Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Selamat Tinggal Jakarta


__ADS_3

Usai dari Kota Tua, Khaira pun melajukan mobilnya menuju kediaman mertua dan orang tuanya. Khaira ingin berpamitan sebelum esok berangkat ke Inggris.


Baik orang tua dan mertua Khaira tentu mendukung langkah yang diambil Khaira, sekali pun mereka juga pada akhirnya melepas kepergian Khaira dengan berderai air mata. Di satu sisi pun, Khaira bersyukur karena baik orang tua dan mertuanya memberikan izinnya kepada Khaira.


Malam hari sebelum esok, Khaira akan berangkat ke Inggris ia menyempatkan untuk menulis sebuah surat. Sepucuk surat yang tidak akan ia kirimkan untuk Radit, ia akan membiarkan surat itu berada di kamarnya sapa tahu suatu hari Radit akan mendatangi rumah ini. Sekali pun saat Radit membaca surat ini, kemungkinan besar dia sudah tiba di negara asing.


Khaira mengambil sebuah selembar kertas dan pena. Jari-jemarinya mengutai kata menjadi alinea, mengucap pamit walau pun tak bisa bersua.


To: Mas Radit


Bagaimana kabarmu Mas?


Jauh di dalam hatiku, aku selalu mengharap kau selalu sehat dan bahagia. Saat kamu menemukan dan membaca surat ini mungkin aku sudah tidak lagi berada di sini.


Aku ingat kata pertama yang kau ucapkan usai pernikahan kita bahwa kau meminangku tanpa cinta. Jujur kata itu menggores teramat dalam di hatiku. Ada satu hari di mana aku ingin bertahan. Ada pula satu hari di mana aku ingin mengakhiri semua ini. Namun, hari terberat adalah ketika harus berjuang dan bertahan hidup sendiri.


Pernah aku memintamu untuk menalakku dan membebaskanku dari hubungan tanpa cinta yang rumit ini, tetapi kau tidak akan menalakku dan membiarkan hubungan ini kian suram setiap harinya. Di lain waktu, aku hanya ingin kau lebih bijaksana. Berjuanglah untuk apa yang inginkan, bertanggung jawablah untuk setiap apa yang kau lakukan. Terima kasih, karena darimu pun aku belajar apa itu belajar, berjuang, dan bertahan.


Aku belajar untuk memahami kondisi kita berdua. Belajar mengenalmu. Belajar menerima keputusanmu.


Aku berjuang untuk hidup dalam pinangan tanpa cinta yang rumit dan tanpa masa depan.


Aku bertahan hidup dalam kesepian dan kesendirian yang perlahan-lahan menjadi keseharian.


Selamat tinggal Mas Radit. Bahagialah dengan pilihanmu.

__ADS_1


Khaira.


Dengan berurai air mata Khaira menulis surat yang ia biarkan terbuka di atas meja belajarnya. Tidak lupa ia meninggalkan satu pigura foto pernikahan mereka di atas meja belajar itu.


"Kamu harus kuat Khaira, dunia belum berakhir. Dunia masih berputar. Sudah cukup kamu bertahan!" Khaira berkata pada dirinya sendiri. Keputusannya untuk meninggalkan Ibukota sudah bulat.


Keesokan harinya, Khaira bersiap untuk pergi ke Bandara. Secara khusus ia memang meminta kepada orang tua dan mertuanya untuk tidak usah mengantarnya ke Bandara. Ia berkilah pasti akan menangis berpisah jauh dari keluarganya. Oleh karena itu, seluruh pihak keluarga sepakat untuk tidak mengantar Khaira ke Bandara. Akan tetapi, orang tua dan mertuanya akan menjemput Khaira saat ia sudah selesai menyelesaikan kuliahnya nanti.


Khaira benar-benar pergi dengan kesendirian, membawa luka dan kesedihan dalam hatinya.


Ketika tiba di Bandara, Khaira pun segera cek in dan memasukkan kopernya ke dalam bagasi pesawat. Ia duduk di ruang tunggu keberangkatan sembari menunggu waktu untuk masuk ke dalam pesawat.


Jarak tempuh Jakarta menuju Kota Manchester membutuhkan waktu 8 jam penerbangan menuju Abu Dhabi (Abu Dhabi International Airport) lalu transit selama 3 jam, barulah dilanjutkan dengan pesawat menuju Manchester Airport dengan jarak tempuh 7 jam perjalanan.


