Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Hak Kepemilikan


__ADS_3

Hampir 15 menit Khaira dan Radit menunggu di Stasiun Kereta Api King's Cross. Beberapa kali Khaira melihat jam di pergelangan tangannya, sembari ia menoleh ke kanan dan kiri. Menunggu seorang yang belum sempat ia kenal dan temui sebelumnya.


Hingga akhirnya terlihat seorang gadis cantik dengan rambut cokelat mendorong koper dan berjalan ke arah Khaira. Gadis itu mengenakan kacamata berwarna cokelat. Perlahan gadis itu melepas kacamatanya lalu menyapa Khaira.


"Apa kamu Khaira? Aku Fani."


Keduanya saling berjabat tangan, tak lupa Fani berjabat tangan dengan Radit.


Sebagai orang yang baru kenal dan bertemu, Khaira pun mencoba bertanya hal-hal standar kepada Fani misalnya ia berasal dari mana, ke London untuk apa, dan sebagainya. Sementara Radit enggan terlibat dalam obrolan, pria itu asyik menggendong tas ransel di punggungnya dan mendorong koper dengan tangannya, serta kakinya mengikuti kemana pun langkah kaki Khaira.


Berbekal beberapa info tentang apartemen yang semalam Khaira cari dan tentunya bertanya pada temannya, Mark. Akhirnya tidak butuh waktu lama bagi Khaira untuk mendapatkan apartemen bagi Fani. Bahkan gadis itu juga setuju dengan apartemen yang tunjukkan Khaira.


"Bagaimana apa kamu suka dengan apartemen yang ini?" tanya Khaira kepada Fani.


Fani nampak menganggukkan kepalanya, "Ya aku suka apartemen ini. Kamarnya pas buat aku dan fasilitas di sekitar sini juga lengkap." jawabnya dengan senyuman.


"Sebagai terima kasihku, ayo aku akan traktir kalian makan siang di sekitar ini."


Khaira pun menyetujuinya. Ia lalu keluar dari apartemen Fani dan mengikuti Fani menuju sebuah tempat makan yang berada tidak jauh dari apartemennya.


Fani mentraktir mereka pizza. Dan ketiganya nampak menikmati makanan khas Italia yang mendunia itu.


"Sorry, hanya ada tempat berjualan Pizza yang terdekat dengan apartemen ini." ucap Fani kepada Khaira dan Radit.


"No problem. Ini sudah cukup. Terima kasih." sahut Khaira cepat.


Fani kembali tersenyum, lalu gadis itu melirik pada Radit yang sejak tadi irit bicara. "Kak Radit, ayo dimakan pizza nya." Fani mencoba memotong pizza di depannya dengan alat pemotong pizza lalu berniat memberikannya kepada Radit.


Khaira melihat mengapa Fani repot-repot memotongkan Pizza untuk Radit. Tetapi, tentu Khaira ingin mengamati pemandangan di depannya terlebih dulu. Sekaligus ia akan melihat sejauh apa Radit memang benar-benar telah berubah.


Sebelum satu potong pizza itu mendarat di piring kecil di depan Radit. Satu tangan pria itu nampak bergerak dan sudut bibirnya terangkat. "Maaf, gak perlu berlebihan memotongkan Pizza. Aku bisa sendiri." ucapnya tegas.

__ADS_1


Lalu tangan Fani beringsut mundur, ia kembali menaruh Pizza itu.


Lagi gadis itu berkata. "Kak Radit kalau senggang main-main aja ke London."


Khaira masih diam, siapa sebenarnya gadis ini kenapa bersikap begitu ganjen kepada suaminya.


"Aku banyak pekerjaan di Manchester, gak punya waktu senggang." jawab Radit ketus.


Khaira mencoba mencairkan suasana, sekaligus memberi pertanyaan pancingan kepada Fani. "Kamu sudah punya pacar, Fan?"


Fani nampak melihat Khaira, "Hmm, sudah tapi di Indonesia."


"LDR dong berarti sekarang?" tanya Khaira cepat.


"Iya LDR, tapi gak tau kuat enggak. Karena enggak pernah jauh sebelum ini." jawab Fani.


"Kalau setia pasti bisalah bertahan. Waktu 1,5 sampai 2 tahun itu cepet kok." lagi Khaira berkata.


