Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Persiapan Menyambut Baby A


__ADS_3

Kehamilan Khaira sekarang sudah menginjak 7 bulan, tinggal dua bulan lagi ia akan menghadapi masa bersalin.


Calon Papa, begitu semangat mempersiapkan kamar untuk Baby A. Sebuah kamar yang terkoneksi dengan tempat tidur mereka telah dicat dengan warna pink lantaran buah hati mereka berjenis kelamin perempuan. Radit bahkan menghadirkan desainer interior khusus untuk membuat kamar yang nyaman bagi Baby A.


"Coba kamu lihat kamar Baby A Sayang, kurang apa lagi?" Radit mengajak istrinya memasuki kamar yang didominasi warna pink itu.


Khaira mengamati bahwa kamar ini sudah bagus, sisi pencahayaan, dan kelengkapan sudah pas. Khaira justru tersenyum mengingat betapa excited-nya suaminya mempersiapkan kamar ini.


"Udah bagus kok Mas... Kamarnya pink, aku jadi pengen bobok di sini deh." ucap Khaira sembari bergelayut manja di lengan suaminya.


Radit hanya mengelus puncak kepala istrinya. "Boleh kok kalau kamu mau bobok di sini, nanti aku temenin. Sekarang kita fokus ke Baby A dulu ya Sayang." ucapnya tulus. "Ini masih kurang apa lagi Sayang, biar aku bisa siapkan semuanya sebelum Baby A lahir."


Khaira mengamati satu-satu yang berada di dalam kamar itu. "Udah lengkap kok Mas, sudah ada penyimpanan untuk pakaian bayi, kursi itu buat ng-ASI-in kan Mas?" ucapnya menunjuk pada satu sofa single berwarna pink di dekat jendela.


"Iya, kalau mau ng-ASI-in bisa di situ Sayang. Aku sengaja taruh sofa di situ kalau pagi kan sinar matahari masuk dari jendela itu, kita bisa jemur Baby A biar mandi matahari, biar sehat." jawabnya.


"Mas, kita enggak belanja pakaian baby buat Baby A Mas? Ke Mall yuk Mas, beli-beli buat Baby A." ajak Khaira kepada suaminya itu.


Mengiyakan. Radit dan Khaira pun telah bersiap menuju salah satu Mall dan membeli berbagai keperluan untuk menyambut sang buah hati.


Begitu telah sampai di Mall tersebut, Radit dan Khaira langsung memasuki salah satu toko yang menjual berbagai kelengkapan bayi. Khaira nampak memilih-memilih pakaian bayi berusia 0-3 bulan untuk Baby A.


"Lucu-lucu banget ya Mas, jadi gemes." ucap Khaira sambil tangannya memilih baju bayi yang didominasi warna pink itu.


Radit menganggukkan kepalanya. "Iya lucu, beli banyak aja sekalian Sayang." ucapnya yang menyuruh istrinya untuk membeli banyak untuk buah hatinya.


Dengan tegas Khaira menolak. "Beli secukupnya saja Mas, lagipula pertumbuhan baby itu cepet. Daripada mubazir, mending beli secukupnya saja."

__ADS_1


Radit mengelus puncak kepala istrinya. "Kamu bijak banget Sayang. Baby A pasti bangga banget punya Mama seperti kamu." pujinya tulus kepada istrinya itu.


Khaira hanya tersenyum. "Baby A juga bangga punya Papa seperti kamu. Papa yang selalu sayang sama Baby A. Pilihin beberapa setel untuk Baby A dong, Papa...."


Radit mengernyitkan keningnya. "Yakin, aku yang milihin? Aku enggak tahu mana yang bagus." ucapnya.


"Pilihan Papanya pasti baby A seneng. Pilihin tiga setel ya buat Baby A." lagi Khaira memerintahkan suaminya untuk memilih tiga setel pakaian bayi untuk Baby A.


Radit nampak melihat-lihat mana motif yang bagus, akhirnya tiga memilih tiga setel pakaian bayi untuk Baby A. Di sisi lain Khaira telah memilih pakaian juga untuk Baby A, tidak lupa dengan Kain Bedong, Botol ASI, set topi-kaus tangan-kaus kaki bayi, Gendongan bayi, dan membeli pumping elektrik.


