Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Acara Tujuh Bulanan


__ADS_3

Tidak terasa waktu pun kian berlalu, kini perut Khaira benar-benar telah membuncit bahkan kini usia kehamilannya sudah memasuki usia 7 bulan. Sebagaimana permintaan dari Bunda Ranti bahwa mereka akan membuat acara 7 bulanan untuk Khaira pun akhirnya dilakukan juga.


Jika dahulu, acara 4 bulanan kehamilan Arsyilla dilakukan di kediaman Wibisono, kali ini acara 7 bulanan kehamilan kedua Khaira dilakukan di kediaman Ayah Ammar dan Bunda Dyah.


Sejak semalam sebuah Event Organizer sudah menata dan melakukan dekorasi di kediaman keluarga Ammar. Mengombinasikan berbagai hiasan khas Jawa seperti yang diminta oleh kedua orang tua dan juga sentuhan bunga Mawar Putih yang merupakan bunga kesukaan dari Khaira.


Menjelang siang, saat Khaira tiba di rumah orang tuanya, dia terkejut melihat dekorasi yang sudah layaknya untuk acara penganting Jawa.


“Bunda, ini dekorasinya kok mewah sekali sih Bunda?” tanyanya kepada Bunda Dyah.


“Iya Sayang … dulu kan waktu menikahkan kamu juga seperti ini. Kamu senang enggak?” tanya Bunda Dyah kepada Khaira.


“Senang Bunda … jadi keingat waktu menikah sama Mas Radit dulu. Enggak nyangka, pernikahan Khaira dan Mas Radit sudah berjalan sekian tahun lamanya.” ucapnya.


Dalam hatinya, Khaira pun tidak menyangka. Pernikahan kelabu yang mereka awali justru sekarang pernikahan dan kehidupan rumah tangganya begitu berwarna. Terlebih dengan lahirnya sosok Arsyilla yang menjadikan rumah tangga keduanya kian lengkap dan bahagia.


Bunda Dyah pun tersenyum, “Ayo, sekarang kamu siap-siap ya. Sudah ada MUA khusus yang akan merias kamu.” Bunda Dyah lantas mengajak Khaira untuk menaiki kamarnya di lantai dua.


Lantaran keluarga Wibisono dan keluarga Ammar sama-sama berasal dari Jogjakarta yang masih kental dengan budaya Jawanya, maka kali ini mereka sepakat untuk menggelar acara tujuh bulanan untuk Khaira dan bayi yang masih berada di dalam kandungannya. Acara tujuh bulanan atau yang dalam bahasa Jawa disebut Mitoni itu dilakukan dengan tujuan untuk memohon kepada Tuhan agar kehamilan diberikan kelancaran dan keselamatan hingga persalinan nanti.


Di dalam kamarnya, Khaira mulai berganti dengan sebuah kebaya berwarna hijau pastel yang lembut. Rambut panjangnya pun disanggul sedemikian rupa dengan reroncean melati yang dihiaskan di rambutnya. Kemudian, tidak lama berselang, Bunda Dyah dan Bunda Ranti datang untu menjemput Khaira. Akan tetapi, kali ini Arsyilla turut menemani Eyang dan Neneknya untuk menjemput Mamanya itu.

__ADS_1


"Mama cantik ..." teriak Arsyilla yang melihat bagaimana Mamanya mengenakan Kebaya, berhias, dengan sanggul di kepalanya lengkap dengan reroncean melati.


Bunda Ranti dan Bunda Dyah pun mengangguk, "Benar ... Mama kamu cantik ya Syilla." sahutnya kepada Arsyilla.


Setelahnya pun Bunda Dyah dan Bunda Ranti menggandeng tangan Khaira dan mereka perlahan menuruni anak tangga menuju ruang tamu tempat dilangsungkannya acara. Betapa Radit tertegun melihat istrinya berbalut Kebaya berwarna hijau pastel yang lembut, lengkap dengan sanggul dan reroncean bunga melati. Seolah-olah, pria itu bagai terkena sihir sehingga membuatnya begitu terpana melihat sosok istrinya itu.


Khaira pun lantas duduk di samping suaminya. Akan tetapi, baru saja Khaira duduk, rupanya Radit langsung membisikkan sesuatu kepada istrinya itu.


