Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Best Hubby


__ADS_3

Ketika sebuah permasalahan datang dan menyapa kehidupan berumah tangga, akan jauh lebih baik jika membicarakannya secara langsung. Tidak perlu menunda hari esok untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang datang di setiap kehidupan rumah tangga.


Itu juga yang selalu Khaira dan Radit lakukan. Apabila di masa lalu, Khaira memilih diam, memendam semuanya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Khaira lebih bisa terbuka dan menyuarakan isi hatinya kepada suaminya.


Sering kali, saat dia usai mengeluarkan uneg-unegnya, kepercayaan dan cintanya untuk sang suami justru bertumbuh berkali-kali lipat. Saling berbagi, saling bercerita, hingga saling menemukan solusi.


"Jadi, jangan nangis lagi. Udah kan tidak ada yang mengganjal lagi di hati kan?" tanya Radit kepada Khaira kini.


Dengan cepat istrinya itu menggelengkan kepala. "Enggak ... udah lega. Udah bisa cerita sama kamu itu, aku udah lega. Pake banget." ucapnya yang kemudian menyandarkan bahunya di dada bidang suaminya.


Ungkapan bahwa Istrinya sudah merasa lega dan tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya, Radit pun tersenyum. Pria itu kemudian meraih dagu Istrinya, tanpa menunggu aba-aba, dia menyapa bibir Istrinya yang berwarna pink dan begitu ranum itu. Menyapa dengan bibirnya, mempertemukan kedua belah bibir itu. Memberikan ciuman yang hangat dan begitu lembut. Ciuman yang membuat Khaira terus-menerus larut dalam permainan bibir yang manis, melebihi manisnya glukosa.


Hanya sekadar menyapa, Khaira kemudian membuka matanya yang semula terpejam. Wanita itu melepas bibirnya dari tautan bibir suaminya karena merasakan perutnya tiba-tiba berbunyi.


Mendengar bunyi dari dalam perut Istrinya, Radit pun yang juga turut melepas bibirnya, sontak tersenyum. "Kamu laper? Mau aku belikan makanan yang kamu mau?" tawarnya kepada Istrinya.


"Yang laper Mamanya atau baby nya sih?" tanya Radit sembari mengusap bibir bawah istrinya.


Khaira pun sesungguhnya malu, di saat suaminya tengah membuainya dengan ciuman yang lembut, justru perutnya berbunyi. Wanita itu benar-benar malu rasanya, hingga wajahnya memerah menahan tawa.


"Maaf ... tumben sih, malam-malam gini aku laper. Padahal kan sebelumnya sudah makan pisang karamel." ucapnya sembari mengelus perutnya.

__ADS_1


Radit pun kembali tersenyum dan menatap wajah Istrinya itu. "Hal yang wajar kok Sayang ... kan Ibu Hamil memang bawaannya laper, tanda kalau si baby di dalam perut kamu ini juga membutuhkan makanan. Membutuhkan nutrisi. Jadi mau makan apa?" tanyanya lagi kepada Istrinya.


Khaira nampak berpikir makanan apa yang dia inginkan saat ini, kemudian dia menggenggam satu tangan suaminya itu. "Mas, kalau aku mau nasi goreng gimana? Bukan nasi goreng yang beli loh, tapi nasi goreng spesial buatan Papa." ucapnya sembari beberapa kali mengedipkan matanya.


Tanpa menunggu waktu lama, Radit segera menganggukkan kepalanya. "Boleh ... sebentar ya aku buatin sekarang."


Khaira pun ikut berdiri, hingga membuat suaminya itu bertanya-tanya. "Tunggu di sini dulu aja Sayang." ucapnya.


"Aku ikut ke dapur ya Mas ... mau liat live show nya Papa secara langsung." ucapnya sembari tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


Tanpa ragu Radit justru mencubit hidung istrinya. "Manja banget sih ... bilang aja mau nempel aku terus, sama kayak hamil Arsyilla dulu. Hobinya nempelin aku, kan. Yuk, temenin ke dapur, tapi kamu duduk aja ya...."


