
Kurang lebih menjelang petang barulah Radit dan Khaira tiba di rumah. Dari Bogor, mereka langsung menuju kediaman Bunda Ranti terlebih dahulu untuk menjemput Arsyilla, setelahnya mereka langsung berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Dari rumah Eyangnya menuju rumah sendiri, Arsyilla meminta Mamanya itu untuk duduk di belakang menemaninya.
“Ma, Mama duduk di belakang, temani Arsyilla ya Ma … Syilla sudah kangen sama Mama.” ucap Arsyilla yang kini memilih duduk bersama Mamanya.
Khaira pun memeluk putrinya itu, “Iya Sayang … Mama juga kangen sama Syilla. Maaf ya semalam Mama harus mengajar sampai di Bogor. Syilla semalam bobok sendiri kan?” tanya Khaira kepada Arsyilla.
Sekalipun Arsyilla masih kecil, tetapi mereka selalu berbicara layaknya seorang sahabat. Saling berbagi cerita dan menaruh perhatian satu sama lain.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma … Syilla bobok sebentar sama Papa. Dibacakan buku dongeng sama Papa, Ma. Setelah itu Syilla berani bobok sendiri kok Ma.” akunya sembari beberapa kali menciumi pipi Mamanya.
Khaira pun tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Arsyilla, “Wah Syilla hebat ya … kemarin Syilla baca buku yang mana?” tanya Khaira. Pertanyaan yang dia berikan bukan sekadar pertanyaan, tetapi sekaligus untuk menstimulasi Arsyilla supaya bisa menjawab dan belajar bercerita terkait apa saja yang sudah dia lakukan.
“Buku Putri Aurora, Ma … pemberian Kak Aksara. Syilla kan suka Putri Aurora, Ma … cantik, baik, dan pintar. Ya kan Pa?” tiba-tiba dalam ceritanya Arsyilla melibatkan Papanya dalam pembicaraan tersebut.
Radit yang tengah mengemudi pun tersenyum, “Iya Ma … Kayak Syilla suka sama Putri Aurora yang cantik, pinter, dan baik hati. Tiga peri yang membantu Putri Aurora namanya siapa ya Sayang, Papa lupa tuh sama namanya?” tanya Radit yang kali ini juga menstimulasi daya ingat Arsyilla.
“Flora, Fauna, dan Merryweather. Mereka punya kekuatan sihir Pa. Kalau dengan magic, terus Syilla bisa tidak ya Pa ketemu Kak Aksara?” tanya gadis itu dengan begitu lugunya.
Padahal magic dalam dongeng fairytale tidaklah sama dengan apa yang ada di dunia nyata. Perlahan Khaira pun mengusap rambut Arsyilla, “Syilla masih ingat enggak dengan cerita Papa dan Mama saat masih kecil? Dulu Mama dan Papa waktu kecil itu saling bertemu, kemudian berpisah lama sekali. Setelah dewasa, Mama dan Papa bisa bertemu lagi dan bisa ada Arsyilla yang melengkapi kebahagiaan Mama dan Papa. Sekarang magic itu bisa datang dengan berdoa, Sayang. Berdoa ya, semoga suatu hari nanti Syilla bisa ketemu lagi sama Kak Aksara.” cerita Khaira kepada Arsyilla.
__ADS_1
Gadis itu pun mengangguk, “Iya Ma … nanti deh Syilla berdoa minta sama Tuhan. Mama, kapan-kapan ke tempatnya Kak Aksara yuk Ma … main ayunan sebentar di panti asuhan tempat tinggalnya Kak Aksara dulu. Boleh Ma?”
Belum sempat Khaira menjawab, Radit pun mengangguk, “Iya boleh Syilla Sayang … nanti kalau Papa libur kita ke sana ya. Mainan Syilla yang sudah tidak dipakai, diberikan kepada adik-adik yang ada di panti asuhan itu boleh Sayang?”
“Boleh Pa … boleh.” jawab Arsyilla dengan penuh semangat.
***
Malamnya harinya usai menidurkan Arsyilla, Khaira berjalan memasuki kamarnya. Di luar sana sedang gerimis. Suaminya terlihat dengan asyik melihat pertandingan sepak bola Liga Inggris karena saat itu kebetulan ada pertandingan di tengah minggu. Perlahan, Khaira menghampiri suaminya itu dengan duduk di sampingnya.
“Mas …” dipanggilnya suaminya itu.
