Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Terjebak Romansa


__ADS_3

Sepanjang hari benar-benar dimanfaatkan Radit dan Khaira untuk berjalan-jalan di Kota Tua. Keduanya seakan menikmati kencan berdua. Kehamilan Khaira juga termasuk hamil sangat sehat, dia sama sekali tidak mengalami mual dan muntah. Semua aktivitas harian bisa Khaira kerjakan sendiri tanpa bantuan ART di rumah, bahkan ia masih mengajar pula.


Yang berubah adalah ia begitu suka menempel dengan suaminya. Radit pun juga tidak keberatan bila istrinya menempel sepanjang hari. Seperti saat ini di Kota Tua, si Bumil seolah tidak merasa kecapean. Padahal mereka sudah berjalan-jalan mengunjungi beberapa Museum, tetapi si Bumil nyatanya tidak mengeluh sama sekali.


"Capek enggak Sayang? Ini sudah sore. Sudah seharian kita berada di sini. Mau pulang enggak?" tanya Radit kepada istrinya itu.


Melihat wajah suaminya yang sudah nampak kelelahan, Khaira pun akhirnya memilih pulang. Suaminya masih harus mengendarai sepeda motornya tentu akan membuat suaminya kecapekan. Sebelum hari berganti menjadi malam, dan kemungkinan saja hujan bisa turun tanpa diprediksi.


"Ya udah, pulang aja yuk Mas." ajak Khaira.


Tanpa menunggu waktu lama, keduanya kembali berjalan menuju tempat parkir sepeda motor.


"Kamu jangan capek-capek Sayang, kasihan adek juga loh." ucapnya seraya mengelus perut istrinya itu.


"Enggak capek kok Mas, kalau capek pasti aku bilang kok." jawabnya sembari terus berjalan mengikuti langkah kaki suaminya.


Begitu mereka sudah sampai di tempat parkir sepeda motor, Radit segera mengambilkan motornya. Kemudian ia memakai helm lebih dulu bagi istrinya, barulah ia menstarter sepeda motornya. "Naiknya pelan-pelan ya Sayang." ucap Radit yang memperingatkan Khaira.


Setelah posisi duduk istrinya sudah nyaman, Radit segera menjalankan sepeda motornya. Perlahan ia mengemudikan dengan tangannya. Akan tetapi, saat perjalanan hampir sampai ke rumah mereka justru terjadi hujan sedang.


"Yah, hujan Sayang. Mau berteduh dulu?" ucap Radit sembari sedikit berteriak kepada Khaira yang duduk di belakangnya.

__ADS_1


"Nanggung Mas, sudah tinggal satu belokan nyampe rumah. Lanjut aja." sahut Khaira.


"Yakin, hujan-hujan nih? Kamu gak papa?" tanyanya masih berusaha mempertanyakan kondisi Khaira yang tengah hamil.


"Iya Mas, lanjut aja. Seru kali Mas, hujan-hujan naik sepeda motor. Kayak di film-film ya." seru Khaira yang justru semakin berpegangan erat di pinggang suaminya.


"Terjebak romansa kamu itu, Yang..." ucap Radit sembari terus melajukan motornya kali ini dengan kecepatan agak cepat lantaran hujan.


"Asal terjebak romansanya sama kamu, aku mau kok Mas." jawaban spontan dari Khaira justru membuat Radit senyum-senyum sendiri sembari melajukan motornya. Pria itu tak menyangka istrinya akan membalas ucapannya dengan ucapan gombalan.


Tidak berselang lama, mereka telah sampai di rumah walau pun kebasahan, tidak sampe kuyub. Kendati demikian, keduanya tetap sama-sama bahagia.


"Hati-hati Sayang, kakimu basah. Kaki basah kena lantai takut licin. Aku gendong aja ya ke atas." ucap Radit dengan langsung membopong istrinya menaiki lantai dua menuju ke kamarnya.


