
Wanita bernama Kanaya itu seketika mengerjap dan membuka lebar telinganya saat mendengar seorang gadis kecil yang tidak lain adalah anaknya Khaira itu menyebut tentang Kakak Aksara. Jantungnya berdegup begitu kencang, saat dia berjalan hendak mengejar Khaira beserta keluarganya yang sudah terlebih dahulu berjalan, sayangnya pria yang tidak lain adalah suaminya menghentikannya dengan satu tangan meraih pundaknya.
"Ada apa? Hmm. Kenapa kamu terlihat begitu panik? Kening kamu berkeringat dan sekarang tanganmu terasa begitu dingin?" tanya sang suami kepadanya.
Sontak Kanaya menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak apa-apa ... Kupikir, aku akan mendapatkan jejak Aksa."
...🌺🌺🌺...
Di sisi lain, Khaira bersama dengan Radit dan juga Arsyila tengah membeli beberapa cokelat yang hendak mereka jadikan buah tangan untuk Aksara dan juga Medina, putri dari Dimas dan Metta.
Di sebuah cokelat shop yang berada di kawasan Changi, Arsyila sibuk membeli beberapa cokelat. "Ma, Arsyila membeli banyak cokelat boleh?" tanyanya kepada sang Mama.
Khaira pun menghampiri Arsyila. "Beli secukupnya saja Sayang ... beli untuk Syila, Kakak Aksara, dan belikan juga untuk Medina ya. Berbagi untuk Kak Aksara dan Medina. Sharing is caring. Terlalu banyak memakan cokelat nanti bisa sakit gigi." ucap Khaira yang sedang memberi penjelasan kepada Arsyila.
"Oke Mama ... aku beli dua jenis untukku sendiri boleh?" tanyanya sembari memegangi dua buah varian cokelat yang berbeda.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Boleh Sayang ... jangan lupa belikan untuk Kak Aksara dan Medina juga ya. Di lain waktu, kita bagikan cokelat itu untuk Kak Aksara dan Medina ya."
"Iya Mama ... oke." Ucap Arsyila sembari memilih beberapa jenis cokelat lainnya untuk Kak Aksara dan juga Medina.
Radit tersenyum melihat interaksi istri dan anaknya, perlahan dia menghampiri istrinya. "Mama tidak pengen cokelat? Pilih saja Mama, nanti Papa yang bayar." ucapnya sembari melemparkan senyuman manisnya kepada Khaira.
Wajah merona lagi-lagi ditunjukkan Khaira kepada suaminya itu. "Makasih Papa... Nanti aku makan dikit aja punya Arsyila." ucapnya.
"Ambil saja Sayang ... cokelat katanya tanda cinta, kamu ambil saja yang kamu mau." lagi Radit melanjutkan supaya istrinya mengambil cokelat yang diinginkannya.
__ADS_1
Khaira menggelengkan kepalanya. "Cukup kamu selalu baik dan perhatian seperti ini sudah lebih dari cukup untuk menjadi tanda cinta bagiku." jawabnya sembari menundukkan wajahnya dan tersenyum kepada suaminya.
Radit lantas merangkul bahu istrinya itu. "So sweet banget sih. Belajar darimana sih Mama bisa bicara kayak gini? Jadi pengen beliin semua cokelat di sini untuk Mama Khaira tersayang."
"Sudah pasti aku berguru sama Sang Maestro...." ucapnya terkekeh sambil mencubit pinggang suaminya itu.
"Papa ... Mama ... ini cokelatnya Pa." Rupanya Arsyila menginterupsi obrolan kedua orang tuanya itu dengan menyerahkan keranjang kecil yang telah berisi berbagai varian cokelat.
"Sini Sayang, biar Papa yang akan membayarnya."
Radit mengulurkan tangannya guna menerima keranjang yang sudah berisi cokelat pilihan Arsyila itu. Kemudian pria itu berjalan dengan menggandeng tangan Arsyila menuju kasir.
Setelah semua cokelat telah dibayar, lantas keluarga kecil yang selalu bahagia dan kompak itu sama-sama menuju tempat untuk cek in, karena tidak lama lagi mereka akan segera boarding.