Radit kemudian merangkul bahu istrinya itu, kemudian mereka bersama-sama berjalan menuju ke dapur. Dengan hati-hati Radit mempersilakan Khaira untuk duduk dengan kursi di Kitchen Island, sementara dia mulai menyiapkan berbagai bumbu untuk membuat Nasi Goreng yang diinginkan istrinya itu.


Dilanjutkan dengan memanaskan wajan dengan sedikit minyak goreng di sana, kemudian, dia nulis menulis bahan dasar bumbu Nasi Gorengnya hingga halus, kemudian memasukkan nasi putih. Mencampurnya hingga rata, memberikan garam dan penyedap rasa hingga sebuah Nasi Goreng sudah selesai dia buat.


Dalam teflon yang berbeda, pria itu segera membuat telor mata sapi, memastikan kuningnya matang sempurna karena Ibu Hamil tidak diperbolehkan mengonsumsi protein hewani dalam kondisi mentah atau setengah matang karena bisa membuat janin terkena virus bahkan tokso. Mengingat hal itulah, Radit membuat telor mata sapi yang mata sempurna.


Dalam sebuah piring, Radit kemudian lantas menaruh nasi goreng dan telor mata sapi di atasnya. Kemudian dia menyajikan kepada Istrinya. "Ini Bumilku cantik ... dimakan dulu, biar perutnya enggak dangdutan." ucapnya sembari tersenyum.


Khaira yang melihat bagaimana suaminya itu dengan cekatan, perlahan mulai mengangkat sendoknya dan mengisi dengan nasi goreng tersebut. Perlahan dia mengunyah nasi goreng itu di dalam mulutnya, merasakan perpaduan bumbu dan nasi, yang dimasak bersama itu.

__ADS_1


"Gimana Sayang, enak enggak?" tanya Radit kepada Istrinya.


Berniat menggodai suaminya, Khaira justru memasang wajah datar. "Kurang enak, Mas...." jawabnya singkat.


Ternyata jawaban yang dilontarkan Khaira membuat Radit sedikit kecewa. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membuat nasi goreng yang enak, tetapi justru nasi goreng buatannya kurang enak. Kemudian dia berniat mengangkat kembali piring yang masih berisi nasi goreng dengan telor mata sapi itu. "Kalau tidak enak, jangan dimakan Sayang ... biar aku buatkan yang baru."


Satu tangan Khaira justru menghenti gerakan suaminya yang tengah mengangkat nasi goreng itu. "Sini Mas ... Ini buat aku. Lagian aku cuma bercanda kok, ini enak kok rasanya." ucapnya sembari tertawa.


Radit melihat keisengan istrinya itu sembari tertawa. "Kamu ya ... iseng banget sih, nanti kalau aku kasih hukuman gak boleh protes loh." ucap pria itu sembari menaruh lagi nasi goreng itu ke hadapan istrinya.


"Ah, kamu Mas ... dikit-dikit hukuman. Kapan coba aku dikasih reward gitu, masak punishment (hukuman) melulu." ucap Khaira mencibir suaminya sembari melanjutkan menikmati nasi gorengnya.


"Kamu mau reward apa? Bilang sama aku ... Jalan-jalan, makan-makan, berlian, atau apa?" ucapnya menawarkan berbagai hal yang mungkin diinginkan oleh istrinya itu.


Khaira kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak ... aku enggak butuh semua itu."


Kemudian Radit segera memotong ucapan Khaira. "Karena aku tahu, yang kamu butuhkan hanyalah aku dan cintaku kan? Kalau hanya itu sudah pasti semua itu milikmu."


Mendengar ucapan suaminya yang penuh percaya diri, justru Khaira nyaris tersedak. Dengan cekatan, Radit mengambilkan air putih buat istrinya itu dan dia membantunya untuk minum. "Pelan-pelan ... diminum dulu." ucapnya dengan begitu lembut.


Mendengar perlakuan dan ucapan suaminya yang begitu lembut, Khaira lantas tersenyum menatap wajah suaminya itu. "Kalau kamu bersikap baik padaku terus kayak gini, aku bakalan jadi es krim mas...."

__ADS_1


Sementara Radit seolah menatap istrinya dengan tanda tanya. "Es krim maksudnya?"


"Kamu baik banget, sikap dan perhatianmu ini membuatku meleleh."🥰


__ADS_2