Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Perjanjian Pernikahan Radit - Felly


__ADS_3

Tiga Bulan yang lalu


Tiga hari sebelum dilangsungkan pernikahan Radit dan Khaira, tanpa sepengetahuan siapa pun Radit menemui Felly pada saat jam makan siangnya. Ia merasa perlu membahas sesuatu yang penting dengan Felly secepatnya.


Radit dan Felly memang berpacaran kurang lebih hampir 2 tahun. Radit bahkan telah mengenalkan Felly kepada Bunda Ranti dan Ayah Wibi, namun sayangnya kedua orang tuanya tidak merestui hubungan Radit dan Felly. Karena bagi Ayah Wibi dan Bunda Ranti mereka telah memiliki sebuah janji. Janji untuk menjodohkan Radit dengan anak sahabatnya. Akan tetapi, sekali pun orang tuanya menolak Felly, ternyata Radit masih menjalin hubungan dengan wanita itu tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka. Backstreet, itulah hubungan yang dijalin oleh Radit dan Felly.


"Sayang, dengarkan aku. Hari Sabtu nanti perkawinanku dengan anak sahabatnya Ayah akan dilangsungkan. Kamu tahu kan kalau Ayah dan Bunda sudah membuat perjanjian perjodohan ini sejak kami kecil, jadi aku tidak bisa menolaknya. Beberapa kali aku menjelaskan pun, hasilnya tetap sama, kami berdua tetap akan dinikahkan. Dan, hari itu sudah tiba. Sabtu nanti aku akan menikahinya. Ayah memang tidak memaksaku untuk bekerja di perusahaannya, tetapi untuk masalah ini Ayah memaksaku, dan aku tidak bisa menolaknya." ucap Radit sembari memberi penjelasan kepada Felly.


Sementara Felly hanya memasang wajah cemberut. Felly memang tahu dan Radit telah memberitahu bahwa ia telah dijodohkan dengan anak dari sahabatnya orang tuanya, tetapi Felly sama sekali tidak menduga bahwa Radit akan menikah secepat ini.


Dengan tangannya nampak memutar-mutar pipet di gelas minumannya. "Aku sudah tahu ini, Ay. Cepat atau lambat pasti hari itu akan datang juga." Wajah Felly yang semula cemberut kini nampak sedih.


"Tapi kamu tahu kan, kalau aku cintanya cuma sama kamu. Pernikahanku dengan gadis itu hanya di atas kertas saja, karena aku bahkan tidak mengenal dia. Mana mungkin bisa menjalani pernikahan dengan orang yang tidak kita kenal."


"Aku tahu, Ay. Tetapi bagaimana kalau suatu saat kamu ninggalin aku dan jatuh cinta pada istrimu itu?"

__ADS_1


"Enggak. Itu gak ada terjadi." ucap Radit dengan tegas sembari ia menggenggam erat tangan Felly. Ia berusaha menyalurkan keyakinan kepada wanita yang ia cintai itu.


"Bagaimana aku bisa percaya, Ay? Padahal nanti kamu akan tinggal dengan gadis itu. Aku tidak akan bisa mengawasi terus kan, lagipula hati manusia siapa yang tahu. Bisa saja hari ini kamu tidak mencintainya, tetapi di kemudian hari perasaan kalian bisa berkembang menjadi cinta. Bisa saja kan?"


"Kalau kamu tidak percaya, ayo kita buktikan. Usai pernikahanku dengannya, aku juga akan menikahimu, kita bisa menikah secara siri."


Mendengar ucapan Radit, Felly nampak tersenyum. Wajah yang semula sedih, kini nampak berbinar. Dalam otaknya, Felly langsung menyusun sebuah strategi yang tentunya akan menguntungkannya.


"Gimana kamu mau enggak menikah secara siri denganku? Semua ini aku lakukan karena aku tidak ingin mengecewakanmu."


"Oke. Aku mau. Tetapi, tentu aku memiliki syarat, Ay. Bagaimana?" Felly berinisiatif mengutarakan syarat yang sudah ia susun dalam kepalanya.


"Katakan saja apa syarat yang kamu inginkan, selama aku bisa memenuhinya, aku pasti akan melakukannya." ucap Radit dengan penuh keyakinan.