"Dah sampai, udah aman sekarang Bumil dan Debaynya." ucap Radit lega begitu bisa menurunkan istrinya hingga di dalam kamarnya.


"Makasih ya Papa udah perhatian pada kami berdua." Khaira sedikit berjinjit, lalu mendaratkan sun sayang di pipi suaminya.


Radit tersenyum sembari mengacak gemas kepala Khaira. "Sama-sama, kalian berdua prioritas aku. Aku akan menjaga kamu dan buah hati kita." ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Khaira kemudian masuk ke kamar mandi, mengambil satu handuk kecil dari sana lalu mengeringkan rambut suaminya yang cukup basah lantaran terkena ujan. "Dan, kamu juga prioritasku dan si Kecil, Mas. Dikeringin dulu kepalanya biar enggak pusing ya ... abis ini mandi biar seger, biar enggak masuk angin juga." ucap Khaira sembari fokus mengacak-acak rambut suaminya dengan handuk kecil.

__ADS_1


"Nah sudah, sekarang mandi duluan aja Mas. Giliran mandinya." ucap Khaira sembari mendorong punggung suaminya menuju kamar mandi.


Radit hanya tertawa, didorong punggungnya oleh istrinya. Saat ia sudah berada di kamar mandi, justru ia sedikit berbalik dan menarik tangan Khaira.


"Barengan aja mandinya Sayang. Kamu kan juga kebasahan. Nanti malahan masuk angin."


Khaira memasang wajah cemberut. "Enggak mau, kalau mandi barengan malahan jadi gak mandi kok. Dimodusin aja...."


Radit justru terbahak mendengar perkataan Khaira. "Enggak, kali ini beneran deh cuma mandi aja enggak lebih. Aku tahu kamu juga pasti kecapean udah jalan-jalan seharian. Kita masih banyak waktu berdua Sayang." ucapnya sembari mencubit hidung istrinya.


Akhirnya keduanya benar-benar sekadar mandi bersama untuk menghindari terjadinya masuk angin lantaran mereka usai hujan-hujanan ketika pulang dari Kota Tua.


Usai mandi, Khaira terlebih dahulu turun ke dapur untuk menghangatkan sayur yang sudah ia masak pagi tadi. Tidak lupa membuatkan secangkir teh jahe hangat untuk suaminya supaya lebih hangat lantaran usai kehujanan.


Begitu Radit telah duduk di meja makan, ia segera menyerahkan secangkir teh jahe hangat itu untuk suaminya. "Teh jahe Mas, biar hangat dan enggak masuk angin. Tadi kan abis hujan-hujan." ucap Khaira.


"Makasih Mama, perhatian banget sih." ucap Radit sembari menerima teh jahe yang masih panas itu. "Kalau diperhatiin gini, tambah cinta deh." rayunya sembari mengangkat satu alis matanya.


Khaira hanya tersenyum menatap suaminya itu. "Sekarang kita makan ya Mas, mau nasinya seberapa? Aku ambilin." ucapnya dengan tangan yang sudah siap mengisikan satu centong nasi ke atas piring suaminya itu.


"Dikit aja Sayang, tadi udah kekenyangan Kerak Telor." balasnya sembari kedua tangannya mengangkat piringnya menerima nasi yang diambilkan istrinya. "Udah, ini nasinya sudah cukup. Makasih ya Sayang."

__ADS_1


Setelahnya keduanya menikmati makan malam sambil mengobrol bersama, makan pun terasa begitu cepat lantaran dinikmati obrolan keduanya. Bukan hanya sendok dan garpu yang berdenting, obrolan dan tawa riuh dari keduanya membuat makan terasa lebih enak dan lebih cepat habis.


Sejatinya begitulah kehidupan berumah tangga. Obrolan antar suami dan istri adalah salah satu cara untuk selalu bounding dengan pasangan kita. Obrolan membangun kehangatan suami dan istri. Itulah yang selalu Radit dan Khaira lakukan, menjaga kehangatan berumah tangga dengan obrolan.


__ADS_2