Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Pijar Pelabuhan


__ADS_3

Dengan sigap, Khaira memencet tombol yang menghubungkan dengan perawat. Sebagaimana pesan yang Dokter berikan, saat pasien sudah sadar, perawatan akan kembali melakukan pengecekkan.


Tidak berselang lama, perawat pun kembali masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keberadaan Radit.


"Bagaimana Pak, apa yang dirasakan?" tanya perawat itu.


Radit pun sejenak mengamati wajah penuh kekhawatiran milik istrinya. "Hanya kaki saya saja yang kiri. Sakit rasanya." ucapnya.


"Karena Anda mengalami patah kaki, Pak. Hantaman keras dari sepeda motor membuat terjadi Fraktur Tertutup yaitu kondisi ketika tulang rusak, namun tidak menyebabkan luka sobek pada kulit serta fragmen tulangnya tidak menembus kulit, sehingga tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. Pemulihannya lumayan ini ya Pak ... bisa berminggu-minggu hingga satu bulan." penjelasan perawat itu.


Mendengar penjelasan perawat tentang keadaan kakinya, jujur saja Radit merasa bersedih. Dia akan kesusahan untuk beraktivitas dalam satu bulan ke depan. Namun, di hadapan orang yang paling dia cintai, Radit tidak akan menunjukkan kesedihan dan kecemasannya saat ini. Biarlah hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu. Lagipula, Radit tak ingin Khaira semakin hancur saat melihatnya sekarang.


"Baik Pak, saya akan suntikkan antibiotik lagi ya. Jika ada keluhan silakan pencet tombol di atas ya Pak. Ada perawat yang jaga selama dua puluh empat jam." kata perawat itu sembari menyuntikkan antibiotik melalui infus yang terpasang di tangan Radit.


Usai memeriksa dan menyuntikkan antibiotik, perawat pun kembali meninggalkan ruang perawatan Radit.


Khaira kembali mengambil duduk di kursi yang berada di sebelah brankar. "Maaf ya Mas ... semua karena aku. Sebenarnya aku aja yang terkena sepeda motor itu, Mas." ucap Khaira menyesal.


Radit menggenggam tangan istrinya itu. "Jangan bicara seperti itu. Lagipula suami mana yang akan membiarkan istrinya mengorbankan dirinya. Aku suamimu, Sayang ... aku akan melindungimu." ucapnya dengan serius.


Khaira hanya diam, tetapi air matanya terus berlinang. "Maafkan aku ya Mas...." ucapnya dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


Radit menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu minta maaf ... ini bukti cintaku padamu. Oh, iya ... kamu tidak pulang Sayang? Bagaimana dengan Arsyila kita?"


"Bunda Ranti dan Ayah Wibi nginap di rumah kita malam ini, Mas. Stok ASIP buat Arsyila juga masih ada, tapi besok aku pulang ke rumah dulu ya Mas ... Arsyila juga butuh aku." Khaira berkata dengan terus menatap wajah suaminya.


Radit pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Baiklah Sayang ... tidak apa-apa. Semoga aku bisa segera sembuh. Doakan aku ya."


Khaira menggenggam tangan suaminya. "Sudah pasti aku selalu menyebut namamu dalam setiap sujudku, Mas ... jangan menyerah ya Mas... Kita jalani dan hadapi semua ini bersama-sama ya. Jangan merasa terpuruk karena kakimu saat ini. Aku akan selalu ada buatmu."


Hati Radit bagai dihantam batu besar, beberapa saat yang lalu dia berusaha menyembunyikan rasa sakit dan hancurnya. Akan tetapi, kali ini apa yang dia sembunyikan justru terucap oleh istrinya. Mungkinkah ini yang dinamakan koneksi hati? Bagaimana mungkin Khaira bisa mengatakan hal tersebut?


Radit tersenyum. "Aku punya kamu, Sayang ... aku yakin kamu akan menemaniku menjalani hari-hari kelabu di hidupku." Tidak dipungkiri memang Radit merasakan harinya yang terasa kelabu, tanpa kaki sempurna yang dia miliki.


