Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Setiap Momen Adalah Kamu


__ADS_3

Masa dua bulan telah berlalu, kian hari Khaira semakin menikmati waktunya untuk mengasuh Arsyilla dan Arshaka di rumah. Terlebih cuti yang dia miliki masih ada kurang lebih satu bulan. Sehingga setiap hari, full Khaira gunakan untuk mengasuh kedua anaknya. Sesekali Bunda Dyah dan Bunda Ranti juga datang bergantian untuk membantu mengasuh Arsyilla dan Arshaka.


“Ma, itu adiknya bangun Ma … mau minta ASI.” Arsyilla yang memanggil Khaira, memberitahukan bahwa adiknya sudah bangun dan sekarang menangis. Dalam pemikiran Arsyilla, bayi yang menangis itu pastilah meminta susu. Sehingga setiap kali Arshaka menangis, si Kakak akan memanggil mamanya dan mengatakan bahwa Shaka mau minum ASI.


Khaira pun tersenyum mendengar Arsyilla yang memanggilnya, “Siap Kak Syilla … yuk, kita ke kamar bersama-sama. Shaka menangis ya?” tanyanya kepada Arsyilla.


Arsyilla menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … Shaka menangis, mau mimik ASI.” jawabnya dengan begitu lucu dan menggemaskan.


Setelahnya Khaira segera menimang Arshaka dan mulai memberikan ASI untuk bayinya itu. Hingga bayi berusia 2 bulan itu segera tenang. Wajahnya terlihat begitu damai setiap kali mendapatkan sumber nutrisinya dari sang Mama.


“Tuh Ma … kalau udah dapat ASI, Shaka tidak menangis kan Ma.” ucap Arsyilla lagi. Rupanya Arsyilla diam-diam pun mengamati adiknya itu. Jika Arshaka menangis dan kemudian mendapatkan ASI, maka dengan cepat Arshaka akan diam dan tenang.


“Kamu tahu ya Sayang?” tanya Khaira kepada Arsyilla.


“Iya Ma … Syilla kan melihat adik, Ma.” jawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah, abis ini Kakak Syilla cuci tangan dan gosok gigi ya. Tidurnya sama Papa dulu ya. Nanti kalau Shaka sudah bobok, Mama susulin ke kamarnya Kak Syilla. Oke?” instruksi dari Khaira kepada putrinya itu.


Arsyilla pun segera berlari ke dalam kamar mandinya untuk mencuci tangan dan menggosok gigi. Setelahnya dia segera mencari Papanya yang akan membacakan dongeng dan menemaninya hingga dia terlelap. Sementara, Khaira masih memberikan ASI untuk Shaka.


Rupanya malam itu baik Arsyilla dan Arshaka sama-sama kooperatif. Sehingga begitu Arshaka sudah terlelap, Khaira memilih membersihkan badannya terlebih dahulu. Mengingat bahwa masa nifasnya sudah selesai, sehingga dia berpikiran untuk memberi kejutan untuk suaminya. Lagipula, selama 40 hari masa nifas, Radit juga tampak tenang dan menunggu dengan sabar. Sehingga saat Khaira memastikan bahwa sudah benar-benar bersih, dia berpikir tidak ada salahnya untuk memberi kejutan untuk suaminya itu.


Cepat-cepat mandi, kemudian Khaira mengenakan sebuah lingerie berwarna hitam yang dia tutupi dengan bathrobe. Setelahnya dia memakai body lotion dan tidak lupa menyemprotkan parfum. Maklum, terkadang selama menyusui Arshaka, bau badan Khaira itu terkadang bau minyak telon, parfum bayi, bahkan juga bau ASI. Kali ini, wanita itu agaknya benar-benar mempersiapkan sedemikian rupa untuk suaminya.


***


Malam ketika Arsyilla sudah tertidur, Radit pun memasuki kamar mereka dengan memasuki connecting room.


“Sayang, baru ngapain?” tanyanya melihat istrinya yang sedang duduk di depan cermin rias.


“Baru memakai serum ini aja Mas, biar awet muda. Maklum sekarang sudah menjadi ibu-ibu dua anak.” ucapnya dengan terkekeh melihat suaminya dari pantulan cermin itu.


Perlahan Radit menghampiri istrinya itu dan memegang kedua bahunya. “Kamu itu masih muda Sayang … belum ada 30 tahun juga. Masih cantik dan akan selalu cantik.” ucapnya.


Khaira pun tersenyum, “Kan aku usia 22 tahun menikah, sekarang belum genap 30 tahun sudah punya anak dua. Wanita itu kalau sudah punya anak bisa lebih cepat keliatan tua Mas, jadi harus dirawat.” sahutnya.


“Gak apa-apa Sayang … di mataku kamu tetap paling cantik kok.” ucapnya.

