
Interval kontraksi yang datang lebih sering membuat Khaira benar-benar merintih kesakitan. Baru satu jam yang lalu, dia tiba di Rumah Sakit dan dilakukan pemeriksaan cek dalam rupanya sudah pembukaan lima.
Perjalanan untuk melahirkan Baby A baru separuh jalan. Masih harus menunggu lima pembukaan lagi hingga waktu bersalin tiba.
"Sayang, minum air putih dulu ya. Kamu pasti haus. Sakit banget ya pasti." ucap Radit sembari menyodorkan botol air mineral dan menaruh pipet di dalamnya.
Khaira pun meminum sedikit air putih itu. Sedikit melegakan tenggorokannya.
"Sini, aku kuncirkan rambut kamu ya Sayang." ucap Radit yang langsung merapikan rambut istrinya yang terurai panjang dan mengucirnya dengan sebuah kunciran rambut. Tak lupa ia menyisir rambut panjang istrinya terlebih dahulu.
Baru selesai Radit merapikan rambut istrinya, lengannya sudah dicengkeram lagi oleh Khaira. Merasakan cengkeraman tangan, Radit langsung mengusap punggung istrinya.
"Baby A baru buat jalan ya?" ucapnya sembari mengusapi punggung hingga pinggang istrinya.
Khaira mengatupkannya giginya dan tangannya menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Mas, jika terjadi apa-apa padaku...." ucapnya sembari menangis hingga berderai air mata.
Radit segera membungkam bibir istrinya dengan bibirnya sendiri. Memberikan ciuman yang dalam dan tentunya penuh perasaan. Menyalurkan rasa cinta, kasih sayang, dan perhatiannya melalui ciuman yang dalam itu.
"Sssttss... Jangan berkata yang bukan-bukan. Kamu pasti bisa Sayang. Ada aku di sini. Kamu minta supaya aku menemani kamu kan, sekarang ada aku di sini Sayang." ucapnya sembari menyeka air mata di pipi Khaira.
Mata Radit mengamati lekat-lekat wajah istrinya yang nampak kesakitan.
"Kenapa liatin wajah aku, Mas?" tanya Khaira yang nampak heran karena suaminya memandangnya dengan lekat.
__ADS_1
Radit menyentuh sisi wajah istrinya. "Kamu cantik banget Sayang...."
Sontak Khaira merotasi bola matanya. "Aku kesakitan kayak gini, masih saja kamu gombalin sih Mas." ucapnya sembari tertawa dan memukul dada suaminya.
"Serius, kamu cantik banget kok." ucapnya sembari mengedipkan satu matanya.
Khaira mengerucutkan bibirnya. "Mitosnya itu ya Mas, wanita itu wajahnya terlihat jelek saat melahirkan. Mata sembab dan kesakitan semua tergambar jelas di wajah para wanita yang akan melahirkan. Jika sudah jelek, waktunya bayinya lahir." sahut Khaira.
Radit segera menggelengkan kepalanya. "Enggak juga, buktinya sekarang kamu malahan cantik banget."
"Gombal banget sih ... gombalan calon Papa rasanya memang beda ya. Mungkin kamu satu dari sekian juta pria yang menggombali istrinya di atas ranjang kesakitan seperti ini." sahut Khaira.
Radit pun tersenyum, dalam hatinya ia hanya ingin mengalihkan perhatian sang istri yang tengah kesakitan. Rasa sakit bisa dialihkan, dan itu yang kini tengah diupayakan Radit. Dia sendiri tidak tega sebenarnya ketika gelombang cinta itu datang dan Khaira harus kesakitan hingga menangis. Maka dari itu, dia beroleh mengalihkan perhatian Khaira. Sedikit melupakan rasa sakit ketika kontraksi itu datang.
"Aku enggak gombal Sayang, aku serius. Kamu cantik banget deh. Berlipat-lipat kecantikanmu saat ini." ucapnya.