Ketika sudah memasuki pesawat dan memasuki waktu take off (pesawat lepas landas) Khaira melihat pemandangan Ibu Kota dari udara.


"Selamat tinggal Jakarta... Selamat tinggal cinta pertamaku. Takdir tak menghampirimu begitu saja. Setidaknya, jika kau ingin menggunakan istilah takdir. Yang sering terjadi momen paling dramatis terjadi karena kebetulan. Maka, istilah lain dari takdir adalah waktu. Cinta pertamaku selalu tertahan dengan yang namanya waktu. Sewaktu aku kecil, aku sudah mencintainya tetapi mungkin itu adalah cinta monyet. Saat dewasa kami dipersatukan dalam pernikahan, tapi nyatanya dia tidak mengingatku. Bahkan lebih menyakitkan saat dia mengatakan bahwa dia meminangku tanpa cinta dan berlaku tidak setia. Selamat tinggal cinta pertamaku. Selamat tinggal Mas Radit." Khaira membatin semuanya dalam hati, hingga tidak terasa buliran air mata membasahi pipinya.


***


Sementara itu, Radit yang memiliki kesibukan luar biasa menjelang akhir tahun. Sebagai orang yang terlibat penuh dalam Sistem Kerja Audit Intern (SKAI), banyak sekali tugas yang dikerjakan Radit mulai dari bertanggung jawab kepada Direktur Utama, memberi laporan berkala kepada Direktur Utama dan Dewan Direksi, membuat analisis dan penilaian di bidang keuangan, akuntansi, operasional, dan kegiatan lainnya yang harus diaudit.


Karena kesibukan yang luar biasa beberapa kali Radit hingga harus menginap di kantor. Selain itu, kondisinya sempat drop lantaran beban kerja yang sangat tinggi membuatnya harus masuk sekian hari untuk mendapat perawatan di rumah sakit karena kelelahan dan dehidrasi yang dialami.


Kesibukan yang luar biasa memang membuat Radit fokus dengan pekerjaannya. Saat ini sedang berkutat dengan laptop dan deretan tabel di layar laptopnya tiba-tiba Dimas mendatanginya dan menceritakan sesuatu kepada Radit.

__ADS_1


"Bro, lo inget enggak sama Khaira?"


Mendengar Dimas mengucapkan nama Khaira, sontak mengalihkan perhatian Radit seketika.


"Iya, ada apa dengan Khaira?"


Dimas men-scroll layar handphonenya dan menunjukkan status Instagram Khaira dengan foto sebuah tiket pesawat dan pasport. "Khaira pergi ya? Kok dia gak bilang-bilang sih emangnya dia sudah wisuda?"


Radit seketika panik, tangannya langsung meraih handphone Dimas, dan matanya membelalak melihat status media sosial Khaira.


"Lo kenapa Bro, kok lo keliatan panik sih?" tanya Dimas yang melihat kepanikan di wajah Radit.


"Kamu pergi Khai? Kamu pergi tanpa kesan dan pesan. Bahkan berpamitan denganku pun tidak. Wisuda pun kamu tidak memberitahuku, Khai. Kenapa sekarang kau pergi sejauh ini Khai?" batin Radit dalam hatinya.


Dimas kembali mengambil handphonenya dari genggaman tangan Radit. "Kenapa lo Bro? Kalau sakit izin pulang aja, jangan sampai rawat inap lagi kayak beberapa hari yang lalu."


"Enggak... Gue sehat kok. Gue agak kaget aja, setahuku bulan lalu dia baru lulus sidang Skripsi kok sekarang tiba-tiba update status sudah pergi."


"Ya udah, kok tiba-tiba wajah lo berkeringat. Gue takut aja lo tumbang lagi. Abis rawat inap masak harus rawat inap lagi."


Saat Dimas telah kembali ke meja kerjanya. Radit mulai memikirkan Khaira. "Hati-hati Khai, maaf jika selama ini hanya memberimu luka...."


Akan selalu ada penyesalan, setelah kehilangan sesuatu yang selama ini kita sia-siakan.


Adanya penyesalan adalah untuk menyadarkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat diulang.

__ADS_1


__ADS_2