
Puas mengelilingi area Kota Tua dengan sepeda kayuh hingga hari menjelang petang. Kebersamaan sehari bisa mengikis jarak keduanya. Ibarat kata keduanya sedang tahap pendekatan (PDKT).
"Kita pulang sekarang ya sudah malam." ucap Radit ketika keduanya tengah berjalan bersama menuju tempat sepeda motornya diparkir.
Khaira menganggukkan kepalanya, tanpa menjawab perkataan Radit.
Begitu telah sampai di parkiran motor, Radit mengeluarkan motornya, lalu ia siap menaiki motor itu. Sembari ia menunggu Khaira yang masih mengenakan helm dan bersiap duduk membonceng di belakangnya.
Setelah Khaira duduk dengan posisi yang nyaman, perlahan Radit melajukan sepeda motornya. Sementara Khaira nampak mengamati situasi Ibukota dengan lampunya yang berkerlap-kerlip, menaiki sepeda motor memang memberi sensasi yang berbeda dibandingkan mengendarai mobil. Angin menerpa badan mereka secara langsung, dan suasana ibukota di saat malam tetaplah indah.
"Seru kan naek motor?" tanya Radit sembari melihat Khaira dari kaca spionnya.
"Iya. Seru. Tapi jangan kenceng-kenceng Mas, serem. Jangan ngebut berbahaya." ucap Khaira begitu Radit melajukan sepeda motornya lebih kencang.
Khaira bahkan sesekali memejamkan matanya begitu Radit membawa motornya lebih cepat. Dan, tentu Radit pun tahu kalau Khaira memejamkan matanya saat ia sedikit mengebut.
Ketika motor mereka berhenti lantaran lampu lalu lintas berwarna merah, Radit melakukan tindakan yang membuat Khaira terkejut seketika.
"Kamu ngeboncengnya kurang aman, jadi aku kalau agak ngebut kamu takut." ucapnya meyakinkan.
"Hmm, bagaimana maksudnya?" tanyanya.
Tiba-tiba Radit sedikit menoleh ke belakang, tangannya meraih kedua tangan Khaira kemudian menaruh kedua tangan Khaira di pinggangnya.
"Pegangan seperti ini, jadi kamu tidak akan takut." ucapnya sambil tersenyum yang bisa Khaira lihat dari kaca spion sepeda motor itu.
Kedua tangan Khaira kini melingkar di pinggangnya, jarak keduanya semakin dekat. Khaira mencoba meregangkan tangannya yang berada di pinggang Radit, tetapi pria itu dengan cepat menahan tangan Khaira dengan tangan kirinya, "Jangan dilepas, pegangan saja. Kamu lebih aman seperti ini. Kalau aku ngebut, kamu gak takut lagi. Kita jalan lagi ya, lampunya sudah hijau."
__ADS_1
Khaira rasanya membeku seketika, ia tak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan Radit. Dalam mimpi pun ia tak pernah membayangkannya. Khaira merasa canggung dan tidak nyaman, tetapi setiap kali Khaira berusaha meregangkan tangannya, tangan kiri Radit selalu menahannya, bahkan Radit kini membuat kedua tangan Khaira melingkar indah di pinggangnya.
"Mas, ini tidak benar. Jangan seperti ini." ucap Khaira sembari melirik Radit dari kaca spionnya.
Radit hanya melempar senyuman, "Cuma pegangan saja sampai rumah, enggak lebih kok. Lagian kita kan suami istri, jadi apa salahnya. Hmm?"
Khaira memutar bola matanya malas. Khaira hanya tidak ingin terlalu dekat dengan Radit, terlebih mendengar saat Radit menerima telepon dari Felly yang membuat hatinya terasa dicubit. Bagaimana pun, ia hanya seorang istri yang tak diinginkan, jadi bagi Khaira tidak perlu juga harus sedekat ini dengan Radit.
"Kamu enggak berniat modus kan Mas?" Khaira memberanikan diri mengutarakan perasaannya.
"Hahahaha..." sontak Radit tertawa. "Mana ada sih suami yang modusin istrinya sendiri? Enggak ada lah... Tujuannya supaya kamu enggak takut, pegangan gini kan lebih aman." ucapnya enteng.
