Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Curhatan dari Orang Asing


__ADS_3

Radit, Khaira, dan Arsyila telah berada di Singapura kurang lebih tiga hari lamanya. Sekalipun begitu capek, tetapi mereka bertiga terlihat bahagia. Terlebih Arsyila yang selalu bersemangat saat diajak mengunjungi tempat-tempat wisata di Singapura.


"Makasih ya Khai ... udah disempetin datang ke Singapura dan ngisi seminarnya. Lain kali kalau ada seminar lagi, gue kontak lo ya." ucap Adam yang berterima kasih kepada Khaira karena telah mau mengisi seminar dan terbang dari Jakarta menuju Singapura.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Sama-sama ... thanks ya. Kalau perlu bantuan kabar-kabar aja." ucap Khaira.


"Kak, makasih ya. Udah disempetin datang ke Singapura. Sorry kalau belum bisa ngajakin main." lagi Adam berbicara dan kali ini kepada Radit. Ya, dia merasa tidak enak hati karena belum sempat mengajak Khaira, Radit, dan Arsyila untuk mengunjungi tempat-tempat di Singapura.


Radit pun tersenyum. "Gak papa, nanti lain kali kami bisa main ke sini lagi. Atau giliran kamu yang main ke Jakarta."


Adam pun menganggukkan kepalanya. "Siyap. Nanti kalau ke Jakarta, pasti aku akan kabar-kabar."


"Thanks Uncle sudah undang kami ke Singapura. Kemarin Syila sudah lihat Patung Singa berbadan ikan di Merlion Park, Uncle." cerita Arsyila kepada Adam. Mengunjungi Merlion Park dengan melihat ikon negara Singapura masih begitu membekas dalam ingatannya.


Adam pun sedikit berjongkok dan mengusap puncak kepala Arsyila. "Wah, Arsyila pasti senang yah ... lain kali Syila main ke Singapura lagi ya. Nanti Uncle ajakin ke tempat-tempat bagus lainnya di Singapura. Arsyila mau?"


Dengan cepat Arsyila menganggukkan kepalanya. "Mau ... Arsyila mau Uncle." ucapnya dengan penuh antusias.


Kini mereka telah berada lagi di Changi International Airport. Penerbangan ke Jakarta masih akan diberangkatkan tiga jam lagi.


"Papa ... ayo lihat Jewel Changi, Pa." ajak Arsyila yang rupanya masih ingat dengan janji Papanya yang akan mengajaknya melihat Jewel Changi.


Radit pun menatap sejenak pada Khaira, kemudian Khaira menganggukkan kepalanya. "Boleh ... yuk... di sana harus pelan-pelan ya." ucapnya sembari menggandeng tangan Arsyila.


Mereka berjalan menuju Jewel Changi, terdengar sayup-sayup suara bergemericik dari air terjun di dalam ruangan itu. Tidak hanya suara air, tetapi terdengar juga alunan musik instrumen yang begitu indah.


Begitu mereka telah mendekat di Jewel Changi, nampak Arsyila begitu terpesona dengan air terjun setinggi 40 meter itu yang terlihat begitu megah. "Papa ... bagus sekali Pa. Arsyila mau difotoin sama Mama di sini dong." ucapnya menunjuk salah satu spot foto di Jewel Changi Waterfall.


Dengan sigap, Radit memotret dua wanita kesayangannya itu. Tidak lupa Radit meminta tolong pada salah satu pengunjung untuk memotretnya.

__ADS_1


Setelahnya Khaira memilih duduk di area Jewel Changi Waterfall sembari mengamati suaminya dan anaknya yang tengah asyik berjalan-jalan di area air terjun megah yang berada di dalam ruangan itu.


Tidak disangka di sebelahnya terdapat seseorang wanita yang tengah memperhatikan keseruan Arsyila.


"Anaknya berusia berapa tahun ya? Lucu banget ya."


"Sudah 3 tahun...." jawab Khaira dengan cepat.


"Anaknya lucu dan pandai ya, mengingatkan saya sama anak saya." ucap wanita yang kira-kira berusia kepala tiga itu dengan wajah pilu.


Khaira yang semula fokus memperhatikan Arsyila, kini mulai memperhatikan pada wanita yang tengah duduk di sebelahnya itu. "Maaf, anaknya sekarang di mana Bu?" tanya Khaira dengan begitu sopan, takut jika melukai atau membuka luka lama pada wanita tersebut.


Nampak kedua bola mata wanita itu berkaca-kaca. "Anak saya hilang ... tepatnya diculik. Sudah hampir 5 tahun saya mencari keberadaannya. Rasanya saya hampir gila setiap hari mencari anak saya."