__ADS_1


Usai mengatakan itu, perlahan Radit menciumi puncak kepalanya istrinya yang saat itu setengah basah lantaran Khaira memang keramas malam itu. Akan tetapi, pria itu rupanya tidak berhenti di situ saja. Bibirnya justru mengecupi leher jenjang istrinya yang saat itu hanya mengenakan bathrobe.


“Harum banget sih Sayang … kamu bikin aku pengen.” ucapnya sembari masih menciumi sisi leher istrinya.


Sementara Khaira hanya diam dan membiarkan suaminya itu yang beberapa kali menciumi lehernya. Dalam hati ingin rasanya wanita itu tertawa, karena suaminya yang terang-terangan sudah menginginkan sesuatu.


“Kalau pengen … ya, ayo.” sahut Khaira. Wajah wanita itu sudah bersemu merah hanya karena berbicara seperti itu kepada suaminya.


Perlahan Radit menaruh dagunya di bahu istrinya itu, “Kamu sudah selesai?” pertanyaan yang tentu akan ditanyakan bagi semua pria yang istrinya baru saja selesai masa nifas.


“Sudah …” jawab Khaira dengan tersenyum.


Rupanya di sana Radit pun juga tersenyum, penantian selama lebih dari 40 hari akhirnya kini sudah saatnya untuk berbuka puasa. Dengan cepat pria itu membopong istrinya ke dalam ranjang mereka dan tidak lupa meredupkan lampu di kamar mereka. Kemudian dia segera mengungkung wanitanya itu. Bertumpu pada kedua sikunya.


Tidak perlu menunggu waktu lama karena Radit memang tengah dahaga, dia seperti kafilah yang menyusuri Gurun Sahara dan ingin segera mendapatkan oase yang menyejukkan tenggorokannya. Pria itu dengan segera menyapa bibir istrinya. Menciumnya dengan begitu dalam, menyesap kedua belah lipatan bibirnya, memagutnya perlahan, dan juga memberikan gigitan kecil yang membuatnya kian memperdalam ciumannya. Bibir semanis cotton candy dan kehangatan rongga mulut yang selalu dia rindukan seolah-olah dia lahap dengan habis dan seperti tidak ada bosannya untuk mencicipi manis dan hangatnya rasa itu.


Sejenak meninggalkan bibir istrinya, penjelajahan bibir pria itu turun pada leher jenjang istrinya. Ditambah dengan parfum yang sebelumnya disemprotkan oleh Khaira membuat pria itu dengan gairah yang tak mampu ditahan lagi mulai menyapu leher itu dengan lidahnya dan meninggalkan kecupan hangat dan basah di sana. Setiap apa yang pria itu lakukan nyatanya benar-benar membuat Khaira layaknya menghela napasnya dan menekuk sepuluh jari kakinya.


“Kamu harum banget sih Sayang … kamu sengaja goda aku ya?” tanyanya di sela-sela aktivitasnya yang masih mengecup leher istrinya itu.


Setelah itu seolah kedua tangan Khaira kembali menarik wajah suaminya, dan dia segera menyapa dengan begitu lembut bibir suaminya itu. Sama sekali wanita itu pun tidak mau menahan karena yang dia inginkan sekarang adalah sama-sama memuaskan dahaga.


Sembari mencium bibir istrinya, satu tangan pria itu menarik tali bathrobe yang dikenakan istrinya, betapa terkejutnya dia saat tangannya meraba di sana rupanya masih ada lapisan begitu tipis dan menempel di permukaan kulit istrinya. Perlahan pria itu menarik wajahnya, dia segera menghalau bathrobe itu dari tubuh istrinya dan membuangnya begitu saja. Untuk pertama kali, dia melihat istrinya mengenakan lingerie yang terbuat dari kain lace yang begitu tipis itu.


“Kamu cantik, Sayang …” pria itu berbicara dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Setengah duduk, Khaira justru menutupi area dadanya yang saat itu nyaris terbuka karena lingerie yang dia kenakan. “Sebenarnya, aku malu, Mas …” ucapnya.


Akan tetapi, dengan cepat Radit menyingkirkan kedua tangan istrinya itu pria itu mengamati pemandangan indah di hadapannya, kemudian kembali tersenyum.


“Jangan ditutupi. Kamu cantik.” usai mengatakan itu. Pria itu kembali mendorong istrinya untuk rebah dan mengukungnya.  Melepas kain lace berwarna hitam itu dengan asal. Ciuman dan sapuan bibir dia labuhkan di bibir dan leher istrinya, tangan sibuk meraba setiap inci epidermis kulit istrinya yang halus. Bahkan tangannya meremas salah satu buah persik yang begitu ranum di sana. Akan tetapi, Radit sangat ingat ketika istrinya dalam fase memberikan ASI maka dia tidak bisa bermain dengan area dada istrinya. Hingga akhirnya pria itu hanya sekadar mengecupnya sesaatnya, mengobati kerinduan dengan satu kecupan. Perlahan, dia terus turun, dan mulailah dia menginvansi inti tubuh istrinya. Menyapu inti tubuh istrinya dengan lidahnya. Sapuan lidah yang membuat Khaira meremas sprei di bawahnya.