Melihat hari belum terlalu malam dan juga suaminya sedang melihat pertandingan sepak bola, Khaira pun kembali berdiri. “Aku buatin Teh hangat dulu ya Mas … buat teman nonton sepak bola.” ucapnya sembari meninggalkan suaminya yang sedang seru melihat pertandingan sepak bola itu.
Khaira langsung turun ke dapur, kurang lebih 10 menit dan dia sudah kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan kecil. Dua cangkir Teh hangat dan beberapa camilan, dia bawa ke dalam kamar. Setelahnya dia mulai menaruh Teh hangat dan camilan itu di depan meja. Mengambil terlebih dahulu satu gelas dan menyerahkannya kepada suaminya.
“Tehnya Mas … diminum dulu mumpung masih panas. Gerimis-gerimis kan enaknya minum yang panas gini.” ucapnya sembari menyerahkan secangkir Teh panas kepada suaminya.
“Makasih Sayangku … ini aku minum ya. Kamu juga minum kan?” tanyanya kepada istrinya.
__ADS_1
Khaira pun mengangguk, “Iya … ini aku juga minum kok.” ucapnya sembari mengangkat satu gelas dan mulai meminum teh hangat tersebut.
“Gimana acara kamu di Bogor itu?” tanya Radit lagi kenapa istrinya, di sela-sela kegiatannya menonton pertandingan sepak bola.
Khaira pun mengedikkan bahunya, “Ya biasa aja sih Mas … capek badan sih enggak. Cuma mulutku yang capek karena mengisi untuk dua sessi. Rahangnya ampe pegel rasanya.” keluhnya sembari mengusap-usap rahangnya yang katanya pegel karena terlalu banyak bicara saat menyampaikan seminar.
Mendengar jawaban istrinya, Radit justru tertawa. “Kamu lucu banget sih, masak rahangnya yang pegel. Aku dipijitin mau?” tawarnya sembari menaruh cangkir tehnya ke atas meja.
Dengan cepat Khaira menggelengkan kepalanya, “Enggak ah … lagian sekarang udah ilang kok pegelnya. Kamu semalam bisa bobok Mas?” tanya Khaira yang menanyakan saat dirinya semalam menginap di Puncak, apakah suaminya itu bisa tidur.
“Aku enggak bisa tidur, Sayang … enggak enak banget bobok sendirian. Tanpa kamu, ranjang kita dingin Sayang … tetapi, mulai malam ini sudah hangat lagi. Aku tuh gak bisa jauh-jauh dari kamu. Kalau ada acara kampus tuh yen ada mbok ya yang cuma sehari selesai, tega banget sih ngebiarin suaminya menahan rindu semalamnya.” gerutunya sembari merangkul bahu Khaira dengan begitu eratnya. Seolah menyalurkan rasa rindunya melalui rangkulannya itu.
“Bucin banget sih suamiku ini. Padahal juga cuma semalam loh. Kalau aku jadi Dosen Praktik Lapangan terus menemani mahasiswa survei berhari-hari hingga satu minggu gitu gimana dong Mas?” tanya Khaira sembari menoleh guna melihat wajah suaminya itu.
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya, dan melingkari perut istrinya dengan kedua tangannya, memeluknya dengan posesif, “Jangan dong … enggak boleh. Semalam saja aku udah kangen banget Sayang, apalagi seminggu. Sampai kamu pergi seminggu, mending aku cuti kerja deh ngikutin kamu seminggu. Sekarang tuh, aku gak bisa jauh-jauhan dari kamu. Kita berdua itu seperti medan magnet Sayang … saling tarik menarik. Jadi jangan dong ambil pekerjaan selama itu.”
Khaira tertawa dan mengusap rambut hitam suaminya itu, “Manjanya Papa Radit … lagian yang mau ambil pekerjaan selama itu ya siapa. Mending aku di rumah, setiap hari ketemu kamu dan Arsyilla. Untung dua kutub magnetnya berbeda jadinya tarik menarik, kalau dua kutub yang sama kan tolak menolak Mas …” candanya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan beberapa kali.
Radit pun tertawa, “Ya kan kita dua kutub yang berbeda Sayang … kamu wanita, aku pria. Sudah pasti berbeda. Jadinya kan ya tarik menarik. Kalaupun kamu menolakku, dan aku akan selalu berusaha untuk menarikmu dan mendapatkanmu kembali. Karena aku ini pejuang Sayang … aku gak akan semudah itu menyerah.” ucapnya sembari mengecupi pipi halus istrinya.
__ADS_1
Menikmati secangkir teh hangat dengan obrolan dan candaan rupanya bisa menjadi pengobat rindu bagi dua anak manusia tersebut.