Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kecemburuan Arsyilla


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, mengasuh dua anak dengan tentang usia yang hanya terpaut 3,5 tahun memang menjadi pengalaman sekaligus memberi tantangan tersendiri bagi Khaira. Sebab, tidak sepanjang Arsyilla bisa kooperatif dan juga manis. Ada kalanya Si Sulung juga merengek dan meminta perhatian lebih dari Mama dan Papanya. 


Seperti sekarang ini, sejak pagi agaknya Arsyilla bangun dengan suasana hati yang tidak baik. Sehingga dari mulai membuka mata, Arsyilla sudah menangis. Biasanya, dia bangun tidur langsung mandi terlebih dahulu, tetapi Arsyilla justru memilih untuk melihat saluran televisi untuk anak-anak. 


"Syilla, kenapa enggak mandi dulu? Mandi dulu yuk Sayang … abis itu sarapan, baru nonton televisi." Khaira yang mengingatkan Arsyilla untuk melakukan rutinitasnya seperti biasa. 


Akan tetapi, Arsyilla justru menangis. "Enggak Ma, Syilla mau nonton siaran televisi dulu." rengeknya kepada Mamanya. 


Khaira hanya diam melihat Arsyilla yang pagi hari ini memang sedang merengek. Perlahan Khaira duduk di dekat Arsyilla, "Yuk, mandi dulu yuk Sayang … setelah mandiin kamu, Mama mau mandiin Shaka juga." penjelasan Khaira kali ini kepada Arsyilla. 


Namun Arsyilla justru menangis sejadi-jadinya dan menolak untuk mandi pagi itu. Berusaha sabar, Khaira duduk di samping Arsyilla sembari menimang Arshaka. Sedikit kesabaran mungkin bisa membuat Arsyilla mau untuk mandi pagi. Menunggu sekian menit, akhirnya Khaira pun kembali membujuk Arsyilla. 


"Ayo Kakak Syilla … kan pagi itu mandi dulu. Bau loh bangun tidur enggak mandi. Mama masih harus memandikan Shaka. Yuk, mumpung Shaka bobok, Mama akan mandiin Syilla dulu." bujuk Khaira lagi dan tetap berusaha untuk bersabar. 


Sayangnya Arsyilla kembali menggelengkan kepalanya. "Enggak Ma … gak mau." Tetap saja Arsyilla menolaknya. 


Merasa sebal dengan sikap Arsyilla yang hari ini begitu berbeda, Khaira kemudian berdiri. "Ya sudah, Syilla nonton siaran televisi itu saja ya. Mama mau mandiin Shaka." kemudian Khaira berlalu begitu saja meninggalkan Arsyilla. 


Akan tetapi, baru beberapa langkah Khaira berjalan, rupanya Arsyilla kembali menangis. Bahkan kali ini tangisannya begitu terisak. Khaira pun menghentikan langkah kakinya. Sedikit menoleh ke belakang ke arah Arsyilla. 

__ADS_1


"Ada apa lagi?" tanya Khaira kini. "Syilla mau nonton itu kan? Nonton saja. Tidak usah mandi." ucap Khaira kini dengan suara yang terdengar lebih tegas.


Ketika Khaira sudah sampai di dalam kamarnya, rupanya Arsyilla pun menyusul mamanya itu dengan menangis. Menaruh Arshaka di dalam box bayinya, dengan diam Khaira segera memandikan Arsyilla. Melepaskan baju yang dia kenakan, kemudian membersihkan badan Arsyilla. Sementara gadis kecil itu pun masih saja menangis. Setelah mandi selesai, Khaira lantas mengeringkan badan Arsyilla dengan handuk. Setelah kering, mulailah Khaira mengoleskan minyak telon di badan Arsyilla, lalu memakaikan pakaian untuk Arsyilla. 


"Syilla kan mau Mama yang baik." ucap Arsyilla dengan terisak. 


Kemudian Khaira menatap Arsyilla, "Apa Mama tidak baik, Syilla? Syilla mau Mama yang seperti apa?" tanyanya dengan menatap wajah Arsyilla. 


"Kan Syilla mau Mama yang baik." ucapnya lagi. Entah apa yang dimaksud oleh anak berusia 3,5 tahun. Kata bahwa dia menginginkan Mama yang baik itu bermakna luas bukan? 


Khaira sempat tertegun dengan ucapan putrinya itu. Mungkinkah dia belum menjadi seorang ibu yang baik untuk Arsyilla. Ada rasa bersalah yang menghinggapi dirinya. 


Setelah selesai memakaikan baju untuk Arsyilla, Khaira kemudian menyisiri rambut Arsyilla yang lurus di bawah bahu dengan poninya yang menutupi keningnya itu. Perlahan Khaira pun kembali menatap wajah putrinya itu. 


