Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Memendam Rindu


__ADS_3

Khaira telah kembali pada moodnya yang lebih baik dan bahagia. Saat ia mendengar Felly meminta maaf padanya, walaupun ia hanya diam. Akan tetapi, Khaira telah memaafkan wanita itu.


Pagi ini sebelum berangkat kerja, Radit berpamitan kepada Khaira bahwa ia harus ke Bogor untuk mengantarkan Ayahnya mengurus pekerjaan di Kantor Cabang Bogor, dan akan menginap semalam.


"Sayang, malam ini aku tidak pulang ya? Aku harus mengantarkan Ayah ke Bogor. Ada sedikit masalah di Kantor Cabang. Kamu mau aku anter ke rumah Bunda? Tidur di sana aja. Aku khawatir kalau kamu sendirian di rumah."


Begitulah Radit, ia khawatir meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Terlebih kondisi Khaira yang tengah hamil, membuatnya enggan untuk berangkat ke Bogor.


Khaira mengusap lengan suaminya. "Aku di rumah aja, Mas. Gak papa kok, lagian hanya semalam kan? Besok sudah balik kan?"


Pria itu menganggukkan kepalanya. "Iya, kalau tidak ada halangan besok siang aku sudah sampai di rumah. Beneran kamu gak papa aku tinggal?"


"Iya, gak papa. Tapi nanti malam video call ya. Soalnya Adek pasti kangen...." ucapnya manja yang membuat Radit langsung membawa tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Jadi yang kangen Adek atau Mamanya Adek?" tanya Radit masih dengan memeluk istrinya itu.


"Adek yang kangen, kalau aku enggak kangen sih. Cuma... Kangeeennnn bangeeetttt aja." jawab Khaira.


"Uhm, ya udah deh. Kalau pulang besok, kalau kasih hadiah ya. Biar kangennya hilang." ucap Radit dengan gemas.


Khaira sedikit memukul dada suaminya itu. "Pasti nakal abis ini."


Radit kembali membawa kepala Khaira ke dalam rengkuhannya. "Nakalnya cuma sama kamu, lagian Adek kan kangen Papanya juga. Mau ditengokin Papa."


Keduanya terkekeh geli dengan obrolan mereka pagi itu.


"Ya sudah, aku berangkat ke kantor dulu ya Sayang. Yakin mau di rumah aja? Enggak berubah pikiran? Kalau berubah pikiran, aku masih bisa anterin kamu ke rumah Bunda." ucapnya.


Khaira menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku di rumah saja. Ya sudah, hati-hati ya Mas... Sering berkabar ya. Ditunggu besok di rumah."


Dengan inisiatifnya sendiri, Khaira berjinjit lalu mengecup pipi suaminya itu.


Cup.

__ADS_1


"Hati-hati Papa ... we Love U...."


Radit hanya senyam-senyum mendapat ciuman dari istrinya. Namun, sekian detik kemudian ia pun mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.


"Hati-hati di rumah yah ... tunggu aku kembali. Love U Sayang ... Love U Adek...."


Pria itu dengan berat hati berangkat kerja sekaligus berpamitan ke Bogor untuk mengantar Ayahnya untuk memeriksa kantor cabang di sana.


Khaira pun melambaikan tangannya, menghantarkan sang suami hingga mobilnya keluar dari pintu gerbang.


Begitu masuk di dalam rumah, Khaira memilih mempersiapkan bahan ajar untuk mengajar hari Rabu nanti. Tidak hanya itu, Khaira juga mengecek satu per satu tugas-tugas yang dikumpulkan oleh mahasiswa melalui emailnya. Berlama-lama di depan komputer dengan berbagai pekerjaannya sebagai seorang Dosen.


Sementara itu, Radit akan bekerja setengah hari dan setelahnya akan mengantarkan Ayahnya untuk mengunjungi Kantor Cabang di Bogor.


Jarak Jakarta - Bogor sebenarnya hanyalah 60 KM, dan membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam dari Tol Jagorawi. Akan tetapi, jika arus lalu lintas sangat ramai atau macet, maka membutuhkan paling tidak 3 jam untuk sampai ke Bogor.


"Bagaimana kabar Khaira, Dit?" tanya Ayah Wibi begitu mereka telah berada di dalam mobil, dengan Radit yang mengemudikan mobil itu.