Setelahnya Radit duduk menggenggam tangan istrinya. "Dibawa bahagia ya Sayang, jangan mikir yang aneh-aneh. Kita berdoa kamu selamat, Baby A juga selamat. Digombalin Calon Papa rasa sakitnya gak begitu terasa kan?" tanya Radit kepada Khaira.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Makasih ya Mas, sudah memenuhi janji kamu untuk menemani aku. Salah satu harapanku terwujud, karena aku memang ingin menyambut Baby A, buah cinta kita berdua dengan kamu, Mas...."
Radit pun tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. "Iya, kita sambut Baby A bersama-sama ya Sayang...."
Beberapa jam kemudian, Khaira merasakan rasa sakit yang lebih hebat dengan interval yang lebih sering. Bahkan kini Khaira telah tersedu-sedan.
"Mas ... ini tambah sakit. Sakit banget." ucapnya sembari terisak.
__ADS_1
"Aku panggilan perawatnya ya Sayang, biar dicek dulu. Tunggu ya...."
Ketika Radit hendak beranjak dan memanggil Perawat justru Khaira seolah enggan melepas tangan suaminya.
"Sebentar ya satu menit...."
Radit pun enggan melepas tangan Khaira, tetapi ia harus memanggil Perawat di saat istrinya mengeluh semakin sakit.
Hanya dua menit Radit pergi, dan ia pun kembali. Saat Perawat datang mengecek rupanya air ketuban Khaira telah pecah.
"Ini air ketubannya sudah pecah Bu, dan sudah pembukaan enam. Dipakai miring ke kiri ya Bu. Kalau rasa sakit intervalnya semakin sering dan terasa mengejan, tolong pencet tombol di atas itu saja dan kami akan bersiap." ucap Perawat itu.
Radit sebenarnya sangat ketakutan. Pengalaman pertamanya menemani istrinya yang melahirkan. Dia hanya bisa menenangkan istrinya sembari mengusap punggung hingga pinggang Khaira yang terasa sakit dan panas setiap kontraksi itu datang.
"Sabar ya Sayang. Air ketubannya sudah pecah. Tidak lama lagi, Baby A lahir kok. Yuk, Baby A kalau mau lahir segera ya ... kasihan Mama yang kesakitan." ucap Radit hingga meneteskan air mata.
Dia pun merasa pedih melihat istri yang sangat ia cintai merasakan kesakitan, sementara dia hanya bisa menemani dan mengusap punggung saja. "Jika aku bisa gantikan, aku pasti rela menggantikanmu Sayang. Merasakan semua rasa sakit itu."
Khaira hanya memejamkan matanya. Sembari menahan tangisannya yang bisa pecah kapan saja. Akan tetapi, Khaira tetap terisak lantaran seluruh badannya merasa kesakitan dan **** ************* yang begitu sakit.
Kini Khaira menggenggam tangan suaminya. "Maafkan aku jika selama ini aku punya salah ya Mas." ucapnya dengan kata yang terbata-bata lantaran ia tengah menangis terisak.
Radit segera menggelengkan kepala. "Kamu tidak salah Sayang. Yang kuat ya ... sabar ... Aku temenin melewati semua prosesnya. Walaupun aku tidak bisa berbuat banyak setidaknya aku ada di samping kamu. Menemani, mendoakan, dan mendukungmu."
Air mata Khaira semakin berlinang, beberapa kali bahkan ia merasa begitu sakit dan rasanya tidak kuat.
__ADS_1
"Ini sakit banget Mas, rasanya aku tidak kuat. Gimana ini Mas...." keluh Khaira kepada suaminya.
"Bisa, bisa ... kamu pasti bisa Sayang. Yuk, semangat enggak lama lagi Baby A lahir kok Sayang. Kamu hebat Sayang, kamu kuat. Pasti bisa. Baby A makin pinter buat jalan lahirnya ya. Yuk, Mama dibantu ya Sayang ... udah pengen dipeluk dan digendong Mama dan Papa kan? Yuk, Baby A berjuang juga ya, kasihan Mama yang sudah kesakitan. Pembukaannya semoga semakin lengkap dan kita akan menyambut kelahiranmu, Sayang...." ucap Radit yang kali ini turut menahan air mata di sudut matanya hingga matanya memerah dan perih rasanya.