
Dua hari sudah berlalu sejak Khaira memutuskan untuk memasang implan sebagai alat kontrasepsi yang dipilihnya. Dalam dua hari ini Radit benar-benar menjadi posesif, Khaira tidak diperbolehkan untuk membersihkan apartemen dan membuat sarapan pagi. Semua pekerjaan rumah tangga dilakukan olehnya tanpa mengeluh.
"Sayang, jadi gimana mau tidak liburan?" tanya Radit begitu dirinya memastikan Khaira baik-baik saja dan lengannya pun tidak bengkak.
"Boleh Mas. Mau kemana?" tanya Khaira.
"Kamunya mau kemana Sayang, aku ngikut aja. Kan aku di sini ngikutin kamu." ucapnya jujur bahwa Radit di Manchester memang mengikuti Khaira.
"Paris yuk Mas, mau?" Khaira menawarkan untuk pergi ke Paris.
"Boleh, sama satu kota lagi. Kan liburan lama gak papa, kita bawa barang secukupnya saja, nanti pakai laundry hotel. Sekoper berdua cukuplah. Gimana?"
Khaira menimbang-nimbang ide yang diberikan suaminya itu. "Karena aku sudah memilih satu kota, jadi kota berikutnya Mas yang pilih ya." ucapnya sembari berselancar di handphone yang ia pegang.
Radit jadi berpikir untuk membawa istrinya itu ke kota yang berkesan romantis di Benua Biru itu. Seketika terlintas di pikiran Radit adalah kota Vienna.
"Sama Vienna mau enggak Sayang?" Lagi Radit menawarkan kepada Khaira.
"Hmm, boleh deh." sahut Khaira cepat.
"Atur ya Sayang, perlu aku isikan saldo di Mobile Bankingmu enggak? Buat transportasi dan akomodasi."
"Masih ada kok Mas, nanti kalau kurang aku minta ya?" ucapnya terdengar sungkan. Selama pernikahan memang Khaira nyaris tidak pernah meminta kepada suaminya itu.
Radit mengutak-atik handphonenya, lalu notifikasi pesan masuk ke handphone Khaira. Mata Khaira membelalak melihat notifikasi pesan yang rupanya sejumlah uang dari Radit. "Mas, ini apa? Kan aku masih ada."
Khaira menunjukkan layar handphonenya kepada Radit yang memperlihatkan bukti transaksi masuk sekian ratus ribu Euro.
"Pakai aja Sayang, nanti kalau kurang bilang ya." ucapnya enteng.
Khaira justru kebingungan, pasalnya dia kan tidak meminta. Dia masih memiliki sejumlah tabungan di mobile bankingnya. "Mas kan enggak kerja, ini terlalu banyak." ucapnya sembari menatap Radit.
"Sini..." Radit memanggil Khaira, dan gadis itu pun mendekat.
"Lihat ini Sayang, ini penghasilanku dari saham sekian tahun lamanya. Lebih dari cukup jika buat liburan sepekan di Eropa. Jadi jangan terlalu dipikirkan ya." ucapnya yang menunjukkan penghasilan pria itu hanya dari saham yang ia miliki dengan memakai autobot.
__ADS_1
"Bukan gitu Mas, aku kan juga ada. Aku kuliah dapat biaya hidup juga kok ratusan ribu Dollar. Bisa kita pakai sama-sama." ucap Khaira yang jujur juga dengan tabungan yang ia miliki.
"Iya, kita pakai sama-sama. Yuk, sekarang kita packing. Cari tiket juga ya. Kapan berangkat? Udah gak sabar pengen liburan sama kamu." ucapnya sembari mengerlingkan matanya kepada Khaira.
Selesai packing dengan membawa pakaian hanya dalam 1 koper, Khaira mencari tiket Eurostar Train melalui aplikasi ticketing di handphonenya. Eurostar Train adalah kereta api cepat yang menghubungkan London dan Paris, dengan menggunakan Eurostar Train perjalanan London ke Paris hanya memakan waktu 2 Jam 20 menit.
***
Keesokan harinya dengan menaiki Eurostar Train, sepasang suami istri itu nampak menikmati perjalanan pertama mereka menuju Paris, kota yang begitu tersohor sebagai salah satu kota romantis di Benua Biru - Eropa.
"Bagus ya pemandangannya." ucap Khaira sembari mengamati pemandangan Eropa yang begitu indah. Beberapa kali Khaira juga mengambil potret pemandangan dengan kamera handphonenya.