"Kak Radit, kenapa enggak dimakan sih Pizzanya. Ayo dimakan Kak."


Radit masih diam tak bergeming. Pria itu hanya sibuk dengan gadget di tangannya.


"Kak Radit sudah punya pacar?" Lagi Fani bertanya kepada Radit.


Sebelum Radit menjawab, Khaira nampak menyenggol kaki Radit yang berada di bawah meja, sorot matanya seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Hmm, sorry kalau tadi belum ngasih tahu sebenarnya kami ini suami istri. Mas Radit ini suami aku." ucapnya sembari menatap lembut pada suaminya.


Entah dorongan dari mana tapi Khaira seketika mengapitkan tangannya ke lengan Radit. Bak gayung bersambut Radit justru mendaratkan satu kecupan sayang di kening Khaira.


Adegan itu sukses membuat mata Fani membola seketika. Bahkan gadis terlihat begitu kecewa mendengar kenyataan pria tampan di hadapannya itu sudah beristri.

__ADS_1


"Ya udah ya Fan, kami cabut. Masih banyak urusan kami di Manchester. Take care ya." Pamit Khaira dan diangguki begitu saja oleh Fani.


Akhirnya Khaira dan Radit pergi dan kembali berjalan menuju stasiun guna menaiki kereta api yang akan membawa mereka kembali ke kota Manchester.


Sembari berjalan, keduanya tentu seperti biasa terlibat dalam obrolan.


"Kenapa tadi jutek banget sih Mas?" tanya Khaira memulai membuka suaranya.


Radit hanya mengedikkan bahunya. "Males Sayang. Lagian cewek tuh sejak tadi lihatin aku terus. Tanya-tanya melulu. Males deh."


Radit menghela nafasnya sejenak. "Apalagi saat cewek itu berinisiatif motongin Pizza tadi. Bikin jengah. Bau-baunya tipe pelakor." Radit bergidik membayangkan saat Fani memotongkan Pizza buatnya.


"Lagian kenapa kamu enggak berinisiatif mencegahnya sih Sayang?" tanya Radit sembari memandang Khaira.


"Gak apa-apa kok Mas. Gak sopan juga langsung mencegah. Lagian kamu kan juga udah menolaknya." Ucap Khaira sembari sedikit tersenyum.


"Emang kamu enggak tergoda dengan Fani, Mas? Dia cantik, matanya juga menatapmu dengan sensual loh. Gak tergoda?" tanya Khaira sembari lehernya sesekali menoleh pada Radit.


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku gak akan tergoda dengan siapa pun. Kan aku pernah bilang, hatiku ini sudah terisi penuh olehmu. Aku akan beneran buktikan kalau aku sudah berubah dan terus memantaskan diri untuk mendampingimu." Radit menjeda ucapannya sejenak. "Kamu memang enggak cemburu ada cewek yang kayak gitu ke suami kamu sendiri?"


"Mas sendiri maunya aku cemburu atau enggak?" Khaira justru balik bertanya kepada suaminya itu.


"Cemburu gak papa. Kan cemburu itu tanda sayang. Tapi aku seneng kamu malahan kayak deklarasi ke Fani kalau aku suami kamu." ucapnya sembari mengeratkan genggaman tangannya.


"Seneng kenapa Mas?" tanya Khaira.


"Seneng, karena kamu mengakuiku sebagai suami kamu. Ibarat tanah, hak milik dan hak gunanya atas nama kamu." Ucapnya sembari mengerlingkan satu matanya.


"Aku berusaha untuk mempertahankan apa yang menjadi hak milikku Mas. Tetapi itu pun harus selaras denganmu untuk serius dan menjaga hatiku. Selama kita hidup godaan itu tetap ada, tetapi kita harus pandai-pandai membawa dan menahan diri kan. Kesetiaan itu mahal Mas, kesetiaan tidak cukup jika hanya dalam hitungan waktu satu atau dua hari. Kesetiaan itu teruji oleh waktu." ucap Khaira panjang lebar.


Radit mengangguk setuju. "Iya, aku setuju kesetiaan itu teruji waktu. Sebagaimana kamu selalu menjaga hatimu untukku, seperti itu jugalah aku akan menjaga hatiku untukmu. Aku juga akan menjaga dan mempertahankanmu. Kita menua bersama ya Sayang. Growing old with you."

__ADS_1


__ADS_2