Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Acara Empat Bulanan 1


__ADS_3

Sejak pagi kediaman keluarga Wibisono telah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk mengadakan acara empat bulanan kehamilan Khaira.


Bagian ruang tamu telah didekorasi sedemikian rupa dengan bunga Mawar Putih dan Tulip, dipadukan dengan berbagai dedaunan segar dan lampu-lampu. Tak lupa pula bagian katering menyiapkan berbagai menu makanan untuk tamu undangan.


Sementara itu Bunda Ranti dan Bunda Dyah telah menyiapkan dress code yang akan mereka kenakan. Gaun terusan dari kain lace berwarna ice blue dengan payet yang berada sekitar dada akan dikenakan oleh Khaira dan kedua Bundanya. Sementara para Ayah akan mengenakan kemeja batik dengan perpaduan warna ice blue, sehingga nampak serasi bersanding dengan pasangannya masing-masing.


Menjelang siang, Khaira dan Radit tiba di kediaman keluarga Wibisono. Mereka nampak terkejut dengan persiapan yang dilakukan oleh berbagai pihak. Dengan pelan Radit menggandeng istrinya keluar dari mobil dan masuk ke rumah keluarga Wibisono. "Pengajiannya akan serame apa sih Mas? Ini kok rame banget." tanya Khaira mengamati sekeliling rumah yang begitu ramai.


"Aku kurang tahu juga sih, kata Ayah cuma beberapa kerabat sama karyawan dari kantornya Ayah aja." jawab Radit.


Begitu masuk ke dalam rumah, Khaira telah disambut oleh orang tua dan mertua mereka. "Eh, Bumil sudah datang. Kamu kok justru tambah cantik sih, Khai... Jangan-jangan bayinya ini perempuan, soalnya kamu tambah cantik, bersih." gumam Bunda Dyah sembari memeluk anaknya itu.


Khaira tersenyum sembari mengusap perutnya dan kian membuncit. "Mau perempuan atau laki-laki sama saja Bunda... Kami sudah bersyukur diberikan Allah kesempatan dan kepercayaan untuk menjadi orang tua." jawab Khaira.


Radit turut menganggukkan kepalanya. "Khaira memang semakin cantik kok Bunda, Radit aja sampai jatuh cinta terus sama Khaira." gurau Radit yang justru mendapat cubitan di perutnya oleh sang istri.


"Aw... Sakit dong Sayang. Daripada dicubit mending disayang aja." ucap Radit sembari memegangi perutnya yang terkena cubitan dari istrinya.


"Ya sudah, kalian ke kamar saja. Nanti kamu turun duluan ya Dit, temuin tamunya setengah jam lagi. Khaira nanti turunnya sama Bunda. Kamu tunggu di bawah aja." Bunda Ranti memberikan arahan kepada Radit perihal acara pengajian empat bulanan nanti.


Mengangguk, keduanya lantas masuk ke dalam kamar di lantai dua. Di sana sudah tersedia pakaian untuk Khaira dan Radit.

__ADS_1


"Mau ganti kemeja batik sekarang atau nanti Mas?" tanya Khaira begitu mereka telah sampai di kamar.


"Enaknya gimana Sayang? Aku manut aja sih sama kamu." jawab Radit.


"Tadi Bunda bilang, Mas turun duluan setengahan jam lagi kan? Ya dipakai sekarang gak papa Mas, sapa tau abis ini para kerabat dan temen kantornya Mas pada datang." ucap Khaira.


"Ya sudah, bantu pakai kan ya..." ucapnya sembari mengerlingkan matanya kepada Khaira.


Khaira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Manjanya Papa Radit...." ujar Khaira sembari terkekeh geli.


Akhirnya Khaira membantu suaminya memakai kemeja batik. Jari jemarinya mengancingkan satu per satu kancing baju, sesekali Khaira mencuri pandang pada suaminya.


"Kenapa sih Sayang, curi-curi pandang ke aku? Aku cakep ya?" Radit meledek istrinya yang ketahuan mencuri pandang kepadanya.


