Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Wisuda - Menghapus Jejakmu


__ADS_3

Selang satu bulan setelah sidang Skripsi, hari ini Khaira akhirnya menghadiri acara Wisuda.


Wisuda ini sesungguhnya tidak ada yang spesial untuk Khaira. Karena wisuda hanya sebuah perayaan, perjalanan sesungguhnya dalam dunia karier baru dimulai setelah wisuda usai.


Kendati demikian, Khaira tetap berbahagia karena di hari bahagia ini impiannya sejak masuk ke fakultas ini bisa wisuda dengan sahabatnya, Metta akhirnya tergapai.


Dengan mengenakan kebaya berwarna ice blue, tatanan rambut yang diatur sedemikian rupa, dan baju toga. Khaira bersiap menghadiri prosesi wisudanya.


"Akhirnya kita bisa wisuda barengan ya Ta..." Ucap Khaira penuh haru sembari memeluk Metta, sahabatnya sejak awal masuk kuliah.


"Iya, gak nyangka banget gue bisa wisuda sama lo. Mengingat betapa tertinggalnya gue waktu Skripsi. Seneng banget bisa wisuda barengan." ucap Metta dengan perasaan yang tak kalah bahagia.


Perbincangan keduanya pun berakhir, karena dibacakannya Wisudawan dengan predikat sebagai penerima indeks prestasi kumulatif (IPK) terbaik, Skripsi terbaik, dan PPL terbaik.


MC acara pun membacakan penerima predikat Wisudawan terbaik untuk kategori tersebut.


"Wisudawan dengan Indeks Prestasi Terbaik diperoleh Saudari Khaira Amaira dengan Indeks Prestasi 3,9."


Khaira nampak terkejut, ia tak menyangka bisa mendapatkan Indeks Prestasi kumulatif terbaik di tahun ini. Belum berakhir rasa bahagia dan syukurnya, rupanya namanya kembali disebut.


"Wisudawan dengan Skripsi Terbaik diperoleh oleh Saudari Khaira Amaira."


Para dosen, wisudawan, dan hadirin yang saat itu hadir memberikan tepuk tangan untuk Khaira.


Khaira pun maju ke podium untuk menerima vandel dan bunga dari Rektor Universitasnya.


Gadis itu tersenyum bahagia hingga meneteskan air mata karena kerja kerasnya menempuh studi terbayar lunas dengan mendapatkan IPK dan Penelitian Skripsi Terbaik. Sekalipun dalam enam bulan terakhir, kehidupannya jungkir balik, tetapi ada sedikit kebahagiaan yang Allah sisipkan di tengah-tengah hiruk-pikuk rumah tangganya.


Sekembalinya ke tempat duduknya, Metta lagi-lagi memeluknya dengan bahagia.

__ADS_1


"Selamat ya My Bestie, kamu emang layak mendapatkan ini semua. Gue ikut bahagia."


"Makasih ya Ta... Makasih selalu menjadi sahabat gue." Khaira berderai air mata memeluk Metta.


"Udah jangan nangis, nanti make up kamu luntur." Canda Metta kepada Khaira.


Usai prosesi wisuda selesai, banyak wisudawan yang melakukan sesi foto-foto. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Khaira, dia mendatangi wisudanya seorang diri. Khaira memang tidak memberitahukan wisudanya kepada Radit, lantaran keduanya telah lost contact untuk sekian minggu lamanya.


"Khaira, datang sama siapa?" Tama datang mendatangi Khaira.


"Selamat ya, jadi peraih IPK tertinggi dan Skripsi terbaik." ucapnya sembari menjabat tangan Khaira.


"Makasih ya Tama. Selamat dan sukses juga buat kamu." Sahut Khaira.


"Kamu sendirian aja? Keluarga sama suamimu kemana?"


"Suamiku ada pekerjaan di luar kota, jadi gak bisa nemenin."


Sementara Khaira, seolah enggan menanggapi perkataan Tama.


"Ya udah ya Tama, gue langsung balik ya. Keburu sore."


"Iya Khai, hati-hati di jalan ya..."


Khaira pun melangkahkan kakinya meninggalkan Tama, namun saat kakinya semakin menjauh Tama kembali memanggil namanya.


"Khaira... jangan lupa bahagia ya Khai. Aku berharap kamu selalu bahagia." ucap Tama dengan tulus.


Khaira masih tertegun di tempatnya dengan menatap Tama. "Semoga kamu juga bahagia, Tama. Dapatkan seorang gadis yang mencintaimu tulus."

