Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kebaikan Seorang Suami


__ADS_3

Selama Khaira harus bedrest, Radit benar-benar memindahkan pekerjaannya di rumah. Itu semua bukan tanpa sebab, pekerjaan dan juga laporan keuangan yang biasa dikerjakannya bisa dikerjakan dari rumah. Rekan sekerjanya pun bisa langsung menghubunginya jika ada hal-hal yang urgent. Sehingga handphonenya harus terus menyala dan terpasang nada bunyi, sehingga setiap pesan atau panggilan yang masuk dari rekan-rekan kerjanya, bisa langsung dikerjakannya.


Sementara itu, untuk urusan dapur, kini sudah ada Bi Tinah yang membantu mereka. Kendati demikian, Bi Tinah memiliki datang saat pagi, dan pulang saat sore. Sementara ruang bermain Arsyilla dipindahkan dahulu di kamar Khaira.


Melihat Mamanya yang biasanya bisa beraktivitas ini itu dan sangat aktif di rumah, sekarang hanya berbaring di tempat tidur membuat Arsyilla pun bertanya-tanya.


“Mama, perutnya masih sakit ya Ma?” tanyanya sembari menunjuk perut Mamanya.


Mendengar pertanyaan dari Arsyilla, Khaira pun mengangguk, “Iya Sayang … perut Mama agak sakit. Dokter Indri kemarin bilang Mama disuruh istirahat dulu Sayang. Maaf ya, Mama belum bisa menemani Syilla bermain, kalau mau baca buku sama Mama bisa kok. Bawa buku Syilla kemari, kita baca sama-sama Sayang.” ucap Khaira yang memberikan penjelasan kepada putrinya itu.


Tanpa banyak bicara, Syilla kemudian berlari, mengambil sebuah buku dari kamarnya dan memberikannya kepada Khaira, “Baca buku ini bersama-sama ya Ma … Mama baca halaman ini, Syilla yang halaman ini.” Arsyilla begitu senang dan juga mulai mengajak Mamanya itu untuk membaca buku bersama.


Setidaknya, walaupun aktivitasnya terbatas, tetapi Khaira tetap bisa selalu ada buat Arsyilla. Sekalipun tidak bisa menemani bermain seperti hari-hari biasanya, tetapi jika untuk membaca buku, atau menemani yang membuatnya tidak harus turun dari tempat tidur akan tetap Khaira lakukan. Dengan demikian, Arsyilla tetap tidak akan terabaikan. Mamanya ada, hanya saja sekarang belum bisa menemaninya dalam permainan aktivitas fisik seperti biasanya.


Mama dan anak itu menghabiskan waktu dari siang hari dengan membaca buku bersama, bahkan jika Arsyilla meminta Khaira untuk menyuapinya makan, maka Khaira tetap bisa menyuapi Arsyilla, sekalipun tempat makan harus dipindahkan di tempat tidur. Setidaknya semua itu bisa mengakomodir apa yang Arsyilla mau.


“Kamu enggak istirahat Sayang?” tanya Radit begitu Arsyilla sedang tidur siang.


“Ini berbaring terus apa bukan istirahat sih Mas?” tanya kepada sang suami.


Pria itu menggeleng, “Sejak tadi kamu bermain sama Syilla loh, aku aja dengar kamu tadi gantian baca buku dan juga menyanyi-nyanyi, sampai suapin Arsyilla juga.” ucapnya yang mendengar setiap perkataan istri dan anaknya itu.

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi Mas, Syilla kan ya butuh Mamanya. Jangan sampai karena hamil dan aku baru kayak gini, justru mengabaikan dia. Sekalipun anak belum bisa bicara, tetapi mereka tahu Mas. Jadi, enggak apa-apa kok. Kan ya aku enggak turun dari tempat tidur.” ucapnya sembari menatap wajah suaminya itu.


“Masih flek?” tanya Radit kepada istrinya itu.


“Masih keluar sedikit.” jawabnya dengan singkat.


Khaira sangat tahu, pasti suaminya itu akan bertambah khawatir saat mengetahui dirinya masih flek. Kendati demikian, kurang lebih 3 hari belakangan dia sudah benar-benar beraktivitas hanya dari tempat tidur. Rasanya dirinya ingin beraktivitas, berjalan kesana kemari, tetapi mengingat darah yang masih keluar walaupun hanya tipis, jadi tetap mengikuti saran Dokter lebih baik.


“Tuh masih keluar kan. Ini sudah tiga hari loh Sayang … kalau dari waktu 7 hari, kamu tidak sembuh harus dirawat di Rumah Sakit loh ya.” kembali dia memperingatkan mengenai perkataan Dokter Indri sebelumnya bahwa jika sampai waktu 7 hari, dan masih mengeluarkan flek maka Khaira harus mau dirawat di Rumah Sakit.


