"Loh kenapa sayang kok malahan nangis? Harusnya kamu seneng, karena kamu menikah dengan orang yang kamu sayang sejak kecil. Iya, ini Mas Adit-nya Khaira..."


Khaira pun memeluk Bunda Ranti, dia masih menangis. Dalam hatinya ada rasa bahagia sekaligus sedih.


Kamu Mas Adit-nya Khaira, pria pertama yang mencuri ciuman di pipiku, pria pertama yang membuatku menangis, sekaligus pria pertama yang Khaira sayangi. Tapi, setelah semua ini kenapa kamu berubah. Aku mungkin lupa dengan kenanganku waktu kecil, tetapi kamu pun tak mengenaliku dan sekarang kamu sudah tidak sayang kepadaku. Gumam Khaira dalam hati, sembari menangis di pelukan Bunda Ranti.


"Hmm, gak papa kok Bunda. Khaira menangis bahagia, rupanya suami Khaira itu Mas Adit. Khaira benar-benar gak menyangka, Bunda. Mungkin waktu Khaira masih kecil memori ingatan Khaira terbatas, jadi waktu Ayah Ammar dan Bunda Dyah bilang mau menjodohkan Khaira dengan anak dari temannya, jujur Khaira menolak Bunda. Bagi Khaira, mengapa Ayah dan Bunda menjodohkan Khaira dengan pria yang Khaira tidak kenal. Ternyata justru Khaira sudah mengenalnya waktu kecil." ucap Khaira sembari tangannya mengusap buliran air mata yang jatuh di wajahnya.


Bunda Ranti tersenyum mendengar cerita Khaira, Bunda merasa menantunya ini sangat jujur dan juga polos, sampai ia menolak perjodohan pun diceritakan kepada mertuanya.


"Gak apa-apa, Bunda Ranti juga paham posisi kamu. Apalagi setelah Radit berusia 10 tahun, kami tidak lagi mengunjungi keluarga kalian yang waktu itu masih tinggal di Jogjakarta. Sementara, kami menetap di Jakarta. Sejak itu, kalian memang tidak saling bertemu. Kalian kembali bertemu lagi saat pernikahan kalian."


"Bunda, boleh Khaira meminta foto yang ini Bunda? Khaira mau scan saja Bunda, kapan-kapan Khaira kembalikan." Khaira menunjuk foto masa kecil keduanya yang bahagia bersama dengan latar Candi Prambanan.

__ADS_1


"Ini, buat kamu saja Khaira. Gimana seneng tidak, sudah menemukan Mas Adit?" Kali ini justru Bunda Ranti yang menggoda Khaira.


"Iya, Khaira senang Bunda..." Jawabnya sambil memasukkan selembar foto masa kecil keduanya ke dalam tasnya.


"Ya udah, sana kamu istirahat sudah malam, langsung masuk ke kamar Radit saja ya. Pakai baju suami kamu saja buat tidur, ya Khai..."


"Iya Bunda, selamat malam."


Khaira pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Radit. Ia mencari baju dan celana training olahraga yang semula ia pakai waktu dulu pertama kali menginap di rumah mertuanya. Khaira memberanikan diri membuka lemari, dan pakaian itu ada di tumpukan paling atas. Segeralah Khaira mengambil pakaian itu dan mengganti pakaiannya.


Sementara di ruang tamu, Bunda Ranti masih duduk menunggu Ayah Ammar yang masih bekerja di kantor. Terdengar suara ketukan pintu, ternyata Radit yang datang.


"Malam Bunda... Di mana Khaira, Bun?" Tanya Radit ketika ia baru saja datang di rumah orang tuanya.


"Kamu posesif banget sih, Dit. Istrinya dipinjem Bunda semalam aja gak boleh." Ucap Bunda sembari tertawa menggoda Radit.


"Ya kan, kalau Khaira di sini, Radit-nya bobok sendiri dong." Jawab Radit sembari tertawa kepada Bunda nya. Walau pun hanya jawaban ngeles karena apa yang terjadi di dalam rumah tangga keduanya, sama sekali tidak diketahui orang tuanya.


"Ya udah sana, susul Khaira ke kamar kamu. Paling anaknya sudah tidur."


Radit pun bergegas menuju kamar tidurnya di lantai dua. Dia memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu, dan langsung masuk. Sementara Khaira baru akan tidur dengan posisi dia sudah berada di atas kamar tidur.


Melihat kedatangan suaminya secara tiba-tiba, Khaira sontak langsung duduk dan menatap tajam suaminya itu.

__ADS_1


"Tidur aja, aku cuma mau ikut ke sini. Jangan sampai Ayah dan Bunda curiga sama kita berdua. Kamu jangan salah paham juga." Hanya itu yang Radit ucapkan, lalu dia merebahkan dirinya di sisi Khaira.


Khaira langsung menata guling yang memisahkan jarak keduanya sebagai pembatas. Lalu, ia memunggungi Radit dan menyelimuti seluruh badannya hingga sampai ke kepalanya.


__ADS_2