"Kamu tahu Ay, pernikahan siri memang tidak sekuat pernikahan resmi yang tercatat sah secara agama dan negara. Pernikahan siri hanya pernikahan di bawah tangan, dan aku tentu tidak mau kamu mengambil keuntungan dariku hanya karena kita sudah menikah di bawah tangan. Jadi aku akan mengajukan persyaratan. Pertama, aku ikut tinggal bersama denganmu dan istrimu itu karena aku ingin terus mengawasimu, bukannya aku tidak percaya padamu, tetapi harus memastikan aku akan membuktikan perkataanmu itu. Kedua, aku mau kamu juga memberi aku nafkah setelah menikah. Walau pun aku bekerja, tetapi suami tetap harus menafkahi istrinya dengan penghasilannya bukan? Ketiga, kita tidak akan melakukan hubungan suami istri sampai saat kamu bisa meninggalkan gadis itu dan menikahiku sah secara hukum. Bagaimana Ay, apa kamu keberatan?"

__ADS_1


Radit pun menimbamg-nimbang tiga syarat yang diajukan Felly. Untuk memberi nafkah ia tidak masalah, walau pun gajinya sebagai Auditor Perbankan tidak terlalu besar, tetapi ia bisa membaginya untuk kedua istrinya. Lagipula Radit masih akan mendapatkan bonus laba di akhir tahun dan uang lembur. Jadi, Radit bisa menerima syarat yang diberikan Felly. Tanpa berpikir panjang pun, Radit menyetujui syarat yang diucapkan Felly.


"Baik. Aku setuju." Radit menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia menyetujui persyaratan Felly. "Jadi, setelah aku menikahinya aku akan menemuimu, kita akan melangsungkan pernikahan kita. Makasih ya karena mau memahami keadaanku saat ini, dan maaf karena kamu juga harus terlibat dalam hubungan ini. Aku mencintaimu, tetapi maaf aku hanya bisa memberimu status sebagai seorang istri siri. Aku sudah berkali-kali berbicara kepada Ayah dan Bundaku, tetapi keputusan mereka final dan aku tidak bisa mengelak." Wajah pria tampan itu nampak menunjukkan kesedihan.


"Tidak apa-apa, Ay. Membantumu sudah menjadi tugasku bukan? Lagipula aku melakukan semuanya karena aku menyayangimu. Kamu sendiri yang bilang kan kalau kita harus berjuang bersama-sama. Tidak adil jika kamu berjuang sendiri, lagipula perasaan di hati kita masih sama bukan? Kita masih saling menyayangi. Benar begitu kan, Ay?" Felly tersenyum manis menatap Radit yang duduk di hadapannya.


Berdasarkan janji sudah ia buat dengan Felly itulah, di malam pertama pernikahannya dengan Khaira, Radit mendatangi Felly dan memintanya untuk menikah dengannya secara siri. Radit adalah pria yang memegang janjinya, terlebih bagi orang yang ia sayangi dan perjuangkan, menetapi janji adalah satu kewajiban mutlak bagi Radit.


***


Dan sekarang, Khaira masih berdiam diri memikirkan kenapa dua kamar yang berada di ruangan atas ini sama-sama ditempati. Jika Radit dan Felly telah menikah walau pun secara siri kenapa keduanya tidak mengambil satu kamar dan tinggal bersama? Apa Khaira yang begitu acuh, sehingga tidak tahu keduanya ketika masuk dan keluar kamar? Kenapa Khaira barunya tahu setelah suaminya itu pergi?


Khaira segera turun menuju dapur untuk mengambil air putih. Ia perlu air putih untuk menenangkan hatinya yang berkecamuk.


"Jadi apa yang tidak aku ketahui, Mas? Kenapa kalian berdua memperlakukanku seperti orang bodoh. Tetapi, kini tetap lebih baik kamu bisa hidup bersama wanita yang kamu cintai. Ini keputusan yang tepat. Dan diabaikan olehmu bukan perkara baru bagiku, karena kamu telah mengabaikanmu sejak hari pertama kita menikah." Khaira berkata lirih sembari ia kembali meneguk segelas air putih.

__ADS_1


__ADS_2