Wanita itu pun mengangguk, “Iya Mas … kan ya aku udah nurut loh ini. Kurang apa lagi coba?”


“Ya sudah nurut Sayang, tetapi ya jangan kecapean juga. Jangan banyak pikiran juga. Selalu beri afirmasi positif ke babynya. Sekarang makan ya, aku suapin. Kamu pasti belum sempat makan karena sejak tadi ngasuh Syilla.” ucap pria itu sembari mengangkat piring berisi makan siang milik Khaira yang belum tersentuh.


Selang 10 menit, kemudian pria itu mengambil beberapa obat dan vitamin, tidak lupa obat untuk menguatkan janin yang diberikan oleh Dokter Indri juga disertakan oleh pria itu. “Sekarang minum obat dulu ya, sambil berdoa semoga kamunya cepat sembuh.” ucap Radit sembari duduk di tepi tempat tidur tepat di hadapan istrinya itu.


Seolah matanya sendiri yang mengawasi setiap obat yang diminum istrinya dan memastikan bahwa semuanya tidak ada yang terlewatkan.


“Bagus … sekarang istirahat lagi ya. Atau kalau butuh apa-apa panggil aku aja Sayang. Jangan sungkan, kan ya kita sudah hidup bersama sekian lama masih ya masih sungkan sih.” ucap pria itu sembari mengusap dengan lembut puncak kepala istrinya itu.


Setelah semua hal yang berkaitan dengan istrinya selesai, Radit lantas membawa laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya di samping Khaira. Terkadang satu tangannya mengusap perut istrinya, mengusap puncak kepala istrinya, atau terkadang pria itu tersenyum dan menatap wajah Khaira.

__ADS_1


Beberapa saat Khaira yang bersandar di head board, kemudian dia berusaha menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Melihat pergerakan istrinya, Radit pun menaruh laptopnya di atas tempat tidur, “Mau ngapain Sayang?” tanyanya dengan sorot mata yang keliatan curiga.


“Mau ke kamar mandi, Mas …” jawwabnya dengan tersenyum malu.


Pria itu segera berdiri, “Jangan jalan sendiri Sayang … yuk, aku gendong ke kamar mandi. Aku tungguin ya.” ucap pria itu dengan penuh semangat.


Sementara Khaira justru menggelengkan kepalanya, “Eh, jangan Mas … malu.” sergahnya yang memang malu jika sampai urusan ke kamar mandi saja harus ditungguin suaminya.


“Kenapa juga malu loh, sama suami sendiri juga. Aku sudah lihat semuanya juga. Gitu aja masih malu sih.” ucap pria itu dengan cepat membopong istrinya.


Khaira pun lantas memekik dan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu. Menatap wajah suaminya dalam diam. Sebenarnya dia suka dengan suaminya yang begitu perhatian, tetapi terkadang dia justru merasa malu dan sungkan. Malu karena suaminya itu terlalu baik, dan sungkan jika justru merepotkan suaminya itu.


Begitu sudah sampai di kamar mandi, pria itu lantas bertanya, “Mau ngapain Sayang? Pipis? Atau lainnya?” tanyanya dengan begitu lembut.


“Turunin aku di sini saja, Mas … kamu keluar dulu saja. Malu loh aku.” sergahnya dengan meminta suaminya itu keluar terlebih dahulu dari kamar mandi.


Radit tampak menghela napasnya dan kemudian memilih untuk menunggu di luar pintu kamar mandi, “Ya sudah … aku tunggu di depan pintu, tetapi begitu selesai langsung panggil aku. Jangan sungkan-sungkan. Sama suami sendiri kok sungkan.” ucapnya kemudian keluar dari kamar mandi.


Beberapa menit, berada di kamar mandi, Khaira kemudian memanggil suaminya itu. “Mas … aku sudah selesai, Mas.” ucapnya memanggil suaminya itu.


Rupanya benar, di saat dia memanggil, di saat itu juga pintu kamar mandi terbuka, dan dengan cepat Radit kembali membopong tubuh istrinya yang sedang berbadan dua itu. Seolah sama sekali tidak keberatan jika harus membopong istrinya keluar masuk kamar mandi, kemudian dia juga menurunkan istrinya di atas tempat tidurnya dengan perlahan.

__ADS_1


“Masih ada yang dibutuhkan lagi?” tanyanya sebelum dia akan duduk sembari bekerja dengan laptopnya.


Dengan cepat Khaira pun menggeleng, “Enggak … makasih banget ya Mas, kamu suami yang sangat perhatian dan baik banget sama aku. I Love U, Mas Radit.” ucapnya dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa, setiap kali dia mengucapkan kata I Love U, terasa begitu malu. Padahal bukan hanya satu atau dua kali Khaira mengucapkan kalimat itu, tetapi tetap saja mengucapkan cinta membuat wajahnya merona-rona.


__ADS_2