Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Permintaan Talak


__ADS_3

Khaira telah memasuki kamarnya, di atas sajadahnya ia bersujud memohon ampun dan memohon kekuatan kepada Sang Ilahi. Hanya Allah lah tempatnya bermunajat. Air mata sedari tadi menetes dari pelupuk matanya. Hampir setiap hari ia datang dalam sembah dan sujud, hatinya merasakan kelegaan dan kenyamanan. Beban berat yang berada di pundaknya seolah-olah hilang begitu saja.


Puas berkeluh kesah kepada Sang Pemilik hidup, Khaira duduk di meja belajarnya. Ia membuka buku-buku dan laptopnya. Targetnya untuk wisuda di akhir semester ini harus ia kejar semaksimal mungkin. Sekalipun ia harus jatuh bangun.


Khaira tidak lagi menghiraukan bagaimana suaminya uring-uringan dengan emosi yang siap meledak kapan saja. Bagi Khaira, semua ada waktunya. Ada waktu berduka, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk berdiam, ada waktu untuk berkata. Seperti saat ini, Khaira memilih fokus dengan skripsinya. Semakin menunda-nunda justru akan memperberat langkahnya.


Sekalipun kakinya kesakitan dan matanya sembab, namun Khaira tetap berusaha untuk mengerjakan proposal skripsi nya.


Di tengah-tengah kesibukannya mengerjakan proposal skripsi nya, Khaira merasakan tenggorakannya kering. Ia ingin minum, tapi takut bila Radit masih berada di ruang tamu. Terlebih kakinya yang terkilir, akan membuatnya kesusahan untuk menuruni dan menaiki anak tangga.


Namun, Khaira mencoba membuka pintu kamarnya pelan-pelan, ia menengok ke kanan dan kiri, rumah itu nampak sepi. Maka, dengan pelan-pelan menuruni anak tangga dengan membawa kruk untuk kakinya, Khaira turun mengambil air minum ke dapur. Dengan segera ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih hingga penuh.


Satu gelas air putih ia minum sampai habis.


Gleeekkkkk.....


Tenggorokannya tidak kering lagi. Rasa dahaganya pun telah hilang.


Puas meminum air putih, Khaira mengisi botol air minumnya dengan air putih sehingga ia tidak perlu naik turun tangga di saat kakinya sedang sakit, dan tentunya juga menghindari Radit.


Botol air minum yang dibawanya telah terisi dengan air sampai penuh. Khaira membalikkan badannya, hendak kembali menaiki anak tangga dan masuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti lantaran Radit berada tepat di depannya, saat Khaira membalikkan badannya.


"Astaga. Ngagetin aja sih. Minggir, aku mau lewat." ucap Khaira ketus.


Namun, yang disuruh minggir justru berjalan semakin mendekat ke arah Khaira. Radit maju satu langkah, hingga sekarang posisinya sangat dekat dan berhadap-hadapan dengan Khaira.


"Minggir. Aku mau lewat." kali ini Khaira berkata dengan suara yang penuh penekanan meminta suaminya untuk minggir.


Rupanya kata-kata Khaira sama sekali tak hiraukan oleh Radit, ia semakin mendekat hingga hembusan nafasnya mampu menyapu wajah Khaira.


Dalam sekejap, Radit menyambar bibir ranum nan tipis milik Khaira, menciumnya dengan kasar, menerobos masuk ke dalam mulutnya. Membuat Khaira reflek hingga botol air minum yang dipegangnya terjatuh.

__ADS_1


Kaget dengan serangan mendadak suaminya, membuat Khaira memberontak. Ia memukul-mukul dada Radit dengan keduanya tangannya. Namun, Radit tak menghiraukannya, ia justru semakin mencium, mencecap, memagut, bahkan menggigit sudut bibir Khaira.


Usaha memberontak Khaira pun sia-sia, ia menangis hingga air matanya berjatuhan membasahi wajahnya. Semua itu tak dihiraukan Radit. Barulah Radit berhenti ketika ia merasakan rasa yang aneh saat mencecap bibir Khaira.


Darah!


Sudut bibir bawah Khaira berdarah.


Radit langsung menghentikan aksi nekatnya, ia memegang kedua bahu Khaira. Sementara, usai bibirnya terlepas dari jeratan mulut harimau milik suaminya, Khaira langsung menangis terisak-isak. Rasa sakit, rasa tak dihargai, dan rasa benci tumbuh menjadi satu di dalam hatinya.


Radit pun berlalu meninggalkan Khaira yang masih menangis di dapur. Gadis itu melorot ke bawah hingga duduk di atas lantai. Ciuman buas dan penuh paksaan dari Radit justru semakin membuat hati Khaira terasa sesak.