"Mas, yang pumping ini aku bayar sendiri aja ya. Mahal soalnya. Nanti kan aku juga mau pumping dan simpan ASIP kalau sewaktu-waktu aku ngajar, Mas." ucapnya sembari tangannya membawa sebuah pompa ASI Elektrik.


"Biar Mas yang bayar aja, semua uangku milikmu Sayang. Gak usah sungkan." ucap Radit yang tentu menolak permintaan istrinya.


"Sayang, beli buat kamu juga. Aku baca di artikel itu saat melahirkan yang butuh perlengkapan enggak cuma Baby nya, Mamanya juga. Baju yang lebih adem mungkin, breastpad, dan lainnya. Ayo kita beli sekalian mumpung kita di sini."


Dalam hal ini Radit rupanya memang sudah membekali diri sedemikian rupa. Ya, dalam proses persalinan seorang Ibu juga membutuhkan berbagai keperluan seperti baju yang lebih adem, breastpad, kroset untuk perut, dan lain sebagainya.


"Sudah pasti aku memperhatikanmu. Kita bayar dulu ya, abis ini ayo cari semua kebutuhanmu untuk melahirkan nanti."


Dengan menggandeng tangan Khaira, Radit membayar semua belanjaan mereka. Semua perlengkapan baby untuk Baby A sudah lengkap. Sekarang giliran membeli perlengkapan untuk Bumil.


Baru keduanya terlihat seperti pasangan muda yang sangat bahagia, hingga tidak sengaja mereka kembali bertemu dengan wanita dari masa lalu, Radit.


"Hei, kita gak sengaja ketemu lagi di sini." sapa wanita itu.


Melihat kembali wanita itu, Khaira lantas mengeratkan genggamannya di tangan suaminya.

__ADS_1


"Felly..." ucap Khaira dengan lirih.


"Hai Khai, kita ketemu lagi. Hai juga, Dit." sementara Radit hanya memasang wajah datar.


Lantaran sudah disapa, mau tidak mau langkah kaki mereka terhenti sejenak. "Sudah berapa bulan Khai?" tanya Felly yang melihat begitu besarnya perut Khaira.


"Sudah 7 bulan." jawab Khaira. Lantas mata Khaira tertuju kepada bocah kecil berusia kurang lebih 3 tahun yang digandeng Felly.


"Dia anakku, Khai ... namanya Salma, usianya hampir 2 tahun." Felly menyuruh anaknya itu untuk berjabat tangan pada Khaira dan Radit.


"Jadi kamu sudah menikah dan punya anak?" tanya Khaira begitu usai berkenalan dengan Salma.


Felly hanya menghela nafasnya. "Ceritanya panjang, mungkin ini hukumanku juga karena dulu jahat sama kalian berdua. Dia anakku, suamiku hanya menikahiku di atas kertas, usai itu dia meninggalku. Aku single mom buat Salma."


Khaira merasa tidak enak menanyakan hal ini kepada Felly. "Maaf Fell, aku tidak bermaksud. Ku harap kamu menjadi sosok Ibu dan Ayah yang kuat buat Salma. Kami duluan ya. Bye Salma...." ucap Khaira kepada bocah kecil yang nampak melihatnya itu.


"Garis takdir orang enggak ada yang tahu ya Mas...." ucap Khaira begitu telah menjauh dari Felly.


Radit hanya menganggukkan kepala. "Sudah Sayang, jangan membahas orang lain lagi. Kita fokus ke kita berdua dan Baby A." ucap Radit serius.


Khaira mendongakkan kepala menatap wajah suaminya, "kamu enggak kasihan Mas?" tanyanya.


"Semua orang itu punya jalan hidupnya masing-masing Sayang, tentu dengan nasibnya. Simpati boleh tapi jangan berlebihan. Sudah yah, jangan membahas lagi tentang dia. Fokus saja denganku Sayang dan Baby A." jawab Radit dengan sangat serius.


"Mas...." dipanggilnya nama suaminya itu.


"Apa pun yang terjadi jangan jatuh ke lubang yang sama ya Mas. Ada aku dan Baby A, ingatlah kami berdua jika mungkin suatu saat ada godaan datang." ucap Khaira dengan hatinya yang terasa berkecamuk saat ini.

__ADS_1


"Iya Sayang ... kesetiaan teruji waktu Sayang, biar waktu yang membuktikan bahwa aku hanya untukmu. Love U Sayang...." ucapnya sembari satu tangannya merangkul bahu istrinya.


"Love U Too, Papa...."


__ADS_2