
Hampir sepekan Khaira tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Rumah dua lantai ini serasa tak berpenghuni, hanya Khaira seorang diri yang tinggal di rumah itu. Terkadang Khaira merasa ketakutan, sedari kecil ia tidak pernah berada di rumah seorang diri. Selama ada Ayah dan Bundanya di rumah, tetapi semua berubah setelah ia menikah. Kesendirian telah menjadi keseharian bagi gadis berparas cantik dan senyuman yang manis itu. Seringkali Khaira sampai lupa untuk bersuara, karena ia hanya berada di dalam kamar ketika telah sampai di rumah. Keadaan yang benar-benar sepi, berteman dengan kesendirian dan kesunyian. Selama sepekan pula Radit tidak pulang ke rumah itu.
Hari Sabtu ini, lantaran Khaira tengah libur, Khaira memutuskan untuk refreshing sejenak. Hari-hari hanya tersita untuk mengerjakan skripsinya. Bahkan batas waktu untuk mengejar wisuda tinggal dua bulan lagi. Khaira harus benar-benar fokus untuk bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.
Namun kali ini, Khaira merasa dirinya membutuhkan refreshing. Terlebih berhari-hari di dalam rumah tidak mendengar suara siapa pun, dan tak bicara dengan siapa pun membuat Khaira hampir gila. Dia masih makhluk hidup yang berkomunikasi dengan sesamanya, tetapi tinggal sendirian membuatnya tak berkomunikasi dengan siapa pun.
Mengingat ini adalah hari Sabtu, Khaira mencoba mencari-cari jadwal nonton bareng pertandingan sepak bola. Khaira memang menyukai sepak bola sejak ia masih kecil, di rumah Ayah Ammar dulu bahkan ia sering begadang bersama Ayahnya di ruang keluarga untuk menyaksikan kesebelasan favoritnya bermain.
Sekian lama berselancar dengan gawainya, akhirnya Khaira menemukan tempat nonton bareng (Nobar) pertandingan sepak bola. Khaira hanya membutuhkan sedikit hiburan setelah sepekan yang sangat berat baginya.
Pertandingan sepak bola yang akan ia lihat berlangsung jam 7 malam. Khaira berpikir tidak masalah keluar malam untuk nobar, lagipula setelah pertandingan selesai, Khaira akan segera kembali pulang.
Sore itu Khaira telah bersiap dengan celana jeans dan jersey sepak bola berwarna merah dengan sebuah patch logo "Manchester United", ya Khaira adalah penggemar berat klub kebanggaan kota Manchester itu sejak ia masih kecil. Khaira dengan semangat mengendarai mobilnya dan bergegas ke cafe itu.
Suasana nobar di gelar di lantai dua, beberapa orang telah datang memakai Jersey berwarna merah seperti Khaira, dan ada pula yang memakai Jersey berwarna biru. Saat itu memang berlangsung pertandingan super big match antara Manchester United vs Chelsea, sehingga warna merah dan biru mendominasi pakaian para pengunjung petang itu.
Saat pertandingan baru dimulai sesaat dan Khaira tengah fokus melihat jalannya pertandingan, sebuah suara nampak menyapanya.
"Hai, Khai. Kamu Khaira kan?" Sapa suara itu yang kemudian duduk di dekat Khaira.
Khaira menoleh mencari sumber suara itu.
"Kak Dimas?" Khaira tak percaya ia kembali bertemu dengan Dimas setelah sekian lama. Dan, Dimas ini adalah rekan sekantor Radit.
"Iya, aku Dimas. Udah lama gak ketemu ya Khai? Terakhir kita ketemu di Mall waktu itu. Udah berapa bulan ya?" Dimas mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Khaira beberapa bulan yang lalu.
"Iya, udah lama. Kak Dimas sendirian?" Khaira bertanya kepada Dimas yang sedang memilih menu yang hendak ia pesan.
"Enggaklah. Aku sama temenku, dia baru ke toilet."
__ADS_1
"O..." Khaira hanya menjawab demikian dan kembali fokus menonton pertandingan sepak bola di hadapannya.
"Gue cariin kemana-mana, Bro. Lo di sini?" Teman yang dimaksud Dimas sudah datang dan ia pun menyuruh Dimas menggeser duduknya karena ia akan ikut duduk pula.
Setelah duduknya sudah pas, teman Dimas itu menyapu sekitarnya dengan matanya, dan ia tidak menyangka melihat Khaira sedang duduk di hadapannya.
"Khaira..." Sapanya dalam hati, mulutnya tak bisa berucap.