Derai air mata terus mengalir membasahi wajah ayunya, bibir bawahnya bengkak dan berdarah.


Sekian menit berlalu, Radit pun kembali dengan membawa kotak P3K di tangannya. Pria itu berjongkok di depan Khaira, mengelap sudut bibir istrinya yang berdarah dengan menggunakan kapas. Ia mengambil sebuah cotton bud dan memberikan sedikit salep di sana, dengan perlahan ia mengoleskan ujung cotton bud yang telah diolesi salep itu ke sudut bibir Khaira yang berdarah.


"Mas... Talak aku saja mas... Daripada kita membangun pernikahan tanpa cinta dan justru sama-sama menyakiti dan tersakiti. Talak aku... Ceraikan aku... Berbahagialah dengan wanita yang kamu cintai."


Bibir Khaira bergetar mengucapkan perkataannya tersebut. Pernikahan tanpa cinta yang ia jalani baru hitungan minggu, nyatanya justru menyakitkan. Tak ada kebahagiaan di dalamnya, ia merasa hanya ia lah yang tersakiti di dalam rumah ini.


"Jangan meminta yang aneh-aneh. Sampai kapan pun kita gak akan bercerai. Kata "talak" gak akan pernah keluar dari mulutku. Kamu ingat itu baik-baik."


"Lalu, kenapa kamu selalu menyakitiku? Ini bukan rumah tangga, mas. Dan, pernikahan ini gak akan bertahan karena kita berdua sama-sama tidak saling mencintai. Daripada keadaan semakin runyam, lebih baik kita sudahi sampai di sini."


"Terserah apa pun perkataanmu yang pasti pernikahan ini akan tetap berjalan dengan atau tanpa cinta. Jangan aneh-aneh! Jangan mencoba kabur juga dari sini."


Perkataan Radit justru terdengar seperti ancaman di telinga Khaira, gadis itu justru semakin menangis. Sementara, Radit berdiri dari posisinya yang semula berjongkok.


Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Khaira.


"Ayo, aku antar kamu ke kamar." Ucap Radit sambil tangannya masih terulur ke hadapan Khaira.

__ADS_1


Khaira justru membuang mukanya.


"Gak perlu, aku bisa sendiri." sahut Khaira.


"Jangan keras kepala. Kakimu sakit, aku tahu itu. Ayo, berdiri."


Khaira membuang nafasnya, mengapa suaminya yang semula menakutkan seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya, kini tiba-tiba menjadi sedikit lebih perhatian.


Radit masih berdiri dengan tangannya yang terulur, tapi Khaira masih saja duduk di lantai.


Melihat Khaira yang sama sekali tidak merespons, akhirnya Radit kembali berjongkok, ia memegang kedua bahu Khaira.


"Ayo berdiri." ucapnya memerintah.


Akhirnya Khaira meraih botol air minumnya yang semula terjatuh, ia meraih botol itu dengan tangannya, lalu berdiri. Tidak lupa satu tangannya meraih kruk yang berdiri di dekat lemari es.


Radit pun menyambar kruk Khaira dan botol air minum dari tangan Khaira, pria itu mengalungkan tangannya ke bahu Khaira.


"Ya Tuhan perasaan apa ini, menit yang lalu aku sangat ketakutan, kenapa sekarang justru seperti ini ya Tuhan." Gumam Khaira dalam hati.


"Ayo, jalan. Pelan-pelan."


Radit pun memapah Khaira berjalan, menaiki anak tangga hingga sampai ke depan pintu kamarnya.


"Sudah, sampai sini saja. Aku bisa sendiri." ucap Khaira ketus, ia enggan suaminya itu memasuki kamar tidurnya.


Radit justru tidak menghiraukan perkataan Khaira. Tangannya membuka daun pintu, lalu masih memapah Khaira berjalan memasuki kamarnya.


Kamar tidur yang rapi dan bersih, dengan berbagai buku dan laptop yang masih menyala di meja belajar. Mata Radit nampak memperhatikan sekeliling di dalam kamar istrinya yang tak pernah ia masuki sebelumnya. Sapuan matanya berhenti, saat ia melihat sebuah foto pernikahan mereka tergantung indah di dinding dan figura kolase foto pernikahan yang duduk dengan indah di atas nakas di sisi tempat tidur Khaira.


Deg!

__ADS_1


Usai melihat foto-foto pernikahan itu, Radit sedikit melirik Khaira, sembari membantu Khaira duduk di meja belajar.


"Istirahat. Sudah malam." Ucap Radit sembari ia pergi dari kamar tidur Khaira dan menutup pintunya.


__ADS_2