
Khaira memeluk suaminya dengan begitu erat. Sekalipun hanya berada di taman belakang rumah, beratapkan langit pekat dan semilir angin malam yang menerpa badannya tidak menyurutkan dirinya untuk merasakan kembali romantisme bersama pria yang selama ini selalu mengisi relung hatinya yang terdalam.
"Suka dengan kejutannya Sayang?" tanya Radit sembari masih memeluk istrinya itu.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Suka ... suka banget. Makasih Mas Radit." ucapnya sembari tersenyum.
Radit pun mengurai sejenak pelukannya. "Makan yuk Sayang, aku udah pesan makanan tadi. Ala-ala candle light dinner." ucap pria itu sembari terkekeh geli.
Khaira hanya tersenyum. "Eh, kalau kita kelamaan di luar kalau Arsyila nangis dan kita enggak tahu gimana Mas?"
Radit pun setuju apa yang disampaikan istrinya benar. Pria itu seketika terpikirkan ide cemerlang di kepalanya. "Aku bawa makan malamnya ke kamar aja Sayang... Kita bisa candle light di balkon kamar kita." ucapnya dengan penuh semangat.
Khaira pun menganggukkan kepala. "Setuju ... itu ide lebih bagus. Kita kayak orang pacaran baru kencan enggak sih?" ucapnya sembari terkekeh geli.
Radit pun tertawa. "Memanfaatkan waktu di sela-sela mengasuh anak, Sayang. Biar kita berdua tetap harmonis. Biar makin cinta." godanya sembari menaruh piring berisi makanan ke dalam nampan.
"Aku bantuin bawa lilinnya ya Mas...." ucap Khaira yang ingin membantu suaminya itu.
"Iya ... kamu bawa itu aja Sayang. Yuk, kita masuk ke dalam. Jaga-jaga kalau Arsyila bangun."
Setelahnya Radit menata piring yang berisi makanan itu ke meja yang berada di balkon kamarnya. Bahkan dia juga menyalakan lilin itu, membuat suasana di balkon terlihat temaram berhiaskan cahaya lilin. Sementara Khaira sudah duduk dengan mata yang menatap pada lilin yang memancarkan cahaya terlihat begitu indah. Sangat sederhana, tetapi cahaya yang berasal dari lilin memberi kesan romantis. Seumur hidup baru kali ini Khaira makan malam ditemani sebuah lilin yang menyala.
Tak lama berselang, Radit pun duduk. "Suka Sayang?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Khaira pun tersenyum bahagia sembari menganggukkan kepalanya. "Ala ala candle light dinner segala sih Mas?"
Radit hanya mengedikkan bahunya. "Selama bersamamu, menjadi suamimu agaknya aku belum pernah bersikap romantis Sayang ... jadi, aku mau mencobanya, walaupun hanya di rumah." ucapnya jujur. Memang selama menikah dengan Khaira, tanpa pacaran sebelumnya, kisah awal pernikahan yang banyak menguras air mata, lalu keduanya baru dekat satu sama lain setelah sama-sama berada di Manchester.
Sehingga memberikan kejutan romantis seperti saat ini menjadi pengalaman berharga bagi Radit. "Sambil dimakan Sayang, keburu dingin." ucapnya yang menyuruh Khaira untuk makan.
"Sudah hampir jam sembilan malam, Mas ... nanti ndut dong aku makan jam segini." ucapnya sembari tertawa.
"Makan aja ... mau ndut atau apapun gak ngaruh buat aku." ucap Radit sembari mengiris Tenderloin Beef Steak dengan menggunakan pisaunya.
Setelah mengamati suaminya yang tengah mengiris Tenderloin Beef, Khaira pun melakukan hal yang sama. Wanita itu tersenyum, dia sungguh tak mengira akan makan malam romantis bersama suaminya di balkon kamarnya, dan saat ini dia hanya mengenakan piyama rumahan.
"Keliatannya aku salah kostum deh Mas ... harusnya tadi bilang dulu kalau mau bikin kejutan, aku bisa ganti baju dan dandan cantik deh. Makan malam romantis cuma pake piyama rumahan aja." ucapnya sembari memperhatikan suaminya.