"Gak usah curi-curi pandang, lihat langsung boleh kok. Gratis buat kamu." ucapnya sembari memberikan senyuman manis yang justru membuat wajah Khaira semakin bertambah merah.


"Ketahuan ya Mas? Jadi malu deh aku." Khaira terkekeh sembari memalingkan wajahnya. "Udah selesai. Kemeja batiknya, warna dan motifnya cocok Mas. Wah, kamu kayak Pangeran Gula Jawa, Mas." goda Khaira sembari memegangi lengan suaminya.


"Kamu godain aku ya Yang? Awas ya nanti." ucap Radit sembari mencoba mencuri satu ciuman di bibir istrinya.


Akan tetapi, obrolan dan candaan mereka terhenti, lantaran kedua Bundanya yang masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Sudah Dit, sana kamu duluan?" Bunda Ranti menyuruh anaknya untuk turun ke bawah terlebih dahulu.


Radit pun mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya, sebelum ia turun ke bawah. "Aku turun ke bawah duluan ya Sayang." pamitnya lalu keluar dari dalam kamar.


"Ayo Sayang, kami bantuan kamu udah berias sedikit." ucap Bunda Ranti.


Khaira pun mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah disiapkan keluarganya. Kemudian Bunda Ranti menggelung rambut Khaira. Menaruh beberapa bunga di sana. Sementara itu, Khaira juga sedikit menggunakan make up dengan kesan flawless di wajahnya. Sentuhan terakhir, Bunda Dyah menutup kain kerudung berwarna ice blue polos hanya untuk menutup rambut Khaira.


"Masyaallah... Cantiknya anak Bunda. Hanya disanggul sederhana dan make up tipis aja udah cantik banget kamu, Khai...." ucap Bunda Dyah dan Bunda Ranti kepada Khaira.


Setelahnya dengan digandeng Bunda Ranti di sebelah kanan dan Bunda Dyah di sebelah kiri, Khaira turun ke ruang tamu yang sudah didekorasi sedemikian.


Begitu Khaira menuruni anak tangga, semua mata tertuju padanya. Terlebih Radit, suaminya. Matanya tak beralih menatap istrinya yang begitu cantik dan perut yang mulai menyembul memperlihatkan baby bumpnya.


Begitu sampai di ruangan tengah, kedua Bundanya lantas memberikan satu tangan Khaira kepada Radit dan mempersilakan kedua duduk berdampingan.


Seorang Ustad pun melantun doa berikut ini. "Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah, bentuklah dia di dalam perut ibunya dalam bentuk yang elok dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut ibunya pada saat kelahirannya dengan mudah dalam keadaan selamat dan dengan bentuk yang indah dan sempurna. Ya Allah, jadikanlah dia anak yang sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, yang alim, dan mau mengamalkan ilmunya."


Khaira sedikit meneteskan air mata, saat kerabat dan tamu undangan yang hadir mengamini doa-doa itu.


"Amin... Tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna dalam perut Mama ya Sayang." doa Khaira dalam hati sembari mengelus perutnya.

__ADS_1


Pun demikian dengan Radit, mendengar alunan doa yang mengalun indah dan memiliki makna dan harapan yang sangat baik untuk buah hatinya, Radit sangat tersentuh. Jauh di dalam hatinya ia juga mengharapkan buah hatinya tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna dalam rahim istrinya. Selain itu, Radit pun memohon kekuatan bagi istrinya selama menjalani kehamilan, kiranya Allah lancarkan hingga persalinan nanti.


Begitu doa-doa telah usai. Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Sesaat baik Radit dan Khaira saling bersitatap satu sama lain. "Kamu cantik banget Sayang. Rasanya aku jatuh cinta lagi deh sama kamu." ucapnya dengan pandangan mata yang hanya menatap wajah cantik sang istri. "Semoga doa-doa yang dilantunkan tadi dengar Allah. Kamu dan anak kita sama-sama sehat yang Sayang. Love U Khaira." ucapnya dengan tulus dengan bibir yang menyunggingkan senyuman terbaiknya untuk sang istri tercinta.


__ADS_2