Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Hancurnya Khaira


__ADS_3

Pertama kali dalam hidup Khaira merasakan menaiki mobil ambulance. Dirinya hancur melihat suaminya terbaring kesakitan. Bukannya Khaira baik-baik saja, dia sendiri juga mengalami sejumlah luka lantaran goresan aspal jalanan. Namun semua luka itu tidak ada rasanya. Hatinya jauh lebih sakit saat melihat suaminya berada di atas brankar dan kini di dorong menuju ruang perawatan. Air matanya berlinangan tidak kuasa melihat sang suami yang jatuh dan beberapa luka di tangan dan wajahnya, sementara kakinya belum nampak ada luka karena celana panjang yang membungkus kaki jenjang suaminya.


"Ibu tolong tunggu dulu di luar. Kami akan memeriksa kondisi pasien. Tolong lengkapi administrasinya terlebih dahulu, setelahnya Ibu bisa kembali menunggu di sini." ucap salah satu perawat yang menunjuk ruang administrasi dan Khaira dengan tertatih menuju tempat itu.


Salah perawat yang berjaga di administrasi menyodorkan beberapa formulir yang harus Khaira isi, juga beberapa pertanyaan terkait kecelakaan yang menimpa suaminya.


"Kenapa bisa terjadi kecelakaan?"


"Jam berapa?"


"Di mana tempat kejadian perkaranya?"


Layaknya investigasi dari pihak kepolisian. Dengan masih terisak, Khaira menjawab pertanyaan tersebut dengan tangan kanannya yang mengisi lembaran formulir itu.


Mata perawat itu nampak memperhatikan Khaira, matanya menatap pada beberapa luka di wajah dan di tangan Khaira. "Ibu juga mengalami luka, usai ini Ibu juga harus ditangani ya. Di kening dan tangan Ibu mengeluarkan darah." ucap perawat itu.


Khaira hanya mengangguk. "Baik...." Hanya kata itulah yang bisa Khaira ucapkan.


Kurang lebih lima belas menit, Khaira mengisi lembaran formulir dan menandatanganinya. Setelahnya dia kembali di depan ruangan tempat suaminya tengah ditangani.


Dalam hatinya, Khaira berdoa kiranya suaminya hanya cidera ringan. Tidak ada masalah yang serius. Khaira begitu ketakutan saat ini. Dengan tangan yang masih bergetar, Khaira menghubungi orang tua dan mertuanya memberitahu peristiwa yang mereka alami. Tidak lupa Khaira meminta tolong kepada Bundanya untuk membawakannya pakaian ganti dan pumping elektrik. Juga Khaira meminta tolong kepada supir Ayahnya untuk mengambilkan mobilnya yang masih berada di tempat hotel tempat pernikahan Metta dan Dimas digelar.


Kurangan lebih selang setengah jam, Bunda Dyah, Ayah Ammar, dan Ayah Wibi datang. Khaira langsung menghambur dalam pelukan Bundanya.

__ADS_1


"Kenapa bisa terjadi, Khai?" tanya Bunda Dyah dengan khawatir.


Khaira mencoba mengingat kembali kejadian barusan yang membuatnya dan suaminya terluka. "Tadi kami baru saja keluar dari hotel, menyeberangi jalan di depan hotel itu. Tidak tahu kenapa, ada sepeda motor cukup besar yang melaju kencang dan sepertinya lepas kendali. Sepeda motor itu mengenai Mas Radit. Khaira selamat karena sempat didorong Mas Radit. Khaira jatuh tersungkur, sementara Mas Radit terkena sepeda motor itu." cerita Khaira dengan berderai air mata.


Bunda Dyah memeluk putrinya itu dengan mengusap punggungnya. "Sabar ... Radit sedang ditangani. Semoga dia juga baik-baik saja. Kita berdoa buat Radit." ucap Bunda Dyah dengan lembut.


Setelahnya Khaira masih menangis. Air matanya seolah tak bisa terbendung lagi. Luka yang ada di tangan dan keningnya sama sekali tak menyakitinya. Fokusnya hanya pada suaminya saja sekarang ini.


Sama halnya dengan Khaira, Bunda Dyah, Ayah Ammar, dan Ayah Wibi juga cemas. Akan tetapi, melihat Khaira yang hancur dan cemas, mereka bertiga berusaha kuat dan menenangkan Khaira.


