Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Pasangan Seutuhnya


__ADS_3

"Sayang, kalau malam ini boleh?" tanya Radit dengan suaranya yang terdengar semakin berat.


Khaira sebagai orang yang penuh pertimbangan, ia hanya diam sejenak. Menimbang-nimbang apakah ia akan memberikan hak suaminya itu atau mengulur waktu lagi. Benar perasaannya sudah berubah, Radit pun sejauh ini bermetamorfosis menjadi pria yang baik, perhatian, dan menunjukkan rasa sayangnya.


Benarkah harus terjadi malam ini? Di kota yang sangat indah, salah satu kota romantis di dunia ini? City of Love, demikianlah julukan lain dari kota ini.


Merasakan dan melihat bahwa istrinya seakan tak bereaksi apa pun akhirnya, Radit mengendurkan dekapan tangannya di pinggang Khaira. Pria itu memilih berjalan menuju tempat tidur, lebih baik tidur dan ia akan menahannya lebih lama lagi. Radit sudah berjanji, ia akan memberi waktu bagi Khaira sebanyak yang gadis itu butuhkan.


"Ya sudah, aku tidur ya Sayang. Besok kita masih jalan-jalan lagi kan."


Khaira memutar badannya, dan satu tangannya menahan tangan Radit yang membuat pria itu menghentikan langkahnya, lalu kini memutar posisinya dengan kini ia melihat Khaira.


"Tidur saja ya Sayang, sudah malam. Gak papa...." Mulutnya berkata tidak apa-apa, tetapi sorot matanya tetap menunjukkan kecewaaan.


Masih dengan memegangi tangan Radit, Khaira pun mendekat, mengikis jarak keduanya.


"Mas..." ucapnya seraya menundukkan kepalanya. Matanya sama sekali tidak berani menatap Radit.


Melihat ekspresi wajah Khaira yang sulit ditebak, akhirnya Radit memicingkan matanya. "Kenapa, hmm?"


Khaira justru menggelengkan kepala, dengan wajahnya yang merah merona.


Tanpa banyak berkata, Radit mendaratkan bibirnya di bibir Khaira. Dan satu tangannya menahan tengkuk Khaira. Pria itu mencium bibir semanis madu milik Khaira, merasakan kehangatannya. Ciuman yang intens dan dalam. Radit baru melepasnya saat keduanya merasa terengah-engah dan membutuhkan asupan oksigen.


Kini jari-jemari Radit menyentuh sisi kanan wajah Khaira. "Apa malam ini boleh?" tanya sembari satu Ibu jarinya mengusap bibir bawah Khaira.


Khaira pun hanya mengangguk pias. Radit tersenyum ketika istrinya sudah memberikannya lampu hijau.


Dengan penuh perasaan Radit kembali mencium bibir Khaira. Merasakan bibir yang manis, hangat, dan lembut seperti cotton candy itu. Radit menjeda ciumannya, satu tangannya memegang sisi kanan wajah Khaira, dan menatapnya lembut. "Aku mencintaimu, Khaira. Sungguh...." sebuah pengakuan yang membuat hati Khaira berdesir seketika.


Dalam satu gerakan tangan, Radit membopong Khaira menuju tempat tidur. Radit kembali mencium bibir itu dengan sepenuh hati. Ciuman memabukkan yang membuat Khaira larut di dalamnya.

__ADS_1


Ciumannya pun turun hingga ke leher jenjang yang membuat Khaira bergerak gelisah merasakan pengalaman yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Gadis itu sedikit memekik saat ia merasakan sebuah remasan di area dadanya.


Perlahan tapi pasti, Radit melepaskan satu per satu pakaian yang menutupi diri mereka. Perlahan ia membuka matanya, mengamati ciptaan Tuhan yang begitu indah. Kini tangannya mulai bergerilya menyentuh setiap jengkal di kulit Khaira. Sentuhan yang lembut, tetapi begitu memabukkan. Sentuhan yang perlahan berubah menjadi ciuman yang membuat Khaira bergerak gelisah. Sentuhan bibir di sepanjang area epidermis yang lembut membuat Khaira melenguh hingga menggigit bibir dalamnya.


Radit menyadari bahwa ini adalah pengalaman pertama baginya dan juga Khaira, maka ia hanya bermain mengikuti nalurinya dan tentunya ia berusaha membuat Khaira nyaman. Nalurilah yang membuatnya bergerak perlahan, setelah merasakan bahwa istrinya telah cukup siap, Radit pun juga berusaha untuk melakukan kegiatan ke tahapan selanjutnya.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan Sayang." ucapnya dengan pandangan matanya yang telah berkabut, sementara Khaira hanya bisa memejamkan matanya tanpa mampu membalas perbuatan nakal suaminya itu.


