Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Menjemput Istri Tercinta


__ADS_3

Malam ini menjadi pengalaman yang cukup berbeda bagi Radit. Sebab, setelah sekian waktu lamanya, baru kali ini dia berbaring di tempat tidur tanpa istrinya. Sebenarnya memang dia tidak rela, istrinya menjadi salah satu pengisi acara di kampusnya, tetapi kampus sudah menyusun jadwalnya. Mau tidak mau, dia pun memberikan izin untuk istrinya itu. Walaupun demikian, banyak sekali pesan yang dia ucapkan kepada Khaira sebelumnya istrinya itu berangkat dari kampusnya.


Satu jam sebelum Khaira pergi ke Bogor …


“Sayang, ingat ya di sana enggan boleh kecapean. Ingat kandungannya harus selalu dijaga, kalau kecapean berakibat tidak baik ke babynya. Jangan terlalu dekat sama mahasiswa cowok, sama dosen cowok, dan selalu kabari aku ya.” ucapnya dengan nada yang begitu posesif.


Sementara Khaira mendengarkan setiap pesan dari suaminya dengan tersenyum, “Iya Mas Raditku yang posesif. Gak mungkin juga aku deket-deket sama mahasiswa cowok dan dosen cowok. Gak niat Mas, aku sudah melabuhkan hatiku pada cowok tercakep buatku dan juga cowok paling modus sedunia ini.” jawab Khaira sembari mengusap pipi suaminya itu.


Itu pernyataan jujur atau gombalan, faktanya Radit menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. “Janji loh ya, pokoknya aku gak mau ada cowok lain yang deket-deket sama kamu.” sambungnya lagi dengan mencium pipi istrinya.


Khaira hanya tersenyum, dia kemudian melingkari pinggang suaminya, mengambil posisi sedikit berjinjit dan mencium bibir suaminya itu. Satu kecupan dia labuhkan di bibir suaminya itu. “Ini janjiku Papa … gak akan deh deket-deket sama cowok. Besok jangan lupa jemput aku ya, aku sudah bilang sama pihak kampus kok kalau aku pulang sendiri.”


Satu kecupan yang dilabuhkan di bibir suaminya mendapatkan hadiah pelukan dari Radit yang begitu erat dan hangat, “Iya … aku bakalan kangen. Sekarang aja udah kangen, apalagi ntar malam, bakalan tambah kangen.” ucapnya dengan terdengar manja.


Flashback off


***


Kini, dengan penuh semangat Radit bergegas menuju ke Puncak,Bogor untuk menjemput istrinya itu. Dari pagi si Papa muda itu sudah menyiapkan sarapan untuk Arsyilla, kemudian mengantarkan Arsyilla di rumah Eyangnya terlebih dahulu, kemudian dengan memperkirakan waktu jarak tempuh Jakarta ke Bogor, Radit dengan segera mengendarai mobilnya dan berharap bisa segera di Bogor untuk bertemu dengan istrinya di sana.


Lantaran hati berbalut rindu, makanya perjalanan Jakarta - Bogor terasa begitu lama. Hasratnya ingin segera bertemu istrinya dan memeluknya. Dua hari satu malam terasa begitu panjang untuk pria itu. Beruntunglah Radit karena lalu lintas ramai lancar, dia sekarang sudah tiba di sebuah villa yang digunakan kampus Khaira untuk menggelar acara. Pria itu memilih menunggu di dalam mobilnya, satu jam dia harus menunggu. Lantaran rindu dan cinta, satu jam tidak terasa lama.


Hingga saat acara usai, dan beberapa mahasiswa mulai keluar dari villa tersebut, Radit mulai keluar pula dari mobil. Pria itu berdiri di depan mobilnya dan pandangan matanya mencari-cari di mana sosok istrinya itu. Satu menit berlalu Khaira masih belum terlihat. Dua menit, belum juga terlihat. Hingga hampir lima menit, barulah wanita muda dengan perutnya yang menyembul berjalan dengan beberapa rekan dosennya. Tidak sengaja, ada beberapa dosen pria juga yang berjalan di dekat Khaira, pemandangan yang membuat suami posesif itu mendadak cemburu.

__ADS_1


Khaira tersenyum saat melihat sosok suaminya sudah stand by di depan mobilnya, rasanya Khaira pun ingin berlari dan menghambur dalam pelukan pria yang sudah menunggunya itu, tetapi karena dia tengah berbadan dua, tidak mungkin dia akan berlari-larian.


