Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Foto Si Baby


__ADS_3

Usai melakukan pemeriksaan, kini Radit dan Khaira langsung pulang ke rumah. Sementara Arsyilla sudah meminta izin untuk menginap di rumah Kakek dan Neneknya. Radit dan Khaira pun memperbolehkan, mereka akan menjemput Arsyilla keesokan harinya.


Kini Khaira tengah duduk di ruang tamu, begitu duduk di sana, Khaira langsung memandangi kertas foto berbentuk persegi yang di atas tercetak foto 4D baby mereka. Jari telunjuknya terulur guna menyentuh foto itu. Wanita itu tampak meneteskan air mata, saat mengamati bentuk janin dalam rahimnya.


Menyadari bahwa istrinya tengah dalam mode mellow, Radit lantas mengambil tempat duduk di sisi istrinya. “Kenapa kok malahan nangis?” tanya Radit sembari menyeka air mata yang mengalir di sudut mata istrinya itu.


“Terharu … lebih enggak menyangka ada kehidupan di dalam sini. Foto si baby ini Mas.” ucap Khaira sembari masih menyentuh kertas foto hasil print dari pemeriksaan sore tadi dengan Dokter Indri.


Radit lantas tersenyum, “kamu kalau lihat hasil print USG pasti mellow ya Sayang … dulu waktu hamil Arsyilla juga banyak nangisnya. Sekarang juga.” ucapnya sembari mengingat bagaimana istrinya itu tampak lebih cengeng dan sensitif selama kehamilan.


Khaira pun mengangguk, dia sama sekali tidak mengelak, karena faktanya tiap kali berurusan dengan anak, hatinya akan begitu mudahnya terharu hingga meneteskan air mata, “iya … ini kan fotonya anak kedua kita Mas … kalau dia beneran cowok, semoga cakep seperti Papanya.” ucap Khaira kemudian yang membuat Radit tertawa.


“Anak cowok biasanya mirip Mamanya, Sayang … jadi kalau mirip kamu juga gak apa-apa kok. Kamu seneng?” Tanya Radit yang kini membawa Khaira untuk duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Tanpa membantah atau mengelak, Khaira pun beringsut dan duduk dalam pangkuan suaminya, kedua tangannya bertumpu di sofa, dia dipangku suaminya dalam posisi duduk menyampingkan. Wanita hamil itu menunjukkan wajahnya yang merona merah saat mendarat dalam pangkuan suaminya.


Satu tangannya berpegangan pada bahu kokoh milik sang suami, dan satu tangannya masih memegangi foto hasil USG babynya, Khaira pun tersenyum, “seneng … aku seneng banget. Jujur, aku hamil ini tidak pernah minta Allah untuk jenis kelamin tertentu, misalnya mau anak cewek atau cowok. Aku cuma minta selama kehamilan aku sehat, kamu sehat, Arsyilla juga menjadi kakak yang baik nanti. Lagian kita berdua kan sudah sama-sama sepakat, kalau tidak mempermasalahkan anak laki-laki atau perempuan, baik laki-laki dan perempuan sama di mata kita kan. Ternyata Allah Maha Baik justru melengkapi keluarga kita.” cerita Khaira sembari menggerak-gerakkan kedua kakinya yang berada di atas sofa.


Radit pun mengangguk setuju, “benar Sayang … aku pun juga enggak nyangka kalau sekarang kamu hamil baby boy. Aku seneng banget. Semoga sehat-sehat sampai HPL ya Sayang. Aku enggak sabar mau ketemu sama baby boy.”


Rasa menunggu dari fase kehamilan hingga kelahiran terasa begitu berkesan bagi keduanya. Baik Radit dan Khaira pun sama-sama sepakat jika mereka seolah tidak sabar, tetapi dengan sabar mereka akan menunggu hingga hari kelahiran tiba.


Khaira lantas tersenyum, kemudian menatap wajah suaminya yang hanya berada sejengkal di depannya, “semoga nanti hidungnya mancung kayak Papa … alisnya simetris kayak gini kayak Papa juga. Rajin bekerja dan penyayang kayak Papa juga.” ucapnya sembari menelurusi wajah suaminya dengan kedua bola matanya.


Menjeda sejenak ucapannya, Radit kemudian kembali berbicara, “semua keburukan kita hanya kita berdua yang menerimanya ya Sayang … kedua anak kita dilimpahi semua kebaikan dan kalaupun meniru, ya mereka meniru yang baik.” ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.


Khaira pun mengangguk, “Benar Mas … semoga Arsyilla dan adiknya nanti mendapatkan seluruh kebaikan dan meniru yang baik juga dari Papa dan Mamanya,” ucap Khaira yang tentu mengaminkan ucapan suaminya itu.