Sementara Khaira yang sedang diperhatikan tidak menyadari. Ia begitu fokus dengan pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung. Sesekali gadis itu menampakkan wajah semangat saat pemain Manchester United berusaha mencetak gol, sesekali wajahnya juga cemas saat pemain lawan menguasai bola dan menyerang kotak pertahanan lawan.
Entah mengapa, Khaira sedikit mengedarkan pandangannya. Matanya bersitatap dengan netra yang beberapa saat memperhatikannya dalam diam.
Deg!
Jantung Khaira berdetak kencang, saat melihat Radit tengah menatapnya dengan sorot matanya yang tajam dan sulit diartikan. Khaira memilih membuang mukanya, menghindari tatapan Radit.
"Khai, ternyata kamu suka sepak bola juga ya? Sampai make Jersey nya loh." Tanya Dimas kepada Khaira.
"Iya Kak. Sudah lama kok aku suka sepak bola. Semua liga sepak bola Eropa aku juga tahu, tapi yang paling seneng cuma Manchester United ini." Cerita Khaira dengan sorot matanya yang berbinar.
"Sama kayak Radit dong, dia juga suka sama Manchester United tuh. Jersey nya ampe banyak banget. Setiap musim pasti beli, ya kan Dit?"
"Hmm, iya." Jawaban Radit singkat.
"Kenapa bisa seneng sama Manchester United sih Khai?" Kembali Dimas yang penasaran akhirnya bertanya kepada Khaira.
"Karena Ayahku suka juga, sejak kecil sering diajak Ayah nonton Manchester United, jadinya ya udah... Jadi suka sampai sekarang."
"Punya Jersey nya juga?"
__ADS_1
"Iya, punya."
"Cewek jarang loh padahal yang suka sepak bola."
"Banyak juga sebenarnya kok cewek yang suka sepak bola, mungkin sengaja menyembunyikan." Khaira menjawab karena memang sebenarnya banyak cewek-cewek yang suka sepak bola.
Pembicaraan keduanya pun berakhir saat pertandingan babak kedua kembali dimulai. Khaira seperti biasa fokus melihat pertandingan sepak bola itu. Dan, lagi-lagi Radit mengulas sedikit senyuman di sudut bibirnya saat melihat berbagai ekspresi Khaira saat melihat sepak bola. Bahkan gadis itu nampak ikut berdiri dan mengepalkan tangan ke udara saat pemain Manchester United berhasil mencetak gol.
"Benar-benar gadis yang unik. Gak nyangka ketemu dia di sini. Bahkan dia juga menyukai sepak bola." Gumam Radit dalam hati sembari matanya yang sesekali mencuri pandang pada Khaira.
Pertandingan selama 90 menit pun, berlalu dengan kemenangan 2-1 bagi Manchester United. Dengan berakhirnya pertandingan, maka Khaira pun segera memasukkan handphone ke dalam sling bag nya, menunggu beberapa orang yang berdesakan turun ke bawah untuk pulang, Khaira pun juga akan segera pulang.
"Mau langsung pulang Khai? Enggak malam mingguan dulu?" Dimas nampak memperhatikan Khaira yang sedang bergegas pulang.
"Enggak Kak, aku duluan ya." Pamit Khaira yang mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Pasti udah ditungguin pacarnya ya? Suruh gabung sini aja. Malam mingguan dulu."
Mendengar perkataan Dimas, Khaira pun melirik kepada Radit yang saat itu juga sedang melihatnya.
"Hmm, gak ada pacar kok Kak. Tapi sebenarnya aku sudah punya suami."
Mendengar ucapan Khaira, Dimas pun tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"What? Gak mungkin lah kamu udah punya suami? Bukannya kamu masih kuliah juga?" Dimas menunjukkan raut wajah tidak percaya.
"Bener kok Kak. Aku gak bohong. Ya udah aku pulang duluan ya Kak Dimas." Khaira pun berlalu pergi, sesekali ia melirik Radit yang masih duduk di tempatnya.
Meskipun saat ini Khaira hidup sendiri, tetapi ia tetap sadar statusnya sebagai seorang istri. Walau pun suaminya tak mengakui keberadaannya, tetapi Khaira hanya ingin menjadi istri yang sadar akan status dan kedudukannya. Lagipula, tujuannya ke cafe hanya untuk nobar. Begitu acara nonton bareng pertandingan sepak bola usai, Khaira pun kembali ke rumah. Kembali berteman dengan sepi.
__ADS_1