
"Jadi tadi seharian kemana aja Ay?" tanya Felly sembari matanya berotasi mengikuti setiap arah pergerakan Radit.
"Aku ke kota tua aja tadi, motoran. Kenapa emangnya?" sahut Radit singkat.
"Ooh... Aku kira kemana gitu. Emang tuh bocah mau kamu ajak motoran ke Kota Tua?" tanya Felly.
"Mau kok, dia enggak komplain juga." ucap Radit sembari menyerahkan piring dan sendok kepada Felly. "Kenapa emangnya?"
Felly tersenyum menatap Radit, "Gak apa-apa kok. Aku kan cuma bertanya."
"Yang, boleh aku bertanya?" Radit nampak ragu ingin bertanya pada Felly, tapi ia harus mengetahui sesuatu.
"Apa mau sempat meneror Khaira beberapa minggu yang lalu? Aku cuma bertanya saja?" tanya Radit dan ia nampak hati-hati, lagi pula Radit hanya bertanya dan tidak melemparkan tuduhan kepada Felly.
"Hmm, iya. Itu karena aku gak mau kamu deket-deket sama dia. Ya, walau pun aku tahu dia adalah istrimu yang sah. Tetapi, aku terlalu takut bila akhirnya dia mencuri hatimu. Aku sebenarnya tidak mau membagimu dengannya." ucapnya dengan raut wajahnya yang tiba-tiba berubah sendu.
"Tetapi bukankah selama ini aku selalu memprioritaskan kamu, aku bahkan memilih tinggal di sini bersamamu dan membiarkan dia di sana. Aku juga rela menjual mobilku dan memakai sepeda motor kemana-mana, semua itu karena aku memprioritaskanmu. Aku sebenarnya salah karena aku tidak memperlakukannya dengan baik. Walau pun hubungan kita jauh sebelum pernikahanku dengannya tetapi aku menikahimu tanpa izin darinya. Bagaimana pun dia istri pertamaku."
Radit nampak menyesal dalam setiap ucapannya. Hampir berjalan lima bulan, dan ia baru menyadari kesalahannya. Mungkin kah ia sudah terlambat menyadari?
"Jadi kamu menyesal Ay?" tanya Felly dengan memandang Radit.
"Aku merasa bersalah. Orang tuaku pasti akan sangat marah apabila, aku memperlakukannya seburuk ini. Dan, sikapnya yang acuh dan selalu membuat garis batas justru itu yang membuatku merasa bersalah kepadanya."
Radit juga teringat sorot mata Khaira yang tidak bisa ia ketahui maknanya. Sorot mata yang dalam, tajam, terkedang sorot mata itu sendu. Membuat Radit kian merasa bersalah.
__ADS_1
"Kalau kamu merasa bersalah, kamu boleh ninggalin aku kok, Ay. Toh aku cuma istri sirimu. Kau hanya menikahiku di bawah tangan. Secara posisi dan kedudukan bocah itu jauh lebih menang."
Mendengar ucapan Felly, Radit mengusap mukanya kasar. Di satu sisi ia merasa bersalah pada Khaira, tetapi di sisi lain ada Felly. Bahkan selama ini baik orang tua dan mertuanya sama sekali tidak bertanya yang aneh-aneh justru membuat Radit yakin bahwa Khaira tidak menceritakan masalah rumah tangganya kepada siapa pun.
"Jangan salah paham, Yang. Bukankah sejak awal, aku sudah pernah bilang kalau aku mau berjuang denganmu. Apa semua yang kulakukan selama ini tidak bisa membuktikan kesungguhanku? Dan, aku mohon jangan terror Khaira lagi. Biarkan dia hidup tenang. Dia sudah hidup sendiri di rumah sebesar itu, bahkan dia tidak mengeluhkan apa pun. Jadi tolong, jangan melakukan tindakan yang nekat." Radit berkata dengan serius kepada Felly. Tiba-tiba hatinya mengkhawatirkan Khaira dan ingin melindungi gadis yang sudah ia nikahi itu.