__ADS_1


***


Satu minggu setelah wisuda usia, Khaira mendapatkan pengumuman bahwa ia diterima untuk mendapatkan beasiswa S2 di University of Manchester, Inggris. Beasiswa yang didapatkan Khaira tidak hanya sebatas beasiswa pendidikan, tetapi termasuk beasiswa dengan tunjangan hidup yang cukup besar yang di dapat.


"Terima kasih ya Allah, lagi-lagi Kau berikan kebahagiaan. Di saat aku menyerah dan hilang arah, tetapi tangan-Mu yang membawaku kembali ke jalan yang sudah Kau sediakan untukku." Doa Khaira dalam sujud syukurnya.


Sering kali manusia menyangka bahwa mustahil untuk memperoleh sesuatu, tetapi ketika Allah berkehendak maka itu akan terjadi. Begitu pula dengan Khaira, dari awal Skripsi dia mengerjakan dan berjuang sendiri, tidak ada support system yang sekadar memberinya semangat, tetapi nyatanya ia bisa sampai pada tahap ini. Bisa lulus dengan IPK tertinggi, Skripsi Terbaik, dan kini ia pun mendapatkan beasiswa ke luar negeri seperti yang telah ia cita-citakan.


Khaira pun mulai berkemas melakukan packing untuk perjalanannya ke Inggris, dengan dua buah koper besar Khaira memasukkan berbagai pakaian, sepatu, dan juga buku-bukunya.


Keberangkatannya ke Inggris masih dua hari lagi. Namun, entah mengapa hari ini dia ingin mengelilingi Ibukota sebelum ia akan meninggalkan kota penuh kenangan ini selama 2 tahun lamanya.


Khaira mengendarai mobil dengan tipe city car kesayangannya. Ia hanya mengikuti kata hatinya selama menyetir, tetapi nyatanya saat ini ia justru melajukan mobilnya menuju Kota Tua. Ya Kota Tua, tempat yang sedikit memberi kenangan bagi Khaira tentunya bersama Radit.


"Beberapa bulan yang lalu, kita kesini berdua Mas. Untuk pertama kalinya selama kita menikah. Walau pun aku bersikap acuh dan biasa saja kepadamu, tetapi hatiku bahagia setidaknya ada satu hari yang bisa kukenang bersamamu."


Khaira berjalan sendiri menyusuri jalan-jalan di area Kota Tua, dengan menahan rasa sesak di hatinya. Lalu, Khaira masuk ke Museum Fatahillah, Museum yang dulu ia datangi bersama Radit.


"Dulu kita juga mengunjungi Museum ini Mas. Saat itu kamu bercerita kenanganmu bersama seorang gadis kecil saat kau mengunjungi Museum Jogja Kembali. Andai kau ingat, gadis kecil itu adalah aku, Mas. Sayangnya, kau hanya mengingat gadis itu, tetapi kau sama sekali tidak ingat kalau gadis kecil itu adalah aku."


Khaira lantas berjalan gontai menyusuri setiap area museum. Rute perjalanan yang ia ambil pun, seperti rute yang dulu ia ambil bersama Radit.


"Bahkan rute yang kamu lalui pun aku mengingatnya, Mas. Sebegitunya hati dan otakku tak ingin melupakanmu."


Khaira tersenyum getir, segetir perasaannya kali ini. Lalu, ia keluar dari museum dan ia berjalan menuju arah jembatan Kota Intan.


"Dulu di tempat ini kita mengambil foto bersama untuk pertama kalinya sejak kita menikah. Untuk pertama kali, kamu membawa tanganku untuk memegangmu, walau hanya sekian menit, tetapi ini adalah saat aku merasakan detak jantungku yang tak karuan karena dekat denganmu."


Akhirnya Khaira terus berjalan hingga mengelilingi area Kota Tua, dan ia kembali ke tempat di mana mobilnya diparkirkan.

__ADS_1


"Dua hari lagi aku akan pergi, Mas. Sampai di sini aku menghapus jejakmu, menghapus kenangan yang pernah kita buat bersama. Menghapus satu hari yang aku habiskan bersamamu. Aku akan terus melangkah menggapai citaku. Aku sudah menjadi gadis yang tak beruntung seumur hidup karena menjalani pernikahan tanpa cinta, tetapi aku mau berjuang untuk meraih citaku. Usai sudah semua tentang kita Mas, aku akan pergi. Biar waktu yang menghapus jejakmu."


Khaira mengucapkan kata-kata itu lirih sembari terisak dengan kepala yang ia sandarkan di stir mobilnya.


__ADS_2