"Aku akan menjadi kaki bagimu, Mas ... aku akan jadi tanganmu ... bagi semuanya denganku. Usai hari berselaput mendung itu pergi, ada pelangi yang akan menyambut kita berdua. Dulu kamu pernah mengatakan supaya aku mau menjadi rumahmu, sekarang jadikan aku rumahmu juga, Mas. Bagi perasaanmu padaku...." ucap Khaira dengan bibirnya yang bergetar.


Khaira membawa tangan suaminya yang sedari tadi dia genggam ke wajahnya. "Aku mencintaimu, Mas ... jadi, jangan sembunyikan apapun dariku. Hati kita saling terpaut satu sama lain."


Radit tersenyum lagi. "Rupanya sekarang Istriku ini bisa membaca isi hatiku. Jujur, aku hancur Sayang. Kaki merupakan salah satu anggota tubuh yang vital, dengan patahnya kakiku ini, aktifitasku akan terbatas. Ujung-ujungnya aku akan merepotkanmu sepanjang waktu."


Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku tidak merasa direpotkan. Sudah kewajiban seorang Istri untuk mendedikasikan hidupnya bagi suaminya. Biar aku merawatmu, Mas...."


"Maaf, sebulan ke depan ... aku akan sangat merepotkanmu." ucapnya dengan mata nampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Jangan merasa merepotkanku ... aku akan selalu ada buatmu, Mas. Jadikan aku support systemmu ya Mas." ucap Khaira dengan sungguh-sungguh.


"Pasti Sayang...." ucapnya sembari satu tangan membelai wajah istrinya.


"Sekarang sudah malam, istirahat ya Mas ... kalau butuh apa-apa, jangan segan untuk membangunkanku. Aku selalu siap untukmu." ucap Khaira.


Radit menatap Khaira yang mulai beralih ke kursi sofa yang bisa digunakan untuk tidur satu orang itu. "Kamu tidur di mana Sayang?" tanyanya dengan mata yang hanya tertuju pada Khaira.


Jari telunjuk Khaira menunjuk pada kursi sofa di sebelahnya. "Aku tidur di sini, Mas ... gak papa, jangan memikirkanku. Penting Mas Radit sehat."


Radit menghela nafasnya. "Mana aku bisa bobok tanpa kamu, Sayang ... harus banget ya bobok di situ?" tanyanya dengan wajah yang menginginkan istrinya berbaring di sampingnya.


Khaira kembali berjalan mendekati brankar suaminya. "Papa bobok sendiri dulu ya. Kakinya masih sakit, tangannya juga diinfus. Aku takut kalau menindih atau melukaimu." jawab Khaira dengan jujur.


Radit tertawa dan kedua tangannya terbuka. "Peluk aku dulu Sayang ... aku kangen sama kamu. Baru beberapa jam berlalu, dan sekarang kita justru berada di tempat ini."


Khaira pun mendekat, dia duduk di tepi brankar dan mencerukkan kepalanya di dada suaminya. "Aku juga kangen kamu, Mas...." ucapnya lirih. Khaira kemudian memejamkan matanya merasakan detak jantung suaminya dan menghirupi aroma parfum yang masih tertinggal di badan suaminya.


Hari ini Khaira cukup bersyukur, dia bisa melihat suaminya telah sadar. Bahkan bisa berbicara dan memeluk tubuh suaminya serasa membuat Khaira hidup kembali.


"Kamu sendiri juga pasti kesakitan Sayang. Kening kamu dibalut perban. Tangan kamu ini juga. Pasti sakit bukan?" tanya Radit sembari satu tangannya mengelus lembut puncak kepala istrinya.

__ADS_1


Khaira menggeleng perlahan. "Semua ini tak sebanding dengan rasa sakit yang kamu alami sekarang, Mas ... ini tidak sakit, setelah melihatmu sadar dan kamu peluk seperti ini rasa sakitnya hilang." ucap Khaira sembari terkekeh geli.


"Kamu bisa aja. Aku bersyukur kepada Tuhan, dalam rasa sakitku ini aku berhasil menyelamatkan kamu. Aku bakalan lebih hancur dan kesakitan jika kamu yang kenapa-napa. Seperti kataku dulu ... alih-alih membuatmu kesakitan, biar aku saja yang mengalaminya." ucap pria itu dengan penuh kesungguhan.


__ADS_2