Felly nampak terdiam mendengar ucapan Radit. Felly ingin menjatuhkan Khaira, tetapi ia juga tak ingin Radit meninggalkannya. Bagaimana pun, Felly masih memiliki misi yang harus ia selesaikan dengan Radit. Misi yang hanya ia ketahui.
"Oke, aku tidak akan mengganggu dia lagi, tetapi jangan temui dia lagi. Gimana?" tawaran liciknya sekali lagi keluar, Felly benar-benar ingin menguasai Radit sepenuhnya.
"Apa belum cukup aku menuruti semua kemauanmu selama ini? Sebagai suami pun, aku tidak memperlakukannya dengan adil. Padahal dalam hukum agama, sebagai suami seharusnya aku bersikap adil, tetapi lihatlah sekarang aku justru menyakiti gadis itu." ucap Radit kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Felly.
Di dalam kamarnya Radit terlihat begitu frustasi. Wanita yang dicintai dan diperjuangkannya justru seolah selalu menekannya dan tidak menaruh percaya kepadanya, sementara di sisi lain ia mulai memikirkan Khaira, yang juga seharusnya layak mendapat perhatian dan tanggung jawabnya.
Radit mengusap rambutnya dengan kasar. Pikirannya terasa sangat penuh sekarang ini. Lebih-lebih mendengar ucapan Felly bahwa wanita itu tidak akan mengganggu Khaira, asalkan Radit tidak akan menemuinya.
***
Sementara di rumahnya, Khaira merebahkan dirinya di tempat tidurnya. Matanya hanya menatap langit-langit kamarnya.
Khaira kembali mengingat bagaimana sepanjang hari ini ia lalui bersama Radit, bahkan ia sangat mengingat kejadian yang menggetarkan hatinya saat Radit menudunginya dengan jaketnya saat hujan turun dan saat Radit menarik tangannya dan meletaknya melingkar di pinggangnya.
Khaira bahkan saat mengangkat kedua telapak tangannya, ia menggerak-gerakkan tangannya. Terlintas kenangan saat kedua tangan itu berpegang di pinggang Radit.
"Kalau saja kita tidak terjebak dalam hubungan rumit ini, Mas. Hari ini tentu akan menjadi hari yang membahagiakan untukku. Dan, jika saja di hatimu hanya ada aku. Seberapa lama situasi seperti ini akan berakhir, seberapa lama kamu bisa memilih antara aku dan dia, seberapa lama pula aku harus hidup dalam kesendirian ini." batin Khaira dalam hatinya.
__ADS_1
Bunyi geteran handphone Khaira membuyarkan lamunannya seketika.
"Nero?" Khaira mengernyitkan keningnya saat mengetahui beberapa pesan masuk dari Radit.
[To: Khaira]
[Aku kirimkan foto kita berdua tadi.]
[Image 🖼 sent]
[Buat kenang-kenangan ya.]
Sent
Khaira membaca pesan itu dan ia melihat foto keduanya di atas sepeda kayuh di Kota Tua.
Lagi-lagi hati Khaira terasa tercubit. "Ya ini kenangan Mas. Kebersamaan kita hanya bisa untuk dikenang, bukan untuk dijalani setiap hari."
Jari-jari Khaira bergerak di papan keyboard handphonenya. Dia berniat membalas pesan dari Radit.
[To: Nero]
[Iya, makasih fotonya.]
Sent
__ADS_1
Jauh di sana Radit yang menerima balasan Khaira hanya sedikit ragu, kenapa gadis itu hanya membalas singkat. Padahal pesannya cukup panjang dan hanya dibalas singkat.
"Apa kamu sangat membenciku? Sampai aku merasa pesan ini sangat kaku, apa kamu sangat terluka saat ini? Kalau aku ingin bersikap adil kepadamu, mungkinkah kau menerimaku dan menghapus garis batas yang selama ini sama-sama kita buat?" Radit dengan mendengkus dengan berbagai pikiran tentang Khaira yang seketika memenuhi kepalanya.