
“… because a home isn’t just a place to live. Home is something that can give you warmness and happiness."
Berbicara rumah sebenarnya tidak hanya berbicara perihal bangunan, tipe rumah, desain, hingga perabotan yang memenuhinya. Rumah adalah sebuah tempat yang memberikan kita kehangatan dan kebahagiaan.
Rumah adalah tempat ternyaman, tempat yang membuat para penghuninya menjadi dirinya sendiri, tertawa bersama, berbagi cerita kehidupan, menangis bersama, menertawakan kebodohan, dan sebuah tempat di mana keluarga yang terjalin dengan cinta selalu menyambut kita untuk pulang.
"Jadi kamu pengen rumah yang seperti apa?" tanya Radit kepada Khaira.
"Aku enggak ada request khusus kok, Mas. Rumah yang kecil dan sederhana juga tidak masalah. Disesuaikan dengan budget kita berdua aja. Lagipula sekarang harga rumah tentu mahal-mahal, secukupnya aja. Jangan dipaksakan, Mas... yang penting di dalam rumah itu kita bisa berteduh dan membangun impian kita berdua." jawab Khaira masih dengan menyandarkan kepalanya di dada Radit.
Mendengar jawaban Khaira memang membuat Radit bahagia, istrinya tidak pernah meminta lebih, permintaan khusus pun tidak ada, bahkan pandangan-pandangan yang Khaira berikan justru membuka lebar pemahaman Radit.
Radit pantas bersyukur, di saat banyak wanita memiliki banyak request ini dan itu, tetapi istrinya justru berpandangan sederhana dan bijaksana.
Layaknya pepatah mengatakan "istri yang bijak melebihi permata." Seperti itulah sosok Khaira di mata Radit. Istrinya seperti permata yang tetap berkilau sekalipun habitatnya berubah. Permata yang selalu memancarkan kilaunya dengan caranya sendiri.
__ADS_1
"Tabungan ada kok Sayang, kan deposito ada, uang dari penghasilan saham ada juga, aku juga punya tabungan pribadi. Jadi bisa beli rumah dan perabotannya sekalian. Aku tidak keberatan kalau kamu mau request sesuatu, selama jadi Istriku kamu gak pernah request apa pun loh Sayang. Cobalah sekali-kali minta ke aku, justru aku akan sangat senang." ucap Radit tulus. Mengingat lamanya pernikahan mereka, Khaira termasuk istri yang tidak banyak mau. Kebiasaan hidupnya sederhana, membelanjakan uangnya dengan hati-hati juga. Sehingga Radit pun sesekali tidak masalah jika istrinya mengajukan permintaan kepadanya.
Radit mendaratkan kecupan-kecupan tanda sayangnya di kening Khaira sembari tangannya membelai lembut kepalanya. "Aku gak masalah jika kamu ada permintaan khusus termasuk untuk rumah impian kita. Misal desainnya kayak gimana, konsepnya apa, berapa kamar, perabotannya mau apa, dan sebagainya. Bilang aja, aku gak keberatan kok. Selama aku bisa mewujudkannya, aku pasti akan wujudkan." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Khaira mengubah posisi duduknya yang semula, kini ia duduk dengan sedikit menghadap suaminya. "Bagiku sebuah rumah, mau apa pun bentuknya, apa pun bahan yang digunakan, apa pun konsepnya, asal di dalamnya ada cinta. Kamu pernah mendengar perumpamaan empat lilin, Mas?" tanya Khaira sembari menatap wajah Radit.
Radit segera menggelengkan kepalanya, "Belum, belum pernah. Apa itu?" wajahnya nampak penasaran dengan perumpamaan empat lilin yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Khaira mulai mengangkat empat jari tangannya mulai dari jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingkingnya.
Khaira menjeda ucapannya sejenak, "Jadi aku tidak ada permintaan khusus, Mas. Aku hanya berharap keempat lilin dengan masing-masing filosofinya ini ada dalam rumah kita nanti. Rumah kita nanti hendaknya dimulai dengan perasaan damai sejahtera dari dalam hati kita berdua, dilandasi dengan iman, dan dijalani dengan cinta. Ketika damai, iman, dan cinta mulai goyah, ingatlah kita masih memiliki harapan untuk menghidupkan kembali damai, iman, dan cinta itu. Pengharapan tak akan musnah, pengharapan tak akan sia-sia, karena pengharapan itu laksana sauh. Dan siapa yang bisa menjaga keempat lilin ini bisa menyala dan tidak akan padam?"
Radit mendengarkan penjelasan Khaira dengan serius dan begitu takjub dengan istrinya yang bisa menggetarkan hatinya dengan perkataannya, ia mulai menggenggam erat kedua tangan Khaira. "Yang bisa menjaga keempat lilin itu bisa menyala, kita berdua," jawabnya seraya menatap lekat kedua mata Khaira.
Khaira menganggukkan kepala dan tersenyum. "Bener banget, yang bisa menjaga keempat lilin itu menyala adalah kita berdua. Kamu dan aku, Kita! Dan, kita berdua jugalah yang akan memancarkan cahaya itu untuk penghuni rumah selanjutnya."
__ADS_1
Radit menghela nafasnya. "Aku beruntung banget punya kamu sebagai Istriku. Pengetahuanmu luas, kamu bijaksana, enggak banyak mau," ucapnya sembari masih memegang erat tangan Khaira. "... aku yakin, kamu akan jadi Ibu yang baik, Ibu yang hebat buat anak-anak kita nanti."
Khaira hanya tersenyum mendengar pujian dari suaminya. "Aku masih belajar dan perlu banyak belajar, Mas. Masih banyak juga kekuranganku, Mas. Bukan hanya aku, tetapi kita. Kita akan belajar menjadi orang tua yang baik dan hebat untuk anak-anak kita nanti kan Mas?"
"Iya, kita akan belajar bersama-sama. Semoga aku bisa juga menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti. Aku juga mengusahakan keempat lilin itu tetap menyala dalam rumah tangga kita. Kita jangan sampai memadamkannya ya, tambahkan satu lilin lagi Sayang." ucap Radit.
Khaira menyipitkan matanya, "Apa Mas?"
"Kepercayaan! Jadi kita punya lima lilin sebagai dasar rumah tangga kita. Lima filosofi lilin. Karena harus ada rasa saling percaya," ucap Radit yang diangguki Khaira.
"Bener. Setuju... Harus ada kepercayaan juga di dalamnya. Jika suatu saat ada hujan bahkan badai, tetap saling percaya bahwa kita mampu melalui semua itu. Benar kan?" imbuh Khaira.
"Tidak hanya itu, jika ada kabar yang tidak benar di luaran sana tentang kita, jangan langsung berspekulasi, perlu kepercayaan di antara satu sama lain. Jadi ku mohon, percayalah sama aku. Sama seperti aku selalu mempercayaimu. Ya?"
Khaira kembali mencerukkan wajahnya di dada suaminya dengan kedua tangannya melingkari pinggang Radit. "Iya, aku percaya padamu, Mas."
__ADS_1
"Makasih ya Sayang... Membayangkan rumah tangga kita berdua, aku percaya kita bisa melewati semua. Tawa, duka, bahkan air mata sangat mungkin mewarnai kehidupan rumah tangga kita. Akan tetapi, jika kita selalu bersama seperti ini, kita akan bisa menjalaninya. Sayang, kamu tahu enggak? Aku cinta banget sama kamu... Everyday I Love U...."