"Ya tapi gak usah gini juga, Mas. Kita gak sedekat ini juga jika harus kontak fisik sejauh ini." ucap Khaira sembari meregangkan tangannya yang semula melingkar di pinggang Radit. Sekaligus Khaira ingin mengingatkan Radit perihal hubungan keduanya yang memang tidak sedekat itu.
"Please, jangan lepaskan. Setidaknya biarkan begini sampai kita sampai rumah. Lagipula, aku suamimu, tidak ada salahnya kalau kamu pegangan ke pinggangku. Aku bukan orang lain bagimu." Radit masih berusaha menahan tangan Khaira di pinggangnya.
Untuk menghindari perdebatan lagipula mereka masih di jalan, Khaira pun membiarkan tangannya berpegangan di jaket Radit.
Radit yang tahu tangan Khaira masih berada di pinggangnya, entah mengapa ia merasa bahagia. Mengapa tiba-tiba Radit merasa hatinya merasa tenang bersama Khaira. Hal-hal yang mereka lakukan bersama sepanjang hari juga membuat Radit bahagia. Padahal yang mereka lakukan adalah hal sederhana, sebatas mengendarai motor, jalan-jalan, mengunjungi museum, dan bersepeda. Aktivitas sederhana, tetapi Radit tahu bahwa hatinya bahagia. Hidupnya seperti handphone yang nyaris kehabisan daya, dan bersama Khaira sepanjang hari membuat handphone itu kini telah terisi penuh dayanya. Walau pun keduanya masih sama-sama membuat garis batas, tetapi tidak dipungkiri bahwa Radit bahagia sekarang ini. Radit tersenyum mengingat kembali hari pertama keduanya jalan-jalan bersama. Tanpa mereka sadari, keduanya sudah sampai di rumah Khaira.
Khaira langsung melepaskan tangannya dari pinggang Radit, ia turun dari sepeda motor, dan melepas helmnya.
"Makasih ya Mas." ucapnya sembari masih berdiri di depan Radit.
"Iya, aku yang makasih, karena sudah nemenin seharian ini. Lain kali kita motoran bareng lagi ya." Radit berkata dengan mata yang tertuju pada Khaira. "Aku juga pamit ya, aku enggak masuk ke dalam. Hati-hati di rumah ya."
"Hm-hm." sahut Khaira. "Hati-hati, Mas." tambahnya mengingatkan suaminya untuk hati-hati.
__ADS_1
"Aku balik ya." Lalu Radit melajukan sepeda motornya, dan Khaira masih berada di pintu gerbangnya melihat hingga Radit menghilang.
Sementara Radit masih melihat Khaira yang berdiri di depan pintu depan dari kaca spion sepeda motornya.
Kenapa aku merasa bersalah meninggalkan seperti ini? Tetapi aku tidak punya pilihan lain. Bahkan dia masih bersikap cukup acuh dan canggung, apa aku telah melukainya sedalam itu?
*****
Di rumah Radit, Felly yang semula berkata bahwa ia pulang esok, nyatanya ia pulang lebih cepat.
Wanita itu sendirian di rumahnya sembari menunggu Radit. Tadi dia juga menghubungi Radit, supaya sekalian membeli makanan ketika pulang ke rumah.
"Kok belum nyampe rumah sih? Udah jam 8 malam juga. Mana aku sudah laper lagi." ucap Felly sembari mengganti-ganti saluran televisi dengan remote di tangannya.
Tidak berselang lama, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
"Itu pasti Radit." gumam Felly.
"Yang, sudah datang?" sapa Radit begitu masuk ke dalam rumah.
"Iya, Ay. Sejak sore tadi. Kamu bawa makanan apa? Aku sudah laper nungguin kamu nya lama." ucap Felly manja.
"Ini bawa nasi goreng. Kita makan nasi goreng gak apa-apa kan?" tanya Radit sembari menyerahkan nasi goreng kepada Felly.
"Iya, gak apa-apa. Ambilkan piring dan sendok sekalian dong, aku mau makan di sini sambil nonton televisi."
"Hmm, iya." ucap Radit yang langsung menuju ke dapur.
__ADS_1
"Kalau Khaira biasanya dia yang akan menyajikan makanannya di piring dan menyajikannya. Eh, kok aku tiba-tiba kepikiran Khaira sih." Radit memijat sedikit pelipisnya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.