“Mas …” ucap Khaira seolah suara di tenggorokannya begitu tercekat.


“Nikmati saja Sayang … jangan ditahan.” sahut Radit dengan terus memporak-porandakan inti tubuh istrinya itu. Hingga tidak membutuhkan waktu lama keluarlah cairan dari bawah sana.


Perlahan pria itu bangkit dan melepaskan pakaian yang dia kenakan, dia mengambil tempat di antara kedua kaki istrinya dan berusaha membuka paha istrinya, kemudian menyatukan dirinya perlahan. Menghujam perlahan, maju dan mundur dengan begitu berirama, dan kedua tangannya yang memegangi pinggang istrinya.

__ADS_1


“Astaga Sayang …” racaunya kali ini.


Kemudian dia merapatkan dirinya dengan istrinya, meraup bibir istrinya dan satu tangan yang membelai paha istrinya disertai dengan hujaman dan desakan yang kian lama justru terasa kian cepat, hingga tubuh keduanya sama-sama berpeluh. Beberapa kali Khaira menggigit pundak suaminya itu dan mengcengkeraman punggung suaminya.


“Ya Tuhan … Mas.” ucapnya dengan memejamkan kedua matanya.


Seolah membiarkan racauan dari wanita yang kini berada di bawahnya, Radit kian menggebu, dan melesakkan inti tubuhnya begitu dalam. Menghentak dalam satu hentakan yang begitu keras dan cepat, hingga akhirnya pria itu rubuh di atas tubuh istrinya. Dengan deru nafas keduanya yang begitu terengah-engah.


“I Love U, Khairaku Sayang …” ucapnya dengan masih mencerukkan kepalanya di dada istrinya dengan badan yang menegang dan peluh yang membasahi badannya.


“I Love U, Mas Radit.” balas Khaira di sisa-sisa napas yang dia miliki.


Saat deru napas mereka kian stabil, perlahan Radit mengangkat badannya, kemudian mencium bibir istrinya itu. “Makasih ya buat kejutannya. Tahu enggak Sayang? Setiap momen dalam hidup adalah kamu. You are special moment for me. I love U.” ucapnya.


Malam itu seolah menjadi malam yang panjang di mana sepasang suami istri sama-sama mereguk manisnya nektar cinta dan memuaskan dahaga keduanya. Bukan hanya sekali, tetapi hingga tiga kali keduanya sama-sama memuaskan hasrat dan gejolak yang keduanya rasakan.


***


Keesokan harinya, sekalipun badannya begitu remuk redam, tetapi Khaira tetap bangun dan memulai hari dengan memegang kedua anaknya. Akan tetapi, karena hari ini adalah weekend, maka ada Radit yang akan berbagi tugas untuk mengasuh anak dengan istrinya itu.


“Pa, abis ini di ruang bermain ya Pa …” ajak Arsyilla kepada Papanya.


“Iya …” jawab Radit yang menemani Arsyilla bermain di ruang bermain miliknya.


Sementara Khaira juga turut melihat keasyikan suaminya bersama Arsyilla yang begitu manis dan kompak saat bermain.


Setelah keduanya selesai bermain, Radit dan Arsyilla sama-sama menghampiri Khaira yang saat itu sedang memangku Arshaka.


“I Love U Mama …” ucap Radit dan Arsyilla bersamaan.


Khaira pun tersenyum, “I Love U too Syilla … I Love U too Papa.” jawabnya dengan tersenyum.


“Dengan memiliki kamu di sisiku dan juga Syilla dan Shaka, rasanya hidupku ini kian berwarna. Terima kasih sudah hadir di hidupku dan memberikan semua momen indah dalam hidupku. Aku cinta kamu Sayang. I Love U So Much.” ucap Radit sembari mencium pipi istrinya itu.


Khaira tersenyum mendengar ucapan dari suaminya itu, “ I Love U So Much Mas Radit. Kisah kita diawali dengan tanpa cinta. Terpisah jauh hingga lintas benua, tetapi Tuhan yang mempersatukan kita berdua. Dulu, kamu meminangkan tanpa cinta. Sekarang, kamu harus bertanggung jawab untuk menghujaniku dengan cinta di seumur hidupku. Seumur hidup kita. Aku juga cinta kamu, Mas Raditnya Khaira. I Love U More.”


-TAMAT-

__ADS_1


__ADS_2