Setiap langkah yang diambil membuat jantungnya berdetak kian cepat, hingga akhirnya kini benar-benar telah di hadapan suaminya itu.


“Sudah lama Mas?” tanya begitu sudah berdiri di hadapan suaminya.


Saat Radit hendak menjawab, rupanya beberapa mahasiswa dan rekan dosen berbicara kepada Khaira.


“Kami duluan ya Bu Khaira, makasih.”


“Mari Bu Khaira, kami duluan ya Bu. Makasih buat materinya semalam dan pagi tadi.”


“Hati-hati di jalan Bu Khaira.”


Sembari menunggu, Radit memilih mengambil alih tas di tangan istrinya dan memasukkannya terlebih dahulu ke dalam bagasi mobilnya. Setelahnya mulailah, dia membukakan pintu mobilnya bagi Khaira.


“Istriku ternyata populer ya di kampus.” ucap pria itu begitu masuk di kursi kemudinya.


Khaira lantas menggelengkan kepalanya, “Mereka mahasiswa Mas, jadi kan pada kenal sama dosennya.” sahutnya dengan sembari mengenakan sit bealt.


“Lalu, tadi cowok-cowok yang berjalan bareng sama kamu itu siapa?” pertanyaan posesif itu akhirnya keluar juga.


Khaira menghela napasnya dan menatap wajah suaminya itu, “Ada yang mahasiswa, dan temen dosen juga. Pasti bau-baunya cemburu deh ini. Cuma jalan barengan Mas, dan rame-rame juga.” jawab Khaira berusaha meyakinkan suaminya itu.

__ADS_1


“Ya, tapi aku cemburu.” satu pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir suaminya itu. Secara terang-terangan dia mengakui bahwa dirinya sedang cemburu.


Khaira lantas melepas sit bealtnya, kemudian mengangkat sedikit badannya yang saat itu dalam posisi duduk di mobil. Dia beringsut dan menarik kerah jaket yang dipakai suaminya, kemudian mengecup dan mencium bibir suaminya itu. Menyapa manisnya bibir milik suaminya dengan ciuman yang lembut dan juga ciuman penuh rindu. Sekian detik berlalu, lantas Khaira melepaskan bibirnya dari bibir suaminya itu.


“Semua gak akan berpengaruh apa-apa Mas … cintaku hanya buat kamu. Aku kangen loh sama kamu.” ucap Khaira dengan wajah bersemu merah.


Usai mendapat kejutan dadakan dari istrinya, Radit pun tersenyum, “Makasih ya … aku juga kangen sama kamu, kangen banget malahan. Kita berangkat balik ke Jakarta sekarang ya.” ucap pria itu sembari mulai mengemudikan stir kemudinya.


Khaira pun mengangguk, “Iya … Puncak adem ya Mas, jadi inget sesuatu.” ucapnya tiba-tiba.


Radit sejenak menolehkan lehernya dan menatap istrinya itu, “Inget apa Sayang?” tanyanya kepada Khaira.


Khaira pun tertawa, “Inget kamu lah Mas, emang inget sapa lagi coba.”


Mendengar jawaban Khaira, Radit pun tergelak dalam tawa, “O … kirain inget jagung bakar, atau mie instan pake cabai rawit dan telor kayak kesukaan kamu itu. Ternyata ingat aku ya.” sahutnya sembari tertawa.


Tiba-tiba, satu tangan Khaira mencubit pinggang suaminya, cubitan yang membuat Radit mengaduh dan memegangi perutnya yang seperti digigit semut karena cubitan dari istrinya itu.”Aw … sakit Sayang.. Jangan cubit-cubit, daripada dicubit mending disayang. Disun sini Sayang …” ucapnya dengan tertawa dan jari telunjuknya memegang bibirnya.


“Ya ampun, kamu nakal dan modus kayak gini kok ya aku mau sih Mas, sama kamu. Kok ya aku cinta sih sama kamu.” ucapnya sembari geleng-geleng.


“Karena yang nakal, modus, baik, dan jujur cuma ada satu Sayang, itu namanya Mas Raditnya Khaira.”


Hahahaha ….

__ADS_1


Mobil itu penuh dengan canda tawa karena Radit dan Khaira yang seolah terus saling melemparkan ucapan yang penuh canda. Keduanya tertawa bersama di sepanjang perjalanan dari Bogor menuju Jakarta.


__ADS_2