"Syilla mau main sama Mama … Syilla mau membaca buku sama Mama. Mama sekarang banyak main sama Adik." ucap Syilla pada akhirnya. 


Apa yang diucapkan Arsyilla benar-benar membuat Khaira tidak menyangka bahwa putrinya berpikiran seperti itu. Padahal selama ini, dia sudah berupaya sebisa mungkin untuk adil dalam mengasuh kedua anaknya. Menghiraukan rasa nyeri pasca dijahit dan juga rasa kantuk yang sering kali datang di siang hari. Khaira benar-benar mengupayakan tidak mengabaikan Arsyilla. Sayangnya, si Sulung merasa bahwa Mamanya lebih banyak bermain dengan adiknya. 


Perlahan Khaira memeluk Arsyilla, "Syilla merasa Mama seperti itu?" tanyanya dengan perlahan. 

__ADS_1


Tampak Arsyilla menganggukkan kepalanya, "Iya … kan Syilla mau Mama yang baik. Mama yang bermain sama Syilla."


Sebenarnya adalah hal yang wajar jika si Sulung merasa semua kasih sayang, perhatian, dan fokus dari orang tuanya mulai terbagi dengan adiknya. Jikalau dulu, sebelum adiknya lahir, semua kasih sayang, perhatian, dan fokus dicurahkan semuanya untuk si Sulung dan sekarang harus dibagi dengan si Bungsu. Memang beberapa waktu membuat si Sulung menjadi cemburu. Itu pula yang sedang dirasakan Arsyilla saat ini. 


Berusaha menenangkan Arsyilla, Khaira kemudian memangku putrinya itu. "Mama minta maaf ya, karena sekarang waktunya dibagi dulu buat Kakak Syilla dan buat Adik Shaka. Mama saja sampai menghiraukan diri Mama sendiri. Semua waktu yang Mama punya cuma buat Kakak Syilla dan Adik Shaka. Nanti kalau Adik Shaka makin besar, bisa bermain justru Adik bisa jadi teman bermainnya Kak Syilla. Kan Shaka masih kecil, nanti semakin hari dia semakin besar Sayang … bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, berbicara, dan bisa berlari. Berbagi dulu ya Sayang." Khaira yang berusaha memberikan pengertian kepada putrinya itu. 


"Itu Shaka cuma bobok dan menangis minta ASI aja Ma … Minta digendong Mama terus." rupanya Arsyilla pun mengamati bahwa adiknya hanya bobok dan menangis minta ASI. 


Khaira perlahan mengelus puncak kepala Arsyilla, "Dulu Kak Syilla juga seperti Shaka waktu bayi." Khaira kemudian menarik laci yang berada di nakas di sisi tempat tidurnya. 


"Ini foto waktu Kak Syilla masih bayi. Digendong Mama, minum ASI-nya Mama. Ditimang-timang Mama. Sama Sayang, rasa sayang Mama buat Kak Syilla dan Shaka itu sama. Kalian berdua adalah putri dan putranya Mama. Kesayangan Mama. Harta Mama dan Papa yang paling berharga." jelas Khaira lagi kepada Arsyilla. 


Perlahan Arsyilla pun mengangguk dan memeluk Mamanya itu, "Syilla sayang Mama." ucapnya dengan membenamkan kepalanya di dada Mamanya. 


Khaira tersenyum dan menciumi puncak kepala Arsyilla, "Mama juga sayang Syilla." ucapnya dengan rasa haru.


"Nanti kalau Adik Shaka bobok, temenin Syilla main ya Ma …" pintanya kali ini kepada Mamanya. 


Khaira pun mengangguk, "Pasti Sayang… sudah pasti Mama akan menemani kamu bermain waktu Shaka bobok. Sekarang Mama ambilkan sarapan buat Syilla yah, Mama suapin aja di sini sambil jagain Adik, mau?" tawarnya kepada Arsyilla. 

__ADS_1


"Iya Ma … mau." ucapnya dengan menganggukan kepalanya. 


Khaira sedikit bernapas lega, sekian lama membujuk Arsyilla akhirnya berhasil juga. Dalam hal mengasuh dan mengurus anak, Khaira memang rela menghiraukan dirinya sendiri asalkan apa yang diinginkan anaknya bisa dia berikan. Semua ibu pun akan melakukan hal yang sama. Ketika luka jahitan belum sepenuhnya kering, harus meng-ASI-hi, mengasuh si Sulung, sembari mengurus dapur, dan pekerjaan rumah lainnya. Itulah tanda kasih sayang seorang Ibu.


__ADS_2