Radit juga setuju bahwa pengalaman baru keduanya itu indah dan sekaligus menarik. Terasa jauh menyenangkan karena sekarang ia melewati momen bahagia ini bersama istrinya.
"Sini Sayang, sandaran di sini. Dinikmati perjalanannya. Kapan lagi kita punya pengalaman seperti ini kan?"
Akhirnya Khaira menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sembari ia menghirup dalam-dalam aroma Woody yang menguar dari badan suaminya yang begitu menenangkan.
Sepanjang 2 jam 20 menit perjalanan, mereka nampak berbicara, bercanda, terkadang juga mengambil foto bersama. Tidak terasa keduanya telah sampai di Paris.
Keduanya melanjutkan perjalanan dengan mengendarai Taksi untuk menaruh koper mereka di hotel terlebih dahulu. Setelah itu keduanya berniat melanjutkan jalan-jalan mereka. Mereka memilih hotel yang berada di area Champ de Mars, tempat berdirinya Menara Eiffel yang begitu tersohor itu.
"Bagus ya Mas." ucap Khaira sembari mengamati betapa megahnya menara setinggi 334 meter itu.
"Kamu berdiri di situ Sayang, aku fotoin. Buat kenang-kenangan." ucapnya sembari mengarahkan Khaira untuk berdiri dan ia dengan segera mengambil beberapa jepretan dengan kameranya yang ia bawa dan juga handphonenya.
"Gantian Mas, mana aku fotoin."
Radit pun juga setuju berpose di bawah konstruksi besi yang begitu tersohor di seluruh dunia itu.
"Sayang, wefie yuk..." Ajak Radit sembari mengarahkan kameranya.
Keduanya beberapa kali mengambil foto dengan menggunakan kamera depan handphone mereka.
Saat Khaira masih berkutat dengan melihat hasil foto mereka berdua di layar handphonenya, Radit mendekati Khaira perlahan. Tangan kanannya itu membelai sisi wajah Khaira. Kemudian mengikis jarak wajah keduanya. Bibirnya seketika menempel sempurna di bibir Khaira.
__ADS_1
Cup.
"Je t'aime, Khaira." (Aku Cinta kamu dalam bahasa Prancis.)
Khaira tersipu malu dengan tindakan impulsif suaminya itu, sekaligus ia malu dicium tiba-tiba di tempat terbuka seperti ini. Wajah gadis itu merona seketika.
"Mas, malu. Kan ini di tempat terbuka." ucapnya sembari menundukkan kepala.
"Lihat tuh Sayang, banyak yang melakukan di sana. Kamu enggak cinta sama aku Sayang? Kok ungkapan cintaku enggak pernah dibalas?" tanyanya sembari melebarnya matanya.
Khaira hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Hm-hm...."
Merasa tidak puas dengan jawaban Khaira, Radit hanya menghela nafasnya. Agaknya memang ia masih membutuhkan waktu hanya untuk sekadar mendengar balasan ucapan cinta dari istrinya.
"Ya udah, cari makan terus ke hotel yuk udah mau malam Sayang." ucap Radit sembari menarik tangan Khaira dan menggenggamnya.
Akhirnya Khaira mengikuti Radit, dan memilih membeli makanan sebelum kembali ke dalam hotel.
Begitu sampai di hotel, keduanya memilih giliran mandi membersihkan dirinya setelah perjalanan panjang dan cukup melelahkan dari London hingga akhirnya mereka sampai di Paris.
Khaira kini berdiri di balik kaca kamar hotelnya yang ternyata menghadap langsung pada Menara Eiffel. Radit yang selesai mandi, langsung mendekap istrinya itu dari belakang.
"Lihat pemandangan atau melamun? Hmm." tangannya sembari mencerukkan kepalanya di sisi leher Khaira.
"Lihat pemandangan. Bagus ya Mas. Seneng banget aku akhirnya bisa sampai di Paris, gak nyangka bisa ke sini dan itu malahan sama suami sendiri. Rasanya kayak mimpi."
Radit menuntun satu tangan Khaira untuk menyentuh wajahnya. "Ini nyata kok Sayang. Bukan mimpi. Bersyukur kita bisa memiliki momen tak terduga ini ya."
Tiba-tiba saja, suara Radit terdengar semakin berat di telinga Khaira. "Sayang, kalau malam ini boleh?"
***
Hayo, abis ini lanjut tidak?
Jika like tembus 400, Bab selanjutnya baru aku up ya..
__ADS_1
Karena itu like, komentar, dan vote.
Silent Reader juga bagi jempolnya ya... 😉