Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Because Home is Where The Love is


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, usai melepas kontrasepsi implan yang sebelumnya dipakai Khaira di akhir pekan ini Khaira mengeluh kepalanya begitu sakit kepada Radit.


"Mas, kepalaku kok pusing banget ya." keluhnya seraya memijit pelipisnya.


Nampak panik, Radit segera duduk di samping Khaira. "Kok tiba-tiba sakit kepala kenapa? Gak usah turun ikut sarapan, aku bawakan sarapan kamu ke kamar ya. Tunggu sebentar ya...."


Setelahnya Radit turun menuju meja makan, di sana keduanya orang tuanya sudah terlebih dahulu duduk. Pemandangan langka, biasanya Radit turun dari kamar bersama Khaira. Akan tetapi, kali ini hanya sendirian. Hal yang mengundang rasa aneh bagi Bunda Ranti dan Ayah Ammar.


Nyaris bersamaan, keduanya segera bertanya kepada Radit. "Khaira mana, Dit? Biasanya kalian berdua sepaket, tak terpisahkan. Kok turun sendirian," tanya Bunda Ranti dan Ayah Ammar.


"Khaira sakit kepala Ayah, Bunda..." jawabnya dengan wajah yang cukup panik.


"Apa jangan-jangan kamu gangguin tidur Khaira tiap malam, jadi kurang istirahat Khaira nya." tanya sang Bunda dengan melirik tajam anaknya.


"Enggak kok Bunda, dua hari ini jam 10 malam kami udah tidur. Soalnya kan Khaira abis lepas kontrasepsi implannya, Bun..." Radit menjeda sejenak ucapannya dan memandang wajah ayah dan bundanya. "... kami mau serius program hamil, jadi dua hari lalu Khaira lepas kontrasepsinya."


Bunda Ranti mengangguk paham, pasti sakit kepalanya bukan lantaran begadang tengah malam hingga kurang tidur, tetapi gejala dari melepas kontrasepsi implannya.


"Tenang aja, Dit. Itu mungkin gejala dari lepas implannya. Dokter yang kamu datangi jelasin gejalanya enggak? Ayo diinget-inget dulu." ucap Bunda.


Radit mencoba mengingat lagi penjelasan dari Dokter Indri sebelumnya. Lalu, ia pun teringat bahwa sakit kepala Khaira mungkin berkaitan dengan perubahan hormon yang sedang terjadi.


"Oh, iya Bun... Radit ingat. Radit izin sarapan di kamar sambil nemenin Khaira boleh enggak Bun?" tanyanya kepada Bundanya.


"Boleh... Ambil nampan sana, Bunda siapin nasi gorengnya. Bisa bawa dua piring?" tanya Bundanya.

__ADS_1


"Satu piring isi jumbo aja Bunda, sepiring berdua aja." jawabnya yang menuju ke dapur.


Di sana ia segera mengisi cangkir dengan racikan teh seduh beraroma melati. Berharapan teh panas dengan racikan teh yang memberikan rasa pekat, warna yang kental, ditambah aroma melati ini bisa meredakan pusing Khaira saat ini.


Ayah Wibi tersenyum melihat anaknya. "Radit beneran berubah ya, Bun... Ayah seneng dia perhatian sama Istrinya."


"Kalau anak berubah ke arah yang baik didukung, Yah... Bunda ikut seneng."


"Ayah juga seneng kok."


Kelegaan terpancar nyata di wajah Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Mereka bersyukur tiada henti, anaknya rukun dan saling mencintai satu sama lain.


Dengan membawa nampan, Radit menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dengan nampan di tangannya yang berisi sepiring nasi goreng porsi jumbo, telor mata sapi, dan tentunya secangkir teh seduh panas.


Khaira pun duduk menyandarkan kepalanya di head board tempat tidurnya, perlahan ia mencium terlebih dahulu aroma melati yang teh panas tersebut, kemudian meminumnya perlahan.


"Makasih ya Mas, teh nya enak...," ucapnya sembari menaruh secangkir teh di atas nakas.


"Sekarang makan yuk, aku suapin. Sapa tau perut kenyang pusingnya terus hilang."


Khaira menggelengkan kepalanya, "Aku enggak laper Mas, boleh enggak kalau aku enggak sarapan?"