__ADS_1


“Sehat-sehat di perut Mama ya Sayang … tumbuh sehat dan sempurna di dalam sini. Nanti kalau sudah waktunya tiba, Papa dan Mama, dan juga Kakak Syilla akan menyambut kamu dengan penuh bahagia,” ucap Radit dengan mengusap lembut perut istrinya yang mulai menyembul itu.


Perlahan pria itu kemudian mengikis jarak wajahnya dengan sang istri, tanpa menunggu waktu lama dengan posisi yang begitu dekat seperti ini, Radit dengan penuh keyakinan meraih pinggang istrinya dan menyapa bibir ranum milik istrinya itu dengan perlahan. Menciuminya dengan begitu lembut, mengecupnya perlahan, menggigit kecil bagian bibir yang ranum dan begitu manis itu. Menyapa bibir dengan bibirnya, menyapu sejenak dengan ujung lidahnya, dan membuai dalam ciuman yang lembut dan penuh perasaan.


Sebab tidak ada ungkapan yang bisa mewakili perasaan keduanya, perlahan Radit membuka matanya, pria itu mengikis wajahnya dan menatap wajah istrinya yang terlihat memerah dengan bibirnya yang terlihat mengkilat. Jari telunjuknya dengan cepat mengusap bagian bibir bawah istrinya, mengusapnya begitu perlahan, usapan yang justru membuat sang istri memejamkan matanya dengan dramatis. Sebab, ketika suaminya itu menyentuhkan, rasanya sel-sel sensorik dalam tubuhnya seakan bereaksi begitu saja. Hingga kemudian, Radit menelisipkan untaian rambut Khaira ke belakang telinga, pria itu tersenyum dan menatap istrinya dengan hangat, “doaku, kamu selalu sehat … menjalani kehamilan dengan bahagia. Aku tahu, menjalani kehamilan itu tidak mudah bagi semua wanita. Berat badannya bertambah, hormonnya berubah, moodnya juga berubah, belum yang lain. Jadi, jalani kehamilan ini dengan bahagia dan penuh syukur, karena suamimu ini akan selalu menjadi support system terdepan bagi kamu.” Radit mengucapkan perkataan itu dengan sungguh-sungguh.


Sementara Khaira terus menatap wajah suaminya, seolah kedua matanya tak ingin berkedip untuk menatap wajah suaminya, dan indera pendengarannya yang dia buka untuk mendengarkan setiap perkataan dari suaminya itu. Merespons ucapan suaminya, Khaira lantas melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya, wanita itu bergerak perlahan, hingga dia mencuri satu ciuman di bibir suaminya. Mengecupnya dengan begitu lembut, kemudian Khaira tersenyum, “rasanya aku selalu berterima kasih kepada Allah karena telah memberikanku suami sebaik kamu. Suami yang baik, Papa yang baik, partner yang baik. Terima kasih ya karena selalu bersama denganku. Sudah tentu, aku akan selalu sehat dan bahagia sampai melahirkan nanti. Walaupun melahirkan itu sakit, tetapi temani aku lagi nanti ya Mas … aku enggak akan kuat, jika tidak ada kamu yang menemaniku nanti.” ucap Khaira yang kali ini meminta lagi kemudian suaminya untuk menemaninya saat dirinya tengah melahirkan nanti.


Perlahan Radit pun mengangguk, pria itu mengecupi kening istrinya, “Iya Sayang … aku akan temenin kamu. Tangan ini akan menggenggam tangan kamu saat melahirkan nanti. Walaupun aku juga ketakutan, tetapi aku harus kuat supaya aku bisa menguatkan kamu.”


Ya tidak dipungkiri, menemani istri melahirkan sudah pasti membuat Radit ketakutan. Menemani istri melahirkan membuatnya merasa cemas, panik, takut, dan tidak tega di saat yang bersamaan. Namun, semua itu harus tetap dia jalani supaya bisa terus menemani istrinya yang sedang berjuang melahirkan anak mereka nanti.


Pria itu lantas, kembali menatap wajah istrinya dan kembali menyambar bibirnya dengan menciumnya, mencecap rasa manis yang selalu dia rasakan saat menyapa bibir istrinya itu, dan satu tangannya berusaha menahan tengkuk istrinya guna memperdalam ciumannya. Ciuman yang lembut, tetapi juga sedikit kasar, ciuman yang dalam, tetapi juga ciuman yang membuat hati keduanya sama-sama membuncah. Ciuman yang membuat keduanya sama-sama menyalurkan rasa cinta, rasa syukur, dan rasa memiliki satu sama lain. Tidak akan membiarkan waktu berlalu tanpa saling memuja dan membuai melalui bibir dan indera pengecapnya.

__ADS_1


Selalu ada hati yang seolah meletup-letup saat kedua bibir itu bertemu dan melulu ada sel-sel sensorik dalam tubuhnya yang seolah bereaksi setiap kali mereka saling menyapa dan membuai dalam kecupan dan belitan lidah keduanya.


__ADS_2