Radit justru tersenyum. "Kamu gitu aja udah cantik Sayang, lagian kita hanya di rumah kok." ucapnya sembari menyuapkan sepotong daging untuk istrinya.
Khaira pun membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari suaminya dengan sukarela. "Kenapa kalau kamu suapin rasanya lebih enak yah." ucap Khaira di sela-sela dia mengunyah makanannya.
Radit kembali tertawa. "Karena aku menyuapi kamu dengan cinta Sayang... Jadi rasanya lebih enak deh."
"Gombal banget sih ... berarti kamu udah bener-bener sembuh ya Mas, karena kamu udah bisa gombal kayak gini. Kadang gombalan kamu itu bikin kangen loh Mas...." ucapnya sembari terkekeh geli.
Radit pun ikut tertawa. "Jadi kangen juga digombalin ya? Gitu enggak bilang ... walaupun kakiku sakit, mulutku kan masih bisa gombalin kamu, Sayang."
__ADS_1
Keduanya lantas menikmati makan malam istimewa dan ditemani cahaya lilin yang membuat suasana malam itu kian istimewa. Tawa canda menjadi pengiring keduanya untuk menikmati kencan sejenak di balkon kamar mereka.
Usai makanan mereka tandas, Radit berdiri. Pria itu lantas berjalan ke arah istrinya. Namun, dia berdiri tepat di belakang istrinya yang sedang duduk. Radit mengeluarkan sesuatu dari saku celana, lalu mengenakannya ke leher istrinya.
Sebuah kalung dan liontin berbentuk padlock, sebuah gembok dengan berukiran L-O-V-E dan bertahtakan berlian di sana yang merupakan simbol untuk menjaga cinta dan sebuah komitmen serta pengabdian kepada orang yang kita cintai.
Khaira mengerjap ketika merasakan sebuah kalung dan pendant itu melingkar di lehernya. Dia lantas mendongakkan kepalanya, menatap pada suaminya yang masih berada di belakangnya.
"Ini kejutan terakhir Sayang...." ucap Radit dengan santai.
Sementara jari telunjuk dan ibu jari Khaira memegangi liontin berbentuk Padlock itu. "Kamu kapan siapkan semua ini Mas? Ini berlebihan, Mas...." ucapnya dengan mencoba menatap wajah suaminya.
Radit segera menggelengkan kepalanya. "Untuk kamu tidak ada yang berlebihan Sayang ... lagipula, bertahun-tahun pernikahan kita aku tidak pernah memberimu apapun. Padahal kamu bisa saja meminta apa saja kepadaku. Jangan menolaknya, terima ya ... ini liontin berbentuk padlock Sayang ... Gembok berukiran kata "Love" ini jadi simbol bahwa pemilik hati ini adalah kamu, dan pemegang gemboknya adalah kamu." ucapnya menjelaskan arti dari liontin yang dia pilih tersebut.
Khaira pun tersenyum. "Makasih Mas ... aku terima hadiah ini. Malam ini istimewa banget bagiku. Dari mulai bunga Mawar Putih, Candle Light Dinner, dan sekarang Kalung ini. Makasih ya Papa...." ucapnya berterima kasih kepada suaminya.
"Sama-sama Sayang...." balasnya.
Malam kian larut, sementara keduanya masih berada di balkon. Mengurai cerita dan kenangan mereka. Mencuri waktu di tengah segala aktivitas harian yang dihabiskan untuk menemani tumbuh kembang putri mereka.
"Semakin dingin anginnya Mas ... masuk ke dalam yuk." ajak Khaira kepada suaminya itu untuk masuk ke dalam kamar yang hanya tinggal melangkahkan kaki saja.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Yuk ... udah, sekarang kalau mau bobok boleh. Mau bobok atau mau cerita lagi?" tawarnya kepada sang istri.
__ADS_1
Bukan memilih dari kedua pilihan yang ditawarkan suaminya. Khaira justru mencerukkan kepalanya ke dada suaminya. "Aku mau dipeluk Mas...."
Radit pun mengacak gemas puncak kepala istrinya. "Manja banget sih Mamanya Arsyila... Sini dipeluk Papa...." ucapnya seraya memberi pelukan yang hangat dan begitu erat untuk istrinya tercinta.