Rasa simpati seketika muncul dari hati Khaira. Tidak ada yang menginginkan apabila seorang anak yang kita sayangi dengan sepenuh hati justru menjadi korban penculikan dan telah berlangsung selama tiga tahun lamanya.


"Maaf, anak itu kira-kira usia berapa? Peristiwa penculikan itu terjadi di mana?" Khaira bertanya lagi dengan nampak hati-hati.


"Euhm, saya hanya berharap anak saya masih hidup. Di mana pun dia berada, saya berharap anak saya hidup dengan sehat dan bahagia. Di lain waktu, jika Tuhan berkehendak, semoga saya bisa bertemu kembali dengannya." ucap wanita itu dengan turut berdoa di dalam hatinya berharap Tuhan akan berbelas kasihan dan akan mempertemukannya kembali dengan putranya.


Nampak menganggukkan kepalanya. "Saya berharap, di mana anak itu berada, anak Ibu akan tetap sehat dan bahagia. Semoga di hari yang baik, Ibu dan keluarga bisa kembali bertemu dengan anak Ibu. Doa saya tulus untuk Ibu." sahut Khaira dengan tulus. Hatinya pun terasa bergetar saat dia mengucapkan perkataannya. Terlebih bagi Khaira, seorang anak akan selalu menjadikannya lebih sensitif.


"Terima kasih banyak Bu... Jika boleh tahu, nama Ibu siapa? Keliatannya Ibu masih sangat muda ya." tanya wanita yang memang menebak bahwa Khaira masih sangat muda.


Bagaimana tidak, Khaira menikah di usianya yang menginjak angka 20an tahun, belum selesai kuliah dan dia sudah menikah. Memang dia menjadi seorang Mama di usia yang muda.


"Saya Khaira ... iya, itu karena belum selesai kuliah saya sudah menikah dengan suami saya. Nama Ibu siapa?" tanya Khaira yang bertanya nama wanita asing yang berbagi cerita dengannya saat ini.


"Saya Kanaya, Bu ... ibu bisa memanggil saya Naya, saja." ucapnya.

__ADS_1


"Ah, Bu Kanaya ... jika boleh tahu anak itu laki-laki atau perempuan? Saya sungguh berharap hari yang baik itu akan tiba dan Ibu bisa kembali bertemu dengan anak Ibu." ucap Khaira dengan perlahan.


"Amin ... terima kasih. Itu juga doa saya setiap harinya. Namun, di satu sisi saya bersyukur Suami saya selalu mendukung saya, memotivasi saya untuk bangkit. Dia adalah support system saya." ucap wanita bernama Kanaya itu.


Khaira mengangguk perlahan, dia tahu pasti seberapa besarnya dukungan dan dorongan yang diberikan oleh seorang suami. Sebab, Khaira pun merasakan di fase-fase hidupnya, ada tangan kokoh suaminya yang selalu siap mengulurkan tangannya, menopang, bahkan memeluk erat dirinya. Suaminya adalah support system-nya.


"Benar sekali, beruntung karena suami selalu mendukung Ibu. Semoga tidak lama lagi, anak Ibu akan segera ditemukan. Siapa namanya Bu?"


"Namanya Aksa, Bu ... demikianlah saya memanggilnya. Amin ... doakan ya Bu, lain kali saya bisa segera bertemu dengan putra saya tersebut."


Khaira pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Pasti Bu ... pasti saya berdoa untuk Ibu."


Baru saja Kanaya hendak kembali berbicara kepada Khaira nampak Radit dan Arsyila yang sedang berjalan ke arahnya. "Mama ayo beli roti lapis Ma ... Beli cokelat juga di sana, sekalian kita beli oleh-oleh untuk Kak Aksara ya Ma...." ucap Arsyila yang menginterupsi pembicaraan Mamanya.


"Syila mau roti lapis? Boleh ... iya, kita beli cokelat dan belikan oleh-oleh untuk Kakak Aksara juga ya Sayang."


...🍃🍃🍃...


Ada yang penasaran dengan Kanaya di sosok ini?


Jawabannya bisa kalian temukan di Novel berjudul "Pembalasan Istri yang Tersakiti" yahh...



Yuk, My Bestie dukung dan trendingkan novel terbaruku dengan kekuatan kalian.


Jejaknya ditunggu ya.... 🥰


Pembaca sunyi, juga silakan mampir dan tinggalkan jejak.

__ADS_1


Love U All My Bestie


__ADS_2