"Kamu ganti pakaian kamu dulu ya Khai ... Kebaya kamu sampai kena darah. Ini Bunda bawakan baju ganti. Cuci muka kamu dulu. Tenangin diri dan berdoa. InsyaAllah, Radit akan baik-baik saja." ucap Bunda Dyah.


Menurut. Khaira pergi sejenak ke dalam kamar mandi dan mengganti kebayanya dengan pakaian ganti yang dibawakan oleh Bundanya. Tidak lupa dia membasuh wajahnya dengan air. Khaira meringis kesakitan saat keningnya terluka dengan darah yang mulai mengering di sana.


Tidak perlu berlama-lama, Khaira segera keluar dari kamar mandi dan kembali menunggu di depan ruang perawatan suaminya.


"Arsyila di rumah sama Eyangnya ... gak mungkin semua ikut ke sini, Arsyila lebih baik di rumah." ucap Bunda Dyah.


Khaira pun mengangguk. "Maaf, kami malahan merepotkan Ayah dan Bunda."


Ayah Ammar menghela nafasnya. "Tidak merepotkan, Nak ... kami ini orang tuamu, keluargamu. Seperti inilah keluarga, jangan berpikir seperti itu. Sekarang yang penting kamu dan Radit pulih dulu."


Ayah Ammar lantas melihat luka di kening dan di tangan putrinya itu. Ayah Ammar yang semula duduk, kini mulai berdiri di hadapan Khaira. "Ayo Khai, kamu juga perlu diobati. Luka di kening kamu dan tangan kamu harus segera diobati juga. Ayah antar ke perawatan." ucapnya.

__ADS_1


Khaira menggeleng. "Khaira mau di sini menunggu Mas Radit, Yah ... Khaira gak bisa jauh-jauh dari Mas Radit."


Ayah Ammar pun mengalah. "Lukamu harus dibersihkan dulu supaya tidak infeksi." ucapnya.


"Nunggu Dokter selesai nanganin Mas Radit ya Yah...." pinta Khaira kepada Ayahnya.


Setelah menunggu, Dokter pun keluar. Mereka yang semula duduk begitu sigap untuk berdiri dan mendengar penjelasan dari Dokter.


"Keluarga pasien Raditya Wibisono...." sapa Dokter itu.


"Iya Dok ...." sahut mereka serempak.


"Pasien sudah ditangani. Tidak ada luka yang serius. Hanya saja ada cidera di kakinya yang terjadi akibat hantaman dari sepeda motor. Sehingga terjadi Fraktur Tertutup yaitu kondisi ketika tulang rusak, namun tidak menyebabkan luka sobek pada kulit serta fragmen tulangnya tidak menembus kulit, sehingga tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. Maka dari itu, gips sudah dipasang di kaki pasien. Paling tidak, pasien membutuhkan waktu minimal dua minggu dan maksimal satu bulan untuk sembuh. Setiap minggunya nanti juga perlu melakukan kontrol. Sekarang pasien masih belum sadar efek dari obat bius yang diberikan." penjelasan sang Dokter dengan panjang lebar.


Semuanya pun mengangguk mendengar penjelasan Dokter, kemudian Ayah Ammar pun sedikit maju.


"Dok, bisa obati anak saya juga. Dia juga korban kecelakaan bersama suaminya. Ada beberapa luka di kening dan tangannya." Ayah Ammar yang terlihat memperhatikan Khaira.


Dokter pun mengangguk. "Boleh... Mari ikuti saya."


Dengan mengikuti Dokter, Khaira juga mendapatkan perawatan untuk luka di kening dan tangannya yang sobek lantaran terjatuh di aspal. Tidak perlu waktu lama, Khaira telah kembali dengan sedikit perban di tangannya.


"Sudah Khai ... Gak papa. Sabar ya ... tetapi, siapa yang melakukan semua ini?" tanya Ayah Wibi kepada Khaira.

__ADS_1


Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Khaira tidak tahu, Ayah ... Kejadiannya begitu cepat. Khaira ketakutan jika terjadi apa-apa sama Mas Radit. Mas Radit mengalami patah tulang kaki karena menolong Khaira, Yah...." ucapnya dengan meneteskan air mata.


Ayah Wibi pun menepuk-nepuk pundak menantunya itu. "Tidak apa-apa. Seorang suami memang harus melindungi Istrinya. Tidak apa-apa. Radit akan sembuh. Dia adalah anak yang kuat."


__ADS_2