Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kembali Lagi Bekerja


__ADS_3

Menjadi ibu adalah pengalaman yang mengubah hidup seorang wanita. Pun demikian yang dirasakan oleh Khaira. Sejak mengambil cuti melahirkan, melahirkan, dan mengasuh Arsyila banyak hal baru yang dipelajari oleh Mama muda itu.


Dahulu Khaira merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri, merasa tidak bisa mengasuh anaknya, karena tidak memiliki pengalaman. Akan tetapi, kini Khaira telah belajar dan dia benar-benar menikmati perannya sebagai seorang Mama bagi Arsyila.


Sepanjang hari berada di rumah bersama Arsyila, melihat sendiri bagaiamana buah hatinya tumbuh dan berkembang benar-benar membuat Khaira bahagia. Sayangnya, waktu yang Khaira miliki hampir usai. Cuti melahirkan yang kampusnya berikan hanya tiga bulan. Dan kini, dia harus kembali lagi ke kampus untuk mengajar mahasiswanya.


Bersyukurnya Khaira hanya mengajar satu hari saja, dua mata kuliah yang semuanya dijadwalkan pada setiap hari Kamis.


"Besok jadi ngajar ke kampus Sayang?" tanya Radit yang tengah menggendong Arsyila.


Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya, besok pertama kali ngajar setelah cuti melahirkan." jawabnya.


"Ya dipersiapkan baik-baik materi ajarnya. Jangan sampai ada yang terlewat. Besok Arsyila gimana Sayang?" tanya Radit kepada istrinya itu.


"Besok aku nitipkan Arsyila ke rumah Neneknya kok Mas. Tiap Kamis, aku titipkan Arsyila ke rumah Nenek atau Eyangnya." jawab Khaira.


Radit nampak menganggukkan kepala. "Oke. Yang penting ASIP nya jangan lupa Sayang. Sama perlu aku bantuin masukin keperluan Arsyila di tas enggak?" tawarnya yang ingin membantu Khaira.


"Euhm, boleh deh Mas ... kamu bisa?" tanya Khaira seolah tidak yakin dengan suaminya.


Radit mengerlingkan matanya kepada istrinya. "Kamu bilang aja mau ambilin apa, nanti aku siapkan dan tata ke dalam tas. Papa udah pinter, Ma..." akunya dengan perasaan bangga.


Perlahan Radit mulai menidurkan Arsyila di tempat tidur yang berada di sebelah tempat tidurnya. Pria itu kemudian membuka pintu connecting room, mengambil tas dari sana.


"Apa saja Sayang?" tanyanya dengan suara perlahan sehingga tidak akan membangunkan Arsyila.


"Pakaian dua setel, diapers, tissue basah, tissue kering, sabun mandi yang botol kecil, minyak telon." Khaira mengatakan satu per satu barang yang harus disiapkan suaminya itu.

__ADS_1


"Pa ... Botol dodotnya jangan lupa ya, besok buat minum ASIP." tambahnya memberitahu suaminya.


Kurang lebih 15 menit, semua barang itu sudah berada di dalam tas.


"Nih ... dicek dulu Sayang. Ada yang ketinggalan enggak? Supaya enggak perlu bolak-balik." tanyanya sembari masih mengamati berbagai barang yang dibutuhkan Arsyila.


Khaira pun meninggalkan sejenak laptopnya dan mengecek tas yang sudah dipersiapkan suaminya. Pelan-pelan dia melihat semua barang yang sudah dimasukkan ke dalam tas. Akhirnya Khaira pun tersenyum lega.


"Juara loh Papa ini ... semuanya bener. Udah lengkap. Makasih ya Papa...." ucapnya sembari mengangkat satu ibu jari nya ke arah suaminya.


"Aku bisa kamu andalkan Sayang ... untuk hal apapun." sahutnya dengan senyum bahagia.


***


Keesokan harinya, Khaira bersiap untuk mengajar dan juga dia akan menitipkan terlebih dahulu Arsyila ke rumah orang tuanya. Saat jam makan siang, Radit pulang ke rumah untuk menjemput istrinya kemudian mengantarkannya untuk mengajar.


Khaira pun mengangguk. "Iya, sudah semua. Eh, tapi tambah ini Mas...." Khaira menyerahkan lagi satu tas yang bertulis Gabag itu.