Melihat suaminya yang memangku Arsyila, Khaira lantas menawarkan diri untuk memangku Arsyila saja.
"Syila Sayang ... mau dipangku Mama? Duduk sama Mama sini." Ajaknya sembari mengulurkan tangannya kepada Arsyila.
Akan tetapi Arsyila menolak. "Syila mau ikut Papa ... Syila kan kangen sama Papa." Ucapnya merajuk sembari memegang tangan Papanya.
"Iya ... sekarang Syila kan sudah sama Papa. Dipangku Papa ya, Syila kalau terasa ngantuk bobo saja ya." ucap Radit sembari mengeratkan tangannya menahan bobot tubuh Arsyila.
Setelahnya Radit memilih meringsut dan duduk di dekat Khaira. "Biarin aja Sayang ... baru mode manja sama Papanya."
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Anak cewek katanya emang lebih dekat sama Papanya sih ... Kalau capek nanti gantian aja."
__ADS_1
"Kalau capek, nanti kalau sampai di Jakarta, cukup dipijitin aja Sayang." ucapnya sembari menautkan jari jemarinya mengisi setiap kekosongan di jari jemari Khaira. Mengisi setiap sela ruas jari itu dengan jarinya dan menggenggamnya dengan begitu erat.
Khaira menerima genggaman tangan dari suaminya itu dengan perasaan hangat. "Modus pasti." ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Sementara Radit hanya mengedikkan bahunya. "Enggak modus kok. Aku tuh pria paling tulus sedunia Sayang. Gak ada niatan apa-apa kalau sama kamu." ucapnya sembari tersenyum.
"Iya ... pria paling modus terjujur sedunia itu baru bener." Sahut Khaira dengan cepat.
Pasangan orang tua muda itu pun tertawa bersama, sembari menikmati perjalanan udara dari Changi menuju Jakarta yang akan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam lamanya.
"Papa sama Mama ketawain apa?" tanya Arsyila yang menginterupsi orang tuanya yang sedang terkekeh geli.
Khaira lantas mengusap punggung Arsyila perlahan dengan lembut. "Tadi, Mama bercanda sama Papa, Sayang ... Papa lucu tadi, jadi Mama dan Papa tertawa." jawab Khaira perlahan.
"Ma ... Aku mau adik juga dong Ma. Buat teman tertawa kalau di rumah. Kalau Mama mengajar biar aku ada teman bermain." Pinta Arsyila yang tiba-tiba meminta adik saat mereka masih berada di dalam pesawat, sedang terbang menembus gumpalan awan putih dan anak kecil itu meminta kembali seorang adik kepada Mamanya.
"Sabar ya Syila Sayang ... nanti semoga gak lama lagi akan ada adik bayi di perut Mama ya. Syila jangan lupa berdoa kepada Allah, supaya Allah berikan adik bayi buat Syila. Yakin Syila mau adik bayi? Syila bisa jadi Kakak yang baik?" tanyanya.
Dengan cepat Arsyila menganggukkan kepalanya. "Iya Ma ... setiap malam, Arsyila berdoa kepada Allah kok Ma ... Arsyila akan jadi Kakak yang baik buat adik. Arsyila sayang adik." ucapnya yang kemudian meminta pangku kepada Khaira.
Dengan memangku Arsyila dan mencium pipi chubby anaknya itu, Khaira pun berkata. "Mama dan Papa juga selalu berdoa kepada Tuhan, supaya segera adik bayi di dalam perut Mama ini." ucapnya sembari menunjuk perutnya. "Nanti kalau di dalam perut Mama sudah ada adik bayi, Kakak Syila mau enggak anterin Mama ke Dokter Kandungan cek up dan nengokin adik bayi dari layar USGnya Bu Dokter?"
"Iya mau Ma ... mau ... Jadi kapan adiknya akan ada Ma? Sekarang?"
Radit yang gemas dengan Arsyila, mulai mengusap puncak kepala putrinya itu. "Doakan ya Sayang ... semoga tidak lama lagi ya. Nanti kalau sudah ada, pasti Mama dan Papa akan memberitahu Arsyila kalau sudah ada baby di dalam perutnya Mama."
__ADS_1