"Kamu cantik banget Sayang ..."


Sebuah ucapan yang membuat Khaira menunduk dan tersipu malu.


Tahap pertama dari serangkaian acara mitoni adalah sungkeman. Mulailah Khaira melakukan sungkeman terlebih dahulu kepada suaminya itu. Wanita itu mengambil tempat, bersimpuh di kaki suaminya dengan meneteskan air matanya.


Radit pun mengangguk, “Iya Sayang … sudah pasti aku akan berdoa kepada Tuhan semoga Tuhan berikan kelancaran dan keselamatan untuk kamu dan bayi kita.”


Benar-benar sebuah suasana yang haru, bahkan Radit pun tampak bergetar saat mengucapkan kata-katanya, kemudian pria itu menyentuh kedua bahu istrinya dan mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya dan berbisik dengan begitu lirih, “Aku cinta kamu, Sayang.”


Sebuah pengakuan yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Khaira.


Setelah sungkeman kepada suaminya, kemudian keduanya sama-sama meminta doa restu kepada Ayah Ammar dan Bunda Dyah, dilanjutkan kepada Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Suasana begitu haru saat itu, bahkan lagi-lagi Khaira berderai air mata saat meminta restu dari orang tuanya dan mertuanya.

__ADS_1


Usai sungkeman, prosesi dilanjutkan dengan memecah telor yang dilakukan oleh Radit sebagai seorang Papa. Telor yang digunakan adalah telor ayam kampung. Sebelum telor tersebut dipecahkan, terlebih dahulu telor ditempelkan di dahi dan perut sang ibu. Prosesi itu memaknai bahwa harapan dari kedua orang tua bahwa persalinan nanti akan berjalan lancar.


Dilanjutkan dengan memecah kepala, Radit akan mengambil kepala dengan mata tertutup, dan kepala tersebut dipecahkan sebagai sebuah tradisi untuk menebak jenis kelamin bayi.


Puncak dari acara tujuh bulanan adalah sebuah siraman, di mana sang ibu akan dimandikan dengan menggunakan air yang diambil dari tujuh sumber. Siraman sendiri bermakna bahwa sang ibu akan membersihkan dirinya baik secara fisik mau pun batin.


Prosesi yang terakhir adalah ganti busana yang di mana badan dari sang ibu akan dikeringkan, kemudian tujuh buah kain jarik dengan motif akan dipasangkan, dan beberapa tamu undangan akan meneriakkan kata “tidak cocok” sebanyak enam kali, dan diakhiri dengan kata “cocok.”


Radit dan Khaira sama-sama mengikuti acara tujuh bulanan itu, sekaligus ini adalah pengalaman baru bagi keduanya bisa mengikuti setiap prosesi dari acara tujuh bulanan. Usai acara tujuh bulanan usai, mulailah Radit kembali mengambil tempat duduk di samping istrinya itu.


“Kamu capek enggan Sayang?” tanyanya perlahan.


Khaira pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak capek kok Mas.”


“Kalau Radit, kita menginap di sini semalam saja Sayang. Lagian besok kan ya weekend, libur.” sahutnya.


“Kamu mau menginap di rumahku?” tanya Khaira kepada suaminya itu.


Radit menganggukkan kepalanya, “Iya … aku mau. Kamu sendiri gimana?”


Khaira pun kemudian tersenyum, “Mau … kapan lagi aku bisa menginap di rumahku sendiri. Salah satu kesedihan usai menikah itu, anak perempuan akan menjadi seorang tamu di rumahnya sendiri. Jadi, mumpung bisa menginap di sini ya aku mau aja Mas.” ucapnya dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Memang demikianlah kenyataannya, para anak gadis usai menikah akan hidup bersama dengan suaminya sehingga mereka akan menjadi seorang tamu di rumah mereka sendiri. Maka dari itu, saat kesempatan yang baik ini datang maka Khaira akan begitu senang bisa kembali menginap di rumahnya. Sebab, setelah menikah dengan Radit, dia justru jarang sekali untuk bisa kembali menginap di rumahnya sendiri.


“Ya sudah … kita menginap di sini semalam ya. Besok pagi atau siang, kita kembali lagi ke istana kita.” ucap pria itu sembari menautkan jari jemarinya ke dalam genggaman istrinya itu.


__ADS_2