"Apa itu Sayang?" tanya Radit penasaran.


"Tas isinya pumping dan kantong ASIP, Mas. Takut aja kalau 'ini' penuh, jadi nanti kalau sempet aku mau pumping." jawabnya.


Sementara Radit segera memelototkan matanya. "Jangan pumping sembarang Sayang ... bahaya. Aku enggak mau punya kamu terekspose." jawabnya terdengar begitu posesif.


"Tenang aja Papa ... aku bawa cuma buat jaga-jaga kok. Kalau enggak nanti sore aku bisa pumping dulu di rumah Bunda kan baru pulang." jawab Khaira dengan santai dan terdengar memberi pengertian kepada suaminya.


Akhirnya mereka bertiga segera memasuki mobil. Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka terlebih dahulu menitipkan Arsyila di rumah Neneknya, setelahnya mengantar Khaira yang kembali ke kampus untuk mengajar.

__ADS_1


Begitu telah sampai di kampus, Khaira segera mengajar memberikan bahan ajar untuk mahasiswa tingkat awal mengenai Teknologi Pembelajaran, dan mahasiswa tingkat tiga mengenai Pengembangan Belajar Online atau e-Learning.


Hampir setengah hari berlalu, dan Khaira masih menikmati saat-saat mengajar mahasiswanya. Kembali mengajar setelah hiatus tiga bulan, seolah me-recharge kembali passion-nya dalam mengajar.


Begitu jam mengajar telah usai, Khaira dengan segera keluar dari gedung fakultas dan menunggu suaminya yang menjemputnya.


Namun lagi-lagi kali ini harus bertemu dengan Tama. Jujur saja setelah peristiwa beberapa bulan lalu saat Tama memojokkan Radit, Khaira seolah enggan untuk berhubungan baik dengan Tama. Melihat Tama yang tengah berjalan memasuki gedung fakultas, Khaira justru berusaha mengalihkan pandangannya supaya tidak bertatapan dengan Tama.


Sayangnya, tidak bisa dihindari. Tama justru menyapa Khaira.


"Khai, apa kabar?" sapa pria itu saat berpapasan dengan Khaira.


Sementara Khaira mau tidak mau menghentikan langkah kakinya. "Aku baik. Mau kuliah?" tanya Khaira yang hanya sebatas formalitas.


Tama pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... ada kuliah sore ini."


"Oke, baiklah. Gue duluan, Tam...." ucap Khaira yang tidak ingin berlana-lama berhadapan dengan Tama.


Saat Khaira mulai melangkahkan kakinya, Tama justru kembali memanggil namanya.


"Khai, gue minta maaf ya kalau beberapa bulan yang lalu gue sempet bicara yang enggak-enggak tentang suami lo. Gue cuma pengen lo mendapatkan pria yang terbaik, Khai. Pria yang layak mendampingi lo. Sorry, saat itu gue emang salah." Akunya dengan wajah yang nampak bersalah.


Khaira hanya mencoba mendengarkan setiap perkataan Tama. "Tidak apa-apa, Tam ... lupakan saja semuanya. Karena, bagi gue sekarang semua masa lalu itu tidaklah penting. Mas Radit sudah membuktikan dirinya bahwa dia layak dan pantas mendampingi gue. Baiklah Tam, gue pamit ya."


Khaira pun bernapas lega. Semoga saja Tama benar-benar tidak mencari masalah dengannya. Sehingga jika berpapasan di kampus, Khaira tidak perlu sungkan atau merasa tidak enak hati saat bertemu dengan temannya itu.


Sembari menunggu, Khaira memilih berdiri di depan halte fakultas dan berharap suaminya akan segera datang menjemputnya. Dia sudah ingin pulang untuk menjemput Arsyila, terlebih sumber ASI nya juga sudah penuh karena setengah hari tidak diminum langsung oleh Arsyila. Alhasil, pumping yang dia bawa pun tidak digunakan karena sepanjang waktu Khaira benar-benar full mengajar.

__ADS_1


Seketika Khaira nampak panik karena kemeja yang dia kenakan nampak basah, dengan menutupi kemejanya di bagian dada, dengan tas gabagnya Khaira berharap suaminya akan segera datang untuk menjemputnya.


__ADS_2