Radit merapatkan diri, menyatukan keduanya. Dalam satu kali pencobaan gagal, dua kali pencobaan gagal, dalam pencobaan kelima barulah ia berhasil menembus tirai yang melingkupi cawan surgawi milik Khaira.


Rasa sakit dan perih sontak menjalar di seluruh tubuh Khaira. Hingga gadis itu meneteskan air mata. Radit menciumi wajah istrinya, dan kedua tangannya menggenggam erat tangan Khaira. "Tahan ya Sayang, sakitnya hanya sebentar. Pegang tangan aku ya, atau kamu bisa gigit punggung aku." Tangannya menyatu seolah memberi kekuatan pada Khaira.


Ketika merasakan bahwa tubuh istrinya terasa rileks barulah Radit mendorong pelan, mengguncang perlahan, dan ruangan yang sunyi itu kini terdengar suara-suara dari keduanya.


"Mas..." Dipanggilnya suaminya itu dengan nafas yang terdengar pendek-pendek.


"Ya, sakit?" tanyanya sembari satu tangan menyelipkan rambut Khaira. "Sebentar lagi ya Sayang." diiring gerakan seduktif yang semula pelan, akan tetapi seiring berjalannya waktu kecepatannya kian bertambah.


Mereka melebur menjadi satu, tanpa ada pembatas apa pun. Radit menuntaskan malam itu dengan apik, puas, dan mantap tentunya. Pengalaman pertama bagi keduanya.


Usai penyatuan dua jiwa itu selesai, Radit kembali mencium kening istrinya dengan penuh sayang.


"Terima kasih ya Sayang sudah menerimaku seutuhnya dan sepenuhnya. Aku janji akan terus memantaskan diriku. I love u so much Sayang."


Kemudian pria itu membawa istrinya dalam rengkuhan pelukannya. Tidak ada lagi yang mereka sesalkan. Hubungan kedua semakin hari semakin naik kelas, cinta itu telah tumbuh dan bersemi di dalam hati keduanya.


"Capek Mas... Perih..." ucap Khaira sembari menenggelamkan kepalanya di dada suaminya.


"Pengalaman pertama Sayang, nanti kalau lama-lama enggak sakit kok. Sekali aja sakitnya. Maaf ya... Sekarang tidur ya, biar capeknya hilang. Love U, Honey..."


***

__ADS_1


Pagi hari ketika surya menyapa dari balik tirai jendela yang berpemandangan Champ de Mars dengan ikon terkenalnya Menara Eiffel. Sapa hangat surya nyatakan tak begitu terasa karena musim dingin yang terjadi di Benua Biru kali itu.


Khaira mulai membuka matanya perlahan-lahan, ia begitu kaget dengan kondisinya yang tengah tidur di dada suaminya dengan hanya terlingkupi oleh selimut tebal berwarna putih.


Adegan demi adegan percintaannya semalam dengan suaminya membuatnya menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tak menyangka, akan benar-benar melakukan hubungan seperti ini dengan suaminya.


"Pagi Honey, sudah bangun?" Sapa Radit dengan memberi morning kiss di kening istrinya.


"Hmm, sudah Mas."


Khaira berusaha menahan selimut di tubuhnya, ia ingin ke kamar mandi karena badannya yang terasa butuh disegarkan dan hasrat buang air kecil yang tak tertahan lagi.


Baru saja Khaira menyentuhkan kakinya di atas lantai, mencoba berdiri, tetapi kaki nya bergetar. Rasanya badannya bergoyang, terhuyung, seolah kakinya tak mampu menahan badannya lagi.


"Aw..." Khaira memekik kesakitan.


Radit yang cukup tanggap, langsung menahan badan Khaira. "Mau kemana? Hmm."


"Mau ke kamar mandi Mas, lengket."


Tanpa aba-aba, Radit langsung membopong istrinya itu ke dalam kamar mandi. "Sekalian aja ya Sayang, biar cepet."


"Eh, maksudnya apa Mas?" tanya Khaira yang seolah-olah menjadi lama loading di otaknya.


Radit dengan santainya mengisi bath up dengan air hangat dan bath bomb beraroma vanilla dan lavender yang terasa memberikan relaksasi bagi keduanya. Menunggu hingga bath bomb itu berbusa.


Lalu Radit membawa Khaira masuk ke dalam bath up itu. "Berendam Sayang, biar rileks. Aku gosokin punggungnya ya."


"Eh, jangan Mas... Aku bisa sendiri." Ucap Khaira langsung mengelak.


Namun bukan Radit namanya jika tidak mampu menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Sekali pun peluang yang di miliki hanya 0,001% tetap akan dimanfaatkan sebaik mungkin olehnya.

__ADS_1


Alhasil mandi yang seharusnya berakhir 15 menit menjadi lebih dari 1 jam. Khaira keluar dari kamar mandi justru dengan wajahnya yang cemberut dan badannya yang terasa remuk redam, terlebih di area pinggang, paha, dan kakinya.


__ADS_2