"No. Harus sarapan. Aku suapin, yuk. Aaakkk...." Radit menyuapin satu sendok nasi goreng ke dalam mulut Khaira. "Makan dulu, kalau masih pusing minum obat."


Khaira menatap wajah suaminya. "Makasih Mas, tiba-tiba air mata menggenangi matanya dan luruh begitu saja membasahi pipinya."

__ADS_1


Radit segera menyeka buliran air mata itu dengan ibu jari tangannya. "Malah nangis sih? Kenapa?" tanyanya dengan suara yang begitu lembut di indera pendengaran Khaira.


Khaira turut menyeka air matanya. "Aku terharu, kamu baik banget," dalam derai tangisnya ia tersenyum. Tangisan bercampur senyuman terlukis jelas di wajahnya.


Radit kembali menyuapkan nasi goreng untuk Khaira, sekaligus ia turut memakannya mengisi perutnya sendiri. "Udah semestinya aku baik sama kamu karena kamu istri aku. Jangan nangis lagi, aku temenin seharian mumpung libur."


Khaira mengangguk mendengar ucapan suaminya, dia yang tadi mendadak sedih bisa kembali tertawa, perutnya pun terisi penuh dengan nasi goreng telor mata sapi yang Radit suapkan dengan telaten. Seporsi nasi goreng jumbo dalam satu piring dihabiskan berdua hingga tandas.


"Sayang, mungkin ini dampak dari lepas kontrasepsi implannya, kan dulu Dokter bilang bisa menyebabkan sakit kepala dan perubahan hormon. Jadi mungkin saja beberapa hari ini atau ke depannya kamu bakalan berubah-ubah suasana hatinya, karena hormon di dalam tubuh kamu belum stabil," ucapnya sembari menaruh piring kosong ke atas nampan. "Aku taruh piringnya dulu di dapur ya kamu di kamar aja. Banyakin istirahat."


Kemudian Radit kembali turun ke dapur dengan membawa nampan yang berisi peralatan makan yang sudah kosong baik itu piring mau pun cangkirnya sudah kosong. Selesai dengan urusan di dapur, Radit kembali naik ke dalam kamarnya di sana Khaira masih duduk bersandar di head board tempat tidurnya.


"Gimana masih pusing?" tanyanya sembari duduk di samping Khaira dan tangannya membawa kepala Khaira untuk bersandar di bahunya.


Khaira menggelengkan kepala, lalu membenamkan kepalanya di dada suaminya. Merasai aroma woody dan peppermint yang begitu menenangkan baginya. Aroma yang selalu ia sukai selama ini.


"Cium parfum kamu, pusingku jadi hilang," ucapnya sembari kepala sedikit mendongak ke atas guna melihat wajah tampan suaminya.


Radit mengulas senyuman. "Kamu bisa aja? Masak cuma cium parfum aku yang nempel di baju langsung hilang pusingnya," sembari tangannya membelai lembut puncak kepala Khaira.


Khaira hanya tersenyum dan menghirupi aroma khas dari suaminya itu yang tidak hanya harum tetapi juga terkesan segar. "Mas, kapan kita mau cari-cari rumah? Kalau baru enggak enak badan, terus enggak nemuin Ayah dan Bunda rasanya gimana gitu, Mas... Sungkan sama Ayah dan Bunda."


"Gak usah sungkan, Ayah dan Bunda baik kok. Beliau kan pasti tahu kalau kamu baru pusing. Aku tadi juga udah ngomong ke Bunda kok. Kata Bunda, kamu istirahat dulu aja. Kamu sehat dulu, nanti kalau udah kita cari-cari rumah berdua ya. Kamu pengen rumah yang seperti apa? tanya Radit sembari matanya menuju ke bawah melihat Khaira yang masih mencerukkan wajahnya di dadanya.


"Hmm, aku enggak ada permintaan khusus sih, Mas. Sesuaikan dengan budget kita aja, rumah kecil dan sederhana gak papa kok. Rumah itu bukan mewah dan megahnya bangunannya Mas, tetapi bagaimana orang yang tinggal di dalam bangunan itu bisa hidup bahagia. Because home is where the love is (Karena rumah adalah ketika ada cinta di sana)"

__ADS_1


__ADS_2