"Khaira tidak apa-apa kan kamu tinggal sekarang ini? Kenapa tidak mengantar Khaira ke rumah Bunda aja, jadi dia bisa bersama Bundamu." ucap Ayah Wibi.


"Sudah Radit tawari, tetapi Khaira memilih di rumah. Katanya cuma semalam aja." jawab Radit.


"Ya sudah, besok begitu urusan di Kantor Cabang selesai kita akan langsung pulang." sahut Ayah Wibi.


Tidak berselang lama, Radit dan Ayah Wibi telah tiba di Kantor Cabang di Bogor. Pria paruh baya masih begitu gesit dan sigap menyelesaikan masalah di Kantor Cabang. Rapat yang diadakan pun menghasilkan keputusan yang positif bagi perusahaan.


Menjelang jam 8 malam, barulah Radit dan Ayah Wibi memasuki hotel untuk beristirahat dan esok pagi akan ke Kantor Cabang lagi sebentar, sebelum kembali ke Jakarta.


Di kamar hotel, Radit menggeser layar handphonenya. Dia membaca beberapa pesan dari Khaira.


[To: Mas Radit]


[Hati-hati dalam perjalanan, Mas.]

__ADS_1


[Sudah sampai Bogor apa belum?]


[Aku bikin susu sendiri, tetapi kenapa rasa susunya tidak seenak buatanmu.]


[Mas, kami sudah kangen.]


Radit tersenyum membaca pesan yang masuk dari istrinya itu. Tanpa berpikir panjang, Radit menekan ikon panggilan video. Dia pun begitu rindu dengan istrinya.


Begitu panggilan videonya telah tersambung, pria itu tersenyum lebar menyapa istrinya.


"Halo Sayang, baru ngapain? Aku baru selesai rapat di Kantor Cabang sama Ayah." ucapnya sembari menatap wajah istrinya dari layar handphonenya.


Pun demikian dengan Khaira. "Halo Mas. Aku baru nonton drama Korea aja di handphone. Capek mas?" tanya sembari mencari posisi terbaik dengan pencahayaan yang tepat dan angel yang membuat pipinya tidak terlalu chubby di layar handphone.


"Kamu sudah makan Sayang? Sudah minum susu? Vitamin dan kalsium dari Dokter jangan lupa diminum." Sekalipun tidak bisa memperhatikan secara langsung, memperhatikan melalui video call tidak ada salahnya.


"Iya, aku sudah minum vitamin dan kalsiumnya. Sudah minum susu juga, tetapi enggak seenak buatan Papa. Adek sudah kangen ini sama Papanya." ucap Khaira dengan manja.


Radit hanya tersenyum sembari mengusap-usap pelipisnya. "Aku juga kangen Sayang, tapi mau gimana lagi. Sabar ya, besok Papa udah pulang. Besok udah bisa buatin susu lagi buat Bumilku Cantik."


Khaira kini mengganti posisinya menjadi rebahan di tempat tidur. "Biasanya bobok sama Mas, malam ini tidur sendiri deh."


"Sabar, cuma semalam. Bumil gak bisa jauh-jauh dari aku ya." ucap Radit memperhatikan wajah ayu istrinya yang kian chubby.


"Iya nih, bawaannya kangen terus. Beneran Malarindu deh ini aku, Mas. Apa aku bisa tidur ya? Biasanya ada kamu."


Di sana Radit menggelengkan kepalanya. "Sabar, besok aku sudah pulang. Aku di sini juga kangen kamu dan Adek, biasanya tiap malam pelukin kalian berdua, sekarang sendirian. Kamu jangan capek-capek ya di sana. Jangan kelelahan, besok aku pulang. Mau dibawain oleh-oleh apa dari Bogor?"


Dengan segera Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Oleh-olehnya cukup Mas Radit aja, sampai di rumah dengan selamat. Soalnya kami udah kangen."


"Ya sudah, ini sudah malam. Tidur ya. Istirahat, Bumil harus istirahat yang cukup. Ya sudah ya Sayang. Met malam ... Met bobo. Jangan lupa mimpiin aku. I Love U Bumilku Cantik."


Demikianlah panggilan video itu diakhiri. Baik Radit dan Khaira sama-sama memeluk rindu, berharap hari akan segera berlalu. Mentari akan segera terbit dan esok keduanya bisa kembali bersua.

__ADS_1


__ADS_2